
Cukup dilema juga dokter Raz ketika dimintai tolong seperti ini. Akhirnya memutuskan berbincang dulu dengan Hana.
"Gimana De? Kayanya kita terpaksa membuka identitas Hari?" tanya dokter Raz.
"Gapapa Mas, daripada Utie jadi korban" jawab Hana.
Akhirnya Utie datang ke cafe yang telah disepakati bersama oleh dokter Raz dan Hana. Dia datang sendiri sesuai perintah dari dokter Raz.
"Jadi Mas Raz mau bilang buat jauhin Mas Hari juga? Pasti ini titipan pesan dari Bapak" kata Utie kesal.
"Tie .. semua sayang sama kamu, ingin yang terbaik buat kamu. Lagian kan masih muda, baru juga mulai kuliah" ujar dokter Raz mencoba meredam emosi Utie.
"Tapi Mas Hari itu selalu mendukung Utie, paling ngerti dan sayang banget. Ga kaya lelaki lain yang deketin Utie" ucap Utie.
"Dia itu lebih pantas jadi Bapak kamu Tie .. Liat diri kamu baik-baik.. Bapak kamu punya usaha yang bisa dibilang lebih dari cukup, dari keluarga mapan dan terpelajar. Buka mata lebar-lebar, orang yang kamu bilang lelaki hebat itu cuma kerja di angkringan milik Bapak kamu, pernah ga berpikir kalo dia cuma mau manfaatin kamu doang? Tie.. udah dewasa kan untuk membedakan mana cinta suci atau sekedar pelampiasan belaka. Dia lelaki yang ga baik buat kamu Tie .." ungkap dokter Raz masih mencoba menahan gejolak emosinya.
"Mas ini kok sekarang jadi gampang merendahkan orang lain? Mas Raz yang Utie kenal itu sangat bijak dan menghormati orang. Seolah-olah kok Mas kenal banget sama Mas Hari jadi bisa langsung ambil kesimpulan dia ga baik buat Utie" protes Utie.
"Kamu kenal dia dimana?" tembak dokter Raz.
"Sekitar empat bulan yang lalu kenalan di media sosial, terus mulai tuh private message dan tukeran nomer HP. Sejak awal kenalan juga dia ga nutupi identitasnya, kasih foto real pict dan ngaku statusnya apa, usianya berapa. Jadi ga ada tuh fake dalam hubungan kami. Dia banyak kasih masukan yang positif. Lama kelamaan Utie ngerasa sreg dan dia juga bilang terlanjur cinta sama Utie. Dia duda, mantan istrinya ditangkap polisi karena kasus perdagangan organ tubuh manusia, beritanya heboh kok di media online" cerita Utie.
"Masukan positif atau bisa kamu jadi positif alias hamil?" tantang dokter Raz.
"Mas kok ngomongnya gitu sih" omel Utie.
"Dia sangat berpengalaman Tie.. kamu udah diapain aja sama dia?" lanjut dokter Raz makin menjadi.
"Mas.. jangan sembarangan kalo ngomong, dia menjaga Utie banget" ucap Utie penuh amarah.
Hana dan dokter Raz menduga ini hanyalah pintar-pintarnya Hari aja untuk menarik simpati Utie.
"Dia sudah cerai sama istrinya yang kena kasus hukum?" tanya dokter Raz.
"Udah, dia langsung ke Pengadilan Agama saat itu juga. Siapa coba yang mau keseret masalah hukum sedangkan dia ga tau apa-apa. Utie dikasih liat kok akta cerainya" ucap Utie.
"Kamu akan terus melanjutkan hubungan meskipun keluarga menentang?" tantang dokter Raz.
"Keluarga menentang karena belum terlalu kenal aja, Mas Hari itu bukan orang miskin seperti yang semua kira, tapi dia sengaja menutup diri dan menyamar jadi pegawai rendahan kaya gini karena khawatir terseret kasus mantannya, kan dia udah pernah jadi dipanggil jadi saksi. Lagipula uangnya banyak habis buat bantu kasus mantannya" papar Utie menggebu.
