
Dokter Raz dan dokbar ga sengaja ketemu di parkiran. Padahal dokter Raz sudah setengah jam lebih dulu keluar dari ruangan dokter dibandingkan dokbar.
"Kenapa mobilnya dok?" tanya dokbar.
Supirnya dokter Raz sedang mencoba menyalakan mesin mobil.
"Ga tau nih kenapa, udah panggil bengkel langganan sih" jawab dokter Raz.
"Saya anter balik dok, dokter Raz rumahnya dimana?" tanya dokbar.
"Jadi ngerepotin nih saya, emang ngelewatin arah Pejaten?" jawab dokter Raz.
"Saya arah Pasar Minggu dok" ucap dokbar.
Akhirnya dokter Raz naik ke mobil dokbar, supirnya dokter Raz menunggu orang bengkel yang akan datang ke Rumah Sakit.
"Istri saya bisa dijadwalkan operasi kapan ya dok?" tanya dokter Raz.
"Maunya kapan dok? Jadwal operasi besok dan lusa sudah ada sepuluh orang, kalo mau dijadwalkan tiga hari lagi, dokter Raz lapor aja nama dan nomer medical record kebagian pendaftaran, biar dicatat dulu" jelas dokbar.
"Oke, besok saya kebagian pendaftaran" jawab dokter Raz.
🌿
"Pak.. Kita kok ga masuk tol aja?" tanya Bhree agak curiga karena mobil tidak kunjung lewat tol dan menjauh dari arah ke Bintaro.
"Mau isi bensin dulu" jawab Hari.
"Dari tadi banyak pom bensin Pak, kenapa ga isi?" kata Bhree.
"Bisa diam ga!!!!" bentak Hari yang kesal karena sedari tadi pertanyaan Bhree itu-itu aja.
"Bapak mau apain saya? Mau nyulik saya?" kata Bhree lantang.
Pintu dan jendela sudah dikunci pada panel utama pintu sebelah Hari sehingga Bhree tidak bisa berbuat apa-apa.
"Saya bilang minggir sekarang juga atau saya teriak" perintah Bhree.
"Silahkan aja" ucap Hari.
"Saya pecahin kaca nih.. Saya bisa berbuat nekat" ancam Bhree.
Bhree mengeluarkan HP nya, tapi Hari langsung merebutnya. Bhree mencoba mengambil HP, HP terjatuh dekat kakinya Hari.
"TOLONG... TOLONG..." teriak Bhree.
Hari sengaja membesarkan volume radio.
Bhree mencoba menarik tangan Hari, mobil sempat oleng. Hari mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya kemudian menyemprotkan spray berisi cairan obat bius kearah Bhree. Alat semprot tersebut berupa tabung kecil berisi obat bius, sebenarnya biasa digunakan sebagai senjata untuk menangkal kejahatan. Tapi sekarang alat yang lebih besar sedikit dari spidol itu malah disalahgunakan oleh penjahat. Dengan sekali semprot, Bhree tergeletak pingsan di kursi belakang.
Setelah melihat Bhree ga bergerak, Hari langsung kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah disiapkan untuk menuntaskan rencana busuk kejahatannya.
.
"Komplek perumahannya enak banget ini dok, baru tau saya kalo di Jakarta masih ada komplek seasri ini. Tapi ya tipe gede-gede, pasti mahal" puji dokbar.
"Udah lama komplek ini, tapi sejak setahun lalu ada perluasan, sama pengembang dibikin konsep baru. Yang lama dirapihkan kembali, kita bayar iuran fasilitas. Kalo dokbar mau ambil rumah dibagian belakang itu ada versi mini loh, ya buat pasangan baru sih cocok, type 36, masih harga promo" iklan dokter Raz.
"Marketingnya ya dok?" ledek dokbar.
"Ga lah.. Tapi kenal sama pihak pengembangnya. Buat investasi masa depan dok, saya aja ambil dua, buat disewakan itu ga rugi pokoknya. Kalo ga ada halangan, sekitar sebulan lagi serah terima kunci" papar dokter Raz.
"Boleh dok antar saya lihat-lihat dulu? Semoga dokter Raz ga sibuk ya, siapa tau cicilannya ringan dan masih masuk budgetnya. Saya memang lagi cari rumah buat orang tua" ujar dokbar tertarik.
"Ayo gapapa, saya ga ada acara kok. Tapi kalo Minggu biasanya tukang bangunan libur, jadi ga tau bisa masuk liat atau ngga, ada orang marketing di kantor pengembang buat dokbar tanya-tanya seputar harga dan lainnya" terang dokter Raz.
.
Hari berhenti disalah satu rumah, sepertinya rumah ini baru jadi. Hari membuka pintu rumah tersebut dan mengawasi sekeliling. Karena rumah ini tidak ada pagar (aturan pihak pengembang perumahan kalo rumah disini tidak boleh berpagar). Hari harus bisa memastikan kondisi sepi saat mengangkat tubuhnya Bhree masuk kedalam agar tidak mencurigakan.
