HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 34, Rutinitas



Mas Wisnu terdiam di coffee shop yang ada di lantai satu Rumah Sakit. Sedari tadi dia mengaduk-aduk kopinya. Pikirannya melayang-layang.


⬅️


Teringat seminggu yang lalu, dia mendapati Papanya tengah berduaan dengan Bu Diah di Apartemen, kebetulan Mas Wisnu sedang ada pemotretan under water yang mengambil tempat di kolam renang apartemen tersebut.


Dari jalan menuju lift, bukan main mesranya pasangan tua itu. Mas Wisnu hanya menahan kesal dan harus tetap fokus untuk pemotretan.


Setelah pemotretan selesai, dia mengetuk pintu apartemen milik Papanya. Tidak terkejut melihat Bu Diah berpakaian minimalis, sedangkan Papanya memakai handuk kimono. Bu Diah langsung masuk ke kamar untuk mencari baju guna menutupi tubuhnya.


Sudah terjadi cekcok antara Mas Wisnu dan Pak Handoko.


"Pa.. Nu kan udah bilang .. Mending Papa nikah aja" kata Mas Wisnu.


"Jangan campuri urusan Papa. Toh ga merugikan kamu kan?" tanya Pak Handoko.


"Betul .. Papa dan wanita itu ga merugikan Nu, tapi pernah kepikiran ga kalo ada yang liat Papa bermesraan di koridor menuju unit ini, bahkan sekarang dengan pakaian yang minimalis. Memang ga ada penggerebekan disini, tapi kalo ada yang liat Papa masuk ke unit ini berdua dengan wanita itu, apa ga merusak nama baik Papa?" ingat Mas Wisnu.


"Papa pinter kali Nu... Emang anak kemarin sore yang ga bisa main cantik" jawab Pak Handoko dengan seenaknya.


"Tolong Pa, jangan bikin Nu jadi ga hormat sama Papa dan terpaksa melakukan tindakan like man to man.. baku hantam. Nu cape Pa, didatangi wanita silih berganti, minta pertanggungjawaban Papa terus" ucap Mas Wisnu emosi.


"Kamu ga usah sok suci ya, sebelum nikah juga hamilin anak orang, untung duit Papa banyak, jadi semua bisa disumpel pake duit" kata Pak Handoko arogan.


Mas Wisnu pergi meninggalkan unit apartemen tersebut dengan amarah yang masih membara.


➡️


"Bhree pasti ga mau ketemuan lagi nih.. Bodoh banget sih Nu.. Segala ngomong kaya gitu ke Bhree... Padahal rasanya ingin ngajak Bhree ke apartemen yang Papa punya, siapa tau ada barang Ibunya disana" kata Mas Wisnu bicara seorang diri.


.


Bhree sudah kembali ke Jakarta, ikut merapihkan file rekaman, memberikan keterangan video per tanggal dan judul sementara, yang kemarin direkam dalam perjalanan pulang pergi serta selama di Solo. Hal ini dilakukan agar mudah dalam mengedit video menjadi satu kesatuan.


Tama duduk disebelahnya sambil melihat Bhree yang sangat serius kerjanya. Sekarang Bhree sedang memindahkan hasil jepretan saat acara pertunangan Kakaknya Tama.


"Mba Elsa cakep ya, cocok banget sama Kakaknya Bang Tama" puji Bhree yang memang diminta Tama untuk mendokumentasikan saat acara lamaran berlangsung.


Dokumentasi akan diserahkan ke keluarga, tidak untuk konsumsi umum.


"Ya.. Tapi liat ga kalo yang sumringah cuma Mba Elsa. Keluarganya senyumnya agak fake gimana gitu" jawab Tama spontan.


"Mungkin terharu kali Bang.. Secara ini anak perempuan satu-satunya di keluarga, pasti berat ngelepasnya" ujar Bhree.


"Semoga gitu sih, tapi... Ah udah deh.. Males bahas" kata Tama.


"Maaf Bang.. ini mah ga tau benar apa ngga ya, pas lagi mau ambil makan, sempat dengar ada yang kaget kalo Mba Elsa bukan dilamar sama dokter. Katanya keluarga besar taunya pacar Mba Elsa itu dokter.. siapa gitu namanya.." adu Bima.


"Sempet denger juga pas lagi di kamar mandi, ada yang lagi ngomongin tentang dokter gitu. Mungkin mantannya kali" ucap Uli dengan entengnya.


"Itulah jodoh.. Mungkin pacaran lama sama siapa, eh yang ngelamar siapa" sahut Tama.


Bhree melanjutkan pekerjaannya. HP Bhree berbunyi, ada panggilan masuk, dari Mas Wisnu. Tama sempat melihat nama yang tertera di HP nya Bhree.


"Assalamualaikum Mas.." sapa Bhree.


