HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 65, Antara bahagia dan kecewa



"Cieee... yang udah lulus .. selamat ya dok, ditunggu traktirannya" goda perawat rawat inap.


"Alhamdulillah.. Nanti ya kalo udah gajian baru ditraktirnya, lagi abis-abisan buat tugas akhir kemarin" jawab dokbar.


"Tumben dateng jam segini, besok pulang pagi dok?" tanya perawat lagi.


"Iya .. Seminggu kedepan juga bakalan off lagi" ujar dokbar.


"Yang tadi dipangku siapa dok? Cieee... Begitu official langsung main pangku-pangkuan" ledek perawat dengan nada menahan tawa.


"Lambe emang dimana-mana.." sahut dokbar.


Perawat tertawa pelan agar tidak jadi pusat perhatian keluarga pasien.


dokbar berjalan ke ruangan belakang nurse station, membuka medical record pasien.


"Katanya dokbar kenal ya sama calon Bidan yang lagi tes wawancara" kata perawat masih penasaran.


"Yang tadi dibawah? Ya kenal.. tapi mengenai ada lowongan kerja disini bukan dari saya infonya, jadi jangan pada mikir dia pake jalur ordal (orang dalam)" konfirmasi dokbar dengan tenang.


"Pesaing Arni nih" timpal lainnya.


"Dibilangin ya.. beneran lambe tumpah.. Ga ada saringannya kalo ngomong" ujar dokbar.


"Wisuda ajak Arni dong dok? Atau sama kita-kita juga boleh kok, siap aja jadi pendamping wisuda dokbar" kata perawat.


"Emang harus ya wisuda ada gandengan?" tanya dokbar iseng.


"Emang waktu lulus S1 ga ada gandengan?" balik perawat bertanya.


"Ada sih .. Tapi banyak kok yang ga bawa" ucap dokbar keceplosan.


"Nah... berarti dokbar punya pacar ya? Jangan PHP in Arni dong dok, kasian udah pala tiga dia" saran lainnya.


"Ini gosipnya serem banget ya. Saya jomblo sejak kuliah spesialis, kalo sama Arni kan udah dibilang bespren aja. Sampai sekarang baik-baik aja kok sama Arni, boleh tanya ke orangnya langsung" jelas dokbar.


"Tapi malu dok kalo wisuda spesialis ga bawa gandengan. Secara kan dokter spesialis pas wisuda udah punya istri bahkan anak. Gengsi dikit dok, jangan keliatan jomblo banget gitu loh. Apalagi jadi lulusan terbaik, ya paling ga bawalah buat syarat" sahut perawat senior.


"Nanti deh dipikirin dulu, perlu ga bawa gandengan. Orang tua aja kan cukup kayanya" ujar dokbar.


🌿


Bobby mengajak Bhree hangout, mumpung bisa libur di hari kerja ( Bobby habis dinas luar kota dan selesai lebih cepat dari perkiraan, jadinya dia memilih balik ke Jakarta daripada stay di daerah).


"Kebetulan nanti siang mau ketemuan sama Luna, ke Klinik kecantikan, dekat kok kalo dari rumah Abang. Skincare kita berdua mau habis, jadi mau kesana" jelas Bhree.


"Naik apa ke Kliniknya? Abang jemput ya, sekalian minta ijin sama Mbah buat ajak jalan. Minta alamat dong" tawar Bobby.


"Ga usah.. udah janjian sama Luna mau naik kereta" sahut Bhree.


"Bhree .. Kita sebenarnya gimana sih? Kamu kan udah setuju kalo kita saling kenal dulu sebelum kejenjang lebih lanjut, tapi makin kesini kok malah kaya ga dianggap" ucap Bobby mulai emosi.


"Kita kan ga ada ikatan Bang, ya kalo Abang ga suka, ya stop aja sampai sini" kata Bhree cuek.


"Segampang itu? kenapa dulu setuju untuk melanjutkan perkenalan? Terkesan buang waktu ga sih selama enam bulan ini?" tanya Bobby.


"Bhree minta maaf ya Bang, kayanya Abang cari yang lain aja. Bhree masih mau meniti karier" putus Bhree.


"Mending kita ketemu deh, ngobrol langsung aja daripada di telepon" akhirnya Bobby makin kesal.


.


