
"Raz .. Ini terlalu berlebihan" ujar Bapaknya Hana saat dokter Raz membelikan motor.
"Ga Pak.. Santai aja, anggap ini sebagai pengganti motor yang dulu hilang. Kan Bapak juga perlu motor. Ini juga biasa aja kok modelnya, bukan seri terbaru" kata dokter Raz.
"Hana tau kamu beli motor?" tanya Bapaknya Hana.
"Nanti saya yang bilang ke dia. Istri mending dikasih tau kalo udah beli daripada minta ijin. Lagipula ini kan ga mengganggu uang buat rumah tangga" ucap dokter Raz.
"Hana itu orangnya ga enakan, dia takut orang berpandangan kalo dia nikah hanya demi harta" ujar Bapaknya Hana rada ga enak hati.
"Itu jadi urusan saya aja Pak, ga usah dipikirkan" jawab dokter Raz.
.
Benar saja, Hana tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh dokter Raz tanpa berdiskusi dulu dengannya.
"Mas jangan merasa punya uang terus beli begitu aja. Kita kan suami istri, harusnya diskusi" protes Hana yang tau hal ini justru dari Kakaknya terlebih dahulu sebelum dokter Raz cerita.
"Cuma motor De.. Bukan mobil, rumah atau helikopter" jawab dokter Raz dengan entengnya.
"Nanti orang akan bilang kalo keluarga Hana tuh cuma silau sama uang, nikah sama dokter cuma mau menguras hartanya" papar Hana.
"Orang mana yang bilang kaya gitu?" tanya dokter Raz.
"Ya pokoknya bakal ada aja deh omongan aneh-aneh kaya gitu" ucap Hana kesal.
"Terus yang ngomongin itu bakalan beliin motor buat keluarga Bapak? Bakal kasih uang dan kebutuhan lainnya?" ujar dokter Raz.
dokter Raz yang memang sudah terlalu lama sendiri, belum terbiasa untuk memutuskan sesuatu dengan diskusi terlebih dahulu, selain memang tipe orangnya yang cepat bertindak, beliau juga merasa tidak ada yang salah dengan apa yang sudah dilakukan.
"Mas tuh ga bakalan ngerti. Hana udah kenyang deh di cap jadi istri matre" kata Hana.
"Itu mah omongannya mantan. Kenapa harus bandingin Mas sama dia? Seistimewa apa sih tuh orang sampe selalu jadi tolak ukur?" tanya dokter Raz yang juga dasarnya keras kepala.
"Ga ada hubungannya sama dia" putus Hana.
"Denger baik-baik.. Mas ini kepala keluarga, punya hak untuk melakukan apapun tanpa sepengetahuan kamu. Lagipula yang Mas beliin motor itu keluarga yang sekarang secara otomatis menjadi keluarga Mas juga. Kamu itu perempuan, tidak ada kewajiban menafkahi keluarga, Mas lelaki.. ada kewajiban. Apa yang Mas kasih ke orang tua, maka mertua juga akan dapat. Mas malas berdebat, cape banget hari ini banyak pasien. Sampe rumah berharap dapat ketenangan, jadi sekarang mending kamu siapin makanan, Mas mau mandi dulu" tukas dokter Raz sambil masuk kamar.
Pernikahan mereka memang melalui proses perkenalan yang lama. Tapi keduanya belum banyak mengenal kepribadian masing-masing secara langsung. Hana sekedar tau dari cerita Ummi dan dokter Raz juga tau Hana dari cerita keluarganya. Penyesuaian ketika sudah menikah memang butuh proses, inilah yang sedang mereka alami. Suatu hal yang wajar ada kerikil kecil dalam kehidupan berumah tangga, wong orang yang nikah atas dasar cinta yang konon katanya udah mentok pun pasti akan mengalami masa penyesuaian. Dua kepala disatukan dalam sebuah keputusan pasti akan ada riak-riak gelombang protes satu sama lainnya.
.
"Nabila... Ga baik nguping pembicaraan orang tua" Haziq yang sudah ada dibelakangnya Nabila mengingatkan.
Nabila kaget.
"Wajar orang tua berdiskusi, mereka ga berantem kok" lanjut Haziq menenangkan.
Ada raut wajah ketakutan yang timbul di wajahnya Nabila. Sebuah trauma yang cukup mendalam juga. Sedari kecil melihat orang tua bertengkar yang pada akhirnya berujung pada tindakan kekerasan dari Ayahnya dan tangisan pilu Bundanya.
