
Malam ini, didalam kamar, Elsa duduk memandangi laptopnya. Menghapus foto-fotonya bersama calon suami yang ga jadi. Rasa amarah belum cukup tertumpah. Setelah memaki bahkan membuat status di media sosial yang menyudutkan Bagas, Elsa juga banyak menyendiri dan menangis. Masih dalam tahap tertatih menapaki kenyataan hidup yang terbentang didepan.
Meratapi banyaknya kesialan yang menimpa dirinya secara beruntun. Dia tidak disukai ketika memimpin di PAUD dan TK milik keluarganya sendiri, yang menyebabkan dia tidak melanjutkan keinginan menjadi guru disana. Dia juga selalu gagal dalam wawancara menjadi guru. Akhirnya sekarang dia sudah bekerja di Jakarta, menjadi bagian administrasi disalah satu marketplace yang terkenal di Indonesia. Melupakan mimpinya menjadi tenaga pengajar. Sudah sebulan ini dia hijrah ke Jakarta, menjauh dari keluarganya.
Elsa juga tidak sehedon dulu lagi, dia mencoba hidup mandiri, harus bisa memperhitungkan pengeluaran dan pemasukan dari gajinya sendiri. Awalnya tentu berat harus makan di warteg dengan hanya satu lauk dan sayuran. Jangankan untuk membeli baju branded, skincare yang biasa dipakai dari sebuah Klinik kecantikan ternama pun sudah tidak sanggup dia beli. Sekarang dia pakai skincare yang dijual di market place saat ada flash sale. Selain keinginan dari dalam diri sendiri untuk berubah, Romo dan Kakaknya juga memberikan masukan agar dia mengubah gaya hidup dan pola pikirnya.
Tiba-tiba Elsa berhenti memainkan mouse, terlihat ada kiriman email dari Barra ke emailnya (nomer HP Barra memang di-block oleh Elsa sejak Elsa menerima pinangan Bagas). Email ini sebenarnya sudah lama, dikirim saat Elsa menolak Barra untuk kali kedua tapi baru terlihat oleh Elsa.
#Assalamualaikum Elsa... are u okay? Maaf kalo Mas lancang kembali meminang disaat kamu sedang mengalami cerita cinta yang menyedihkan. Mas janji akan menjauh dan tidak akan bermimpi bisa hidup berdampingan sama kamu lagi. Bahagia terus dengan jalan hidup yang kamu pilih ya, see you on top. Barra#
Sebuah email yang singkat tapi membuat air matanya Elsa ga terbendung lagi. Dia tau betapa besar rasa cinta Barra untuknya. Elsa juga pernah merasakan hal yang sama, cinta yang besar untuk Barra.
Biar bagaimanapun, Elsa pernah menempatkan Barra di hatinya dan menjadi lelaki yang selalu ditunggu kabarnya. Barra juga membuatnya terus semangat menjalani segala aktivitas dan memberikan kejutan ditiap ulang tahunnya. Meskipun apa yang dilakukan Barra sangat standar dan tidak mewah, tapi cukup berkesan untuk dikenang.
Terbesit sebuah rasa penyesalan dalam hatinya Elsa, menyesali semua perbuatannya ke Barra, bayangan menghina Barra dan keluarganya saat berkunjung ke rumah Barra, permintaan pisah dengan alasan Barra ga bisa kasih kepastian tentang hubungan mereka padahal saat itu hatinya tengah tergoda dengan lelaki lain. Semua alasannya hanya karena Elsa ga mau hidup susah dengan Barra.
Selama bersama Barra, hampir lima tahun lamanya, sesibuk-sibuknya Barra pasti ada pesan yang dikirim, bahkan jika senggang, Barra akan meneleponnya agak lama. Dari ceritanya Barra, Elsa menarik kesimpulan sepihak, bahwa Barra ga akan sanggup menghidupinya karena kondisi ekonomi Barra yang masih morat-marit. Berbeda dengan Bagas, dia hadir dengan keyakinan bisa menghidupi Elsa secara layak, keluarganya pun mapan sehingga tidak akan menggangu stabilitas keuangan anak-anaknya. Bagas punya deretan usaha yang bisa dijalankan sambil berkegiatan sosial. Bagas juga kerap memberikan kejutan yang lebih mewah dari Barra. Inilah yang membuat Elsa melabuhkan cintanya pada dermaga yang baru, yaitu Bagas.
