
Papanya Mas Wisnu meminta untuk bertemu, urusan bisnis. Rencananya perusahaan Papanya akan memakai jasa foto dan video dari Mas Wisnu untuk company profile yang terbaru.
Makan siang disebuah restoran menjadi tempat mereka akan bertemu, sekretaris Papanya Mas Wisnu sudah memesankan tempat untuk keduanya.
Mas Wisnu menghubungi Papanya karena sudah menunggu setengah jam tapi tak kunjung tiba.
"Assalamu'alaikum, Papa dimana? Nu udah sampe di restoran setengah jam yang lalu. Jadi ga kita ketemuan?" sapa Mas Wisnu.
"Waalaikumsalam, selamat siang Pak, maaf dengan siapa saya berbicara?" tanya penerima dari seberang sambungan telepon.
"Loh...ini benar nomernya Pak Handoko kan?" ujar Mas Wisnu kebingungan karena tidak mengenal suara diseberang telepon.
"Benar Pak, kami dari kepolisian, Pak Handoko dan seorang wanita bernama Ibu Sabandiyah mengalami kecelakaan di jalan, sekarang ada di Rumah Sakit Cinta Medika , mohon bantu untuk menghubungi keluarganya" kata Polisi.
"Saya anaknya, akan segera merapat kesana
Saya tau Rumah Sakit itu" jawab Mas Wisnu.
Mas Wisnu membayar pesanan minuman yang sudah dia order, setelah itu bergerak menuju Rumah Sakit milik Papanya, polisi membawa kesana karena dekat dengan tempat kejadian kecelakaan. Mas Wisnu juga menghubungi keluarga untuk langsung menuju Rumah Sakit.
"Papa kecelakaan sama seorang wanita?" tanya Mas Wisnu sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit.
.
Bhree tengah merapihkan barang-barang endorse yang akan dibuat konten selama perjalanan ke Solo nanti. Tama sedang pergi dengan keluarga, belanja keperluan yang masih kurang.
"Perasan dari semalam kok ga enak ya, keinget sama Ibu terus.. ada apa ya?" tanya Bhree.
Dia langsung mengambil HP nya dan menghubungi nomer Ibunya. Lama baru diangkat (rupanya nomernya tidak diblokir Ibunya, hanya tidak diangkat saja selama ini).
"Selamat siang.." sapa penerima.
Bhree kaget yang menjawab seorang lelaki.
"Jangan-jangan yang terima Pak Handoko" terka Bhree dalam hatinya.
"Selamat siang.. dengan siapa saya berbicara? pemilik HP ini sedang di Rumah Sakit. Bisa bantu hubungi keluarganya?" tanya lelaki itu lagi.
"Saya anaknya.. ada apa sama Ibu saya Pak?" tanya balik Bhree.
"Silahkan Ibu ke Rumah Sakit Cinta Medika, alamat akan saya kirim via chat. Ibunya Mba mengalami kecelakaan" jelas lelaki tersebut.
Bhree jadi panik. Mba Uli coba menenangkan.
"Kita antar ya Bhree ke Rumah Sakit" kata Mba Uli.
"Saya sendiri aja Mba, Lagipula masih banyak yang harus dikerjakan disini. Tolong lanjutin kerjaan saya ya Mba, saya mau ke Rumah Sakit sekarang" putus Bhree.
"Kamu oke jalan sendiri?" tanya Mba Uli.
Bhree mengangguk dan memesan ojek online menuju Rumah Sakit.
Bhree memang tidak mau rekan kerjanya tau tentang permasalahan rumah tangga yang membelit keluarganya. Apalagi menurut keterangan polisi, Ibunya mengalami kecelakaan bersama seorang lelaki yang Bhree duga itu adalah Pak Handoko.
.
Polisi menghampiri Mas Wisnu dan tampak serius sekali perbincangan diantara mereka. Ternyata mobil Pak Handoko mengalami kecelakaan tunggal, dugaan awal Pak Handoko mengantuk, sehingga menabrak pembatas jalan dan mobil melayang hingga ke jalan sebelahnya. Menurut saksi mata, tiba-tiba mobil menabrak terus terbang dan berputar beberapa kali di jalanan.
Kondisi Pak Handoko masih tak sadarkan diri dengan luka dibagian kepala yang cukup serius. Rencananya akan segera di operasi karena ada penggumpalan darah didekat otaknya. Tercurigai juga ada patah tulang dibagian tangannya.
.
Sesampainya di Rumah Sakit, Bhree langsung menuju IGD, karena biasanya pasien kecelakaan akan masuk IGD terlebih dahulu.