"Waalaikumsalam, Mas sudah share alamat apartemen milik Papa, Mas ga tau apa disana jadi tempat tinggal Ibu kamu yang terakhir atau bukan. Mas bisa antar kamu buat buka unit itu. Tapi janjian dulu ya, Mas masih ngurus kerjaan sama bolak-balik Rumah Sakit" kata Mas Wisnu.


Setelah menyudahi sambungan telepon, Bhree terdiam.


"Mas Wisnu telepon ada apa Bhree? Ada masalah?" tanya Tama kepo.


"Ngajak ketemuan" jawab Bhree.


"Kemarin aja kalian ketemuan tapi berakhir gitu aja. Emang ada apa sih? Keliatannya Mas Wisnu orangnya baik" tanya Tama lagi.


"Ga usah dibahas ya" pinta Bhree.


"Kalo ketemuan sama dia jangan sendirian, dia kan pria beristri" saran Tama.


.


Operasi transplantasi ginjal sudah selesai, kedua anak Pak Daliman sedang berada di ICU. dokbar dibebas tugaskan selama kedua pasien masih di ICU, sehingga dokbar kembali mengawasi pasien rawat inap kelas tiga anak dan dewasa.


Dia tengah membaca rekam medis pasien, kebetulan ada pasien bernama Elsa. Teringat video yang dikirim oleh Kakaknya Elsa saat hari pertunangan kemarin. Ditambah pula bertaburan foto dan ucapan selamat di media sosial milik Elsa. Bahkan ada pula yang menanyakan kenapa bukan Barra sosok tunangannya Elsa.


"Congrats Ca.. Semoga lancar sampai hari H" ucap dokbar yang rupanya terdengar oleh perawat disampingnya.


"Kenapa dok? Tadi bahas pasien atas nama siapa?" tanya perawat.


"Ngga.. Ga bahas siapa-siapa" jawab dokbar.


"Ngelamun dok?" kata perawat.


"dok.. Udah denger belum siapa calon-calon kepala perawat?" tanya perawat.


"Selentingan sih dengar" jawab dokbar.


"Jagoin siapa dok?" tanya perawat lagi.


"Ada dua sih yang kayanya bagus. Pertama kepala perawat IGD, tau banget deh kerjanya kaya gimana. Super duper rapih laporannya, tegas, ga gampang emosi. Yang kedua itu kepala perawat ruang perina (untuk pasien bayi yang baru lahir dan sakit). Pembawaannya keibuan, orangnya cepat akrab sama siapa aja, kerjanya juga gercep" papar dokbar.


"Sama juga dok, kita nih para perawat juga setuju kalo kepala perawat IGD yang jadi. Selama ini dia yang ngerjain laporan keperawatan. Pas akreditasi Rumah Sakit aja masuk tim" ucap perawat.


"Kalo jadi, harus sekolah lagi, kan belum S1 keperawatan. Semoga kali ini lebih baik ya" harap dokbar.


"Tapi ..kenapa dokbar nilai Kak Arni (kepala perawat perina) bagus? Dia masih muda dok, belum banyak pengalaman. Disini aja baru empat tahunan. Emang sih banyak yang bilang dia bagus, tapi belum teruji dibanyak bagian. Jangan-jangan naksir ya sama Kak Arni?" ledek perawat lainnya.


"Mulai deh sesi perjodohan dimulai..." kata dokbar.


Dua menit kemudian, suster Arni datang membawa dua tempat tidur bayi yang akan diantar ke Ibunya (pasca lahiran).


"Tumben Kak turun anter bayi" sapa perawat.


"Iya nih, sekalian mau minta tolong dokbar" jawab suster Arni.


"Ada apa ya?" tanya dokbar spontan.


Perawat yang ada di nurse station tersenyum meledek dokbar. Suster Arni yang ga paham langsung duduk disebelahnya dokbar.


"Kenapa?" tanya dokbar kepo.


Suster Arni sudah berusia dua puluh enam tahun dan masih single. Parasnya lumayan manis, sudah banyak perawat dan dokter yang menyatakan suka sama dia, tapi ga ada satupun yang berhasil mencuri hatinya.


"Begini dok, tadi subuh ada Ibu melahirkan, yang di kamar 208 itu, terus suami pasien minta bayi rawat gabung. Saya sudah menjelaskan kalo kelas tiga aturan Rumah Sakit ini tidak bisa Ibu dan bayi rawat gabung di ruangan. Hanya bisa rawat gabung di kelas satu keatas. Untuk pasien kelas dua dan tiga, Ibunya yang ke perina untuk menyusui disana. Boleh juga kok lama-lama nungguin bayinya dan mandiin. Suaminya ga terima dengan penjelasan itu dok, tadi di kamar masih ngoceh-ngoceh aja" jelas suster Arni.


"Pasti udah pernah dong yang kaya gini? Selama ini gimana?" tanya dokbar.


"Belum pernah nemuin suami pasien yang nyinyir kaya gitu" jawab suster Arni.


"Nanti panggil aja ya ke perina, kita ngobrol disana, saya bantu ngomong" kata dokbar.


Suami pasien yang sedang diomongin sama dokbar dan suster Arni mendekati nurse station.


