HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 84, Terselamatkan



"Bodoohhhhhh" umpat Zaki.


"Maaf Pak.. Tadi saya lihat kondisi aman terkendali, tiba-tiba ada dua orang datang dan bikin saya kaget dan panik. Daripada saya ditangkap polisi ya mending kabur" ucap Hari ketakutan.


"Mereka liat muka kamu ga?" tanya Zaki.


"Ga Pak.. Aman, kan pake masker, jadi mereka ga kenali wajah saya. Mobil juga pakenya yang rental, udah saya balikin. Kayanya mereka ga sempat liat plat mobil" lapor Hari.


"Bhree gimana?" ucap Zaki.


"Tadi sih masih pingsan, ga tau kalo sekarang gimana, soalnya saya udah panik Pak" jawab Hari.


"Ya udah.. sekarang kamu pergi yang jauh dari sini, jangan balik sampe saya suruh balik. Bisa-bisa rencana kita semua gagal karena kebodohan kamu ini" omel Zaki.


"Saya kabur kemana Pak?" tanya Hari.


"Terserah kemana, nanti saya transfer uangnya" jawab Zaki.


Sejak pernah dimintai keterangan oleh para penyidik kepolisian, Hari merasa takut jika berhadapan kembali dengan pihak berwajib. Jadinya dia setuju untuk pergi menjauh dari Jakarta.


.


"Kenapa Ki?" tanya dokter Amalia.


Zaki berbisik ke Kakaknya.


"Dasar otak udang" geram dokter Amalia.


"Kita harus bisa dapetin Bhree malam ini juga" kata Zaki.


"Terakhir tadi dibawa kemana? Coba cari disana, mungkin ada yang tau Bhree dibawa kemana" perintah dokter Amalia.


🌿


"Bhree.. Kenal sama yang bikin kamu pingsan?" selidik dokbar.


"Supirnya Tante Amalia, tadi saya diminta buat ke Rumah Sakit karena kondisi Mbah menurun. Di jalan saya udah curiga, kok arah mobil malah ga ke Rumah Sakit, ternyata dia punya niat jahat" cerita Bhree.


"Coba sekarang telepon Tante kamu" pinta dokbar.


"HP saya jatuh di mobil itu dok, ga ingat nomernya. Ga nyatet juga" kata Bhree baru ingat.


"Mau lapor polisi?" tawar dokter Raz.


"Sekarang saya perlu ke Rumah Sakit dok, mau memastikan kondisi Mbah gimana" ujar Bhree.


"Jangan macem-macem dulu Bhree, intinya ke Rumah Sakit buat tau kondisi Mbah kamu atau pulang ke rumah akan sama bahayanya. Kamu paham ga?" ungkap dokbar.


Bhree menggelengkan kepalanya. dokbar kemudian menghubungi seseorang.


"Kenapa supir itu mau jahatin kamu Bhree? Ada salah sama dia?" tanya Hana pelan-pelan.


"Saya ga tau Bu. Selama ini saya ga pernah ngobrol sama dia, jadi kecil kemungkinannya punya salah sama dia. Ketemu juga baru beberapa kali" papar Bhree.


"Kira-kira dia disuruh orang atau memang dia jahat?" tanya dokter Raz penasaran.


"Saya juga ga tau dok" jawab Bhree masih terasa agak pusing.


"Bhree.. Mbah kamu kondisinya mulai stabil, kalo besok sudah bagus, akan dipindah ke ruang rawat. Tadi saya menelepon dokter anastesi yang bertugas di ICU" lapor dokbar.


"Alhamdulillah..." jawab Bhree.


"Secara logika, kalo orang itu bawa spray bius, artinya sudah ada rencana berbuat jahat. Saya ga bisa bilang ini ada kaitannya sama Tante kamu atau ngga, tapi yang jelas pelaku adalah orang yang tau siapa kamu" papar dokbar.


"Wait.. jadi kejadian ini ada indikasi tindak kejahatan? Tadi dokbar bilang bahaya kalo Bhree balik ke rumah, gimana kalo Bhree nginep dulu di rumah saya. Boleh kan De?" usul dokter Raz.


"Dengan senang hati" jawab Hana.