"Utie.. Keluarga melarang pasti karena ingin yang terbaik buat anaknya. Dia lelaki yang ga sebaik perkiraan kamu, Mba ini amat sangat kenal siapa dia" tiba-tiba Hana angkat bicara.
"Emang Mba siapanya Mas Hari? Kok tadi ketemu biasa aja kaya orang ga kenal" tanya Utie kepo.
"Dia mantan suami Mba .. cukup mengenal luar dalamnya seperti apa. Tapi maaf kalo Mba ga bisa kasih tau alasan kami bercerai. Intinya sudah tidak ada kecocokan" jelas Hana.
"Mantan istri? Sebelumnya dia udah pernah nikah sebelum sama Melati?" ujar Utie kaget karena Hari belum pernah cerita kalo sudah dua kali menikah.
"Kenal sama Nabila kan? Dia itu anak Mba dan dia" lantang Hana bicara.
"Nabila? berarti udah lama nikahnya sama Mba? Kan Nabila udah mau masuk SMA tahun depan" kata Utie.
"Betul.. setelah berpisah sama Mba, rupanya dia menikah lagi, tapi Mba ga tau apa dia punya anak sama istrinya yang baru atau tidak" ucap Hana tetap tenang.
.
Utie pamit pulang, rasanya dia langsung ingin mendengar penjelasan dari Hari. Ada rasa kecewa, dibohongi, tidak terbuka dengan identitas sebelumnya.
Utie menelepon Hari, marah-marah karena dibohongi Hari.
"Sayang.. memang dia mantan istri Mas, tapi ada alasan kenapa Mas ga mau cerita tentang dia. Karena terlalu sakit" jawab Hari.
"Mas harus jelasin malam ini juga, kita ketemuan dimana? Mas kan libur kerja hari ini" kata Utie.
"Kita perlu bicara di tempat yang nyaman sayang.. Ga mungkin di cafe atau angkringan. Gimana kalo kita jalan naik mobil, kemana kek" ajak Hari.
"Utie ambil mobil dulu, nanti alasan apa gitu sama Bapak" ujar Utie.
Keduanya janjian disebuah lokasi jalan. Utie membawa mobil, dia meminta ijin Bapaknya kalo mau mengantarkan temannya yang perlu dibawa ke Rumah Sakit. Akting Utie sangat meyakinkan karena sebelumnya dia minta tolong temannya untuk mengaku akan pergi sama Utie, padahal itu hanya akal-akalan Utie.
Hari menunggu di pinggir jalan, Utie menghampiri kemudian gantian Hari yang mengemudikan mobil.
Hari mencoba memegang tangannya Utie, tapi Utie menariknya karena masih kesal.
"Sekarang kamu tenang dulu ya sayang.. Mas akan jelaskan secara gamblang.. apapun yang kamu tanyakan akan Mas jawab" janji Hari.
"Bener? Sumpah ya mau terus terang, Utie ga mau dibohongi lagi" ucap Utie masih ngambek.
"Kamu kenal kan Mas kaya gimana? Selama ini semua Mas ceritakan tanpa ditutupi. Terus kamu langsung percaya sama cerita versi Hana? Kamu kenal siapa dia?" tanya Hari.
"Sebatas istrinya Mas Raz, ga pernah ngobrol panjang sih, paling ketemu terus salaman dan basa basi aja" jawab Utie.
"Nah itu.. harusnya bisa nilai dong.. siapa yang lebih kamu percaya sayang?" kata Hari dengan lembut.
Utie mulai berpikir. Hari terus melajukan kendaraannya.
.
Hari memarkir mobil disebuah hutan pinus pinggiran kota, kaca mobil bagian depan dibuka. Tidak ada sumber cahaya disana, hanya dari senter HP saja.
"Kita duduk di bangku belakang yuk sayang" ajak Hari.
