
Dewi fortuna sepertinya masih memayungi kehidupan Hari, selalu beruntung dan mendapatkan rejeki yang melimpah. Sebelum Wulan kecelakaan, dia sempat menitipkan kotak perhiasan miliknya ke Hari. Saat itu hanya bilang kalo di rumah Hari akan lebih aman dibandingkan di rumahnya yang hanya tinggal seorang diri. Hari menyembunyikan kotak ini dibekas kamarnya Lili. Sehingga Melati tidak tau sama sekali. Hari tidak pernah bercerita ke siapapun, sehingga barang-barang milik Wulan yang disumbangkan hanya yang ada didalam rumah saja.
"Kaya mendadak gw... Hahahaha. Kata siapa nyari rejeki kudu ibadah yang rajin dan sering berdo'a.. ga pake begitu aja rasanya udah dikejar rejeki.. Hari...Hari... emang Lo manusia paling beruntung dimuka bumi ini" kata Hari saat di mobil.
Rupanya dia akan membawa perhiasan tersebut ke pegadaian, karena disana tidak ditanya surat-surat perhiasan seperti jika akan dijual di toko emas. Rencananya setelah digadaikan, ga perlu bayar bunga dan ga perlu ditebus, pada masa akhir gadai nanti perhiasan tersebut akan melayang. Toh menurut Hari, dia sudah mendapatkan uang cash diawal.
Namanya uang kaget, habisnya pun ga jelas. Hari bersenang-senang di Hotel berbintang dengan gonta-ganti perempuan panggilan.
🌿
Akibat kevokalan dari dokbar, semua residen mulai menolak adanya perundungan. Hingga pihak kampus turun tangan dan mengawasi agar tidak terjadi hal-hal seperti ini dikemudian hari.
Semua sudah saling memaafkan, senior dan junior tidak ada saling dendam, sama-sama punya kesadaran menjaga nama baik almamater dan menjunjung tinggi profesi mereka. dokbar bisa dibilang menjadi agen perubahan di tempat dia menimba ilmu.
Profesor Andjar pun mulai sering mengajak dokbar ikut seminar, semua biaya dan akomodasi ditanggung oleh Profesor Andjar. Makanya dokbar dijuluki sebagai the golden boy nya Profesor Andjar. Beliau memang sangat berharap ke dokbar untuk meneruskan keilmuan yang beliau miliki. dokbar dinilai cekatan dan sangat cepat daya tangkap terhadap materi pembelajaran.
"Kayanya kalo sampe tingkat profesor, saya belum kepikiran Prof" jawab dokbar ketika sedang ngobrol ringan dengan Profesor Andjar.
"Kenapa? Masih muda dan punya potensi, masih semangat-semangatnya dan masih ada kesempatan" kata Profesor Andjar.
"Saya kan juga mau berkeluarga Prof, menjalani hidup saya sebagai manusia pada umumnya, hanya berprofesi sebagai dokter. Bukannya tidak mau lebih maju, tapi saya ambil spesialis saja sudah sangat menyita waktu, bisa ketemu keluarga hanya seminggu sekali. Jadi masih akan saya pertimbangkan dengan bijak untuk ambil sekolah lebih lanjut. Sekarang step by step aja dulu, lulus spesialis segera dengan baik" jelas dokbar.
"Hahaha.. kamu ceritanya sedang menyindir saya ya?" tanya Profesor Andjar.
dokbar bingung, dia tidak tau dibagian mana menyindir sang Profesor.
"Saya memang tergila-gila sama dunia kedokteran, sampai dilevel maksimal terus dikejar. Ga terasa.. diusia senja baru tersadar ga punya keluarga. Hidup hanya bersama dengan pekerja di rumah. Orang tua dan Kakak sudah berpulang ke Rahmatullah. Tinggal saya menunggu giliran saja. Makanya sebelum menutup mata, rasanya ingin punya penerus yang bisa saya percaya untuk mengembangkan keilmuan yang saya miliki" ucap Profesor Andjar.
"Ya Allah.. Maaf Prof... Maaf kalo saya menyinggung Prof Andjar, saya tidak bermaksud seperti itu" mohon dokbar ga enak hati.