Dari sorot matanya Bhree, Hana bisa merasakan kalo Bhree kurang kasih sayang, tadi saat dia memeluk Bhree, responnya seperti sedang bermanja dengan seorang Kakak.


"Saya nanti merepotkan ga Bu?" kata Bhree ga enak hati.


"Ga kok.. malah seneng ada temen ngobrol. Kamu bisa pakai baju Mba Raifa aja, kalo baju saya pasti kebesaran" jawab Hana.


dokbar pamit pulang terlebih dahulu, dia ingin bertemu dengan orang tuanya, hal ini berkaitan dengan kedatangan Elsa ke rumah.


.


"Beneran nih kamu udah ga ada hubungan apa-apa sama Elsa?" tembak Ibunya Barra begitu Barra selesai makan malam.


"Bu.. anaknya baru aja selesai makan. Belum tentu dia bisa menikmati makan tanpa diuber-uber pasien dan jadwal operasi. Nanti dulu lah" saran Bapaknya Barra.


Ibu, Bapak dan Barra masih duduk di tempat semula. Adik-adiknya Barra sedang bebenah di dapur.


"Menurut Bapak dan Ibu bagaimana?" kata Barra memecah keheningan.


"Maksudnya?" tanya Ibunya Barra.


"Elsa ... kita kan lagi bahas dia" jawab Barra.


"Dia banyak berubah dari pertemuan pertama dulu. Cara bicaranya sopan, gesturnya juga luwes.. ga sekaku dulu, jauh deh bedanya" nilai Bapak.


"Tadi dia bilang kalo Romonya ngajak ketemu" adu Barra.


"Giliran udah jadi spesialis sibuk ngejar lagi. Kemarin jaman masih jadi dokter baru kok ga mau berjuang. Seorang Bapak bisa kok maksa anaknya menikah, ini malah diem aja. Ga usah ketemuan, nanti yang ada kamu diminta balikan sama Elsa" cerocos Ibunya Barra khas emak-emak.


"Kamu sendiri gimana? masih cinta sama dia? ada niat balikan lagi?" tanya Bapaknya Barra.


"Susah payah menyerah dan melupakan semuanya Pak, masa masih mau berkubang diperasaan yang sama. Sebenarnya Barra lagi dilema, sejujurnya ada wanita yang Barra suka. Tapi rasanya ga adil kalo dalam waktu dekat menikah. Barra kan janji mau beliin rumah yang lebih besar sedikit dari rumah ini. Mau orang tua merasakan hasil jerih payah Barra. Jadi ngerasa egois kalo memutuskan menjalin hubungan dengan seorang wanita" curhat Barra.


"Siapa?" kepo Ibunya.


"Barra mau ngomong dulu sama dia, ya mau ungkapin semua perasaan yang lama tersimpan. Dia yang buat Barra bisa move on dari Elsa" lanjut Barra.


"Udah kenal lama?" ujar Bapaknya Barra.


"Beberapa tahun belakangan ini" kata Barra.


"Cerita tuh yang jelas .. Dia itu siapa? kerja atau masih kuliah? dari keluarga baik-baik ga? dia mau terima kondisi kamu dan keluarga ga? Sekarang kamu maunya gimana?" tembak Ibunya Barra.


"Mau coba mengenal dia lebih dalam lagi, ya pepet terus sampe tau apa dia suka sama Barra atau ngga. Minta waktu tiga bulan ya buat kenalin kesini sebagai pasangan Barra" pinta Barra.


"Terserah kamu.. Udah gede kan? Tau apa yang harus dilakukan" ujar Bapaknya Barra.


"Pokoknya jangan sampe kejadian Elsa berulang lagi. Cari yang bisa terima keluarga, jangan mau sama anaknya tapi ga mau sama keluarganya" lanjut Ibunya Barra.


Barra terdiam, pandangannya mengarah ke gelas yang ada diatas meja. Meskipun sudah menjadi seorang dokter spesialis, dia tetaplah seorang anak yang masih tunduk jika orang tua memberikan nasehat.


🌿


"Kak ini ada surat sakit dari Bhree, dokter Raz yang kasih kesini, minta diserahkan ke Kakak buat dilaporkan ke HRD" jelas resepsionis.


