
"Ga habis pikir sama Bhree.. Ga penting banget apa isi pesan Bapaknya? Cuma minta alamat buat kirim ini aja ga bersedia.. Ampun deh nih cewe .. " keluh Barra yang kesal sendiri karena sudah dua bulan lebih kembali menyimpan wasiat Pak Dasuki.
Dipandangi map tersebut dan melihat isi yang sudah dia hapal diluar kepala.
"Antara foto dan aslinya kok ya cakepan aslinya ya? Apa karena foto ini diambil pas dia belum kenal skincare? Ah masa sih dia ga kenal skincare... secara Kak Diah kan uangnya banyak, masa anak ga diurusin?" ucap Barra.
⬅️
"dokbar banyak berdo'a saja, agar Allah pertemukan lagi sama Bhree untuk menyampaikan amanah almarhum. Bukannya Walid ga mau bantu, tapi kalo berkas itu disimpan disini, khawatir keselip" saran Walid saat Barra menceritakan kronologis tentang surat wasiat tersebut.
"Bidan Kokom juga saya titipin kaya keberatan Walid. Padahal yang saya dengar, anaknya itu pacarnya Bhree kan?" tanya Barra.
"Kata mantu saya bukan pacaran, tapi masih mencoba saling kenal. Bang Bobby itu baik, malah jadi salah satu calon mantu idaman para warga sini, tapi Bhree masih mau sendiri mengingat masih kuliah kebidanan kan ga boleh menikah" cerita Walid.
➡️
"Bhree... Please deh... Ini penting banget tau .. Isinya itu tentang keluarga Bapak kamu" kata Barra ngomong sendiri.
⭐
Wisuda adalah upacara pelantikan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan dan penanda kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar. Hari ini sakral buat Bhree, karena akan diwisuda dan diambil sumpah menjadi Bidan.
Pak Daliman datang mewakili orang tua, anak-anak Pak Daliman tidak ada yang mau ikut menghadiri wisuda Bhree.
Rencananya Bidan Kokom dan Bobby juga akan menghadiri wisuda Bhree, tapi karena Bobby ada dinas dadakan dari kantornya, jadinya semua batal. Bidan Kokom pun sedang banyak pasien yang perkiraan lahirnya sebentar lagi.
Bhree meminta Bobby memberikan waktu ke dia untuk kerja dulu, menjalankan profesinya sebelum menikah. Keduanya memang tidak terikat dalam tali pertunangan, tapi kedua keluarga sudah pernah bertemu. Tanggapan Pak Daliman terhadap Bobby sangat baik. Bobby adalah seorang pegawai swasta dengan jabatan supervisor disalah satu perusahaan penyedia jasa telekomunikasi dari luar negeri. Sebelumnya Bobby selalu berpindah-pindah wilayah di Indonesia, tapi sejak enam bulan lalu sudah ditempatkan di Jakarta.
Bobby menerima keputusan Bhree, dia tidak mau memaksa untuk menikah secepatnya. Keduanya memang kerap berkomunikasi dengan baik lewat sambungan telepon. Kalo jaman sekarang bilangnya hubungan tanpa status. Keduanya pun tampak baik-baik aja dengan hubungan yang seperti ini.
Bhree adalah cinta pertamanya Bobby, makanya Bidan Kokom amat sangat mendukung karena sudah menantikan puteranya jatuh cinta pada wanita. Diusianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun, tidak pernah Bobby memperkenalkan wanita ke keluarga. Baru Bhree lah, Bobby langsung tancap gas minta bantuan Ibunya untuk lebih kenal sama Bhree.
Bobby mengirimkan buket bunga dan coklat untuk Bhree yang dititipkan ke Pak Daliman (Bobby mengirim ke Hotel tempat Pak Daliman menginap). Pak Daliman sendiri memberikan tas beserta satu set peralatan standar yang dipakai oleh Bidan, tak lupa mengirim uang ke Bhree melalui transfer Bank.
