HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 66, Pendekatan



Mas Wisnu dan tim sedang sibuk mempersiapkan set tempat dilakukannya sesi foto nantinya. Mereka diberikan satu ruangan yang biasanya dipakai untuk meletakkan perlengkapan acara di kampus.


Bhree datang diantar sama supirnya Pak Daliman. Karena tim yang ikut bareng Mas Wisnu itu karyawan lama, jadinya cepat akrab sama Bhree.


"Jadi cantik Lo Bhree... Tau gitu gw pacarin aja dari dulu" kata salah satu karyawan Mas Wisnu.


"Jangan ngobrol aja.. Bhree nanti bantu Shafa buat rapihin baju wisudawan dan touch up muka ya, biasanya kan yang cowo berkeringat dan rada kusam, jadi minimal dibedakin deh. Yang lain pantau terus pencahayaan dan back up foto langsung ke laptop" perintah Mas Wisnu.


"Siap Mas" jawab semua tim.


Rombongan dokter spesialis mulai berdatangan, yang wanita sudah full make up, tapi yang lelaki sesuai prediksi Mas Wisnu kebanyakan wajahnya berminyak dan agak kusam karena ga sempat merawat wajah karena beban pekerjaan dan pendidikan.


"Bhree.. Kamu kerja di studio foto juga? Sebenarnya kamu Bidan atau apa sih?" sapa dokbar yang baru datang.


"dokbar kuliah disini? Selamat ya udah jadi spesialis" ucap Bhree sambil membersihkan wajah salah satu wisudawan.


"Thanks" jawab dokbar.


"dokbar jatahnya nanti dulu difotonya, kan baru datang.. Antriiii" kata dokter yang lain.


.


"Maaf ya dok, saya lap pake kertas penyerap minyak dulu wajahnya" jelas Bhree sambil membersihkan wajah dokbar.


dokbar hanya tersenyum. Dia melanjutkan mengetik sesuatu di HP nya.


"Ternyata kalo mukanya klimis gini dia cakep juga, rambutnya juga baru dipotong, ga awut-awutan kaya kemarin" kata Bhree dalam hatinya.


"Titipannya ada di rumah, sekarang lagi minta Ibu buat nyiapin, terus dikirim kesini pake ojol. Kita kan ga bisa ketebak kapan ketemunya, jadi begitu ketemu langsung ajalah kasih. Jangan pergi dulu ya sampai ojolnya datang" jelas dokbar to the point.


"Jadi merepotkan ya dok.. Maaf ya" jawab Bhree ga enak hati.


"Yang penting kan amanah tersampaikan" ujar dokbar selow.


"dok kalo saya bersihin pake pembersih muka terus kasih bedak sedikit boleh? biar ga terlalu berminyak banget" pinta Bhree.


"Ok" jawab dokbar.


Sekarang giliran dokbar foto sendiri, awalnya memakai jas dan dasi.


"Bhree ... tolong benerin dasinya tuh, agak miring" kata Mas Wisnu.


Bhree memang terbiasa merapihkan orang-orang yang mau difoto pun langsung sigap menghampiri


"Maaf dok.. mau benerin dasinya" ucap Bhree rada malu karena dari tadi dokbar terus diledek sama dokter lainnya karena dia satu-satunya dokter spesialis yang belum menikah.


Memang terlihat Bhree dan dokbar banyak berbincang, jadi hal ini memicu orang-orang yang disana mencurigai ada sesuatu diantara keduanya.


"Jadiin dok... pepet terus" goda dokter lain.


"Ini kenalan lama .. Eh ga nyangka ketemu disini" jawab dokbar untuk meredakan situasi.


Mas Wisnu melanjutkan mengambil foto dokbar. Tidak lama kemudian datang driver ojol mencari Bhree, dia menyerahkan map plastik ke Bhree.


dokbar dan rekan sejawatnya sedang berfoto bersama. Dari gaya serius sampai santai sudah diambil momennya oleh Mas Wisnu.


Jam satu siang, pemotretan baru selesai, Bhree pamit mau sholat dulu, kebetulan dokbar juga mau sholat, akhirnya mereka jalan berdua menuju musholla.


"Habis ini free? Makan siang bareng yuk" ajak dokbar.