"Ga salah kok pemikiran kamu .. hampir semua residen juga kasih alasan ingin memiliki keluarga seperti kebanyakan orang. Punya waktu untuk istri dan anak. Mungkin sih ya, mereka masih ingin melanjutkan pendidikan.. tapi biasanya berhenti sejenak untuk memikirkan keluarga dulu, setelah itu baru akan melanjutkan kuliah lagi" ungkap. Profesor Andjar.
"Sekali lagi maaf ya Prof, apa yang tadi saya ucapkan tidak ada maksud menyinggung. Ini murni keinginan saya pribadi" kata dokbar penuh penyesalan.
Profesor Andjar memang belum pernah menikah sama sekali. Waktunya habis untuk sekolah dan membuka praktek. Bukan tidak ingin berkeluarga, tapi dengan minimalnya waktu bersantai dan bersosialisasi, jadi pikiran untuk menikah lama kelamaan hilang. Saking cueknya pun, sampai ga terpikir tentang wanita.
"Udah punya calon memangnya?" tembak Profesor Andjar.
"Belum Prof, mungkin mikir panjang kali ya para wanita yang dekat sama saya. Masih begini kondisinya.. Hehehe" kata dokbar sambil tersenyum.
"Masa sih.. kamu tuh pintar, baik, ganteng, seorang dokter, hormat sama orang tua" papar Profesor Andjar.
"Sayangnya hanya Prof Andjar nih yang punya pemikiran seperti itu. Wanita diluar sana malah ga mempertimbangkan hal itu" jawab dokbar.
"Kok ga pede gitu.. Wake up anak muda. Sekali ditolak bukan semua akan menolak kan?" ujar Profesor Andjar yang seolah tau kisah percintaan dokbar.
⭐
Dengan adanya ancaman-ancaman dari Hari, membuat hubungan dokter Raz dan Hana malah jadi makin dekat. Setiap hari pasti dokter Raz menelepon atau mengirim chat ke Hana. Sekedar menanyakan kabar atau bercerita kesibukan masing-masing. Hana pun lebih nyaman mengadu perihal Hari ke dokter Raz.
"De... Sabtu ini kan ada kondangan, adiknya Ummi mantu.. kamu diundang kan?" tanya dokter Raz.
"Ya.. Tapi ga bisa. Ada acara outing sama Klinik. Ummi udah tau kok" jawab Hana.
"Jalan-jalan kemana?" tanya dokter Raz.
"Rahasia dong.. nanti ada yang nyusul" canda Hana.
"Emangnya anak abege segala nyusul. Anyway.. Selamat bersenang-senang ya. Mas Minggu depan juga mau ke Surakarta. Jadi dosen tamu di Akademi kebidanan disana. Tiga hari aja sih.. mau titip oleh-oleh ga?" papar dokter Raz.
"Kesana kan mau kerja bukan buat jalan-jalan, emang ada waktu buat nyari oleh-oleh?" kata Hana.
"Ya sempatlah. Jadi dari kondangan, Mas sama orang tua langsung balik ke Jogja, anterin pulang. Lanjut deh Mas ke Surakarta. Nah tinggal bilang sama Ummi buat cari oleh-oleh, pulang mampir lagi ke rumah Ummi dan bawain deh ke kamu" jelas dokter Raz.
"Ngerepotin Ummi tuh namanya" ucap Hana.
"Ya abis gimana lagi? ga ada yang bisa diajak belanja, jadinya Ummi lah satu-satunya yang dimintai tolong" jawab dokter Raz.
"Mas.. nanti pulang dinas, ada waktu buat kita ketemu?" tanya Hana serius.
"Ofkorssss dong" sahut dokter Raz semangat.
🌿
Mungkin karena punya tekad membara untuk memperbaiki taraf hidup, Bhree belajar mati-matian selama masa kuliah. Dia sadar diri jika daya tangkapnya agak lebih lama dibanding mahasiswi lainnya.
Selama perkuliahan bersama dokter Raz, Bhree tampak aktif bertanya, sehingga dokter Raz kenal namanya.
.
"dok.. sudah mau pulang?" tanya Bhree yang akan ke pasar bareng Luna.
Hari Sabtu siang begini sudah jam bebas, jadinya mereka biasa jalan-jalan.
"Iya nih, mau balik ke Jogja, harusnya tadi pagi, eh diajakin olahraga dulu" jawab dokter Raz.
"Hati-hati di jalan dok" ucap Bhree.
