
Hana sedang berjalan kaki dari Klinik menuju halte bus, ditengah perjalanan kembali dihadang oleh Hari. Keberuntungan masih berpihak ke Hana, Barra yang sedang melintas melihat kejadian Hari mendorong Hana hingga terbentur pompa air untuk pemadam kebakaran yang ada di jalan.
"WOOIIII.." teriak Barra yang membuat Hari kaget.
Tanpa basa basi, Barra turun dari motor dan menghajar Hari tanpa ampun. Ini kali kedua dia berhadapan dengan Hari dan kali ini dia ga akan melepaskan begitu aja.
"Main kasar sama perempuan.. Pake rok aja sana" teriak Barra sambil menendang punggungnya Hari.
Hari terpelanting kesamping.
Tak cukup sampai disitu, melihat lawan kesulitan untuk berdiri, Barra kembali menendang bagian kaki yang membuat Hari jatuh telungkup. Lutut Barra menindih punggungnya Hari. Wajahnya didekatkan kearah Hari.
"Sekali lagi Gw liat Lo macem-macem sama Ibu ini .. Habis Lo... Gw ga akan segan-segan bikin laporan ke polisi" ancam Barra.
"Lo siapa sih? Selalu ikut campur urusan gw sama istri gw aja" oceh Hari.
"Bener Bu kalo ini suaminya?" tanya Barra ke Hana.
Hana menggeleng.
"Udah beraninya sama perempuan.. Eh segala pake bohong lagi. Lo kali yang ngarep dia jadi istri tapi dia ngga. Jangan kepedean Lo jadi laki. Gw tau Ibu ini punya pasangan.. Seorang dokter, bukan orang kurang kerjaan kaya Lo" kata Barra sambil menoyor kepalanya Hari karena kesal.
"Kurang ajar Lo ya, masih muda udah noyor kepala gw, ini pala difitrahin tau, gini aja dah.. kalo ga tau urusan orang ya ga usah ikut campur" lanjut Hari.
"Eh.. Ga penting gw tau urusan Lo atau ngga. Yang penting saat ini gw liat Lo nyakitin perempuan.. Emang ga malu kalo laki-laki nyiksa perempuan. Patut dipertanyakan kemaskulinannya tuh" maki Barra dengan penuh emosi.
Hari berontak bahkan meludahi Barra, untunglah ga kena. Tindakan Hari kembali memantik emosi dalam diri Barra. Tubuh Hari yang sudah berdiri sempoyongan langsung disandarkan ke pohon kemudian dihajar lagi hingga ada darah segar mengalir dari bibirnya yang terlihat sedikit pecah.
Warga yang melihat keributan segera melerai. Hari langsung melarikan diri.
Barra menghampiri Hana.
"Bu.. Saya antar pulang ya" tawar Barra.
Hana mengangguk. Barra mengirimkan pesan ke dokter Raz.
"Bu.. Maaf sebelumnya, saya mau periksa dulu bagian lehernya, boleh? Ibu ingat saya kan?" tanya Barra.
"Makasih udah bantu saya. Saya gapapa kok dok.." jawab Hana.
Hana naik ke motornya Barra.
Barra melipir kesebuah Restoran.
"Loh kok kesini?" tanya Hana bingung.
Dokter Raz yang sedang berada dekat sama Kliniknya Hana langsung membuat janji ketemu disana sama Barra dan Hana.
"De.. Kamu gapapa?" tanya dokter Raz panik.
"Kok Mas ada disini?" tanya balik Hana.
Ketiganya masuk kedalam Restoran yang berkonsep lesehan. Mereka memilih tempat makan paling ujung.
Hana ga banyak bercerita, justru Barra yang antusias bercerita.
"Bau alkohol banget dok, tuh orang ya.. udah tua masih aja minum miras murahan" kata Barra mengejek.
"Kok tau jenis miras murahan?" tanya dokter Raz kaget.
"Kalo miras murahan itu maboknya rese dok, liat aja kalo ada panggung dangdutan, pasti ricuh karena miras murahan. Tapi di club-club malam elit mana ada orang mabok rese, ya paling tidur gletak aja" papar dokbar.
