HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 21, Mencari jalan



Mba Fenti mengirim pesan ke Mas Wisnu.


#Ternyata, Mas ga beda sama Papanya#


Mas Wisnu yang langsung membaca pesan tersebut kebingungan dan langsung menghubungi Mba Fenti, tapi ga diangkat. Akhirnya dia mengirim pesan balasan.


#Maksudnya apa? Saya ga pernah mengkhianati pernikahan kita. Yang sekarang harus kita lakukan adalah saling percaya, selamatkan kapal ini bersama# balas Mas Wisnu.


Mba Fenti hanya membacanya tanpa membalas pesan tersebut. Ada raut kecewa di wajah Mba Fenti.


Mas Wisnu sebenarnya masih bertanya-tanya dengan pesan yang tadi dia baca, tapi dia coba lupakan sejenak karena sedang berhadapan dengan Papanya. Mereka janjian bertemu disalah satu rumah milik keluarga yang tidak ditempati karena mau direnovasi.


"Apa lagi ini Pah" kata Mas Wisnu sambil membawa wanita muda yang mengaku dihamili oleh Papanya Mas Wisnu.


Sang wanita hanya bisa menangis. Papanya Mas Wisnu diam. Ini kali ketiga Mas Wisnu membawa wanita yang mengaku dihamili oleh Papanya.


"Nu ga mau panjang-panjang ngomong lagi sama Papa.. setiap kejadian kaya gini, semua larinya ke Nu karena mereka tau Nu anaknya Papa. Anak Papa yang lain sibuk ga jelas kemana. Kenapa Papa harus kasih tau sih tentang studio foto milik Nu? Sekarang lebih baik nikah aja Pah.. terserah nanti gimana kelanjutan rumah tangganya, yang penting anak ini ada yang bertanggung jawab. Cape Pah begini terus" oceh Mas Wisnu kesal.


Dia meninggalkan rumah tersebut dengan penuh amarah. Tadi memang Mas Wisnu janjian sama Papanya di tempat ini karena menurut sang wanita, dia sudah ga bisa kontak dengan Papanya Mas Wisnu begitu bilang sedang hamil.


Sepeninggalan Mas Wisnu, wanita muda yang sedang hamil, ditarik masuk ke kamar dan dihempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Kemudian tubuh wanita itu ditindih oleh Papanya Mas Wisnu.


"Kenapa bisa hamil???" amarah Papanya Wisnu ga terkontrol.


"Maaf sayang.. ini diluar dugaan. Bener deh.. saya minum obat yang diberikan secara rutin, saya juga suntik KB seperti yang sayang minta. Tapi kebobolan ini diluar dugaan" bela wanita tersebut.


"Kita sudah deal dari awal, tidak ada tuntutan apapun jika terjadi kehamilan. Tidak ada barang bukti kebersamaannya kita. Kenapa kamu cari Wisnu?" omel Papanya Mas Wisnu.


"Karena susah hubungi Bapak.. nomer saya diblok, cari kemana-mana ga ketemu. Saya cuma minta Mas Wisnu mengakui janin ini sebagai anaknya, cuma sekedar formalitas saja" jawab wanita tersebut.


"Gila kamu ya.. minta tanggung jawab ke anak saya. Gugurkan.. nanti akan diantar supir ke tempat yang bisa bantu gugurin kandungan. Berapa yang kamu minta untuk pergi dalam hidup saya? ingat.. setelah ini jangan pernah muncul dihadapan saya atau video syur kamu akan tersebar kemana-mana. Jangan datang kerja lagi di tempat saya, pergi menjauh intinya" ancam Papanya Mas Wisnu.


Papanya Mas Wisnu mengambil dompet dan mengeluarkan uang dua juta rupiah. Dilemparkan ke tubuh wanita tersebut.


Sang wanita bangkit dan bersimpuh di kaki Papanya Mas Wisnu.


"Pak.. tolong.. nikahi saya, siri juga gapapa, saya benar-benar cinta sama Bapak. Bukan sekedar status anak ini, tapi saya ingin melayani Bapak sepenuhnya. Gapapa kalo saya hanya jadi simpanan, tapi saya tetap mau kerja sama Bapak. Pak.. saya sudah begini, mana ada lelaki yang mau sama saya" mohon wanita tersebut.


