
Pak Handoko sudah dipindah ke kamar rawat biasa, sudah tidak di ICU lagi. Kondisinya sudah stabil, hanya luka bekas operasi masih perlu dipantau secara intensif. Serta organ gerak yang masih dalam proses rehabilitasi medis.
Selama dalam perawatan di Rumah Sakit, Fenti yang menjaga Pak Handoko. Biasanya Wisnu akan gantian jaga jika sudah selesai pekerjaannya. Anak-anak Pak Handoko yang lain sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak ada yang bisa bergantian. Anaknya Wisnu dijaga oleh orang tua Fenti yang sengaja dibawa ke Jakarta untuk menjaga cucunya.
"Gimana perkembangan Papa?" tanya Wisnu begitu masuk ke kamar rawat inap.
"Alhamdulillah makin baik, tadi abis terapi kakinya biar ga kaku, kan udah lama ga dipakai jalan" jawab Fenti.
"Pulang aja dulu, biar bisa rehat di rumah. Mas yang jaga, kebetulan besok juga ga ada kerjaan, jadinya bisa full disini. Kasian anak kita kurang dapat perhatian dari kamu" saran Mas Wisnu.
"Papa maunya dijaga sama Fenti aja Nu.. Dia telaten ngurus Papa" ucap Pak Handoko pelan.
"Kasian Fentinya Pah, seenak-enaknya rehat di Rumah Sakit, ya lebih enak rehat di rumah" jawab Wisnu.
"Ini kan kamar VVIP, ada kamar buat penunggu pasien juga kok. Papa juga banyak diurus sama perawat, jadi Fenti ga cape-cape banget" ujar Pak Handoko.
"Ya udah.. rehat aja sana di kamar, Mas yang jagain Papa" pinta Wisnu ke Fenti.
Fenti menuju kamar penunggu.
"Pah .. anaknya Bu Diah ngilang, Nu coba hubungi nomer HP nya ga aktif. Di tempat tinggalnya juga udah ga ada. Nu beneran ga enak Pah.. Dia kan sebatang kara" adu Wisnu.
"Anak keras kepala dia, ga usah diurusin" kata Pak Handoko.
"Pah.. Dia kehilangan Ibunya karena Papa. Masih bagus dia ga nuntut secara hukum" jawab Wisnu.
"Kasih aja duit, orang kaya gitu cuma butuh duit. Ga usah mikirin banget, siapa tau dia sekarang lagi ngamar sama om-om senang. Buah jatuh ga akan jauh dari pohonnya" ujar Pak Handoko.
"Pah.. jangan nilai Bhree kaya gitu. Dia kerja buat menghidupi dirinya sendiri. Waktu numpang di studio foto aja ga pernah minta uang atau makanan. Sekarang dia kerja jadi asistennya Utuber, kontrakan fasilitas kantor" papar Wisnu.
"Eh.. jangan lupa ya.. Diah aja bisa menutupi hubungan gelap sama Papa lama kok. Kalo ga karena kecelakaan, mungkin kami berdua ga ketahuan. Anaknya pasti bisa bersikap kaya wanita baik-baik" kata Pak Handoko angkuh.
"Pah.. udah dikasih kesempatan hidup lebih lama lagi, gunakan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, jangan malah cari kesalahan orang lain" saran Wisnu.
"Ga usah nasehatin Papa.. emang Papa anak kemarin sore" ucap Pak Handoko kesal.
.
Sudah dua mingguan Barra ijin tidak masuk kerja di Rumah Sakit. Hari ini mulai bekerja kembali. Tidak sengaja bertemu dengan Profesor Andjar, selain dosennya saat residen, beliau adalah ahli orthopaedi kenamaan di Indonesia. Usianya sudah lima puluh lima tahun, sudah tidak ikut langsung dalam tindakan bedah, tapi selalu mendampingi para residen. Masih membuka praktek tapi hanya di Rumah Sakit pendidikan tempat beliau mengajar.
dokbar menyapa Profesor Andjar. Keduanya ngobrol basa basi.
"Jadi Prof mau jenguk Pak Handoko?" tanya dokbar setelah Profesor Andjar mengatakan maksud tujuannya datang ke Rumah Sakit ini.