Setelah dipastikan aman, Hari membuka pintu mobil dan mengeluarkan tubuh Bhree yang masih tergolek tak berdaya.
"Itu kayanya orang pingsan deh, coba kita mendekat, siapa tau dia butuh bantuan" ide dokter Raz yang melihat Hari yang tengah membopong tubuh Bhree.
dokbar mendekati mobilnya kearah rumah tersebut. dokter Raz belum menyadari kalo lelaki tersebut adalah Hari karena memakai topi dan masker.
Hari kaget melihat ada mobil berhenti didepan rumah.
dokter Raz turun dari mobil.
"Permisi Pak.. apa ada yang bisa kami bantu?" tanya dokter Raz.
dokbar masih berada didalam mobil karena sedang menerima telepon dari Rumah Sakit untuk konsultasi obat untuk pasien.
Secara refleks Hari berbalik dan dokter Raz melihat wajah Bhree.
"Bhree... Hei.. siapa kamu? kenapa dia begini?" teriak dokter Raz penuh amarah.
Hari panik dan langsung refleks menjatuhkan tubuh Bhree ke carport dan buru-buru naik kedalam mobil dan bersiap melaju.
dokbar yang melihat adegan tersebut serta mendengar dokter Raz berteriak, langsung saja keluar dari mobil dan berlari kearah mobilnya Hari.
dokter Raz menghampiri Bhree yang masih tergeletak di carport. Memastikan kondisi kepalanya Bhree tidak ada luka.
Mobil Hari sudah melesat meninggalkan rumah tanpa bisa dikejar oleh dokbar.
"Kita angkat dia dulu ke mobil" kata dokter Raz.
"Saya deketin mobil kesini dulu dok, biar lebih mudah" jawab dokbar.
dokbar bergegas menuju mobilnya dan mendekati rumah.
"dok.. naik dulu ke mobil, nanti bantu dari dalam, biar saya yang angkat" ucap dokbar.
"Iya.. Saya ga bakalan kuat juga gendong Bhree, maklumlah udah ga semuda dulu lagi" kata dokter Raz.
"Aman dok buat diangkat?" tanya dokbar memastikan.
"Udah cek pernapasan aman, bagian kepala sejauh ini juga ga ada luka terbuka karena tidak ada darah, untungnya jatuhnya dibagian rumput, sepertinya dia juga terlindungi oleh gelungan rambut dia atau daleman jilbabnya... ga tau namanya apa" jawab dokter Raz.
"Siput kalo ga salah namanya" jawab dokbar.
"Kaya nama hewan? Aneh-aneh aja ya nama daleman jilbab.. kaya ga ada nama keren lainnya" protes dokter Raz.
dokbar mengecek kembali kondisi Bhree, dia khawatir ada bagian yang patah sehingga jika salah angkat malah berbahaya.
dokbar mengangkat tubuhnya Bhree. Tas selempang milik Bhree masih melekat ditubuhnya Bhree. dokter Raz menyambut tubuh Bhree dari dalam mobil.
"Kita bawa ke Rumah Sakit dok?" tanya dokbar.
"Bawa ke rumah saya aja dulu, nanti kalo sudah siuman, kita periksa secara menyeluruh, kalo memang perlu ke Rumah Sakit ya kita bawa" saran dokter Raz.
Mobil menuju rumah dokter Raz. Karena dokter Raz agak heboh memanggil Hana, Hana jadi langsung lari keluar rumah.
"Ya Allah.. Ini kenapa?" pekik Hana begitu melihat Bhree tengah diturunkan oleh dokbar dan dokter Raz.
"Tolong buka pintu kamar tamu" pinta dokter Raz.
Hana kembali masuk kedalam rumah dan membuka pintu kamar yang dimaksud.
dokbar membopong tubuhnya Bhree, dokter Raz membantu mengangkat bagian kaki. Tubuh Bhree diletakkan diatas kasur dengan hati-hati.
"Ini kan yang waktu itu ketemu diacaranya dokter Barra ya?" terka Hana.
"Iya" jawab dokter Raz.
"Kenapa bisa begini? kok bisa pingsan" tanya Hana penasaran.
"Nanti diceritain" kata dokter Raz.
dokbar mengambil tas yang berisi perlengkapan medis yang ada didalam mobilnya.
"Kena spray obat bius dia kayanya nih" kata dokter Raz.
"Ga lama kok efek spray begituan .. Paling lama setengah jam udah siuman. Kita tunggu dia sadar dulu baru dicek seluruh tubuhnya. Lumayan agak tinggi kebantingnya tadi" usul dokbar.
Sekitar lima menit kemudian, Bhree mulai siuman. Hana ada disampingnya. dokbar dan dokter Raz duduk di bangku menghadap tempat tidur.