"Kalian bisa bantu ga?" tanya dokter Raz.
"Bantu apa dok?" tanya balik Bhree.
"Sekarang ada waktu nemenin belanja batik atau daster ga?" ujar dokter Raz.
"Kebetulan kita mau ke pasar, ada yang mau dicari" kata Luna spontan.
"Nah... Saya anterin aja ya" ucap dokter Raz.
.
Mereka bertiga menuju pasar dan berbelanja pakaian dan makanan. Bhree dan Luna banyak membantu dokter Raz untuk memilih oleh-oleh. Setelah itu mereka berpisah disana, dokter Raz memberikan kartu namanya ke Luna dan Bhree.
⭐
Diva sudah lama keluar dari tempat rehabilitasi, sudah kembali ke kampungnya, tapi sekarang berniat kembali mengadu nasib di Jakarta lagi. Orang tua sebenarnya sudah melarang, khawatir terjadi hal seperti kemarin lagi. Tapi Diva bersikeras untuk pergi juga karena tidak ada yang bisa dikerjakan di kampungnya.
.
Arah membawanya bisa bekerja bareng Tama, kebetulan Diva melihat lowongan pekerjaan yang dibuka oleh Tama di media sosialnya. Dari banyak pelamar, Diva berkesempatan untuk wawancara dan pada akhirnya dia diterima sebagai asistennya Tama, menggantikan tugasnya Bhree.
Tama kembali aktif, baik melalui konten atau cuitan di media sosialnya. Meskipun belum banyak pengikut, tapi kontennya banyak yang menarik bahkan sering seliweran diberbagai platform digital. Tidak sekedar itu, bisnis yang sudah lama dia rencanakan akhirnya bisa terwujud setelah satu tahun melakukan riset, mencari vendor/pabrik serta desain dan pemasaran. Bisnis Tama kali ini kaos distro untuk kalangan anak remaja dan muda. Warna dan desain dipercayakan kepada vendor tapi semua atas idenya Tama. Penjualan juga lebih memilih online, karena Tama belum cukup modal untuk membuat sebuah toko secara fisik.
Diva banyak membantu melakukan live jualan di media sosial milik Tama, dia biasanya dibantu oleh Mba Uli.
Selepas live jualan, Tama dan Diva duduk di teras depan Ruko. Mereka menikmati gorengan dan kopi susu sachet.
"Alhamdulillah sudah dua bulan berjalan, kaos keluaran Bang Tama sudah ada progress penjualan" kata Diva.
"Alhamdulillah.." jawab Tama masih sambil mengunyah risol.
"Kenapa ga bikin warna khusus buat cewe Bang? kan banyak juga pembeli cewe" tanya Diva.
"Emang harus ya cewe identik dengan warna tertentu seperti pink, ungu, salem dan warna pastel gitu?" tanya balik Tama.
"Ya ga juga sih, tapi kan biar ada pilihan warna buat lebih variatif, sekarang kan warna-warna dasar banget kaya putih, hitam, abu, navy dan coklat.. monoton" kata Diva.
"Karena ga semua cewe itu girly, ada yang strong dan gayanya simple. Cewe tuh ga harus kok menunjukkan sisi feminimnya didepan lawan jenis, yang penting dia punya kepribadian dan hati yang baik" ucap Tama sambil memandang kearah langit.
"Bang... ini kita lagi bahas warna kaos, kenapa jadi ngomongin cewe. Bang Tama sebenarnya fokus ga sama pertanyaan saya?" tanya Diva bingung.
Mba Uli yang ada disana langsung tersenyum.
"Rindu seseorang tuh" ledek Mba Uli.
Tama masuk kedalam Ruko karena malu, Mba Uli malah tertawa.
"Mba.. Bang Tama rindu ke siapa? kayanya ga punya pacar" ucap Diva.
"Rindu kan ga sekedar sama pacar" jawab Mba Uli sambil ikut bergegas masuk Ruko.
Diva bengong.
"Ini anak kantor pada suka baca buku filsafat atau apa sih? Nanya apa eh dijawab apa. Jadi penasaran siapa nih yang lagi dikangenin sama Bang Tama? Tiga bulan kerja sama dia, ga pernah bahas cewe yang lagi dekat, kayanya juga belum pernah liat dia jalan sama cewe" kata Diva ngomong sendiri.