"Bhree... ngapain kesini?" tanya Mas Wisnu.
Bhree kaget ketemu sama Mas Wisnu dan Mba Fenti di Rumah Sakit. Mba Fenti menahan Bhree untuk masuk IGD.
"Ibu... Ibu saya katanya kecelakaan" ucap Bhree buru-buru.
"Ibu kamu siapa namanya?" tanya Mas Wisnu.
"Sabandiyah, kerja di Rumah Sakit ini juga. Kepala perawat" jelas Bhree.
Bhree melepaskan tangan Mba Fenti dan segera masuk ke IGD.
"Jadi wanita yang bareng Papa itu Ibunya Bhree?" terka Mas Wisnu dalam hatinya.
Bhree melihat kesemua bed yang tirainya terbuka.
"dok.. dimana pasien atas nama Ibu Sabandiyah?" tanya Bhree buru-buru.
dokter terdiam. Mas Wisnu dan Mba Fenti sudah ada dibelakangnya Bhree.
Mba Fenti menarik lengannya Bhree untuk keluar dari IGD.
"Mba.. saya mau ketemu Ibu dulu" kata Bhree.
"Iya.. kita ketemu sama Ibu, tapi ga disini, sudah dipindah tadi" jawab Mba Fenti.
"Ibu udah naik ke kamar perawatan? di kamar mana Mba? ayo kita kesana, kasian Ibu ga ada yang jagain" ujar Bhree yang berlari keluar dari IGD.
Mba Fenti masih mengikuti Bhree.
"Bhree .. ayo ikut Mas .. kamu yang kuat ya melihat kondisi Ibu" ucap Mas Wisnu.
Langkah demi langkah dijalani Bhree.
"Permisi...." ujar orang dibelakang mereka sambil membawa brankar yang tertutup dibagian atasnya. Brankar yang digunakan untuk membawa jenazah dari ruangan yang ada di Rumah Sakit menuju kamar jenazah.
Mas Wisnu, Bhree dan Mba Fenti memberikannya jalan.
dokbar tampak berjalan dibelakang brankar bersama tiga orang lainnya.
#KAMAR JENAZAH ➡️#
Tulisan yang tertera di lorong tersebut.
"Kenapa kita kesini Mba? katanya Ibu udah dipindahin" ucap Bhree.
Mba Fenti merangkul Bhree dari samping.
"Mas... maksudnya Ibu... Ibu...." terka Bhree mencari jawaban ke Mas Wisnu.
Mas Wisnu mengangguk pelan.
Bhree langsung teriak. Mba Fenti memeluk Bhree, Mas Wisnu mengusap kepalanya Bhree. Keduanya membantu menguatkan Bhree disaat duka seperti ini.
dokbar yang berbincang dengan petugas kamar jenazah langsung melihat kearah Bhree karena kencang sekali teriakannya.
Bu Diah tewas di tempat kejadian. Kepalanya terkena pecahan kaca mobil, tubuhnya terlempar dari kursi dan keluar melewati dashboard. Diduga tidak memakai sabuk pengaman sehingga langsung terlempar tanpa penahan. Air bag yang ada di dashboard tidak ada yang mengembang, padahal mobil ini termasuk baru dibeli Pak Handoko sekitar tiga bulan yang lalu.
"Ibu... Ibu... Bhree sama siapa nanti... Ibu... Ibu" tangis Bhree makin kencang.
Mas Wisnu menemani Bhree masuk kamar jenazah karena Mba Fenti ga berani.
Perlahan kain putih dibuka, wajah Bu Diah penuh darah, tadi beling-belingnya baru selesai dicabut satu persatu.
"Permisi.. saya minta ijin untuk membantu membersihkan sisa darahnya boleh?" tawar dokbar ke Mas Wisnu.
"Silahkan dok" jawab Mas Wisnu.
dokbar memang sedang mengantar pasien rawat inap yang meninggal di ruangan. Karena keluarga meminta dokbar membantu membersihkan luka di kaki dari jenazah, akhirnya dokbar ikut ke ruangan ini. Pasien tersebut pasca operasi amputasi dibagian telapak kaki, baru tiga hari yang lalu dioperasi. Keluarga amat percaya sama dokbar karena selama perawatan dibantu setiap membersihkan luka, dokbar memang banyak membantu langsung memegang pasien, tidak semua diserahkannya ke perawat seperti kebanyakan dokter.
"Bu Diah ini adalah kepala perawat disini, atas nama pribadi saya meminta maaf kepada pihak keluarga, beberapa hari yang lalu sempat berdebat dengan beliau" ucap dokbar dengan tulus sambil membersihkan sisa darah.