"Lo beruntung banget Bhree .. Bang Bobby perhatian banget. Nemenin pas suntuk-suntuknya ngerjain tugas akhir. Kirimin makanan via ojol. Tiba-tiba nongol ketemu disini kalo ada long weekend.. Ahhh pokoknya gw ngiri banget. Liat aja, disaat gw wisuda, ga ada cowo yang ngasih bunga" curhat Luna.
"Tapi kan keluarga lo lengkap datang .. liat gw? Cuma ditemani sama Kakek" jawab Bhree.
"Bhree ... Kita dah empat tahun bareng, segala rahasia udah lo ceritain ... Hari ini gw happy .. Akhirnya lo bisa terima kehadiran Kakek lo sebagai keluarga. Gw bilang juga apa kan? Setiap orang bisa berubah" kata Luna.
"Paling ga .. saat ini hanya Kakek yang gw punya. Beliau sangat menghormati setiap keputusan gw. Secara gw kan anak yang ga pernah dianggap suaranya. Kakek gw ga maksain apapun ke gw" kata Bhree.
"Bhree .. beneran kan abis ini Lo bakal tinggal di Jakarta? Kita cari kerjaan bareng yuk" ajak Luna.
"Gw udah ada panggilan wawancara Minggu depan di Rumah Sakit Cinta Medika, do'ain ya gw diterima" pinta Bhree.
"Lo masih kontekan sama dokter Raz sih ya? jadinya begitu ada lowongan langsung dikabarin" ujar Luna.
"Kan gw udah ajakin, lo yang bilang mau rehat dulu, cape kuliah" kata Bhree.
"Kalo gw liat penampakannya Kakek lo itu bukan orang susah deh, kenapa sih segala ngotot pengen langsung kerja? Butuh duit banget apa?" tanya Luna.
"Pengen bisa punya duit hasil keringat sendiri. Gw juga mau jalanin hobi lama gw, motret. Jadi pengen punya kamera yang bagusan deh, kali aja bisa jadi ladang tambahan ngumpulin pundi-pundi uang" jawab Bhree.
"Gw kayanya bakal kerja sama Encing yang punya BPS, ya abis gimana .. turun temurun banyakan keluarga jadi Bidan. Betewe, di Jakarta Lo bakalan tinggal sama Kakek?" tanya Luna lagi.
"Setelah test DNA itu, gw jadi merasa lebih terikat perasaan dengan beliau. Apalagi sejak Tante Debi meninggal dua bulan yang lalu, gw perlu jaga Kakek gw yang tinggal sendirian.. Anaknya ga ada yang mau tinggal bareng" jawab Bhree.
⬅️
Pak Daliman memang pernah kejam terhadap Dasuki dan Bhree, ini karena kesalahan masa lalu yang dilakukan oleh Dasuki. Padahal saat itu Dasuki sudah bertunangan dengan anak temannya Pak Daliman, tapi jodoh berkata lain.
Tante Debi sendiri sebenarnya galak didepan Bhree sebagai bentuk melindungi Bhree. Beliau tau kalo Kakak-kakak angkatnya akan membuat Bhree lenyap dari kehidupan Pak Daliman (mereka yang membuat Dasuki muda terjerumus ke narkotika dan angkat kaki dari rumah). Bisa dibilang Bhree adalah pewaris sah satu-satunya dari Pak Daliman, makanya Tante Debi ingin Bhree menjauh dari keluarganya agar bisa selamat.
Dengan perjanjian yang pernah ditulis bersama Bhree, Kakak angkat Tante Debi merasa diatas angin. Mereka taunya Tante Debi ada dipihak mereka.
Pak Daliman sering kali diinformasikan sama Tante Debi tentang rencana jahat anak-anak angkatnya tapi selalu ga percaya. Hingga beliau sendiri mencoba menyelidiki. Setelah tau kebenarannya, Pak Daliman mengubah surat wasiatnya. Karena nantinya bagian Bhree sangat besar (enam puluh persen termasuk bagian Tante Debi yang diserahkan ke Bhree semua), pihak notaris meminta test DNA untuk menguatkan identitas Bhree sebagai cucunya Pak Daliman.
Klinik Aura adalah milik Tante Debi, itulah mengapa Bhree selalu mendapatkan perawatan dan skincare secara gratis. Tante Debi ingin Bhree lebih cantik terawat.
