
dokbar akhirnya baru bisa makan jam sebelas malam karena selepas sholat Maghrib, para pasien sudah ga sabar. dokbar ga bisa menolak, sebagai seorang dokter, harus bisa mengalahkan kepentingan pribadi untuk pasien.
Bhree pun sama, dia membantu mengatur pasien agar sesuai dengan nomer antrian. Dia juga yang menimbang berat badan dan memeriksa tekanan darah pasien, sehingga dokbar tinggal konsultasi saja. Baru siang tadi dokbar meminta bantuannya agar mempercepat antrian konsultasi.
⬅️
"Kamu Bidan kan?" tanya dokbar.
"Belum lulus dok, masih tingkat akhir" jawab Bhree.
"Tolong bantu nimbang sama cek tensi ya" pinta dokbar.
"Ya dok" jawab Bhree.
Hanya itu percakapan mereka, dokbar langsung masuk ke bilik pemeriksaan dan Bhree mengerjakan apa yang dokbar minta.
➡️
Hanya tinggal Bhree dan dokbar yang belum makan, rasa lapar menyergap, tapi makanan semua ludes karena banyak tamu yang datang ke rumah Walid. Pak Ustadz saja sampai mengeluarkan semua makanan yang tadi diberikan para jama'ah saat mengisi kajian dibeberapa tempat.
"Nama kamu Bhree kan? kita cari makan diluar aja gimana?" tanya dokbar dengan pedenya sok kenal sama Bhree.
"Maaf dok.. Saya sebenarnya penasaran, kok bisa dokter kenal sama saya? Kan saya belum nyebut nama. Apa kita pernah kenalan? Atau ketemu dimana gitu? Soalnya saya ga ingat dokter sama sekali" ujar Bhree rada bingung dan kaku karena memang dia dingin terhadap lelaki.
"Kita cari makan dulu aja yuk, nanti diceritain semua deh" ajak dokbar.
"Udah malem banget dok, sekalian besok sarapan aja makannya. Hampir tengah malam ga baik kita jalan berduaan. Saya pamit masuk kamar dulu ya dok" ujar Bhree yang langsung meninggalkan dokbar.
.
Rasa lelah tidak kunjung membuat dokbar mengantuk. Dia amat sangat bersyukur, setelah tiga tahun penantian panjang, akhirnya bisa ketemu sama Bhree dan akan menyerahkan wasiat dari Pak Dasuki.
"Ya Allah.. Akhirnya.. ketemu juga.. Pak Dasuki, tenanglah disana. Bhree udah ketemu" kata Barra bahagia.
Semua berkas milik Pak Dasuki ada di rumahnya, dia akan segera menyerahkan ke Bhree begitu sampai di rumah. Makanya dia bertekad untuk meminta nomer kontaknya Bhree.
.
Keesokan harinya, selepas sholat subuh, pasiennya dokbar sudah mulai berdatangan. Tapi pasiennya hari ini pengertian sekali, ada yang bawain minuman dan makanan untuk dokbar. Lumayan bisa sambil sarapan ditengah melayani para pasiennya yang sudah tidak sabar untuk konsultasi medis.
Pihak pabrik obat pun merasa senang karena mereka bisa menjual obat-obatan yang direkomendasikan oleh dokbar. Tapi dokbar lihat-lihat dulu kondisi pasiennya. Jika tampak mampu secara ekonomi maka akan diresepkan. Jika kondisi ekonomi kurang maka dokbar akan meresepkan obat generik yang bisa ditebus sendiri di Apotek.
Hari kedua pengobatan banyak pasien tambahan karena sudah banyak yang tau kalo dokbar memberikan jasa konsultasi gratis. Tidak ada kesempatan untuk berbincang sama Bhree sama sekali dihari kedua. Saat hampir tengah malam, Bhree sudah masuk kamar padahal dokbar baru selesai praktek.
"Besok kesempatan terakhir ketemu dia, harus bisa.. harus Barra.. Semangat. Eh tapi kepedean banget ga sih sok kenal banget sama dia? Tapi kan emang kenal" kata Barra dengan penuh keyakinan.
.
Hari ketiga antrian pun tambah banyak, sudah ditolak oleh anak bungsunya Walid mengingat kondisi fisik dokbar yang mulai kelelahan.
Jam delapan malam semua pasien terlayani dengan baik. Tapi dokbar tampak agak pucat. Dia terduduk menyender didepan bilik periksa.
"dokbar rehat aja dulu .. Atau mau makan? Pucat banget" kata Walid khawatir.