Bhree masih menangis dan memegang tubuh Ibunya.
Sekitar lima menitan, dokbar sudah selesai membersihkan sisa darah.
"Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya Mas, semoga amal ibadah Bu Diah diterima Allah SWT dan keluarga diberikan ketabahan" kata dokbar lagi.
"Anaknya yang ini.. bukan saya" jawab Mas Wisnu sambil menunjuk kearah Bhree.
Tubuh Bhree langsung lunglai, Mas Wisnu dan dokbar dengan sigap menangkap tubuh Bhree hingga tak membentur lantai.
Keduanya membopong tubuh Bhree keluar dari ruangan ini, kemudian diletakkan tubuh Bhree di kursi.
dokbar memeriksa kondisi Bhree, tidak berselang lama dia menelepon IGD untuk membawa brankar pasien.
Bhree dibawa ke IGD kemudian diberikan oksigen. Mba Fenti yang mendampingi Bhree, sementara Mas Wisnu mengurus jenazah ibunya Bhree dan minta untuk dimandikan oleh pihak Rumah Sakit.
dokbar pamit dari IGD menuju ruang rawat inap.
Mas Wisnu teringat kalo Bhree pernah bercerita kalo Ibunya ga punya saudara, beliau yatim piatu. Sedari kecil sudah di Panti Asuhan. Bisa kuliah keperawatan karena ada donatur yang melihat potensinya jadi diberikan dana untuk sekolah tinggi.
HP Bhree berbunyi ada telepon dari Tama, entah kenapa perasaan Tama ga enak hati begitu mendengar Mba Uli kasih kabar tentang Bhree. Mba Fenti yang mengangkat telepon, memberikan informasi tentang kondisi Bhree dan dimana sekarang berada.
Tama dan semua rekan kerja langsung menuju Rumah Sakit.
.
Sesampainya di Rumah Sakit, Tama langsung menghampiri Bhree yang kondisinya sudah membaik dan lebih tenang.
dokter IGD memeriksa kondisinya Bhree.
"Mba.. yang tabah ya, kami atas nama rekan kerja almarhumah mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Jangan histeris seperti tadi, kamu harus kuat" kata dokter IGD.
Bhree masih diam terpaku, otaknya sudah ga bisa dipakai untuk berpikir lagi.
"Bener tuh Bhree...ada saya yang siap nemenin kamu" kata Tama yang sudah ada disampingnya Bhree.
Agak aneh memang Tama pakai saya kamu, biasanya lo gw, tapi Bhree ga menyadari hal itu.
Mba Uli dan Mba Fenti membantu Bhree duduk di kursi roda. Tama berinisiatif untuk mendorongnya menuju kamar jenazah.
Bhree kembali menangis. Mba Uli reflek langsung mengusap punggung Bhree, menguatkan dan memberi dukungan.
"Banyak berdo'a Bhree, jangan nangis terus. Sekarang yang perlu kita pikirkan, jenazah Ibu mau dibawa kemana? terus mau dimakamkan dimana?" ujar Tama.
Bhree baru sadar, baru terpikir bagaimana langkah selanjutnya. Mengingat tetangga di rumah juga tidak dekat. Lagipula saat Bhree mencoba beberapa kali kesana, warga seolah merasa jijik dengan perbuatan Ibunya Bhree yang diduga melakukan maksiat di rumah. Informasi terakhir malah bilangnya Bu Diah sudah pindah dari rumah, tidak ada yang tau pindah kemana.
"Bhree.. Mas udah minta agar Ibu kamu dimandikan dan dikafani. Sekarang mau dibawa kemana?" tanya Mas Wisnu.
"Langsung aja dimakamkan Mas, Ibu ga punya keluarga. Selama ini Ibu cerita sedari kecil tinggal di Panti Asuhan, tapi ga pernah Bhree dikasih tau nama atau tempatnya. Mas bisa bantu urus pemakaman?" kata Bhree.
"Oke.. nanti Mas carikan di pemakaman yang keluarga Mas banyak disana" ujar Mas Wisnu.
Tama yang menanggung biaya pemakaman, sedangkan biaya Rumah Sakit akan ditanggung keluarga Mas Wisnu karena tadi Mas Wisnu sudah menghadap ke direktur Rumah Sakit agar mengurusnya nanti setelah semua tertangani dan urusan sudah selesai. Meskipun Rumah Sakit ini milik keluarganya, Mas Wisnu minta semua dihitung.