"Ada-ada aja analisanya" jawab dokter Raz.
"Kayanya dia terobsesi sama Ibu, harus waspada Bu.." ingat dokbar.
Hana dan dokter Raz saling berpandangan.
"dok.. Ini saya yang lagi cerita.. Kok dari tadi mandang Ibu terus .. Hehehe" ledek dokbar.
"Lapor aja dok kepihak berwajib, kita kan negara hukum, jadi baiknya diselesaikan dengan hukum yang berlaku, biar ada efek jera" lanjut dokbar.
"Maunya begitu.." sahut dokter Raz.
"Oh ya Bu .. Maaf Bu.. Saya beneran ini mau minta ijin buat periksa leher, soalnya saya tadi liat bagian itu kena" pinta dokbar khawatir.
"Gapapa dok, ga sakit" jawab Hana.
"dokbar ini dokter, dia ga akan berbuat aneh-aneh. Nalurinya untuk segera menolong terbentuk karena dia setiap hari berhadapan sama pasien" kata dokter Raz.
Akhirnya Hana bersedia. dokbar melihat leher bagian kanannya Hana dari balik jilbab.
"Ada memar sedikit, cukup salep aja dok, tadi saya tekan ga terasa sakit. Tapi kalo dok Raz mau make sure ya monggo cek ke Rumah Sakit" ucap dokbar.
Setelah makan, dokbar pamit pulang duluan. Tinggal Hana dan dokter Raz berdua.
"Pernikahan kita tinggal sebulan lagi De, seperti yang Mas minta saat datang melamar, resign dari Klinik sesegera mungkin" kata dokter Raz mengingatkan.
Memang saat keluarga dokter Raz secara resmi melamar Hana, ada pembicaraan agar Hana mulai mempersiapkan diri. Tidak bekerja lagi di Klinik. Keluarga memang tidak tau mengenai tindakan Hari, tapi Hana tau alasan terkuatnya dokter Raz yaitu untuk menjaga keamanannya. Hana memang sudah berbicara dengan pemilik Klinik, tapi masih ditahan sampai ada orang baru.
"Ya Mas, kan sudah bilang alasannya. Lusa orang baru akan masuk, jadi ya ga bisa cepat juga. Paling seminggu sebelum pernikahan baru bisa" jawab Hana.
"Mas tau itu, tapi yang kita hadapi itu Hari. Dia bisa kapan aja datang dan kembali menyiksa" ujar dokter Raz.
"Semoga ga lagi, dia tau kok kalo saya mau nikah sama Mas" ucap Hana.
"Semoga? Berharap semoga dia berubah? Yakin dia ga bakalan gangu lagi?" tanya dokter Raz.
"Kayanya habis dihajar sama dokter Barra, dia pasti ada kapoknya. Selama ini kan dia belum pernah kena batunya kaya tadi" jawab Hana.
"Memang dua kali dokbar nyelamatin kamu, tapi ga bisa juga berharap bantuan datang. Daripada nanti malah bahaya, mending cut aja lah dari Klinik. Mas ganti gaji kamu sebulan ini. Bukan Mas mau unjuk kekayaan, tapi kamu itu berharga buat Mas" papar dokter Raz.
.
Tadi pagi Hana kembali bertemu dengan pemilik Klinik. Memang beliau amat menyayangkan keputusan Hana untuk resign (Hana tidak cerita siapa calon suaminya, hanya bilang akan menikah saja), karena Hana adalah karyawan cekatan dan ga pernah rewel jika harus menambah jam kerja.
Proses kerjasama Klinik dengan BPJS sedang berjalan dan Hana menjadi salah satu yang mengurus surat menyurat di Klinik, jadinya pemilik minta kesediaan Hana untuk terus mengawal meskipun nanti tidak bekerja di ini Klinik lagi.
dokter Raz sudah setuju kalo sekedar membantu Klinik, bahkan beliau akan membantu untuk proses-proses dengan pihak BPJS karena punya pengalaman kerjasama yang baik selama ini.
.
