
Saat membuka lokernya, Barra melihat amplop coklat milik Dasuki tergeletak didalamnya.
"Pak.. maafkan saya.. titipan ini belum sampai ke tangan anak Bapak. Secepatnya saya akan ke Solo, mencari jejak keluarga Bapak" ucap Barra seorang diri.
.
Hari ini Barra sudah berjanji akan ke tempat Walid dan Ummi. Dia akan ikut ke pusat rehabilitasi, dua bulan sekali Walid mengisi pengajian disana. Selepas pulang kerja, dia langsung kesana dan baru sampai jam sepuluh malam. Besok Barra libur, jadi bisa ikut.
Rombongan langsung bergegas ke pusat rehabilitasi. Barra duduk di bangku paling belakang. Tubuhnya butuh istirahat setelah dari pagi berjibaku dengan banyak pasien rawat inap yang kondisinya tidak stabil. Tak menunggu lama, dia langsung terlelap.
Perjalanan memakan waktu tempuh sekitar tiga jam. Rencananya memang akan sholat subuh berjama'ah dan pengajian di pusat rehabilitasi.
Rombongan disambut oleh pihak pusat rehabilitasi. Mereka langsung menuju Mesjid dan beristirahat dulu disana.
Sholat tahajjud menjadi hal yang akhirnya mau ga mau Barra dirikan malam ini, ibadah yang sudah lama tidak ia kerjakan, meskipun sering berdinas malam, Barra lebih memilih tidur atau ngobrol untuk menghabiskan waktu daripada sholat tahajjud.
Setelah sholat subuh berjama'ah dan mengaji bersama, semua bergegas untuk sarapan. Selepas itu para penghuni pusat rehabilitasi akan berkegiatan seperti biasanya.
Sambil sarapan, Barra terlihat serius berdiskusi dengan kepala pusat rehabilitasi, mereka membicarakan dari sisi medis untuk menghilangkan kecanduan para korban pengguna NAPZA (narkotika dan zat adiktif lain) serta miras. Barra banyak belajar dari kepala pusat rehabilitasi yang sudah sangat paham akan hal ini.
"Memang psikolog perlu dilibatkan disini, mereka lebih paham bagaimana menggiring pasien untuk mengubah mindsetnya" ujar dokbar.
"Ada psikolog, tapi jumlahnya ga sebanding sama pasien, ditambah ga semua standby, hanya beberapa orang yang standby. Makanya kami membuka kerjasama dengan beberapa universitas agar mahasiswa jurusan psikologi bisa PKL disini" kata kepala pusat rehabilitasi.
"Semoga makin banyak yang PKL disini. Pasien pasti butuh pendampingan dimasa sulit seperti ini" harap dokbar.
"Sekarang ada empat mahasiswa yang sedang PKL, itu yang duduk di bangku dekat ayunan, nanti saya kenalkan ya dok, biar bisa diskusi dengan dokter Barra" ucap kepala pusat rehabilitasi.
"Nanti aja Bu, biar mereka makan dan santai sejenak, kan dari subuh sudah ikut beraktivitas" saran dokbar.
"Oke, sekitar jam sepuluhan bisa dok?" tanya kepala rehabilitasi.
"Mungkin hanya bisa sebentar ya, karena ba'da dzuhur kami sudah mau balik" jawab dokbar.
"Gapapa dok, paling ga mereka mendapat arahan secara medis" kata kepala pusat rehabilitasi.
.
"Perkenalkan ini dokter Barra, semoga diwaktu yang singkat bisa saling bertukar ilmu dengan adik-adik sekalian" buka kepala pusat rehabilitasi.
dokbar berdiri didepan para mahasiswa.
"Kayanya langsung tanya jawab saja ya, ga usah terlalu formal, saya ditembak langsung jadi ga nyiapin materi" kata dokbar.
"dokter Barra masih dokter umum atau sudah spesialis?" tanya salah satu mahasiswi.
"Masih umum, makanya ilmunya belum mumpuni nih untuk sharing" jawab dokbar merendah.
"dok, kalo dari segi medis, biasanya tindakan untuk ketergantungan obat atau miras seperti apa?" tanya seorang mahasiswa.
"Medis ya bisa memberikan obat yang bersifat sementara saja. Terapi terbaik ya dari diri sendiri kemudian ikut rehabilitasi seperti ini. Mindsetnya yang perlu diubah untuk para pecandu. Kecanduan bukan penyakit tapi habit, nah disitulah adik-adik harus bisa mengambil peran. Kami pihak medis hanya memantau kesehatan fisik saja" tutur dokbar.
