
Hana masih takut dengan ancaman Hari, tubuhnya bergetar.
"Mba Hana sakit?" tanya rekan kerja Hana.
"Ga..." jawab Hana.
"Tapi muka pucet begini, mana keringetan lagi. Coba duduk dulu Mba.. Saya buatkan teh hangat" kata rekan kerjanya Hana.
Setelah meminum teh hangat, tidak kunjung reda rasa takutnya.
"Kayanya Mba Hana pulang aja deh, daripada nanti malah tambah parah sakitnya" saran rekan kerjanya Hana.
Ibu Bidan pemilik Klinik pun melihat kondisi Hana, beliau menyarankan Hana untuk pulang saja, tidak usah kerja.
Akhirnya Hana setuju, memang dia sudah tidak bisa konsentrasi karena ancaman Hari.
Saat perjalanan pulang, di angkot pikirannya melayang.
"Kemana cari uang segitu ya, buat study tour Nabila aja belum keliatan uangnya. Ya Allah.. kenapa harus dia muncul lagi dalam kehidupanku.. membawa masalah baru yang ga akan kunjung usai..." ucap Hana dalam batinnya.
Hana juga memikirkan kondisi keuangan keluarga yang sedang tidak baik-baik aja. Motor Bapaknya yang biasa untuk ngojek anak sekolah, tiga hari yang lalu dicuri orang. Ibunya yang berjualan gado-gado juga sedang sepi pembeli. Setiap hari keluarga Hana memakan gado-gado sisa dagangan. Kakaknya Hana juga masih pas-pasan jadi tidak bisa membantu banyak.
Mungkin karena sudah merasa buntu, akhirnya dia memberanikan diri menghubungi dokter Raz. Hanya ini yang terpikir oleh Hana.
Hana turun dari angkot dan duduk di halte untuk menelepon dokter Raz.
"Kamu dimana sekarang?" tanya dokter Raz.
"Halte, ga jauh dari Klinik" jawab Hana.
"Tunggu disana, Mas kesana sekarang" pinta dokter Raz.
Tidak lama kemudian dokter Raz datang, memang sejak tadi curiga ada sesuatu yang terjadi terhadap Hana, jadinya sengaja membuntuti Hana.
"Kita bicara di tempat lain. Naik mobil Mas, tenang aja, ada supir kok. Abis itu telepon ke Bapak, bilang sedang pergi sama Mas" saran dokter Raz.
Hana mengikuti langkah dokter Raz. Keduanya duduk di bangku belakang. Mobil kembali berjalan.
"Kaya lagi bingung De...." terka dokter Raz.
"Gimana ya ceritanya.. bingung mulai dari mana" ujar Hana bimbang.
"Ada yang bisa Mas bantu?" tanya dokter Raz.
"Begini Mas... ehm.. ehm.. gimana yaaa..." Hana masih ragu.
dokter Raz melihat Hana tengah melihat supirnya dokter Raz, sepertinya Hana malu untuk berbicara.
"Nanti kita ngobrol kalo sudah ada disuatu tempat aja ya" putus dokter Raz.
.
Keduanya memasuki sebuah restoran klasik didaerah Jakarta Utara.
"Coba pelan-pelan cerita, tarik nafas .. relax" kata dokter Raz.
"Saya boleh pinjam uang Mas?" tanya Hana spontan.
Tentu saja dokter Raz kaget mendengar ucapan Hana. Dia berusaha tetap tenang. Terlihat jelas sekali Hana tengah banyak tekanan.
"Buat apa?" tanya dokter Raz.
"Saya janji akan menyicil tiap bulannya" jawab Hana.
"Ya buat apa uangnya?" tanya dokter Raz lagi.
"Ini untuk keperluan pribadi, Mas jangan kasih tau siapapun" pinta Hana memelas.
"Mas ga masalah kamu mau berapapun, tapi melihat wajah kamu aja , Mas bisa menilai kalo bukan tipe orang yang gampang minjam uang ke orang lain. Apa yang kamu sembunyikan?" selidik dokter Raz.
"Kalo Mas ga mau minjemin juga gapapa" putus Hana.
"Wait.. Wait .. ini bukan masalah uang atau Mas ga percaya De.. tapi bisa kan kasih tau buat apa uang itu?" ucap dokter Raz.
"Saya perlu uang itu untuk bantu seseorang Mas" Hana berbohong.