"Iya Walid, saya rehat dulu, mengatur nafas. Full sendirian buka prakteknya lumayan menguras tenaga. Lain kali perlu ditata dengan lebih rapih, tidak ada penambahan pasien diluar kuota. Oh ya Walid.. Liat Bhree ga ya? Saya mau minta tolong diinfus vitamin sama dia" ujar dokbar.
"Tadi ikut Bidan Kokom bantu Ibu yang mau melahirkan" jawab Walid.
"Walid punya nomer kontaknya?" tanya dokbar lagi.
"Ga ada, nanti bisa tanya ke Bidan Kokom aja, mungkin dia tau. Ada perlu apa nih? Suka ya sama dia .." goda Pak Ustadz yang ikut nimbrung.
"Bukan begitu Pak Ustadz, saya menyimpan wasiat dari almarhum Bapaknya. Setelah tiga tahun berlalu, akhirnya takdir mempertemukan kami disini" jelas dokbar.
"Kok bisa begitu? Bhree nya tau kalo dokbar nyari dia selama ini?" tanya Pak Ustadz.
"Belum Pak Ustadz, makanya saya mau cerita sama dia. Saya hapal wajahnya dari foto-foto milik Bapaknya" kata dokbar.
dokbar menceritakan secara singkat kenapa berkas-berkas milik Pak Dasuki ada ditangannya.
"Besok pagi kan ketemu, bisa langsung ngobrol sama dia" ujar Pak Ustadz.
.
Jam tujuh pagi, dokbar sudah siap pulang ke rumah. Nanti siang ada jadwal operasi yang akan dia ikuti. Sudah dimasa akhir perkuliahan seperti ini, dia memang sudah banyak terlibat di tindakan operasi meskipun belum menjadi operator karena belum ada ijinnya.
"Bhree ga pulang, tadi istri saya tanya ke tetangganya Bidan Kokom, katanya memang belum pulang semuanya karena ibu yang melahirkan nyari Rumah Sakit rujukan" lapor Pak Ustadz.
"Gimana ya, saya sudah harus balik Pak Ustadz, ada jadwal operasi nanti siang" kata dokbar yang tengah memanaskan motornya.
"Nanti disampaikan ke Bhree ya kalo sudah balik" janji Pak Ustadz.
"Terima kasih Pak Ustadz, jadi merepotkan. Kalo bukan karena sebuah wasiat, kayanya saya ga sengotot ini pengen tau kontaknya" jawab dokbar.
"Semoga urusan diantara kalian bisa selesai" kata Pak Ustadz.
"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab dokbar.
.
Bhree baru kembali ke rumah Walid sekitar jam empat sore. Lelah mendera setelah mencari Rumah Sakit rujukan yang bisa menerima pasien dengan kondisi yang kurang bagus.
Dia langsung tertidur selepas sholat ashar. Istrinya Pak Ustadz ga mau ganggu dulu, membiarkan Bhree rehat sejenak.
🌿
Nabila ketakutan meskipun dia tau itu Ayahnya sendiri.
"Masuk..." ucap Hari dari dalam mobil.
Nabila terdiam.
"Masuk... Nanti dikira orang, gw mau nyulik Lo" perintah Hari dengan kasar.
Nabila masuk kedalam mobil, Hari langsung melajukan mobilnya.
"Bener ga Bunda Lo mau kawin lagi?" tanya Hari.
"Ga tau" jawab Nabila singkat.
"Lo tuh udah gede, udah SMP masa ga tau sih. Jadi anak jangan bego-bego banget" ujar Hari sewot.
"Bener Yah.. Bila ga tau apa-apa. Itu kan urusan orang dewasa" ucap Nabila ketakutan.
"Hana ga bakalan ngurusin Lo kalo udah nikah lagi, mending mulai sekarang ikut Ayah" pinta Hari memaksa.
Entah keberanian dari mana, Nabila nekat membuka pintu mobil dalam kondisi berjalan. Nabila terjatuh dipinggir jalanan, untunglah banyak tanaman liar, jadinya tidak langsung menyentuh tanah yang ada batunya.
Hari langsung injak gas.
Barra yang sedang melintas langsung berhenti dan menolong Nabila.
"De.. Ada yang sakit?" tanya dokbar.
"Cuma baret dikit Om" jawab Nabila.
Barra membantu Nabila berdiri dan menawarkan bantuan mengantar pulang karena jalannya terpincang-pincang. Tapi Nabila menolak, akhirnya Barra berinisiatif memesankan ojek online agar Nabila merasa lebih nyaman (khawatir Nabila mengiranya sebagai panjahat yang siap menyulik).