"Betul dok, karena dampak terbesar dari psikologi yang pernah terjadi dalam hidup kita adalah perubahan cara kita memandang dunia. Bisa jadi positif atau negatif. Kadang, dunia jadi nggak seindah impian, makanya kita perlu mengolah rasa dalam diri, bagaimanapun outcome nya, bersyukur aja deh cara pandang kita jadi unik" ucap mahasiswa yang lain.
"Good ... harus itu terus positive thinking. Nah gantian saya mau tanya nih. Apa sih sisi enaknya belajar psikologi?" tanya dokbar.
"Enaknya tuh kita menjadi orang yang open minded. Semua hal bisa menjadi abu-abu, tidak sekedar hitam dan putih. Positifnya, bahkan dalam kondisi terbawa perasaan sekalipun, didalam diri kita pasti ada area abu-abu yang membantu kita bisa berpikir objektif, jadi banyak yang nyaman cerita sama kita karena kita tidak suka men judge orang lain dan dapat melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang" ungkap mahasiswa.
"Wihhh asyik juga ya" sahut dokbar.
"Semua keilmuan pasti punya sisi yang asyik kan dok" lanjut mahasiswa.
"Yup.. Bagaimana kita bisa menikmati pilihan disiplin ilmu yang kita inginkan, segalanya akan asyik pada waktunya" jawab dokbar.
"Biar kata jalaninnya pasti puyeng dulu ya dok? Kalo dokter Barra gimana perasaannya ketika udah jadi dokter?" tanya mahasiswa.
"Terkadang, masyarakat jadi berekspektasi tinggi karena kita dianggap bisa atau serba tau, sebagai dokter, semua taunya berobat terus harus sembuh. Kita juga manusia biasa, ada saat up and down walau kita harus tetap profesional menjalankan tugas" ujar dokbar.
"Kayanya dokter nih malah yang cocok jadi dosen psikologi, cara ngomongnya asyik banget. Skill komunikasi pasti belajar khusus ya dok?" kata mahasiswa.
"Hahaha ini bahasa halusnya dari saya ketuaan ya? Ngomongnya rada berat" canda dokbar.
.
Diva menjauh dari siapa pun, ia sama sekali tidak berniat gabung untuk bersosialisasi. Perubahan hidup yang cukup drastis harus dia jalani.
Dari kejauhan dia melihat dokbar, wajah yang sudah familier. Diva menuju tempat dokbar tengah berdiri. dokbar sedang melihat hasil kerajinan tangan para penghuni disini.
"dokterrrrr" panggil Diva dari jauh.
dokbar mencari sumber suara.
"dokter masih ingat sama saya? Sudah tiga kali masuk Rumah Sakit dan ketemunya sama dokter terus" jelas Diva.
"Sepertinya saya ingat, tapi lupa namanya" jawab dokbar.
"Saya Diva... artis dok.. Oh ya lupa.. kita kan ga pernah kenalan" kata Diva.
"Whatever lah dok, dokter ada apa kesini?" tanya Diva.
"Ikut Pak Ustadz" jawab dokbar.
"Oh... kirain mau ngadain pengobatan atau cek kondisi kesehatan kita" ujar Diva.
"Kamu lagi ngapain disini? Syuting?" tanya dokbar.
"Ehm...ehm..." Diva tercekat lidahnya kelu untuk menjawab.
"Kamu salah satu pasien disini?" tanya dokbar.
Diva menundukkan kepalanya.
"Sorry kalo menyinggung, sudah punya karier dan dikenal orang, kenapa harus menghancurkan impian?" ujar dokbar lagi.
"Saya dijebak dok" ucap Diva.
"Dijebak?" tanya dokbar.
"Ya... dunia entertainment memang main sikut-sikutan" ucap Diva.
"Kalo kamu ga pakai, kenapa harus masuk sini? pasti hasil pemeriksaan awal positif kan?" kata dokbar.
"Ya dok.. memang saya pakai" jawab Diva jujur.
"Masih ada kesempatan buat memperbaiki diri. Setelah keluar dari sini, jangan masuk ke lubang yang sama. Harus bisa berubah menuju hal yang lebih baik" nasehat dokbar.
"dokter mau berteman sama saya? butuh teman curhat nih" pinta Diva.
"Oh... kebetulan sekali.. Adik-adik mahasiswa yang sedang PKL ini jurusan psikologi, kamu bisa konsultasi dengan mereka. Saya pamit dulu ya, mau siap-siap pulang" pamit dokbar.
.
Barra dan rombongan Walid meninggalkan pusat rehabilitasi. Sepanjang jalan, HP Barra sibuk berbunyi. Perawat yang mengeluhkan tentang para dokter yang visit telat bahkan tidak visit, sehingga banyak protes dari keluarga pasien merasa ga puas. dokbar memang mengambil jatah liburnya karena selama merawat keluarga Pak Daliman, dia tidak bisa libur.