"Eh.. kita lakukan atas suka sama suka. Kamu mau menyerahkan segalanya dan menukar dengan harta yang saya punya. Jangan berharap lebih jadi istri saya" oceh Papanya Mas Wisnu dengan arogan.


"Pak.. saya mau kerja apa kalo ga kerja di tempat Bapak. Saya sudah jadi staff, Bapak tau sendiri kalo lulusan SMA paling jadi OB, tolong Pak.. saya ga mau jadi OB lagi kaya dulu. Saya janji akan diam Pak" pinta wanita itu lagi.


"Sekarang kamu hamil aja datang ke Wisnu, itu yang namanya bisa menjamin rahasia ga bocor?" lanjut Papanya Mas Wisnu.


"Tolonglah sayang.. please...ijinkan tetap tinggal di Apartemen yang biasa tempat kita bercinta, sudah nyaman tinggal disana" harap wanita tersebut.


"Sudah dikasih hidup enak malah ga nurut.. bodoh" ucap Papanya Mas Wisnu.


"Saya tau sudah berbuat dosa, tapi tolong jangan gugurkan kandungan ini" pinta wanita tersebut.


"Saya ga butuh wanita kaya kamu lagi.. ga bisa dipegang janjinya untuk tidak hamil. Saya akan kasih kamu sepuluh juta dan pergi jauh dari sini. Selama ini sudah banyak saya kasih uang, pakaian dan perhiasan kan? sepertinya cukup itu semua buat modal hidup beberapa bulan kedepan" lanjut Papanya Mas Wisnu.


"Kalo saya gugurkan... apa Bapak tetap mau bersama saya?" tanya sang wanita.


Papanya Mas Wisnu mengambil obat kemudian meminta wanita tersebut meminumnya. Karena dibawah tekanan, wanita tersebut langsung menelan tiga butir sekaligus.


Lima belas menit kemudian, supir sudah diminta untuk mengantar wanita itu ke suatu tempat.


Papanya Mas Wisnu menelepon Mas Wisnu.


"Nu harap ini terakhir kalinya Pah.. kalo Papa merasa sudah ga bisa menahan gejolak.. menikahlah.. anak-anak ga ada yang protes kalo Papa cari lagi, asalkan Mama ga diceraikan. Nu khawatir suatu saat Papa jadi urusan kepihak yang berwajib. Nu tau Papa selalu meminta pacar-pacar Papa itu aborsi kalo terlanjur hamil, itu saja termasuk melanggar hukum Pah" ungkap Mas Wisnu.


"Memangnya kamu ga malu kalo Papa diciduk aparat? mau taro dimana muka Papa? kita ini orang terpandang" ujar Papanya Mas Wisnu.


"Lebih baik malu di dunia Pah, daripada nanti malah dihinakan di akhirat" saran Mas Wisnu.


"Sok kamu ya... udah gede, bisa ceramahin Papa. Baru jadi fotografer kelas dua aja gayanya selangit .. apalagi kalo jadi fotografer terkenal" oceh Papanya Mas Wisnu.


⬅️


Ternyata Mba Fenti sudah ada di Jakarta, dia berniat duduk bersama dengan Mas Wisnu dan membahas rumah tangganya dengan kepala dingin.


Mba Fenti ada didepan pintu ruang kerja Mas Wisnu saat wanita simpanan mertuanya ini berbincang dengan Mas Wisnu dalam ruangan.


"Tolong Mas... Mas tanggung jawab sama kehamilan saya" ucap wanita tersebut.


Rupanya Mba Fenti yang sudah kadung kecewa langsung lari meninggalkan studio tanpa mendengar pembicaraan selanjutnya.


Dia berpikir suaminya sudah berselingkuh hingga sang wanita hamil.


➡️


Pak Handoko menuju salah satu Apartemen miliknya, hari ini banyak yang harus ditemui. Duduk disana sambil menunggu Bu Diah datang sepulang kerja.


.


Pak Handoko membuka pintu Apartemen, ada Bu Diah berdiri disana. Keduanya langsung berpelukan.


"Ini ya tempatnya? cantikkkk" tanya Bu Diah.