Teringat perkataan Romo, jika Barra adalah orang yang tepat untuknya. Bagas bukan yang terbaik untuk dijadikan pendamping menurut kacamata keluarga Elsa. Hingga kisah pun bergulir seperti sekarang ini. Andai waktu bisa diputar dan Elsa bisa sedikit bersabar, mungkin kini dia bisa bahagia dan menjalani cerita cinta yang lebih dewasa.
Keputusannya untuk menolak lamaran Barra membuatnya dan Barra harus merangkai cerita masing-masing.
.
Disudut kamar, Romo melihat HP nya, ada nomer Barra masih tersimpan. Beliau ingin menghubungi Barra, tapi ragu yang menyergap, ingin rasanya bicara ke Barra untuk tidak menyerah. Memperbaiki diri agar Elsa bisa jatuh hati padanya lagi. Perdebatan kata batinnya tak terelakkan, hatinya masih menimbang, akankah Barra sanggup memenuhi permintaannya.
"Ya Allah.. Apa karena demi sebuah rasa malu dan harga diri, haruskah Barra yang jadi korban? Meskipun kami para orang tua tau kalo Barra masih sayang sama Elsa" kata Romo.
.
Barra mengambil HP nya, baru saja dia selesai membuat laporan rawat inap di Rumah Sakit dan sekarang sedang ada di ruang istirahat dokter selepas operasi.
Dicarinya nama Romo dan seluruh keluarga Elsa serta nomer Elsa juga, kemudian dia delete.
"Satu-satunya cara buat move on ya ga boleh lagi tergoda menghubungi mereka" kata Barra dalam hatinya.
Barra mematikan laptopnya.
🌿
Bhree diakhir proses kuliahnya, mendapatkan tugas kerja praktek, dia ditempatkan didaerah Kabupaten Tangerang. Disebuah kelurahan yang belum terlalu "kota". Ada program pemerintah yang sedang marak diperbincangkan yaitu stunting (gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan tinggi badannya berada dibawah standar). Dia akan berada dibawah koordinasi Bidan Kokom (merupakan Bidan senior didaerah sana). Dari kampusnya hanya Bhree sendiri, tapi nanti ada beberapa orang dari kampus kebidanan lainnya yang akan bersama disana.
.
Barra sedang libur kuliah, dia sudah berjanji akan menginap di rumah Walid selama tiga hari untuk membantu memeriksa kesehatan para jama'ah pengajian disana. Mereka merasa cocok dengan resep yang diberikan Barra. Kali ini Barra menggandeng produk suplemen yang mengandung vitamin C dan D, merupakan salah satu produk dari perusahaan farmasi yang memberikan beasiswa kepadanya. Selain itu, ada beberapa obat yang berkaitan dengan tulang dan persendian juga sudah disiapkan sebagai bentuk "iklan" kepada masyarakat yang belum banyak tau (obat tidak gratis tapi harganya promosi).
Barra bertemu dengan dokter Raz disana, karena sebelumnya Barra tau kalo dokter Raz pernah tinggal di tempat Walid, jadi tidak kaget dengan kehadiran dokter Raz disana.
"Kemarin Walid cerita kalo dokbar akan buka konsultasi gratis selama tiga hari, eh ga taunya saya juga lagi ada program buat jelasin stunting nih di daerah ini" kata dokter Raz.
"Masih banyak memang disini kasusnya dok?" tanya dokbar.
"Lumayan marak lagi" jawab dokter Raz.
"Program mungkin dari pusat sudah benar dok, hanya dalam penyampaian ke masyarakatnya yang banyak disunat. Bisa aja kan jatah daging satu kilo terus nyampe dipenerima hanya seperempat" kata dokbar.
"No komen deh.. Kita kan tenaga medis, ga usah kaya petugas KPK yang menyelidiki korupsi hehehe. Gimana kalo dokbar aja yang sekalian menjelaskan? Secara punya banyak massa disini, kan katanya dokter jomblo dan ganteng. Calon mantu idaman calon mertua" pinta dokter Raz.
"Ahlinya kan dokter Raz, nanti saya salah penyampaian" jawab dokbar merendah.
.