đ
Bhree menghadap Tama dan tim, dia mengutarakan keinginan keluarga Pak Daliman untuk persiapan ikut ujian masuk Akademi Kebidanan tahun depan.
Bhree sudah dijelaskan tentang siapa Pak Daliman. Kakeknya ini ingin Bhree ikut terjun ke dunia medis seperti keluarga besarnya. Hanya tinggal Bidan saja yang belum ada.
"Kenapa harus jalanin sesuatu yang bukan passion kamu?" tanya Tama.
"Ga ada pilihan, semua yang disini ga pernah ngalamin jalan cerita hidup kaya gini" jawab Bhree.
"Kata siapa? Jadi seperti sekarang ini prosesnya panjang" kata Tama.
"Saya sudah ga punya siapa-siapa lagi, harus bisa mengubah nasib saya sendiri. Kerja seperti ini belum tentu bisa dijadikan pegangan hidup kedepannya. Kalo saya jadi bidan, paling ga bisa buka praktek sendiri atau kerja di Klinik milik keluarga" papar Bhree.
"Jadi ceritanya kamu udah silau sama harta yang keluarga kamu miliki Bhree? memang.. Saya ga ada apa-apanya dibandingkan keluarga kandung kamu. Ga bisa kasih gaji gede dan kesejahteraan" ungkap Tama penuh kecewa.
"Bukan begitu Bang... Ini pilihan yang berat sebenarnya, tapi Bapak ingin Bhree bisa kuliah" ucap Bhree.
"Mau gimana lagi? Meskipun agak menyayangkan pilihan kamu hanya berdasarkan pekerjaan dimasa yang akan datang. Itu berarti kamu ga yakin kalo Allah Maha Pemberi Rejeki. Belum tentu kan jadi bidan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Come on Bhree, hidup hanya sekali, nikmati apa yang kamu mau. Lagian kamu kan cewe, nantinya akan menikah dan ada laki-laki yang akan menanggung hidup kamu" ungkap Tama.
"Bang Tama tuh pikirannya terlalu lurus, yakin kehidupan kita akan semulus bayangan? Orang tua saya berpisah, sedari kecil Ibu yang berjuang untuk menafkahi saya. Bapak pergi entah kemana, bagian mana yang Abang bilang laki-laki akan menanggung wanita?" debat Bhree.
"Kenapa harus menilai semua laki-laki kaya Bapak kamu?" protes Tama.
Tim yang lain hanya terdiam mendengar perdebatan keduanya. Semua tau kalo Tama sedang berusaha mempertahankan Bhree untuk tetap disini. Tapi Bhree tidak mau mengubah pendiriannya.
"Karena ga ada yang bisa menjamin seseorang bisa berubah" ucap Bhree.
"Saya laki-laki, apa yang terucap dari bibir, InsyaAllah akan saya lakukan. Memang kita ga bisa menjamin seseorang bisa berubah, tapi saya akan berusaha Bhree. Saya akan tunjukin bisa jadi lelaki yang bertanggungjawab" ucap Tama.
"Udah lah Bang, ga usah hal kaya gini dianggap sepele. Masing-masing dari kita hanya akan menjalani takdir yang tertulis. Terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan selama ini. Semoga Allah membalas jasa Abang dan tim lainnya" tutur Bhree.
"Kayanya kita memang tidak satu pemikiran Bhree, kamu terlalu naif memukul rata bahwa yang menimpa orang tua kamu akan terjadi juga dalam hidup kamu" sahut Tama.
Tim meninggalkan keduanya, rasanya sudah masuk area pribadi. Mereka menghormati rasa diantara keduanya.
"Bang.. lupakan rasa yang ada dalam diri Abang terhadap saya" pinta Bhree.
"Maksudnya apa Bhree? bagi saya, asal kamu wanita baik-baik saja itu udah cukup" jawab Tama.
"Saya selalu mencoba untuk jadi wanita baik-baik, tapi kisah saya membuat banyak pandangan orang jadi miring. Punya orang tua yang berpisah, keluarga besar juga tidak jelas meskipun sekarang sedikitnya sudah kenal. Skandal Ibu makin menambah deretan cerita kelam keluarga. Jujur saya takut Bang. Saya sadar diri sebelum saya sendiri yang sakit hati. Menyiapkan untuk tidak berhubungan dengan lelaki itu adalah pilihan yang tepat saat ini" papar Bhree yang pemikirannya dewasa karena ditempa keadaan.
â
Berhubung ada yg Spill saya dagang, bisa kepoin gudangonlinenibras.com ya. Kalo mau order bisa chat via NT dulu.
Selain itu ada juga baju renang, baju muslim merek lain. Pokoknya palugada deh, yg penting kualitas oke lah barangnya