Seminggu lagi Hana akan menikah, diujung malam dalam do'anya, meminta kepada Allah SWT memberikan keberkahan dalam langkahnya kali ini. Sejujurnya memang Hana akan melangkah ke mahligai pernikahan tanpa ada rasa cinta (tapi ada rasa kagum yang luar biasa terhadap dokter Raz), dia pun bertekad untuk bisa membuka hatinya kembali. Pertimbangannya Hana banyak dan semua dilakukan agar Nabila tidak jatuh ke tangan Hari. Melati sudah mengirimkan pengacaranya untuk meminta hak asuh terhadap Nabila. Alasannya karena Hana single parent dengan penghasilan kecil dan hidup menumpang sama keluarga. dokter Raz diharapkan bisa menjadi solusi agar Nabila tetap ada dalam pengasuhannya.
Keluarga Hana pun secara ekonomi sedang terganggu. Kakaknya Hana kena PHK massal. Bapaknya pun ga ada kerjaan setelah motor dicuri, tidak bisa antar jemput anak sekolah.
"Ya Allah.. berkahilah langkahku ini. Apa yang sudah diputuskan untuk membahagiakan orang-orang yang amat berharga dalam hidup hamba. Semoga ga salah langkah lagi, bisa menjadi istri yang sholehah seperti keinginan hamba, bisa jadi Ibu yang baik buat anak-anak dan bisa punya mertua yang sayangnya sama seperti ke anak-anaknya. Bukan karena dokter Raz kaya, tapi beliau adalah sosok yang tepat untuk bisa diajak belajar bersama" ungkap Hana.
.
Dua hari menjelang pernikahan, diadakan pengajian di rumah Hana. Semua dibiayai oleh dokter Raz. Karena nantinya hanya akad nikah secara sederhana, jadinya tidak semua tetangga bisa diundang.
Keluarga dokter Raz hadir mengikuti pengajian sekalian menyerahkan seserahan. dokter Raz tidak ikut karena menurut adat istiadatnya, calon pengantin lelaki tidak ikut saat seserahan.
Pengajian dimulai, banyak tetangga yang berdatangan. Namanya ibu-ibu pengajian, melihat rombongan keluarga dokter Raz memakai mobil-mobil mewah dengan bawaan yang membuat iri, jadi semua hadir (yang jarang ngaji aja datang). Para Ibu-ibu seakan bisa menebak kalo dalam pengajian nanti akan dihidangkan makanan yang lezat dan tentunya cinderamata atau besekan yang mahal.
Acara dilanjutkan dengan ramah tamah kedua keluarga besar, semua tampak akrab dan hangat. Terkadang dalam bermasyarakat, kita akan dipandang jika kita punya kelebihan secara materi, pandangan inilah yang harusnya sudah tidak ada lagi, tapi itulah kebiasaan turun temurun yang sulit dihilangkan, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
Sudah cukup lama terdengar nyinyiran para tetangga, mulai dari katanya Hana kejatuhan bintang karena main pelet, cuma lulusan SMA kok bisa dapat suami dokter, yang bilang orang tuanya Hana memaksa nikah agar kesulitan ekonomi mereka tertanggulangi dan masih banyak lagi. Bagi keluarga Hana, sudah kebal dengan hal itu, mereka berpikir kalo cuma punya dua tangan, pastinya ga akan mampu membungkam mulut semua orang, jadi lebih baik tangan tersebut untuk menutup dua telinganya sendiri agar ga mendengar omongan yang aneh-aneh.
Anak-anak dokter Raz yang ikut dalam rombongan juga sedari datang sudah terus mendampingi Hana dan Nabila. Tentunya pihak keluarga sangat senang melihat jika anak-anak akan punya Ibu baru yang bisa memberikan kasih sayang dan perhatian.
Orang tuanya dokter Raz malah mengusap air mata terus sepanjang acara karena terharu. Naluri orang tua yang anaknya pernah disakiti pasti akan merasakan. Beliau berharap besar terhadap kehadiran Hana disampingnya dokter Raz, memberikan kebahagiaan untuk anaknya.
Para tamu undangan yang pulang diberikan goodie bag berupa handuk dan nasi box dari sebuah restoran Padang ternama.