
Hana ditugaskan oleh Klinik tempat dia bekerja untuk ikut pelatihan untuk Klinik yang akan bekerjasama dengan BPJS. Kebetulan pelatihan diadakan di Klinik milik dokter Raz. Tentu saja dokter Raz senang, artinya dalam seminggu ini akan intensif bertemu setiap hari sama Hana. Beliau sebagai pemilik Klinik bisa saja punya banyak alasan untuk bisa ikut dalam pelatihan tersebut.
Pelatihan ini akan dimulai jam sembilan pagi sampai jam lima sore (ada break ishoma selama satu jam). Bagian atas Klinik memang berupa Aula yang luas tanpa sekat. Biasanya memang digunakan untuk acara seminar kesehatan, donor darah dan kegiatan medis lainnya.
Jam delapan pagi Hana sudah sampai di Klinik. Melakukan registrasi ulang dan mendapatkan perlengkapan untuk peserta pelatihan. Dia berjalan bersama rekan sesama peserta menuju lantai paling atas.
Tentu saja karyawan Klinik banyak yang sudah mengenali Hana, tapi Hana minta untuk keep silent dengan alasan tidak enak dengan peserta lainnya.
Acara dibuka tepat jam sepuluh pagi, oleh perwakilan BPJS, pihak Klinik diwakili oleh Manajer Klinik (infonya dokter Raz sedang ada jadwal praktek yang tidak bisa ditinggalkan).
Sesaat setelah sambutan dari pihak perwakilan BPJS, pintu Aula terbuka, pandangan mata tertuju ke seorang lelaki paruh baya yang berjalan santai sambil tersenyum, dengan snelli dokternya, memakai kacamata dan celana warna dongker. Ramai para peserta kasak-kusuk karena terpesona dengan auranya. dokter Raz yang baru datang langsung duduk menggantikan posisi Manager Klinik. Kemudian dokter Raz berkesempatan memberikan sambutannya. Lumayan ramai suara tepukan yang beliau terima.
"Ayo Ibu-ibu.. Mba-mba.. Ingat suami dan pacarnya, nanti ada yang marah kalo terpesona sama saya" canda dokter Raz.
Para peserta tertawa, hanya Hana yang tersenyum mendengar dokter Raz berkata seperti itu.
.
Saat ishoma, dokter Raz mengirimkan pesan ke Hana, meminta Hana untuk makan siang bareng di ruangannya. Dengan nada mengancam, jika Hana menolak ajakannya maka beliau akan menyuapi Hana didepan semua orang. dokter Raz itu tipe nekat, beliau akan melakukan apa yang dikatakannya. Daripada malu, Hana akhirnya setuju, tapi minta tidak hanya berdua disana. dokter Raz mengirimkan foto kalo semua Manager sedang ada di ruangannya untuk makan siang bersama.
"Ternyata Bu Hana kerja di Klinik juga ya? Ini mah pasangan klop, yang satu owner Klinik, yang satu lagi ngurus manajemennya. Wah.. uangnya bisa ga kemana-mana nih. dokter Raz pinter nyari pasangan" ledek Meli.
Hana hanya tersenyum. Makanan datang, piring pun dibagikan ke semua orang. Hana memindahkan nasi pesanan dokter Raz ke piring (bungkusan nasi Padang).
"Habis De kalo nasinya sebanyak itu?" tanya dokter Raz.
"Ga kayanya. Tau sendiri kan kalo naspad dibungkus itu banyak banget" jawab Hana.
"Taro ke piring Mas aja nasinya, mumpung belum diaduk" pinta dokter Raz.
Semua mata hanya bisa melihat adegan memindahkan nasi ke piring, padahal simpel dan biasa aja, tapi entah kenapa malah bikin baper.
"Kok pada bengong?Ayo makan" ajak dokter Raz.
"Ya ampun dok.. rasanya auto kenyang nih saya" kata Manager Klinik.
"Belum makan kok udah kenyang?" tanya dokter Raz.
"Kenyang liatin Bapak dan Ibu Boss yang tooo twittt anettt" sahut Meli.
"Please deh dok, ini makan siang terbaper, akhirnya melihat dokter Raz happy selain liat laporan keuangan Klinik yang bagus" kata Manager Keuangan yang masih sepupunya dokter Raz.