"Saya lama di Rumah Sakit ini, sejak jadi spesialis orthopedi sampai dapat gelar profesor ya disini prakteknya. Baru dua tahun belakangan saya resign dan lebih ke akademisi untuk mengajar para residen orthopedi" jelas Profesor Andjar.
dokbar mengantarkan Profesor Andjar ke kamar rawat inap Pak Handoko, kebetulan dia juga belum menjenguk Pak Handoko.
"Saya Barra, akan jadi muridnya Prof Andjar. Kemarin sudah ikut kelas satu kali" dokbar memperkenalkan dirinya.
"Oh ya.. maklumlah banyak orang yang saya temui setiap hari, jadi ga banyak ingat. Syukurlah tahun ini ada tiga dokter yang ambil spesialis orthopedi. Biasanya paling satu atau dua dokter saja. Kuliah yang benar, saya butuh penerus. Lulusan yang saya ajarkan malah banyak yang kerja di negara tetangga. Tergiur bayaran lebih tinggi" kata profesor Andjar.
"Mungkin karena susah kali ya kuliahnya, jadinya jarang ada yang ambil spesialis orthopedi" jawab dokbar.
"Kita ini urusannya sama tubuh manusia, jadi mau spesialis apapun pasti sulit. Allah menciptakan manusia itu dengan sistem dan organ yang sangat kompleks, jadinya harus dipelajari dengan sungguh-sungguh" ucap Profesor Andjar.
.
"Prof.. memang tidak ada patah tulang, tapi kaki kadang mati rasa. Nanti saya konsultasi ke Prof Andjar ya" harap Pak Handoko.
"Saya hanya praktek di Rumah Sakit pendidikan tempat mengajar saja Pak. Nanti kita bisa buat temu janji saja. Pak Handoko ini banyak memberikan saya kesempatan disini selama hampir dua puluh tahun, jadi nanti saya khusus akan buka konsultasi disini, saya yang datang kesini menemui Pak Handoko" janji Profesor Andjar.
"Ini yang saya suka, Prof Andjar selalu menghargai Rumah Sakit ini, ga lupa sejarah" puji Pak Handoko.
"Prof .. ini dokter Barra kan muridnya" manager Yanmed ikut bicara.
"Ya .. tadi sudah kenalan, dokter Barra.. kalo sudah selesai PPDS nya, mengabdi disini. Sekarang cuma ada satu dokter orthopedi di Rumah Sakit Cinta Medika, padahal banyak kasus yang perlu ditangani" nasehat Profesor Andjar.
"Ya Prof.. InsyaAllah" jawab dokbar.
"Dari gestur dan cara bicaranya, saya yakin dokter Barra punya potensi besar. Wajahnya penuh optimisme, ya semangatnya muda kan? sudah menikah?" tanya Profesor Andjar.
"Belum Prof" jawab dokbar.
"Baiknya selama PPDS jangan menikah dulu, biar fokus. Sekarang usia berapa?" tanya Profesor Andjar lagi.
"Dua puluh tiga sebentar lagi Prof" ujar dokbar.
"Wah..masih muda sudah jadi dokter? Biasanya dua puluh lima baru selesai jadi dokter. Pas lah.. Kuliah PPDS lima tahun, lulus masih usia dua puluh delapan, baru deh nikah" saran Profesor Andjar.
Semua tersenyum mendengar perkataan Profesor Andjar.
🍄
Kepergian Bhree ke Surakarta dipercepat karena Tante Debi ingin segera tinggal disana. Bersama mereka ikut seorang sopir merangkap orang yang diminta jadi pengawasnya Bhree dan istrinya yang bertugas menjadi asisten rumah tangga.
Saat berhenti disebuah rest area. Tante Debi mengajak Bhree ngobrol, selama ini mereka belum pernah saling sapa.
"Nama kamu kan bagus.. kenapa dipanggilnya Bhree?" tanya Tante Debi.
"Bhree juga ga paham kenapa dulu Ibu dan Bapak manggilnya seperti itu" jawab Bhree.
"Kenapa menerima tawaran Papa? I mean.. Pak Daliman" kata Tante Debi.
"Ini satu-satunya cara untuk Bhree bisa kuliah. Ibu sudah menjual rumah yang kami tempati. Bhree ga tau kemana uangnya. Bapak pun udah ga ada. Ketika ada tawaran untuk bisa mengubah nasib kedepannya, kenapa ga dimanfaatkan?" papar Bhree.