"Ya.. ini yang paling aman saat ini, baru dibeli sebulan yang lalu. Keluarga ga ada yang tau tempat ini, memang masih tergolong Apartemen murah, gapapa kan? kita main cantik aja, ga akan ada yang curiga kita tinggal disini karena disini banyak unit yang disewakan, bukan sengaja sebagai tempat tinggal" papar Pak Handoko.


"Gapapa.. daripada tinggal ditengah-tengah masyarakat yang kepo sama hidup orang lain, ya mending disini. Hidup masing-masing" jawab Bu Diah.


Pak Handoko sudah membuka bajunya dan berbaring di ranjang.


"Baru juga pulang kerja.. udah diajak lembur aja" sahut Bu Diah.


"Kangen sayangku.. udah tiga hari kan ga ambil jatah" jawab Pak Handoko.


"Kan Bapak habis keluar kota sama istrinya, masa ga dilayani" kata Bu Diah.


"Kalo biasa makan nasi.. sesekali makan spaghetti atau pizza kan enak.. hehehe" sahut Pak Handoko sambil menarik lengannya Bu Diah.


Keduanya bercumbu diatas ranjang. Untuk pasangan dengan usia diatas kepala empat dan kepala lima, beda dengan yang masih dibawah kepala tiga. Pasangan senior ini lebih banyak pemanasannya dibanding durasi tandingnya. Itupun pemanasan tidak seekstrim anak muda dengan variasi gaya, alamat bisa encok kalo kebanyakan gaya.


"Sayang... bolehlah Apartemen ini dipindah nama atas nama saya, sebentar lagi kan hampir sepuluh tahun kebersamaan kita. Anggap aja hadiah anniversary.. gimana?" rayu Bu Diah.


"Iya sayang.. apa sih yang ngga. You are my lucky star.. sejak sama kamu, saya makin kaya raya. Ingat kan saat kita memutuskan untuk jaga jarak selama sebulan, bisnis banyak yang ga menghasilkan" ucap Pak Handoko mengingat.


"Kalo lucky star, kenapa ga nikahin saya aja?" tanya Bu Diah.


"Sayang.. jangan ngambek dong.. toh lebih enak diakui diatas ranjang daripada diatas kertas kan..." bisik Bu Diah ditelinganya Pak Handoko.


Inilah yang membuat Pak Handoko makin kepincut, Bu Diah mampu membuatnya luluh.


"I love you.." lanjut Bu Diah sambil mendaratkan ciuman mesra di bibir Pak Handoko.


"Hasil sedot lemak kemarin oke juga ya.. badan kamu makin bagus. Pasang filler bibirnya juga pas, bikin nafsu. Botox wajahnya perfect, jadi keliatan kaya usia masih dibawah tiga puluhan. Gimana kalo implan bagian dada? biar enak dinikmatinya, masa ga yang di rumah, ga yang disini, semua udah kendor" kata Pak Handoko.


"Apa sih yang ga buat Pak Handoko, semua bagian tubuh saya sudah banyak dibenerin sesuai dengan keinginan Bapak kan? Sejauh ini hasilnya selalu memuaskan. Nanti cari dokternya yang bagus kalo mau implan si gunung kembar, biar makin makjreng dilihatnya" sahut Bu Diah.


"Oke.. nanti kita cari ya sayang" lanjut Pak Handoko.


"Sayang.. makasih sudah membuat sepuluh tahun belakangan ini menjadi sangat indah" tutup Bu Diah.


🌺


Hana akhirnya datang ke rumah dokter Raz untuk pertama kalinya. Itupun karena dijemput sama anaknya dokter Raz. Hana datang bersama putrinya, Nabila.


Mungkin karena sudah sering berkomunikasi antara Nabila dengan Mas Haziq dan Mba Raifa (kedua anaknya dokter Raz) via chat grup, ditambah beberapa kali jalan bareng, jadinya ketika bertemu tidak canggung lagi.


Seluruh keluarga menerima kehadiran Hana dengan baik. Bagi keluarga, melihat dokter Raz mencoba untuk melangkah mengenal wanita kembali adalah loncatan terbesar. Setelah kematian istrinya, dokter Raz bisa dibilang senyap cerita pasal asmara.