"Bila.. kenapa mukanya aneh begitu?" tanya Haziq lagi.
Raifa datang menghampiri keduanya.
"Kenapa Bila Mas?" tanya Raifa.
"Sekarang kamu coba ngobrol sama Raifa, kan sesama perempuan, mungkin bisa lebih terbuka. Nanti kalo butuh pendapat Mas, bisa chat aja" saran Haziq.
"Kita ke kamar Mba yuk.. " ajak Raifa.
.
Nabila diam tidak mau berkata-kata. Diusia remaja sudah harus mengalami banyak tekanan hidup sehingga membuatnya sulit mengungkapkan perasaannya.
"Ga harus cerita sekarang kok, yang penting kamu tau kalo Mas Haziq.. Mba dan Ayah itu akan ada buat kamu" ucap Raifa.
Hana memang terkadang agak keras meminta Nabila untuk tutup mulut terhadap apa yang dia lihat, jadinya terbiasa untuk menahan agar tidak keluar cerita kekerasan yang Hana alami.
"Bila.. Mba ada baju-baju yang udah ga muat, masih bagus, kalo kamu mau, nanti Mba taro di kamar ya" tawar Raifa.
"Iya Mba .. Makasih" jawab Nabila.
"Ini tas dan sepatu Mba, kalo memang muat, pake aja ya, sharing adik kakak kan biasa" lanjut Raifa.
"Ya Mba" jawab Nabila.
.
Haziq dan dokter Raz berdiskusi sambil main catur di teras depan. Yang lain sedang nonton televisi.
"Yah.. Maaf kalo Mas ikut campur, baiknya kalo mau ngobrol yang serius sama Bunda itu di kamar. Tadi Mas liat Nabila pucet liat Ayah dan Bunda sama-sama ngotot" adu Haziq.
"Kayanya Nabila punya trauma terhadap pertengkaran orang tua, jadinya keliatan banget dia takut dan sedih. Kita keluarga baru Yah, Mas paham pasti banyak yang harus kita sesuaikan. Ayah juga turunin sedikit ego, ajak Bunda Hana diskusi. Tipe Bunda dan Nabila itu kayanya emang perlu diajak banyak ngobrol, mereka sama-sama ga bisa mengungkapkan secara detail apa yang membuat mereka nyaman. Ayah kan juga pernah cerita singkat tentang masa lalu Bunda Hana, semoga Ayah bisa lebih sabar" kata Haziq yang memang menuruni sifat dokter Raz yang lumayan bijak.
"Ya Mas.. Makasih ya udah ingetin Ayah" jawab dokter Raz.
🌿
dokbar sebenarnya sudah lulus sejak empat bulan yang lalu, tapi menunggu barengan untuk acara pelepasan PPDS. Dia sudah mengajukan ijin praktek untuk spesialisnya, sehingga sudah bisa praktek di Rumah Sakit Cinta Medika.
"Siapa nih yang udah kosong?" tanya kepala perawat rawat jalan.
Pertanyaan yang biasa diajukan jika perawat sudah tidak menjadi asisten dokter karena sudah tidak ada pasien atau jam praktek berakhir.
"Bhree kayanya udah kelar Kak.. dokter obsgynnya lagi operasi" jawab perawat.
"Bhree.. bantu di poli orthopedinya dokbar, gantian sama Alin, tepar dia dari pagi dampingin dokbar, sekarang lagi di IGD, operan disana soalnya ada pasien mau rawat inap" perintah kepala perawat.
"Ya Kak" jawab Bhree.
"Saya aja Kak, tukeran sama Bhree" inisiatif Mariska yang sedang mendampingi dokter Raz.
"Kan dokRaz belum kelar... cepet Bhree masuk, dokbar ga ada asisten tuh" ujar kepala perawat.
Sudah biasa kalo di poli rawat jalan, asisten yang mendampingi dokter bisa gantian antara perawat sama bidan. Biasanya bidan yang sering memback up karena poli obsgyn jarang dokternya bersamaan waktu prakteknya.
Bhree mengetuk pintu poli orthopedi. Kemudian masuk kedalam. dokbar melihat sekilas sambil berbincang dengan pasien. Bhree menyiapkan kertas bukti konsultasi poli yang akan ditandatangani oleh dokter setiap habis melayani satu pasien.
"Silahkan naik dulu ke bed periksa" ucap dokbar.