"Ngapain sih Mas ke tempat gelap begini, emangnya ga takut ada setan" ucap Utie yang takut.
"Ayo.." ajak Hari sambil menarik lengannya Utie.
Keduanya duduk di bangku belakang.
"Sini peluk Mas.. Disini sunyi, kita mau teriak-teriak berantem ga bakal ada yang denger. Jadi kamu bebas melampiaskan amarah kamu" ucap Hari dengan lembut.
Hari mengambil kesempatan dengan memangku Utie yang tubuhnya imut sekali. Kemudian memeluknya dari belakang. Jari jemari Utie digenggam dengan lembut oleh Hari. Tubuh Utie juga direbahkan ketubuhnya Hari.
"Mas mau apa?" tolak Utie yang mencoba untuk bangun, tapi tangan Hari mendekap erat.
"Sayang.. Mas bisa mati kalo hidup tanpa kamu" rayu Hari.
Utie terdiam, bibir Hari menyentuh pipinya Utie. Ini kali pertama Utie dicium pipinya oleh lelaki. Memang sebelumnya Utie pernah pacaran, tapi sebatas bergandengan tangan saja.
"Mas tau kamu marah, kesal dan kecewa. Tapi dengar dulu penjelasan Mas, setelah ini kamu mau memutuskan hubungan kita pun Mas udah ikhlas" kata Hari dengan nada sedih.
Ada cahaya melintas dari sebuah mobil yang melalui jalan, tapi mobil ini tidak tampak dari jalan karena terhalang batu besar.
"Mas.. Utie takut banget" ucap Utie yang sangat ketakutan karena kondisi gelap gulita, dia tadi sudah mencobanya menyalakan HP nya tapi ternyata lobet.
"Ini kan udah Mas peluk, atau kamu menghadap Mas biar ga takut?" ide Hari.
Kini keduanya berhadapan, tapi tidak melihat wajah karena memang gelap. HP Hari dimasukkan ke kantong yang ada di kursi.
"Mas.. takuttt, HP nya Mas mana?" tanya Utie beneran ga nyaman.
"Lobet sayang.. Coba kamu tenang.. Terus kamu tanamkan dipikiran kalo ada Mas yang akan melindungi kamu. Ini tempat dimana kita bisa bicara tenang sayang" kata Hari dengan lembut sambil meraba pipinya Utie.
Kepala Utie direbahkan ke pundaknya Hari. Utie tidak melawan karena dia takut. Hari mengusap punggungnya Utie.
"Udah lebih nyaman sayang?" bisik Hari.
"Ya..." jawab Utie pelan.
"Pelukan kaya gini tuh selalu bikin semua orang tenang" lanjut Hari lagi.
Utie mengangguk pelan.
"Belum pernah ya dipeluk lelaki?" tanya Hari.
"Belum.. dicium pipi aja baru pertama kali" jawab Utie dengan polosnya.
"Maaf ya Tie.. Mas ga tau kalo kamu belum pernah ciuman, kan katanya udah pernah punya pacar" ujar Hari penuh sesal.
"Tapi kita pacarannya cuma sekedar makan, nonton dan jalan aja. Paling juga gandengan tangan. Itu juga malu Mas" ungkap Utie.
"Jadi Mas yang pertama memeluk dan mencium kamu? Beruntung banget Mas masih dapat wanita orisinil di era modern kaya gini. Kamu ga masalah pacaran sama duda?" ungkap Hari setengah berbisik.
"Duda kan status Mas, yang penting Mas sayang sama Utie" jawab Utie yang sudah masuk perangkapnya Hari.
"Bukan sayang lagi .. Tapi cinta mati.. udah mentok, ga bisa kelain hati" rayu Hari.
"Bener???" tanya Utie memastikan.
Hari langsung mencium bibirnya Utie yang sedari tadi sudah diusap-usap. Tadinya Utie mau melepaskan pagutan Hari, tapi Hari makin mendekap tubuh mungil Utie. Tangan Utie diminta memeluk Hari.