"Besok-besok ga mau maksi bareng ah, pikirin donk prikejombloan saya, jangan sampe ada adegan gigit piring nih saking bapernya. Ya kali diajak maksi buat melihat adegan yang ga kuat dilihat para kaum jomblo" protes Meli.
"Apanya yang bikin baper, kayanya biasa aja, cuma naro nasi. Kecuali adegan suap-suapan baru deh boleh baper" sahut dokter Raz santai.
"Ya Tuhan....ampuni hamba yang akhirnya punya rasa iri, beneran deh.. ngirinya sama ini aja, semoga jodoh hamba didekatkan" ujar Meli sambil berekspresi lucu.
Langsung semua tertawa.
Hana yang tidak tinggi tingkat pendidikannya, menunjukkan skill komunikasi yang cukup bagus. Semua tidak menyangka pengetahuan Hana begitu luas tentang Klinik. Jadinya ngobrol makin asyik.
.
Selama pelatihan, dokter Raz memang tidak mengajak Hana pulang bareng, agar Hana merasa nyaman tidak jadi pusat perhatian siapapun. Tanpa Hana meminta hal itu, dokter Raz sudah paham keinginan Hana.
Tapi di hari berikutnya, banyak karyawan Klinik yang terpaksa gigit name tag gegara melihat dokter Raz menunggu Hana di lobby dan berbincang sejenak di sofa yang ada disana. Bagi yang melihat, seperti ada getaran asmara yang cukup kuat diantara keduanya.
"Insan kalo jatuh cinta, ga perlu mandang usia, ga mikir lagi dimana.. Asyik aja bercengkrama" ledek resepsionis.
"Biarin deh, Boss kita dah kelamaan menduda. Pengen juga kali ada yang nemenin bobo, secara dah lama ga tempur diatas kasur.. Hehehe" sahut security.
"Yakin Boss ga jajan?" tanya karyawan yang lain.
"Kalo masalah jajan atau manual sendiri di kamar mandi ya ga tau deh, lagian kelamaan ga keluar, yang tadinya kaya odol.. bisa-bisa jadi batu akik saking disimpan terus" ledek resepsionis.
Mereka tertawa, dokter Raz langsung melihat kearah mereka. Langsung bisa dipastikan, kegiatan menggunjing dokter Raz pun bubar jalan daripada ditegur nantinya.
.
Hari ini adalah hari terakhir pelatihan, selesainya lebih cepat yaitu jam dua belas siang.
"De... Pulang bareng yuk, ada yang mau Mas obrolin" ajak dokter Raz begitu melihat Hana bersiap keluar dari Klinik.
"Ya Mas, saya juga ada yang mau diobrolin" kata Hana.
"dok.. Baru juga jam segini, dah mau ngacir aje" ledek Meli.
"Udah tau Boss, ya bebas dong" sahut dokter Raz santai.
"Mau ngedate nih" lanjut Meli.
"Sirik tanda tak mampu.." goda dokter Raz.
.
dokter Raz membukakan pintu mobil untuk Hana, adegan ini hanya bisa dilihat oleh security yang tengah berdiri untuk membantu memandu parkir mobil dokter Raz.
"Apa yg mau diomongin De?" tembak dokter Raz begitu masuk kedalam mobil.
"Mas serius ga sih? Atau sekedar mau main-main aja?" tanya Hana.
"Ya arah hubungan kita lah, emang mau bahas apa selain itu" kata Hana.
"Ya Allah atas semua yang udah Mas lakuin, bisa-bisanya beranggapan Mas main-main? Kita bukan anak abege kemarin sore yang masih dalam tahap baru mengenal cinta. Kita ini udah pernah menikah De, ya kali Mas becanda. Kalo ga serius ya ga mungkin bertahun-tahun terus usaha nunggu kamu" papar dokter Raz.
"Bukan gitu Mas, udah saatnya saya cerita tentang diri sendiri menurut versi saya, bukan yang selama ini Mas dengar dari orang-orang sekitar saya. Ga bermaksud buat menjelekkan mantan beserta keluarganya, saya berharap setelah ini, Mas silahkan berpikir ulang, mau memutuskan untuk lanjut atau berhenti sampai disini. Saya janji ga sakit hati" ucap Hana dengan segala keberaniannya.