"Saya mau makan siang bareng tim" jawab Bhree.


"Map nya taro yang bener, nanti keselip lagi" ingat dokbar mengalihkan pembicaraan.


"Sudah saya masukin tas, sekali lagi makasih ya dok. Alhamdulillah Bapak menitipkan sama orang seamanah dokter" ujar Bhree tulus.


"Makasih doang? ga ada gitu penghargaan terhadap effort saya selama ini? Lumayan loh nyari-nyari alamat orang tua kamu, malah sempet ke Solo juga karena ada info Bapak kamu tinggal disana" tanya dokbar.


"Saya jadi ga enak nih dok" ujar Bhree.


"Gimana kalo kita bikin enak aja" sahut dokbar spontan.


"Maksudnya apa ya dok?" Bhree bingung sama maksud pembicaraan dokbar.


"Jangan yang aneh-aneh dulu pikirannya. U know kan kalo ga ada yang gratis hari gini?" papar dokbar.


"Ya terus dokter mau minta apa ke saya?" tanya balik Bhree.


"Apa yang akan saya minta.. Kayanya worth it lah sama upaya menjaga amanah Bapak kamu selama ini plus bolak balik Solo" jawab dokbar.


"dokter mau minta saya ganti ongkosnya?" tanya Bhree yang mencoba berkelit.


"Seorang Bidan pasti punya pola pikir yang cepat kan? Ga usah segala tanya saya minta ganti ongkos atau ngga. Saya cuma minta buat ditemenin pas wisuda" putus dokbar.


Bhree menimbang banyak hal di otaknya, untunglah sudah sampai di Musholla, keduanya berpisah untuk mendirikan sholat Dzuhur.


.


"Gimana? Bisa?" tembak dokbar.


"Nanti saya kabarin ya dok" jawab Bhree.


"Jadi jawabannya nolak nih?" pancing dokbar.


"Kan saya bilang nanti dikabarin, bukan langsung nolak. Saya mau minta ijin dulu" kata Bhree.


"Oh iya lupa.. mau bilang dulu ke pacarnya ya? By the way gimana caranya tau jawaban kamu mau apa ngga? nomer HP ga pernah dikasih, medsos ga tau, alamat rumah apalagi.. Ga mungkin dong pake merpati pos atau nganyutin surat di sungai" canda dokbar.


Bhree mengeluarkan HP nya, seri terbaru yang harganya masih diatas dua puluh jutaan. dokbar kaget melihat barang yang dimiliki oleh Bhree.


Bhree mencari kontak dokbar yang pernah ia simpan, nomernya dikasih sama istrinya Ustadz Amirul. Kemudian dia missed call ke nomer tersebut. HP dokbar berbunyi.


"Itu nomer saya dok" ucap Bhree.


dokbar menyimpan nomer tersebut.


.


Mas Wisnu dan tim meninggalkan lokasi selepas ashar, tadi mereka makan siang bareng di ruangan, menikmati nasi box yang sudah Mas Wisnu pesan.


🌿


Tama kembali membuat konten diacara festival jajanan nusantara yang sedang diadakan di Monas. Berbagai sajian kuliner khas daerah ambil bagian disana. Tama mengajak keluarga dan full tim untuk menikmati sajian secara bersama-sama.


Tanpa sengaja kembali bertemu sama Elsa. Cukup kikuk suasananya karena Elsa bertemu sama mantan kekasihnya, aka Kakaknya Tama. Orang tua Tama pun jadi ga enak hati dengan suasana tersebut, akhirnya diputuskan keluarga Tama akan pisah dari rombongan kontennya Tama. Elsa pun diajak sama Tama buat makan bareng. Karena Elsa sendirian, jadinya dia menerima usulan Tama.


Setelah membuat beberapa konten, timnya Tama pulang, sedangkan Tama masih menemani Elsa yang keliatannya masih ingin muter-muter di area ini.


"Mbak oke kan?" tanya Tama meyakinkan kalo Elsa baik-baik aja.


"Oke.." jawab Elsa.


"Ga pulang kampung Mba? Kan weekend ini liburan panjang" kata Tama.


"Ga.. Mba kan kerjanya shifting, ga ngaruh sama long weekend" ujar Elsa sambil menyeruput jus jeruknya.