"Berapa?" tanya dokter Raz
"Dua juta ada?" kata Hana.
"Ada. Mau cash atau ditransfer?" tawar dokter Raz santai.
"Terserah Mas saja. Saya janji akan menyicil tiap bulannya. Kalo Mas khawatir saya ingkar, kita bisa bikin surat perjanjian bermaterai juga boleh" ucap Hana.
"Sekarang pesan makanan dulu aja. Nanti Mas transfer uangnya" ujar dokter Raz.
Hana masih canggung, segala rasa ada dalam benaknya. Ada malu, kecewa, takut dan marah.
"Buat lelaki yang tadi pagi itu?" tebak dokter Raz.
Hana ga bisa berkutik. Dokter Raz memang orang pandai yang ga gampang dia tipu.
"Itu Bang Hari" kata Hana berterus terang.
"Siapa Hari?" selidik dokter Raz.
"Ayahnya Nabila" jawab Hana sambil menundukkan kepalanya.
Dokter Raz kaget mendengar jawaban Hana, tapi dia tetap berusaha santai.
"Jadi kamu rela ngutang buat jantan tak guna itu?" suara dokter Raz setengah berbisik.
Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Apa yang buat kamu mau kasih uang ke dia?" tanya dokter Raz.
Hana tercekat tak mampu berkata-kata.
"Look at you, kamu dan Nabila lebih patut dikasihani daripada dia. Kamu sadar ga kalo lelaki itu yang memporak-porandakan hidup kamu dan Nabila?" ujar dokter Raz penuh penekanan.
"Ya udah, kalo Mas ga mau minjemin juga gapapa" ucap Hana yang akhirnya terpancing emosi.
dokter Raz langsung mengambil HPnya kemudian mengetikkan sesuatu.
"Maaf ya Mas.. jadi merepotkan. Ini urusan pribadi saya, jangan pernah Mas ikut campur didalamnya. Yang menjadi urusan kita hanya hutang ini" jawab Hana sambil mengetik nomer rekeningnya di HP dokter Raz.
Dokter Raz langsung memproses transferan tersebut.
"Cek aja.. sudah berhasil" kata dokter Raz sambil menunjukkan bukti transferan.
"Makasih Mas..." jawab Hana.
"Jangan menjual atau menggadaikan apapun untuk mengembalikan uang Mas. Oh ya.. mengenai ajakan dinner besok, ga perlu ikut kalo kamu ga bisa. Toh semua orang tau status Mas sebagai laki-laki single" kata dokter Raz.
Dokter Raz memanggil pelayan dan memesan makanan. Hana hanya memesan minuman.
Selang lima menit kemudian, datang sepuluh orang menyapa dokter Raz. Pantas saja mereka duduk di meja dengan kapasitas besar, rupanya dokter Raz ada temu janji dengan orang-orang ini.
Hana diminta pindah duduknya disebelah dokter Raz.
"Wah dokter Raz, rupanya ngajak makan siang buat ngenalin calonnya nih" ledek dokter Ika, salah satu dokter umum di Klinik milik dokter Raz.
"Kapan nyebar undangannya dok?" sahut Meli sang administrator yang biasa mengurus asuransi dan BPJS.
"Tuh De. .ditanya tuh sama calon anak buah, kapan mau nyebar undangannya?" timbal dokter Raz.
Hana memaksakan senyumnya.
"Aduh so sweet banget sih dokter Raz, manggilnya Ade .." ledek karyawan lainnya.
"Iya nih, ga nyangka deh dokter Boss kita yang kalem ternyata romantis juga" riuh rendah para karyawan tertawa.
"Namanya Hana, terserah enaknya mau panggil Ibu, Mba, Tante.. Pokoknya bebas" dokter Raz memperkenalkan.
Orderan makanan dan minuman sudah terhidang.
"Pesan makanlah.. masa minum doang" pinta dokter Raz.
"Nanti aja" jawab Hana.
Dokter Raz menikmati soto dan sate pesanannya. Hana masih menikmati banana split.
"Keliatannya enak De.. boleh coba?" tanya dokter Raz.
"Boleh" jawab Hana.
Dokter Raz mengambil sendok baru kemudian menyendok sendiri.
"dokkk... ada kita loh ini.. kalah deh anak muda sama couple senior ini, segala semangkuk berdua" ledek karyawannya dokter Raz.