"Sus.. Anak saya kok kulitnya kaya bruntusan, tadi pas lahir gapapa. Dimandiin ya? Ga cocok tuh sabunnya" oceh suami pasien.


"Belum dimandikan Pak, karena memang baru tadi jam dua keluar dari inkubator. Kami bersihkan saja tanpa mandi. Jam tiga sampai jam empat memang bayi diantar ke kamar Ibu" jelas suster Arni.


"Males-males banget sih perawat, pagi lahir masa ga dimandiin, dulu anak pertama saya lahir dibidan langsung mandi" kata suami pasien.


"Maaf Pak.. Saya dokter Barra, dokter ruangan disini. Bisa saya minta waktu untuk berbincang di kamar bayi? Untuk menjelaskan tentang hal ini" tanya dokbar.


"Ga usah dok, disini aja, biar semua orang tau. Takut ya saya viralkan Rumah Sakit ini? ga ramah buat orang melahirkan juga. Masa anak sama Ibu dipisahin" omel suami pasien.


"Sebelumnya saya akan memberikan informasi ke Bapak, jika semua tindakan perawat sudah atas instruksi dokter penanggungjawab, dalam hal ini dokter anak. Banyak pertimbangan yang membuat kita menunda waktu mandi pertama bayi yang baru lahir. Mencegah hipotermia, bayi sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Apalagi anak Bapak baru keluar dari inkubator, suhu tubuhnya masih agak hangat, apa nanti tidak berbahaya kalo langsung terkena air dalam jumlah banyak meskipun air hangat. Bayi yang baru lahir juga memiliki lapisan berwarna keputihan diseluruh tubuhnya yang disebut vernix. Vernix ini fungsinya menjaga kelembaban kulit sekaligus mempertahankan panas pada tubuh bayi. Jadi sekarang WHO pun menyarankan bayi dapat dimandikan setelah 12-24 jam sejak kelahirannya" papar dokbar.


"Terus kenapa ga boleh sekamar sama Ibunya, kan ruangan itu isinya ibu melahirkan dan yang habis kuret, ga ada yang sakit lain" lanjut suami pasien.


"Rumah Sakit memberikan aturan pasti ada dasarnya Pak, bukan diskriminasi terhadap pasien kelas tiga. Kami mendukung ASI untuk bayi, jadi Ibu dipersilahkan bisa ke ruang perina atau memberikan perahan ASI ke ruangan" kata dokbar.


"Kok jadi ngerepotin Ibu melahirkan sih. dokter belum punya istri yang melahirkan ya?" tembak suami pasien.


"Saya belum menikah Pak" jawab dokbar.


"Pantesan.. Ga tau rasa sakitnya" ucap suami pasien.


"Pak.. Di kelas tiga itu ada enam bed pasien, ada pula penunggu pasien yang silih berganti keluar masuk. Ditambah juga ada jam kunjungan besuk. Besar kemungkinan banyak orang masuk dalam satu ruangan. Pihak Rumah Sakit khawatir terjadi infeksi silang dari pengunjung ke bayi. Kenapa untuk kelas satu keatas boleh rawat gabung? karena hanya ada satu pasien disana, penunggu dan penjenguk juga tidak banyak. Jadi tidak terlalu beresiko besar untuk bayi. Tapi kembali lagi, keluarga pasien berhak menentukan perawatan anak dan Ibu seperti apa. Ada surat yang harus Bapak tandatangani jika tetap ingin merawat bayi di ruangan Ibu. Segala resiko menjadi tanggung jawab Bapak sendiri" papar dokbar.


"Tapi perawat bolak balik dong kalo bayi pup atau pipis? Terus kalo nangis minta digendong" tanya suami pasien.


"Mungkin untuk memandikan bisa dibawa ke perina Pak, tapi untuk kontinyu menggantikan popok jika rawat gabung tidak seperti ketika bayi di ruangan perina" sahut suster Arni.


"Cape dong saya dan Ibunya. Gunanya perawat apa? Kan harus mengurus pasien. Pokoknya gini aja sus, kalo perlu ganti popok ya suster datang" kata suami pasien.


"Pak.. Tujuan rawat gabung biasanya untuk memperkuat bonding. Jadi jika anak perlu ganti popok atau baju, orang tua yang melakukan agar terjadi bonding yang kuat lagi" ucap dokbar sabar.


"Ngapain bayar kamar kalo repot. Ya udah taro di kamar bayi aja deh.. Saya ngantuk dari semalam ga tidur. Ibunya juga masih sakit abis dijahit banyak" putus suami pasien.


dokbar dan suster Arni hanya bisa tersenyum.


Bapak-bapak yang ada didekat nurse station langsung menghampiri dokbar.


"Pasien kelas tiga tapi lagaknya kaya pasien VIP. Sabar aja dok, saya aja gemes sebelahan sama dia. Ngoceh mulu" kata seorang Bapak.


Kembali dokbar dan suster Arni tersenyum.