"Mau ambil kesempatan hidup enak? Kamu tau kan saat ini jadi cucu yang paling besar. Tante sudah sakit-sakitan, Papa sudah tua. Kakak-kakak yang lain juga sudah mulai menua. Pasti kamu berpikir bagaimana caranya bisa menguasai semuanya kan?" tuduh Tante Debi.
"Ga pernah terpikir hal itu Tante. Selepas nanti lulus, Bhree akan mengabdikan diri ke Klinik milik Pak Daliman. Jika tidak dibutuhkan, baru akan cari kerja di tempat lain" kata Bhree.
"Bapak kamu memang bodoh, tergila-gila sama Ibu kamu sampai ninggalin keluarga. Ujung-ujungnya ngerepotin kita juga" oceh Tante Debi.
Bhree diam, dia sedang mempersiapkan hatinya untuk menerima cacian dan makian dari seluruh keluarga Pak Daliman.
"Kenapa kamu ga pergi dari kehidupan kami?" tembak Tante Debi.
Bhree memandang kearah Tante Debi.
"Saya akan kasih kamu sejumlah uang, terus pergi yang jauh sampai ga ada orang kenal lagi. Terserah mau jadi apa" tawar Tante Debi.
"Kenapa Tante ga suka sama Bhree? khawatir mengambil harta milik Tante?" tanya Bhree masih bingung.
"Kamu ga seharusnya ada bersama kami" jawab Tante Debi.
"Tante boleh membenci kehadiran Bhree, tapi jangan lupa pengorbanan Bapak untuk Tante. Kita memang tidak tau umur manusia, tapi dengan melakukan transplantasi akan ada resiko kematian. Dan terbukti kan? Bapak meninggal setelah dilakukan operasi itu" kata Bhree dengan beraninya.
Tante Debi terdiam.
🌿
Aktivitasnya Barra sudah dimulai sejak pagi buta. Jam lima subuh dia sudah harus ada di Rumah Sakit pendidikan untuk laporan pagi sebelum kunjungan pasien bersama dokter konsultan. Kegiatan berlanjut ke praktek latihan atau presentasi ilmiah. Kegiatan praktek dan materi biasanya akan selesai di jam enam sore, itupun jika tidak ada jadwal piket jaga (Jika ada jadwal piket di IGD atau poli spesialis, maka Barra akan menginap di Rumah Sakit). Begitu saja putaran waktu hidupnya dari Senin hingga Jum'at. Dalam seminggu, dia bisa menghabiskan waktu 60-80 jam untuk perkuliahan PPDS nya. Kerja di Rumah Sakit Cinta Medika pun otomatis hanya bisa malam hari saat tidak ada kegiatan perkuliahan PPDS, mengorbankan banyak waktu dan tidak menerima bayaran saat residen di Rumah Sakit pendidikan. Jadinya hanya mengandalkan gaji dari Rumah Sakit Cinta Medika dan uang saku beasiswa.
"dok.. belum sebulan kuliah, udah punya mata panda" canda perawat.
"Dari sini langsung berangkat lagi ke Rumah Sakit pendidikan. Benar-benar enggak ada waktu tidur yang cukup" dokbar bercerita.
"Makanya saya belum ambil PPDS dokbar.. katanya selain biaya, mental dan pastinya waktu yang hilang. Apalagi saya sudah rumah tangga, nanti malah ga bisa urus keluarga" sahut dr. Ria, dokter jaga ruangan yang mengcover waktu kerjanya dokbar.
"Sebenarnya bukan cuma itu dok.. dulu kan sering dengar tentang senioritas yang masih sangat kental selama menempuh PPDS. dokter residen tahun pertama kan ga boleh memegang pasien dengan kasus spesialisasinya. Kita masih bekerja dibawah bimbingan dokter yang tingkatannya sudah lebih tinggi. Sebagai bayaran pendampingan, dokter residen diminta mengerjakan tugas senior. Itu belum kalo senior minta dibeliin makanan, bayarin pulsa HP.. ya begitu deh" curhat dokbar.
"Nanti kalo udah jadi senior jangan begitu" saran dokter Ria.
"Ga usah nunggu nanti dok, kemarin aja udah ribut sama senior urusan tugas" jawab dokbar.
dokbar dan dokter Ria lumayan akrab karena dulunya sesama dokter IGD, lagipula keduanya kuliah di kampus yang sama hanya lebih dulu dokter Ria setahun.