Terlihat wajah dokter Raz yang berseri-seri, membuat semua senang melihatnya. Selama ini mereka jarang melihat dokter Raz sumringah.
"Bu Boss kayanya pendiam, dokter Boss juga bisa dibilang pendiam. Kalo pacaran diam-diaman kali ya?" celoteh Meli.
Semua tertawa, wajah Hana memerah karena malu.
Makan siang berakhir, dokter Raz pulang bersama Hana dan supirnya.
"Mas Abdul.. mampir ke butik Bu Shine dulu ya" pinta dokter Raz
"Siap dok" jawab Abdul.
Dalam perjalanan menuju butik.
"Mau ngapain Mas ke butik?" tanya Hana.
"Beli sayur" ujar dokter Raz sambil membalas pesan yang masuk.
"Sebagai balasan Mas sudah bantu saya, besok saya bersedia menemani. Tapi ijin ke Bapak dulu" kata Hana.
"Ok.. Mas mau beli baju, Bu Shine ini punya butik busana muslim dan baju pesta, langganan keluarga kami kalo lebaran dan acara-acara resmi. Kami kenal waktu anak-anak beliau masih bayi, mulai dari imunisasi sampai berobat ya sama Mas" jelas dokter Raz singkat.
Sesampainya di butik.
"dokter Raz, apa kabar? lama ga ketemu, terakhir Ramadhan kemarin ya" sapa Bu Shine.
"Saya lagi banyak ga di Rumah Sakit Bu.. makin luas aja nih butiknya" ujar dokter Raz.
"Alhamdulillah sudah banyak pelanggan, jadinya perlu ditambah tempatnya. By the way ini nyonya ya dok? Kok saya ga diundang dok?" tanya Bu Shine.
"Emang ga ngundang-ngundang. Oh ya Bu, besok malam ada acara dinner, rasanya males pake kemeja batik atau jas resmi. Ingin terlihat beda aja, tapi tetap resmi ya" pinta dokter Raz.
"Alhamdulillah dok, kami memang mau ngeluarin koleksi terbaru. Akan launching minggu depan, tapi sekarang sudah ready kok. Kaya safari gitu dok, tapi lebih trendy. Mari dok.. saya tunjukkan koleksinya" ajak Bu Shine.
Mereka menuju ruangan yang exclusive, ada sofa panjang dikelilingi kaca pada bagian dindingnya.
"Ini dok... koleksi kita, akulturasi modern dan tradisional. Aplikasi kita pakai kain-kain Indonesia. Meskipun terlihat masih batik, tapi bukan kemeja" Bu Shine menjelaskan.
"Bagus yang mana De?" tanya dokter Raz.
"Coklatnya bagus" jawab Hana.
"Wah.. tau aja nih Bu Farraz, ini warna tembaga kita sebutnya. Warna mahal.. " sahut Bu Shine.
"Coba dulu yang gaunnya, kalo oke kita ambil aja yang ini" ujar dokter Raz.
Bu Shine menyerahkan gaun ke Hana.
"Bu Shine biasanya ada koleksi tas dan sepatu juga, bisa tolong mix sama baju yang kita pilih?" tanya dokter Raz.
"dokter datang tepat pada waktunya. Koleksi kita kali ini memang sepaket sama tas dan sepatu untuk yang wanitanya. Kalo yang pria hanya atasan dan celana saja" papar Bu Shine.
"Gaunnya sudah include dengan jilbab?" tanya dokter Raz lagi.
"Sudah dok, model pashmina, bisa dikreasikan dengan mudah" lanjut Bu Shine.
"Oke bungkus ..." jawab dokter Raz.
Tipe pria ketika belanja, tidak perlu melihat harga dan membandingkan dengan model lain, begitu cocok langsung bayar.
"dok nanti minta fotonya pas dipakai ya, nanti buat saya pajang. Inget ga dok waktu koleksi koko lengan pendek, dokter Raz kirim foto dan saya cetak, langsung laku keras. Padahal saya sudah pemotretan pakai model. Katanya lebih natural yang foto dokter Raz. Sebagai wujud terima kasih saya, baju dokter Raz kali ini free, cukup bayar set gaunnya saja" tutur Bu Shine.
"Beneran? Makasih ya Bu.. semoga butik ini makin maju dan laris manis" ucap dokter Raz.