Bobby menghubungi Luna, dia tanya mau ke Klinik kecantikan yang mana dan minta alamatnya juga. Luna ga curiga dan ga tau kalo sebelum menghubunginya, ada sedikit pertengkaran antara Bhree dan Bobby.


Bhree dan Luna janjian di stasiun untuk menuju Klinik Aura. Suasana gerbong kereta cukup sepi.


"Tadi Bang Bobby tanya kita mau kemana hari ini" adu Luna.


"Terus?" tanya Bhree.


"Ya bilang apa adanya" jawab Luna tanpa beban.


"Ya udah..." jawab Bhree.


"Ya udah doang tanggapannya?" tanya Luna.


"Terus maunya gimana?" sahut Bhree.


"Lo tuh kalo ga suka ya bilang aja terus terang, jangan digantung begitu. Disini kesannya jadi lo yang jahat" kata Luna.


"Tau kan waktu Bapaknya ketemu sama kita? Lo pikir gw ga sakit?" ucap Bhree.


⬅️


Suaminya Bidan Kokom yang mengetahui identitas Bhree dari Adiknya (dulu kerja di Klinik kecantikan dimana Diah banyak mengubah bagian tubuhnya), Tantenya Bobby tau persis bagaimana murahannya Bu Diah. Awal kecurigaan saat Bhree ketemu keluarga Bobby yang sedang liburan ke Surakarta, wajahnya mirip banget sama Bu Diah. Tantenya Bobby yang menanyakan langsung ke Bhree apakah benar Bu Diah Ibunya, saat itu Bhree mengiyakan dan memperlihatkan fotonya Bu Diah ke Tantenya Bobby. Orang yang sama antara Ibunya Bhree dengan pasien Klinik kecantikan tempat Tantenya Bobby kerja.


"Anak dan istri Bapak udah sreg banget sama kamu Bhree.. Tapi kami dari keluarga baik-baik, jangan kotori anak keturunan kami dengan masa lalu keluarga kamu" ucap Bapaknya Bobby.


"Saya ga bisa memilih lahir dari rahim yang mana Pak, tapi saya berusaha tidak menjadi wanita seperti Ibu saya. Biar bagaimanapun, Ibu adalah wanita yang harus saya jaga harga dirinya" jawab Bhree.


"Tinggalkan Bobby tapi pakai cara yang smart. Bikin Bobby kesal dan memutuskan buat ninggalin kamu. Bikin juga istri Bapak marah hingga akhirnya memaksa Bobby tinggalin kamu. Bapak rasa kamu bukan cewe yang gampang dibayar buat tinggalin Bobby kan? Bobby itu kariernya cemerlang, nanti kalo keluarga besar dan rekan kerja tau siapa calon istrinya Bobby, apa ga bikin malu?" ungkap Bapaknya Bobby.


➡️


"Kenapa Lo ga ngomong aja ke Bang Bobby atau Bidan Kokom mengenai kelakuan Bapaknya" saran Luna.


"Kasian aja gw sama Bapak itu, nanti dimusuhin anak dan istrinya. Gw pikir-pikir emang ada benernya juga. Cewe kaya gw selalu kena embel-embel keluarga broken home dan rusak" getir Bhree berkata.


"Ya ga gitu juga konsepnya" ucap Luna.


"Gw minta kontak Klinik Aura aja deh, gw mau belinya online. Atau Lo mau ga beliin dulu buat gw?" tanya Bhree.


"Lo mau kemana?" kata Luna bingung.


"Sejak menginjakkan kaki di Ibukota, gw ternyata belum ke makam orang tua. Please Lun.. Gw butuh waktu buat sendiri" putus Bhree.


Bhree turun di stasiun terdekat kemudian memesan ojek online menuju makan Ibunya kemudian ke makam Bapaknya. Pak Daliman sudah beberapa kali menghubungi dan mengirimkan chat ke Bhree, karena HP nya di non aktifkan, jadi ga ada respon dari Bhree.


"Pak.. Bhree udah ketemu sama orang yang Bapak titipin pesan. Bhree udah tau kenapa surat itu ada sama dia. Kita jadi ngerepotin dia kan Pak. Orang yang seharusnya ga tau cerita hidup kita, jadi tau karena dia sudah melihat dan membaca semuanya" adu Bhree sambil meneteskannya air mata.