Kepala Bhree masih terasa sakit, mual pula. dokbar mengeluarkan plastik dan diserahkan ke Hana. Untuk berjaga-jaga jika Bhree muntah.
"Saya dimana ini?" tanya Bhree sambil memegang kepalanya.
"Tenang Bhree.. Kamu ada di rumah dokter Raz" jawab Hana.
"Rumah dokter Raz? kok bisa?" tanya Bhree lagi.
dokbar menghampiri Bhree.
"Tadi kamu dibawa sama lelaki yang kayanya berniat jahat sama kamu. Sekarang saya mau periksa bagian kepala dan seluruh tubuh untuk memastikan apa perlu penanganan di Rumah Sakit" ujar dokbar.
"Seluruh tubuh?" ucap Bhree agak lemah.
"Saya ini dokter.. lupa?" jawab dokbar.
dokter Raz pamit keluar dulu, membiarkan dokbar dan Hana bersama Bhree.
Jilbab Bhree dibuka oleh Hana atas instruksi dari dokbar.
"Saya mau melihat apa ada luka dibagian kepala. Bisa duduk?" tanya dokbar.
"Ga bisa dok.. pusing" jawab Bhree.
dokbar membantu Bhree untuk tiduran miring, kemudian memegang senter untuk melihat kondisi kepalanya Bhree, helai demi helai rambutnya Bhree disingkap. Hana membantu memegang rambutnya Bhree.
"Ini ada benjolan, nanti di rontgen dulu ya. Sekarang bisa pakai lagi jilbabnya. Bu Hana bisa tolong bantu?" kata dokbar.
Hana memasang pashmina ke kepala Bhree, asal tertutup saja.
dokbar memeriksa tekanan darah kemudian menempelkan stetoskop ke dadanya Bhree.
"Ada bagian yang sakit?" tanya dokbar.
"Bahu dok.. rasanya kaya ketarik. Punggung juga sakit" jawab Bhree.
"Maaf.. kamu kan pakai kaos tangan panjang, bisa dibuka dulu, mungkin Bu Hana nanti bisa bantu untuk menutup bagian lain" pinta dokbar.
"Digunting aja dok.. nanti saya bisa pinjam baju istrinya dokter Raz" ucap Bhree yang merasa malu jika harus membuka kaosnya.
dokbar menggunting lengan kaos Bhree bagian kiri kemudian memeriksa mulai dari bahu hingga jari jemari.
"Sendinya agak geser. Saya benerin dulu posisinya. Tapi agak sakit" kata dokbar.
"Ga ada pain killer dok? Bolehlah kasih dikit, biar ga sakit banget" pinta Bhree memelas.
"Bu Hana .. disini ada Rumah Sakit terdekat atau Klinik yang lengkap ada rontgennya?" tanya dokbar.
"Ada.. Klinik dokter Raz yang pertama, ada kok sebelahnya Laboratorium dan Klinik. Kalo mau yang lebih besar ya yang di Pondok Indah" papar Hana.
Dokter Raz masuk kedalam kamar karena mendengar namanya disebut.
"dok.. Kita bawa ke Klinik dulu buat di rontgen, ini dislokasi bahu, mau saya perbaiki tapi ga ada pain killer disini, bisa teriak-teriak dia kalo ga pake itu" ujar dokbar.
"Ya udah kita bawa sekarang" jawab dokter Raz.
Hana memberikan jaket ke Bhree, tidak lupa membawa baju buat Bhree ganti. Hana juga ikut mendampingi Bhree.
.
"Sakit dok... Sakit banget dokkk" lirih Bhree berkata setelah dokbar memperbaiki posisi sendi bahunya.
Hana yang sedari tadi ada disampingnya Bhree membantu mengusap air mata yang keluar deras dari matanya Bhree.
"Sabar ya Bhree... Ini kan lagi diobatin sama dokter Barra" Hana memberikan semangat.
dokbar akan memasang deker bahu, kebetulan dia punya beberapa buah di tasnya, keluaran terbaru dari pabrik alat kesehatan, dia diberi secara gratis untuk contoh.
"Ganti baju dulu ya, nanti saya ajarin cara pakainya" pinta dokbar sambil berjalan keluar ruangan.
Setelah lima menit, dokbar masuk kembali.
"Rasa sakit akan berkurang dan sedikit-sedikit hilang setelah bonggol ditempatkan kembali ke rongganya/tempatnya. Pake deker bahu kira-kira tiga hari atau kalo sudah nyaman bisa dilepas meskipun kurang dari tiga hari. Nanti saya minta surat sakit dari dokter sini aja, sekalian copy hasil rontgennya yang tertulis. Bisa heboh Cinta Medika kalo saya yang nolong kamu" jelas dokbar sambil mengajarkan Bhree memakai deker bahu.
"Saya kan karyawan baru dok" ucap Bhree.
"Orang sakit itu ga kenal karyawan baru atau lama. Perusahaan harus memberikan dispensasi, apalagi ini ada bukti medisnya" kata dokbar.