Setelah Nabila naik ojol, Barra meneruskan perjalanan.
🌿
"Gimana Bang? Nabila mau tinggal sama kita?" tanya Melati.
Rupanya wacana untuk mengambil Nabila dari Hana adalah inisiatif dari Melati. Merasa di rumah tidak ada kehadiran anak rasanya amat sepi.
"Anaknya ribet, ketularan emaknya yang ga bisa diatur" jawab Hari.
"Kita ketemuan aja sama mantannya Abang, nanti saya bantu jelasin. Kan kalo Nabila ada di kita, bisa meringankan beban mantannya Abang" kata Melati.
"Ga usah deh, kita kan bisa angkat anak dari mana kek, Nabila tuh songong sama orang tua. Ya ga bisa nyalahin dia juga sih, secara Bundanya yang ngasuh ga beres" ucap Hari.
"Padahal kita bakal sekolahin yang tinggi kok. Emang mantan Abang separah itu ya resenya?" tanya Melati lagi.
"Dia itu cewe paling ribet dimuka bumi ini, baguslah udah pisah sama dia. Kalo ga, mana mungkin bisa bahagia kaya sekarang ini. Gosipnya dia udah dapat calon suami, seorang dokter, tololnya tuh dokter mau aja masuk perangkapnya" jelas Hari.
"Perangkap gimana maksud Abang?" kata Melati.
"Dia akan pura-pura jadi orang yang teraniaya, menjual cerita kalo mantan suaminya jahat lah, yang nganggur lah, yang ga bisa nafkahin dan segudang alasan lain" jawab Hari.
"Parah amat ya jadi cewe. Matre abis, lepas dari Abang dia nyari mangsa baru. Emang Abang ga takut nanti Nabila dalam bahaya?" tanya Melati.
"Bahaya? Maksudnya gimana?" tanya balik Hari.
"Sekarang kan lagi banyak berita tentang kisah anak yang dirudapaksa sama Bapak sambung. Nabila kan udah remaja, lagi ranum-ranumnya" oceh Melati.
Hari diam, sepertinya sedang berpikir tentang ucapan istrinya.
⭐
Nabila menceritakan kejadian yang baru menimpanya hanya ke Hana. Dia sudah paham kalo keluarga Bundanya pasti akan marah jika menyebut nama Hari.
Hana hanya bisa menahan kesedihannya, dia harus tetap bisa cool didepan Nabila.
Saat Nabila sudah tidur disebelahnya, Hana masih memikirkan tentang keselamatannya dan Nabila.
"Bang Hari udah ga bisa ditolerir, udah parah otaknya. Anak sendiri dibuat kaya gini. Ya.. Menikah secepatnya dengan dokter Raz adalah jalan terbaik untuk saat ini. Harus berani Hana.. dokter Raz itu lelaki baik, punya pekerjaan, pemikirannya lebih matang. Kaya langit dan bumi sama Bang Hari. Tapi kalo nanya lagi kapan mau ngelamar, apa pantas?" kata Hana bicara sendiri.
.
"Hana beneran niat nikah ga ya? Kok tiba-tiba nanya kapan ngelamar? Kemarin saat Ummi gencar banget pendekatan, dia malah ogah-ogahan. Dia beneran udah jatuh cinta atau terdesak situasi? Apa dia lagi kesulitan ekonomi? Apa karena orang tuanya yang minta? Atau .. Atau .. Mantan suaminya?" tanya dokter Raz coba mengurai keputusan Hana yang setuju akan menikah dengannya.
Pintu kamar dokter Raz diketuk oleh anak-anaknya.
"Masuk aja.. Ga dikunci" jawab dokter Raz dari dalam kamar.
Kedua buah hatinya langsung duduk disamping kanan kirinya dokter Raz kemudian memeluk.
"Ini ada apa sih? Tumben anak Ayah semanis ini" ledek dokter Raz.
"Yah .. Bener kalo Bunda Hana setuju nikah sama Ayah? Alhamdulillah.. Akhirnya setelah penantian panjang .. " tanya Mas Haziq.
"Nanti Nabila tinggal disini kan Yah? kapan Ayah mau nikahnya?" timpal Raifa.
dokter Raz memandang kedua anaknya dengan senyuman penuh cinta. Ga ada kata terucap, tapi ketiganya sudah saling paham bahwa akan ada kebahagiaan didepan nantinya, Hana dan Nabila akan menggenapi keluarga mereka.