"Kok bisa suratnya dokter Raz yang kasih?" tanya kepala perawat poli agak bingung.


Akhirnya kepala perawat poli langsung menemui dokter Raz yang sedang bersiap membuka polinya.


"Pagi dok, saya mau tanya tentang surat sakitnya Bhree" kata kepala perawat.


"Pagi.. Dia ada di rumah saya, kemarin dia kecopetan, HP nya ilang. Bahunya dislokasi jadi perlu istirahat tiga hari" jelas dokter Raz yang mengerti apa yang akan ditanyakan kepala perawat poli.


"Baik dok" jawab kepala perawat poli.


Kepala perawat poli pamit keluar, kemudian membuat surat keterangan tidak masuk sebagai lampiran untuk HRD.


dokbar datang, masih sepuluh menit lagi jadwal prakteknya mulai.


"Pagi dok.. " perawat.


"Pagi.. udah ada pasien belum?" tanya dokbar.


"Ada lima yang sudah nunggu, yang lain belum lapor kedatangan" papar perawat.


"Ok.. Makasih" jawab dokbar.


dokbar menuju bagian pendaftaran rawat jalan.


"Poli buka sampai jam sebelas ya, saya ada jadwal operasi hari ini" info dokbar.


"Jadi yang sore pindah ke pagi semua dok?" tanya bagian pendaftaran.


"Ya, operasi kan ga bisa ketebak waktunya, besok juga sama sampai jam sebelas" lanjut dokbar.


"Baik, saya informasikan dulu ke pasien" jawab bagian pendaftaran.


.


Perawat poli membawakan medical record pasiennya dokbar.


"dok, perlu asisten ga?" tanya perawat.


"Kenapa?" dokbar malah balik bertanya.


"Bidan poli ditarik ke ruang bersalin, Bhree mendadak ga masuk. Jadi kita perawat back up poli obsgyn juga, tau sendiri kan kalo disana pasti butuh asisten buat bersihin bekas gel USG. dokbar kan dokter yang bisa mandiri.. Hehehehe" ujar perawat dengan santainya.


"Bhree kenapa?" dokbar pura-pura ga tau.


"Sakit dok, katanya habis kecopetan terus dislokasi bahu. Sekarang ada di rumah dokter Raz" jelas perawat.


"Dia saudaranya dokter Raz?" ujar dokbar.


"Bukan kayanya, tapi emang Bhree mah keliatan gimana gitu.. dari masuk aja keliatan penampilannya beda. Mungkin simpanannya dokter Raz..upppssss" ucap perawat.


"Mulai deh gosipin orang" ingat dokbar.


"Ya secara ada di rumah dokter Raz, terus yang bawain surat sakit juga dokter Raz. Udah gitu berobat di kliniknya dokter Raz pula. Bisa aja kan surat abal-abal dibuatin sama dokter Raz biar dia bisa tinggal disana. Udah rahasia umum kalo dokter Raz dan Bhree itu udah kenal sebelum Bhree kerja disini" cerocos perawat dengan


dokbar menggebrak meja, perawat kaget.


"Kalo ngomong tuh pada dipikir. Apalagi yang difitnah itu dua orang. Kamu ga mengakui keaslian surat dokter beserta hasil rontgennya? Orang medis kan tau mana yang asli dan tidak. Kalo mau tau kebenarannya, ya cek sana ke rumah dokter Raz, biar ga punya pikiran negatif aja. Saya ga perlu asisten, kamu bisa keluar sekarang.. Oh iya.. Asal kamu tau, saya yang nolong dia. Saya juga yang mengobati bahunya" gertak dokbar.


Setelah perawat keluar, dokbar sendiri yang memanggil pasiennya untuk masuk ke ruangan.


.


"Alhamdulillah dokbar bisa ga pake asisten.. Jadi kita aman buat masing-masing poli" kata kepala perawat poli.


"Kak.. Tadi dokbar marah, sampe gebrak meja. Gara-gara saya bilang Bhree pura-pura sakit. Terus bilang juga kalo dia simpanan dokter Raz" adu perawat.


"Lagian pake bilang begitu, ini kan omongan intern kita. Bocor banget deh. Mana dokbar paling ga suka kalo kita bikin gosip, soalnya dia sering jadi gosipan perawat. Abis deh diomelin kalo dia dah selesai poli" ujar kepala perawat poli.