Bhree membantu pasien untuk naik ke bed periksa.
"Tolong ambilkan senter" pinta dokbar.
Bhree menyerahkan senter ke dokbar.
"Sakitnya sudah lama Bu?" tanya dokbar.
"Lama dok, sekitar setahun ini hilang kambuh hilang kambuh. Sakit banget dok buat jalan kalo lagi kambuh" jawab pasien.
"Sudah pernah berobat sebelumnya?" tanya dokbar lagi sambil memeriksa kondisi tumit pasien.
"Sudah dok, ke dokter umum, lama kelamaan saya udah cape juga dok cuma dikasih anti nyeri, terus saya cari informasi kalo keluhan saya ini perlu konsul ke dokter orthopedi, akhirnya saya bilang aja ke faskes satu buat minta rujukan ke spesialis" papar pasien.
"Diagnosa sementara ini plantar fasciitis atau dalam bahasa simpelnya peradangan pada bagian tumit. Silahkan turun Bu, nanti saya jelaskan lebih lanjut" ucap dokbar.
Pasien turun dari bed periksa dibantu sama Bhree. Pasien duduk di kursi sedangkan Bhree merapihkan bed periksa kemudian meletakkan senter ke tempat semula dan berdiri dibelakangnya dokbar.
"Maaf apa Ibu suka berdiri dalam waktu yang lama? Atau olahraga yang menghentakkan kaki dengan kuat?" tanya dokbar.
"Saya kerja jadi bagian umum yang banyak jalan kesana kemari di kantor dok" jawab pasien.
"Memakai sepatu hak tinggi ya?" terka dokbar.
"Ya dok, saya kan pendek, jadi lebih nyaman pakai sepatu hak tujuh centimeter" kata pasien.
"Jadi bagian tumit itu kan termasuk tulang penopang tubuh dan sebagai peredam tekanan yang menahan beban tubuh kita. Peradangan ini karena adanya tekanan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama. Ini akibat dari pemakaian sepatu hak tinggi dan berdiri dalam waktu yang cukup lama. Selama ini Ibu sudah dapat anti nyeri, jadi saya sarankan di fisioterapi dulu ya hari ini, minggu depan juga fisio lagi, kita lihat perkembangannya selama empat kali fisio, kalo masih sakit nanti disuntik" jelas dokbar.
"Ga perlu operasi dok? Soalnya pernah saya konsul ke dokter di kantor bisa dioperasi kalo sakit terus" ujar pasien.
"Tindakan operasi itu harus melalui tahapan dulu Bu, jika bisa tidak bermasalah setelah fisio dan suntik, maka tidak perlu dilakukan operasi. Dilihat dulu perkembangannya enam bulan kedepan. Jadi mulai sekarang jangan pakai hak tinggi dulu, pilih sepatu flat atau yang hak rendah saja. Setiap dua jam bergerak, usahakan duduk selama lima belas menit" papar dokbar.
"Terima kasih dok, baru kali ini saya dapat penjelasan yang runut, apalagi dokter spesialis, biasanya cuma lima menit Konsul kita udah selesai" puji pasien.
"Semoga bisa cepat pulih ya dengan fisio, diresepkan obat anti nyeri, tapi jangan diminum kalo ga nyeri ya" ucap dokbar sambil menuliskan resep dan rujukan fisioterapi.
Pasien tampak kesulitan untuk berjalan.
"Tolong ambilkan kursi roda dan Ibunya diantar sampai kebagian administrasi BPJS" pinta dokbar ke Bhree.
Bhree mengambil kursi roda yang ada diluar ruang poli, kemudian mengantarkan pasien kebagian administrasi.
Bhree memanggil pasien selanjutnya. Setelah pasien habis. Bhree merapihkan copy slip konsultasi dan dimasukkan kedalam map milik dokbar.
"Jadi asisten dokter itu harus gercep, kalo liat kondisi pasien tidak memungkinkan jalan jauh, ambilkan kursi roda. Kalo kesulitan bangun ya bantu bangun. Bukannya dokter ga mau membantu, tapi dengan banyaknya jumlah pasien, dokter perlu fokus, itulah gunanya asisten disini" saran dokbar.
"Iya dok.. ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Bhree.
"Kue sama minuman buat kamu aja, saya puasa" kata dokbar sambil keluar dari ruang poli orthopedi menuju Musholla karena sudah hampir jam satu siang dan dia belum sholat dzuhur.