"Udah kerasan disini ya Mba? Namanya Ibukota.. pasti daya tariknya lebih besar dibandingkan daerah" ucap Tama.


"Ga juga sih.. lebih karena melarikan diri aja" tukas Elsa dengan cueknya.


"Mba.. maaf sebelumnya, dulu waktu lamaran di Solo, saya sempat dengar desas-desus keluarga Mba bilang katanya calon Mba Elsa itu dokter ya? eh malah yang datang Mas Bagas" tanya Tama iseng.


"Masa lalu.. Mba yang salah.. Mba yang main hati sama Mas Bagas dibelakang dia. Jadi apa yang sekarang Mba lalui ya anggap aja karma" tutur Elsa dengan nada penuh penekanan.


"Sorry..." jawab Tama buru-buru.


"Kamu sendiri gimana? Jadian ga sama Diva?" tanya Elsa balik.


"Hahahaha .. antara kami itu hubungan profesional aja Mba, ga ada main rasa didalamnya. Jujurly ya Mba .. Saya sudah menambatkan hati pada seorang wanita yang entah sekarang ada dimana. Sulit melupakan dia meski sudah empat tahun berlalu. Bayangannya selalu asyik menari aja dipikiran. Mungkin itu yang buat jadi agak sulit membuka hati" cerita Tama.


"Ada keinginan buat nikah dalam waktu dekat Tam?" tanya Elsa lagi.


"Mau nikah sama siapa Mba? Wong pacar ga ada, yang saya taksir pun ga tau kemana rimbanya. Makanya empat tahun ini fokus gila-gilaan kerja, buat pelarian ditanya kapan nikah aja sama keluarga" ucap Tama.


"Kita sama ya.. melarikan diri dari keluarga karena malas ditanya itu-itu lagi" kata Elsa.


♥️


dokter Raz kembali beraktivitas seperti semula, jadwal praktek semua dipindahkan hanya dari Senin sampai Jum'at, beliau tidak mau membuka praktek saat weekend. Hanya pasien rawat inap saja yang akan di visit jika terbentur weekend. Kesibukan kian bertambah dengan persiapan pembangunan Kliniknya yang di Depok, jadinya pulang ke rumah sudah diatas jam sebelas malam. Biasanya Hana sudah tidur, tapi jika suaminya pulang dia akan terbangun dan menyiapkan minuman untuk dokter Raz.


Disaat dokter Raz sibuk, Hana yang mengurus anak-anak, jadinya mereka tidak merasa kesepian lagi di rumah. Biasanya anak-anak dokter Raz lebih senang main ke rumah temannya, sejak ada Hana lebih betah di rumah.


Hana memang belum menjalankan kewajibannya melayani nafkah batin ke dokter Raz, tapi keduanya tampak adem ayem, dokter sangat legowo dengan keadaan saat ini.


"Mas.. Besok anak-anak ngajak jalan ke festival jajanan kuliner, bisa kan?" tanya Hana.


"Mas visit dulu ya pagi-pagi, soalnya banyak pasien anak nih yang lagi dirawat, di dua Rumah Sakit pula" papar dokter Raz.


"Kalo anak-anak mau sih enaknya sekalian ikut aja ya? kita nunggu di parkiran, jadi Mas ga bolak-balik" kata Hana.


"Ya" jawab dokter Raz sambil berjalan menuju kamar mandi.


Hana kembali berbaring sambil menonton acara di TV yang ada di kamarnya, dokter Raz baru keluar dari kamar mandi.


"Dari kemarin bawa pulang kado terus Mas, kayanya jadi dokter favorit para pasien ya, banyak yang ngasih kado" ujar Hana.


"Alhamdulillah rejeki kita menikah" jawab dokter Raz yang langsung rebahan di ranjang.


Dokter Raz mendekati Hana kemudian memeluk dari samping.


"Masih belum ready De?" bisik dokter Raz.


Hana mulai merasa ga nyaman dengan perlakuan dokter Raz. Namanya lelaki, lama tidak tersalurkan hasratnya secara benar dan baik, jadinya tiap ada kesempatan pasti meminta Hana untuk bersedia melayaninya.