"Bhree .." panggil Mas Wisnu yang kebetulan ada di makam tersebut, habis ziarah ke makam Fenti dan kedua anaknya.


"Mas Wisnu abis ziarah ke siapa?" tanya Bhree.


"Fenti dan anak-anak dimakamkan disini" jawab Mas Wisnu.


Bhree meminta Mas Wisnu untuk mengantar ke makam Mba Fenti dan anaknya. Setelah itu keduanya keluar dari tempat pemakaman.


"Mau kemana lagi Bhree?" tanya Mas Wisnu.


"Ga tau mau kemana? Mungkin pulang kali ya" jawab Bhree.


"Sekarang tinggal dimana Bhree?" tanya Mas Wisnu.


"Maaf ya Mas, saya belum bisa cerita" jawab Bhree.


"Ok.. Paling ga kalo kamu butuh teman, hubungin Mas aja, siapa tau bisa bantu" tawar Mas Wisnu.


"Mas... Studio masih di tempat yang sama?" tanya Bhree.


"Udah pindah, sekarang Mas mau ke studio yang ada di Pondok Indah, mau meeting persiapan besok moto di fakultas kedokteran" jawab Mas Wisnu.


"Buat wisuda Mas?" tanya Bhree lagi.


"Bukan.. foto buat perijinan praktek kalo ga salah, foto pakai toga sendiri-sendiri sama foto bareng seangkatan" jelas Mas Wisnu.


"Banyak dong kalo seangkatan" ujar Bhree.


"Cuma dua puluh orang. Ini kan bukan dokter umum, tapi para spesialis. Orang-orang pinter nih. Besok nganggur ga Bhree? Ikut Mas aja yuk" kata Mas Wisnu mengajak.


"Jam berapa Mas?" Bhree nampak sumringah.


"Jam enam kita jalan dari studio, soalnya jam sepuluhan semua set harus udah terpasang. Bisa ga?" tanya Mas Wisnu lagi.


"Oke.. besok langsung ke lokasi aja deh, sekarang mau pulang dulu, Mas info aja kampus yang mana" kata Bhree.


Mas Wisnu mengirimkan pesan ke Bhree, informasi tentang tempat pemotretan.


.


Saat makan malam, keluarga Pak Daliman berkumpul lengkap anak, mantu dan cucu. Bhree baru pulang.


"Bhree.. Orang tuh punya pikiran dikitlah, tau Mbahnya lagi sakit, malah pulang malam" oceh Tantenya.


"Ya" jawab Bhree ogah-ogahan.


"Makan dulu .." ajak Pak Daliman.


"Udah makan tadi sama teman" jawab Bhree sambil cium tangan ke semua anak dan mantu Pak Daliman.


"Kenapa malah ngelamar kerja di tempat lain? Klinik kita kan ada, kalo buat cari pengalaman bisa kok" ujar Omnya.


"Mau ngerasain kerja sama orang lain dulu, khawatirnya kalo di perusahaan keluarga malah ga berkembang. Maaf saya permisi masuk kamar dulu" kata Bhree.


Sepeninggalan Bhree.


"Itulah kalo anak ga dikenalin tatakrama, sama orang tua ga ada hormatnya. Mas Dasuki sih salah milih perempuan, jadi gitu deh anaknya" kata si bungsu.


"Udah makan.. ga baik ngomel didepan rejeki. Dia kan terbiasa hidup bebas, ga ada pengawasan. Semua harus pelan-pelan, ga bisa kita paksa, yang ada malah dia berontak" nasehat Pak Daliman.


"Papa ini gimana sih, dia kan katanya ga akan tinggal disini, tapi sekarang malah disini" protes anak kedua.


"Dia kan bagian keluarga kita" sahut Pak Daliman.


"Yakin itu anaknya Mas Dasuki? Kita perlu test DNA Pa.. jangan sampe beli kucing dalam karung" sahut lainnya.


"Urusan test DNA itu bukan wilayah kalian" putus Pak Daliman.


Pak Daliman sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makannya, beliau memilih masuk kedalam kamar. Sedangkan anak dan menantunya saling komen di grup chat mereka.


"Shabreena adalah sah bagian keluarga Daliman, kalian selama ini sudah banyak berbuat curang dibelakang saya" ucap Pak Daliman sambil melihat foto keluarga yang ada di kamarnya.