"Silahkan aja kalo mau cerita, toh Mas juga udah pernah cerita tentang masa lalu, meskipun banyak yang ga perlu dibuka secara gamblang. Biar bagaimanapun, mantan kita adalah orang tua anak-anak kan?" ujar dokter Raz bijak.
Hana bercerita panjang lebar tentang trauma yang selama ini menghantuinya. Membuat dia sulit menerima kembali cinta yang baru. Baginya lelaki hanya manis didepan, kalo sudah mendapatkan apa yang diinginkan, tak jarang kaum wanita dibuang. dokter Raz mendengarkan cerita tanpa menyela sedikit pun.
"Mas ga malu kalo punya pasangan yang hanya tamatan SMA?" tanya Hana.
"Konteksnya kan nyari pasangan, Mas bukan cari karyawan. Lagipula kalo mau, kamu bisa kuliah, kuliah kan ga mandang usia. Selama masih mau belajar ya silahkan aja. Kalo kamu merasa cukup dan ingin jadi Ibu Rumah Tangga pun ga masalah. Emangnya di masyarakat kita ditanya lulusan apa?" jawab dokter Raz diplomatis.
"Apa Mas bersedia jika menikah sama saya, artinya menanggung hidup Nabila bahkan bisa jadi rutin memberikan uang ke orang tua saya?" tanya Hana lagi.
"InsyaAllah kalo standarnya cukup ya Mas bisa penuhi, tapi kalo standarnya hidup mewah ya ga bisalah" jawab dokter Raz.
"Mas bisa menerima semua kekurangan yang ada pada saya?" ucap Hana.
"Manusia itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya, termasuk Mas sendiri. Tinggal bagaimana kita bisa menerima satu sama lain. Mas juga butuh pasangan yang menerima segala aktivitas Mas yang pastinya banyak menyita waktu dan hanya sedikit bisa bareng sama keluarga" jawab dokter Raz.
"Masa lalu saya rasanya kelam dan menyisakan trauma yang amat mendalam, apa Mas sanggup sama kondisi kaya gitu?" ujar Hana.
"Kalo memang diperlukan, kamu bisa berobat ke psikiater. Kamu hanya butuh didengar saat ini, obatnya adalah keinginan dari dalam diri buat keluar dari trauma itu" nasehat dokter Raz.
Hening menerpa, keduanya hanya memandang jalan yang ada didepannya.
"Kapan Mas akan datang secara resmi melamar saya untuk dijadikan istri?" tembak Hana.
dokter Raz agak kaget, untung jalan macet karena ada kecelakaan, jadi beliau bisa langsung memandang ke Hana.
"Bisa diulang apa yang tadi dibilang?" tanya dokter Raz.
"Mas belum perlu ke dokter THT kan?" ujar Hana.
Dokter Raz tersenyum.
"De... Kalo mau, sekarang kita pulang ke rumah, terus ngomong ke Bapak. Ini yang Mas tunggu sejak lama. Terserah kamu aja, mau Mas yang ngomong duluan ke Bapak atau tunggu keluarga Mas datang kesana" tawar dokter Raz.
"Ini serius dokter Farraz Alif Ramadhan...." jawab Hana.
"Ini kurang serius gimana De? Jangankan sekedar melamar, diminta nikah malam ini juga Mas sanggup kok" kata dokter Raz penuh keyakinan.
"Mas diskusi dulu aja sama orang tua dan anak-anak. Saya butuh keridhoan dari mereka semua. Kalo memang semua setuju, baru silahkan Mas menghadap Bapak. Mengenai Nabila, dia sudah bersedia jika saya memutuskan untuk menikah lagi" ucap Hana.
"InsyaAllah De, habis antar kamu pulang, Mas telepon orang tua dan ngobrol sama anak-anak" janji dokter Raz.
Jangan ditanya bagaimana bahagianya dokter Raz saat ini, rasanya ingin langsung menghubungi orang tuanya sekarang juga. Tapi dokter Raz ga mau melewatkan quality time sama Hana, selama ini ga pernah Hana bisa diajak ngobrol panjang lebar tentang hubungan mereka.
.