"Plot twist nya... dokbar yang nolongin dan ngobatin bahunya Bhree" kata perawat.


"Waduh .. kita salah nilai Bhree dong" ucap kepala perawat poli.


🌿


Hana merawat Bhree seperti adiknya sendiri, benar-benar diperhatikan.


"Bhree.. masih berasa sakit?" tanya Hana.


"Udah mendingan Bu, kan dikasih obat sama dokter Barra" jawab Bhree.


Bhree menemani Hana memasak di dapur.


"Kalo siang begini sepi ya Bu? Anak-anak sekolah dan kuliah, dokter Raz juga praktek. Cuma Ibu sama Mba nya aja di rumah sebesar ini" kata Bhree.


"Makanya .. seneng banget ada kamu disini, bisa ngobrol, ditemenin masak .. Ya enak deh jadi rame" ungkap Hana.


"Bu Hana pintar masak ya? Saya mah standar banget bisanya" ucap Bhree sambil mengambil pisau untuk membantu memotong sayuran.


"Eh.. eh... mau ngapain? udah kamu duduk manis aja, tangan masih sakit juga" larang Hana.


"Kan yang sakit sebelah kiri Bu" jawab Bhree.


"Emang bisa motong sayuran pake satu tangan aja? Udahlah Bhree ... dibawa santai aja, anggap kaya keluarga sendiri" pinta Hana.


Bhree tiba-tiba mellow mendengar kata keluarga. Memang dia sudah punya keluarga sekarang, tapi belum bisa merasakan rasa sebagai keluarga seutuhnya.


"Kenapa Bhree?" tanya Hana sambil mengupas bawang.


"Gapapa Bu" jawab Bhree mencoba tersenyum.


"Kamu udah hubungi keluarga belum? Pakai HP ini aja" saran Hana sambil menyerahkan HP nya.


"Ga hapal nomernya Bu" Alasan Bhree.


"Atau mau diantar buat kasih kabar ke keluarga?" tanya Hana.


"Mbah saya lagi dirawat di Rumah Sakit Bu" jawab Bhree.


"Oh gitu.. terus orang tua kamu nungguin disana? jadi yang dokter Barra bilang kamu akan lebih aman disini karena di rumah sendirian toh? Kenal banget ya dokter Barra sama kamu, sampe tau orang tua ga ada di rumah, jangan-jangan emang udah pacaran ya sama dokter Barra?" canda Hana.


"Saya yatim piatu Bu.. sekarang tinggal sama Mbah dan anak-anaknya. Antara saya dan dokter Barra tidak ada apa-apa. Murni balas jasa karena menjaga amanah Bapak yang harus sampai ke tangan saya" Bhree bicara dengan nada yang agak berat karena menahan air mata agar tidak turun.


"Maaf ya Bhree.. Maaf banget... Ga tau kalo kamu... Maaf ya..." pinta Hana ga enak hati.


"Gapapa Bu" jawab Bhree.


Hana dan Bhree meneruskan pembicaraan tapi tidak mengarah ke cerita tentang keluarga agar Bhree ga sedih.


.


Jam tujuh malam, keluarga dokter Raz berkumpul untuk makan malam bersama.


"Anak Ayah tambah satu nih .. gimana Bhree kondisi kamu?" tanya dokter Raz.


"Alhamdulillah sudah mendingan. Makasih ya dok" ujar Bhree.


"Makasih buat apa?" kata dokter Raz.


"Makasih udah nolong saya, ga tau gimana nasib saya kalo dokter ga datang. Makasih juga karena boleh tinggal disini sementara waktu. Makasih juga udah ngobatin saya" papar Bhree.


"Ucapan terima kasih yang lain bisa diterima, tapi khusus yang ngobatin itu dokter Barra .. Kamu ucapin aja ke dia" tukas dokter Raz.


"Ayo semua makan, nanti keburu dingin makanannya" ajak Hana.


"Mba Raifa.. Kak Bhree nya tolong diambilkan nasi dan lauknya" pinta Hana.


"Gapapa Bu.. bisa sendiri kok" jawab Bhree buru-buru.