Bhree sudah sampai di lokasi. Lumayan banyak orang, tapi kebanyakan mau ikut konsultasi kesehatan gratis, bukan menyimak tentang stunting.
Rumah Walid bisa dibilang besar dengan halaman yang cukup luas sebagai tempat berkumpul.
"Bhree .. Nanti kamu akan tinggal disini dulu selama masa tugas tiga bulan ini. Walid punya banyak kamar. Beliau sudah setuju" jelas Bidan Kokom.
"Bidan yang lain juga akan tinggal disini?" tanya Bhree.
"Ga.. Akan tersebar dibeberapa rumah yang sudah bersedia menampung kalian" kata Bidan Kokom.
Suasana semakin siang semakin ramai. Dokter Raz yang sudah selesai menjelaskan tentang stunting pun sudah pamit pulang.
"Ini konsultasi gratis dari pemerintah juga?" tanya Bhree.
"Bukan, ini diberikan secara cuma-cuma atas kesadaran sendiri. Sudah beberapa tahun belakangan ini, ada dokter umum yang sangat baik, sedikitnya sebulan sekali mengadakan konsultasi gratis. Namanya dokter Barra, sekarang lagi sekolah spesialis. Orangnya baik banget dan ramah sama siapa aja. Mungkin karena sibuk, hampir dua bulan absen dari sini makanya di rapel" cerita Bidan Kokom.
Tidak ada kericuhan meskipun antrian semakin padat. Hari ini dibatasi hanya lima puluh orang pasien yang sudah didata sebelumnya (Walid sudah memberikan nomer beserta tahap keberapa giliran pasien bisa konsultasi). Tahap satu, dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas siang, tahap dua dari jam satu hingga jam tiga siang, sedangkan tahap akhir akan dimulai ba'da isya sampai jam sepuluh malam.
Sosok lelaki tinggi 180 cm memakai snelli dokter dan celana bahan berwarna hitam tampak sangat sibuk sekali. Ada beberapa jama'ah yang membantu untuk mengatur para pasien. Di ruangan sederhana, dokbar memberikan konsultasi.
Bhree diminta oleh Bidan Kokom untuk membawa pakaiannya ke rumah Walid. Anak bungsunya Walid membantu Bhree memindahkan barang.
Jam sebelas siang, dokbar break ishoma, dia terlihat keluar dari bilik periksa tanpa snellinya, kaos yang dikenakan terlihat agak lepek, demikian pula dengan wajahnya. dokbar mengambil air mineral dingin yang tersedia di meja kemudian duduk dibawah pohon untuk menyegarkan tubuhnya.
"Itu yang namanya dokter Barra, disini biasa dipanggil dokbar" tunjuk Bidan Kokom.
Bhree melihat dokbar yang tengah kipas-kipas pakai koran dibawah pohon.
"Eh.. Bengong... Pasti terpesona ya?" goda Bidan Kokom.
"Ga Bu.. Saya sepertinya pernah ketemu, tapi lupa dimana" jawab Bhree.
.
Sajian makanan kampung terhidang diatas meja, akan disantap selepas sholat dzuhur berjama'ah.
dokbar tengah siap menyantap makanan, Bhree masuk bersama anak bungsunya Walid. Mata dokbar refleks melihat kearah Bhree.
"Bhree?? Apa itu dia?" tanya dokbar takjub.
Mata dokbar terus mengikuti gerak langkah Bhree. Tanpa sengaja Walid melihat dokbar yang tengah terdiam sambil memegang piring kosong.
"Makan dulu, pasien selanjutnya udah menanti. Kalo mau kenalan sama Bidan itu, nanti aja selepas tahap tiga, dia tinggal disini kok" goda Walid yang seakan tau arah pikirannya dokbar.
"Walid bisa aja, saya sepertinya kenal sama dia. Wajahnya ga asing, memang ada banyak perubahan, saya kenal sudah tiga tahun terakhir ini" jelas dokbar.
"Kalo kenal kenapa ga disapa?" tanya Walid.
"Saya cukup kenal sama dia, tapi dia kayanya ga mengenal saya" jawab dokbar.
"Kok bisa?" tanya Walid bingung.
"Kalo sudah senggang, nanti saya cerita ya. Sekarang waktunya makan, kayanya semua masakannya menggiurkan" kata dokbar.