Setelah mengantar Hana, dokter Raz tancap gas buat pulang, dalam perjalanan langsung menelepon kedua orang tuanya. Tentu saja mereka sangat setuju bahkan minta disegerakan. Besok pagi, rencananya kedua orang tua dokter Raz akan langsung ke Jakarta untuk menyusun langkah selanjutnya.
🌿
Ijin-ijin mendirikan RB (rumah bersalin) dan Praktek dokter bersama sudah disetujui oleh yang berwenang. Bahkan pihak sebuah Bank syariah juga sudah siap menggelontorkan dana untuk pendirian RB tersebut. Kesibukan Pak Daliman beserta anak-anaknya tertuju kesana semua, hingga tidak ada yang menggangu Bhree.
Bhree sendiri akhirnya mendapatkan tempat praktek tidak jauh dari kampusnya. Sedangkan Luna mendapatkan tempat praktek di desa.
Bhree mendapatkan chat penawaran untuk perawatan wajah di Klinik kecantikan Aura, katanya ingin melihat perkembangan wajah Bhree setelah dilakukan treatment dengan alat yang terbaru plus krim dan serum yang diberikan. Tadinya Bhree malas pergi sendiri, tapi akhirnya berangkat juga, mengingat memang ada sedikit perubahan di wajahnya. Kulitnya tidak sekusam dulu, sudah tidak ada jerawat yang kerap tumbuh di wajahnya. Banyak yang memuji perubahannya, Bhree sekarang mulai rada glowing, sehingga para mahasiswa kampus sebelah suka mengajaknya kenalan.
"Ini Klinik bagus banget deh, cocok.. Kalo ga pergi kesannya sombong banget ya. Sebagai sukarelawan untuk ngetes alat mereka yang baru plus krim perawatan, masa sih ga ada timbal baliknya. Toh ada uang tambahan bulan ini dari Pak Daliman, bisalah buat beli krim plus serumnya lagi" kata Bhree dalam hatinya.
.
"Memang saya merasa rada glowing sih dok" kata Bhree saat konsultasi dengan dokter kecantikan disana.
"Iya nih, saya lihat foto awal kondisi kulit sangat kering. Sekarang mulai lembab. Jewarat juga sudah hilang, tingkat kecerahan sudah naik satu level. Sekarang gimana kalo coba infus whitening?" tawar dokter.
"Kantong mahasiswi seperti saya bisa menjerit dok" jawab Bhree.
"Free of charge" kata dokter.
"Masa gratis terus dok, memangnya Klinik ini ga rugi? Biasanya endorse artis kan buat Klinik seperti ini. Kalo saya mana ada daya jualnya?" ujar Bhree ga percaya.
"Artis itu cuma mau uang aja, mereka ga pernah tuh balik ke Klinik kalo sudah selesai masa endorse. Bahkan sering kali mereka ambil endorse juga dari Klinik kecantikan yang mirip sama Klinik ini" jelas dokter.
"dok.. Saya juga belum tentu sanggup balik ke Klinik ini secara rutin. Karena sering dihubungi dan rasanya sungkan kalo ga testimoni selama sebulan ini, jadinya saya memutuskan balik kesini" ucap Bhree.
Dokter kecantikan bahkan Manager Klinik terus merayu Bhree untuk melakukan perawatan yang direkomendasikan oleh dokter. Namanya wanita, dapat kata gratis dan untuk kecantikan pula pasti tergoda. Akhirnya Bhree setuju.
"Infus whitening ini perawatan untuk mencerahkan kulit seluruh tubuh. Sebelumnya kita akan ada tes alergi dulu, karena didalam infus whitening itu ada kandungan vitamin C yang berguna untuk mencerahkan dan mengatasi warna kulit yang tidak merata. Ada juga kolagen agar kulit lebih kenyal, halus dan lembap. Kandungan infus whitening berikutnya adalah glutation, yaitu antioksidan yang bekerja sebagai agen pemutih kulit. Nah ini yang terbaru, DNA salmon, yang dapat mengencangkan kulit dan mendukung pembentukan sel kulit yang lebih sehat. Makanya perlu tes alergi dulu biar aman" jelas dokter.
"Berapa lama prosesnya dok?" tanya Bhree.
"Setelah tes alergi, ya sekitar 15-20 menit infusnya. Baiknya juga rutin dilakukan dua minggu sekali" jawab dokter.