"Tie.. Jilbab kamu dibuka aja, biar ga ribet.. lagian gelap ini.. Mas ga akan lihat rambut kamu" ide Hari.
Utie memang memakai jilbab tapi masih pake baju press body ala-ala anak jaman modern. Bahkan model jilbabnya jipon (jilbab poni sebutan untuk orang yang pakai jilbab tapi rambut terlihat karena tidak memakai ciput/dalaman jilbab) dan jilboobs.
Utie pun menuruti perintah Hari. Setelahnya Utie kembali dipeluk Hari, Hari mulai mengusap rambutnya Utie.
"Mas tuh paling suka wanita yang rambutnya panjang kaya gini, kesannya kaya wanita penurut. Jangan potong ya istriku" pinta Hari.
"Istri???" tanya Utie bingung.
"Mas tuh kayanya udah anggap kamu kaya istri. Kan Mas bilang mau melamar kamu sesegera mungkin" kata Hari makin lembut.
Daun telinga Utie dikecup dan ditiup pelan, sehingga Utie merasa kegelian dan tertawa manja.
"Nah begini dong.. Ini baru Utieku sayang.. Yang manja, ceria dan selalu tampil sederhana" puji Hari.
"Mas katanya mau cerita, kok malah jadinya kita manja-manjaan" ungkap Utie.
"Kamu suka ga Mas manjain kaya gini?" tanya Hari iseng.
"Ya Mas.. Ternyata nyaman ya pelukan kaya gini, yang tadinya kesal sama Mas jadi ilang kesalnya. Yang ada makin cinta sama Mas. Dan ciuman pertama sama orang yang sangat Utie cinta.. Begini toh rasanya.." jawab Utie malu, mungkin jika ada cahaya maka akan terlihat pipi Utie memerah.
Utie ini anak bungsu, tapi memang kurang dapat perhatian keluarga karena semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, jadinya saat diperlakukan dengan penuh perhatian sama Hari jadinya luluh.
"Mas boleh panggil istriku ga?" canda Hari.
"Maluuuu Mas" ucap Utie.
"Ya udah.. Nanti kalo kita udah nikah jangan malu ungkapin perasaan cinta ya. Kita bangun keluarga penuh kasih sayang setiap harinya" lanjut Hari.
"Mas nekat mau memperistri Utie meskipun semua melarang?" tanya Utie untuk meyakinkan tekadnya Hari.
"Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi demi kamu pujaan hatiku" rayu Hari.
"So sweet banget sih Mas.. " ucap Utie yang sudah mulai berani memegang pipinya Hari.
"Utie sayang.. Cintaku.. Istriku... Mas mau cerita semua, tapi ga bisa lengkap ... Hana itu dulu pake pengaruh black magic, jadi Mas dibuat tergila-gila sama dia, ga denger kata keluarga, cuma denger katanya dia aja. Ternyata setelah menikah, habis semua harta Mas dikuras, matre kan? Makanya Mas mau menghilangkan sejarah hidup bersama dia dalam kisah masa lalu Mas. Maaf kalo Mas ga terus terang... terlalu sakit untuk dikenang. Dan Nabila... Mas ga yakin dia anak Mas, Hana itu udah ga perawan saat menikah, tapi Mas ga pernah kasih tau kesiapa-siapa, baru kamu yang tau rahasia ini. Mas coba terima kenyataan siapa yang makan buahnya ... siapa yang kena getahnya" papar Hari mellow.
"Ya udah Mas.. ga usah dipaksakan buat cerita. Utie percaya seribu persen sama Mas. Emang udah curiga sama Mba Hana, kok bisa-bisanya sekelas Mas dokter bertekuk lutut sama dia. Padahal Mas Raz bisa dapat yang lebih dari Mba Hana" kata Utie.
"Kamu bilangin aja ke keluarga dokter Raz buat hati-hati, sekarang keliatannya baik, tapi kalo udah dapat harta.. Pasti dokter Raz ditendang kaya Mas" ingat Hari.