Semua hal diatas tidak diketahui oleh Bhree sampai sekarang, Pak Daliman tidak mau nanti malah Bhree akan menjauh dari hidupnya karena ketakutan nyawanya terancam.
Sejak kematian Tante Debi, Pak Daliman setiap pekan mengunjungi Bhree, beliau juga menjual rumah Tante Debi yang ada disana, usahanya pun ditutup termasuk Klinik kecantikan Aura. Hasil penjualannya ada di rekening yang disiapkan untuk Bhree, sesuai wasiat Tante Debi. Klinik Aura yang di Tangerang memang tidak dijual karena merupakan Klinik kecantikan pertama yang dibuka oleh Tante Debi.
➡️
"Lo langsung pulang hari ini Bhree?" tanya Luna.
"Ya.. barang gw udah dibawa semua tuh di mobil. Paling ke Hotel dulu buat ganti baju, masa gw pake kebaya pulang ke Jakarta" ujar Bhree.
"Gw stay dulu dua hari, keluarga mau jalan-jalan disini" kata Luna.
Keduanya berpamitan, cukup emosional karena keluarga tau kalo persahabatan mereka sangat tulus dan akrab.
⭐
Awalnya Hana ragu untuk bercerita ke suaminya, ada rasa takut dibawa ke psikolog dan ditanya-tanya tentang masa lalu lagi.
Siang ini keduanya sedang santai di kamar hotel. Hana mulai memijat kakinya Farraz. Walau tangannya bergetar ketika menyentuh Farraz, tapi dia mencoba untuk melawan rasa takutnya sendiri. Farraz tau kalo Hana sedang melawan traumanya, jadi diam sambil menikmati pijatan istrinya, sesekali memandang wajah Hana, kalo Hana tersadar, buru-buru Farraz sibuk dengan HP nya.
"Mas.. Bisa tolong taro HP nya dulu ga?" tanya Hana hati-hati.
Farraz langsung meletakkan HP nya dan fokus ke Hana.
"Yang semalam.. Rasanya kalo gelap itu identik sama penyiksaan" buka Hana.
"Disiksa mantan?" to the point Farraz.
Hana mengangguk pelan. Hana melanjutkan memijat kakinya Farraz.
"Bukan saya mau buka aib masa lalu, tapi pengen banget bisa sembuh Mas. Gelap, tali, kayu panjang itu udah jadi makanan harian ketika mantan ngajak begituan" lanjut Hana.
Farraz memegang tangan istrinya dan langsung menariknya kedalam pelukan. Cerita penyiksaan Hari ketika berhubungan suami istri sungguh bikin Farraz bergidik ngeri. Farraz sampe ngebayangin gimana rasanya tangan terikat tali, dalam kegelapan ruangan kemudian dipaksa buat melayani dengan berbagai posisi yang ga wajar.
"Kalo dia ga bergairah, pukulan kayu pasti mendarat dipunggung. Dia itu selalu memukul dibagian yang tertutup baju, jadi ga ada yang tau. Saya sampai diam-diam ikut KB suntik, biar ga hamil lagi. Ditambah harus banting tulang buat kehidupan keluarga kami" cerita Hana sambil menangis.
"De... Mas ga akan memperlakukan kamu seperti itu. Mas akan menghormati layaknya menghormati Ummi" janji Farraz.
Mereka bertatapan. Mata Hana menimbulkan hasrat yang coba ditahan oleh Farraz. Hana pun melihat Farraz sangat tulus padanya. Hana mengumpulkan kepercayaan dirinya. Wajah keduanya makin mendekat. Sentuhan bibir Farraz dikening Hana, membuat Hana merasa terlindungi.
"Kamu akan baik-baik aja De" semangat Farraz.
"Ya.. bersama Mas.. semua akan baik-baik aja. Tapi Mas sabar ya hadapin Hana yang begini" pinta Hana.
"Kamu juga harus sabar ngadepin Mas yang bakalan sibuk kedepannya. Mas usahakan punya waktu sama keluarga tiap weekend ya" janji Farraz.