Anak-anak dokter Raz yang welcome terhadap kehadiran Hana pun makin membuat keluarga dokter Raz makin yakin kalo Hana tidak hanya sekedar akan mendampingi dokter Raz, tapi bisa juga membimbing anak-anak dengan penuh kasih sayang.


🌺


Barra memenuhi janjinya ke Pak Ustadz. Ia datang ke alamat yang sudah diberikan oleh asistennya Pak Ustadz. Seusai sholat subuh, Barra berangkat dari rumah. Dia memilih naik motor karena jika naik kendaraan umum banyak transit kendaraannya.


Hari ini ada dzikir berjama'ah sekitar jam delapan pagi. Setiba di lokasi, Barra merasa asing. Bersama-sama dengan saudara seiman menghadiri majelis dzikir adalah hal yang langka dilakukan oleh Barra.


Memakai koko putih dan celana warna khaky, ia melangkah masuk pelataran dimana sudah banyak berkumpul jamaah. Barra disambut oleh asistennya Pak Ustadz, kemudian dikenalkan dengan orang tua Pak Ustadz.


"Semua jama'ah Ustadz Amirul memanggil kami Walid dan Ummi... sapaan untuk orang tua, atau bisa juga sebagai orang yang mengasuh, membimbing dan membina" jelas Walid.


Keluarga Pak Ustadz duduk dibelakang Pak Ustadz, termasuk Barra diminta duduk disebelahnya Walid.


Dzikir pun dimulai, banyak jama'ah yang meneteskan air mata saat berdzikir mengingat Allah Sang Maha Pencipta. Barra pun merasakan frekuensi yang tak biasa dalam hatinya. Ketenangan luar biasa yang sudah lama tidak dia rasakan.


Setelah setengah jam berdzikir. Pak Ustadz yang ada didepan panggung langsung memanggil Barra lewat mic nya, beliau meminta Barra untuk maju menemani dirinya di panggung kecil.


"Ahlan wa sahlan dokter Barra... ummat membutuhkan dokter-dokter muda yang pintar sekaligus baik akhlaknya serta rajin beribadah sebagai benteng menghadapi beban pekerjaan yang mulia ini" kata Pak Ustadz.


"InsyaAllah Pak Ustadz, mohon do'a dan bimbingannya" jawab Barra.


Pak Ustadz memberikan tausyiah singkat, karena cuaca pagi ini sudah terik meskipun jam sembilan pagi, banyak jama'ah yang pingsan. Entah karena kepanasan atau karena khusyuknya berdzikir hingga mengalami kesedihan yang mendalam.


Naluri Barra sebagai seorang dokter pun terpanggil, dia minta ijin untuk turun panggung dan menghampiri para jama'ah yang pingsan.


Dilihat ada yang kondisinya cukup serius, Bapak setengah baya itu ditempatkan dipinggir pelataran dialasi karpet tebal. dokbar membuka ikat pinggang dan kancing baju koko bagian atas Bapak tersebut agar jalur pernafasan bisa lancar.


dokbar selalu membawa satu set perlengkapan dokter standar kemana-mana. Jadi jika ada kondisi darurat, dia bisa langsung bertindak untuk melakukan pelayanan medis.


Kondisi pasien berangsur pulih, setelah benar sudah segar kembali, pasien diberikan air teh manis hangat. Melihat pertolongan pertama yang dilakukan oleh dokbar, Pak Ustadz memanggil Barra ke panggung lagi untuk memberikan penjelasan tentang pertolongan pertama, utamanya pada saat jama'ah padat seperti ini dan cuacanya terik.


"Karena sudah ditembak sama Pak Ustadz, apa boleh buat ya. Semoga bermanfaat untuk para jama'ah sekalian. Dicuaca yang seperti ini, banyak minum air putih atau makan buah-buahan yang mengandung banyak air. Datang ke tempat seperti ini kan juga ga bisa kita prediksi jumlah jama'ahnya, jadi bisa saja tidak kebagian duduk dalam tenda, kalo bisa bawa payung ya. Jika ada yang pingsan, bawa dulu ke tempat yang nyaman, jangan yang banyak orang atau ruangan tertutup, agar orang yang pingsan bisa mendapatkan pasokan oksigen. Kita longgarkan jalur pernafasan seperti melepaskan ikat pinggang, membuka kancing atas dari kemeja atau melonggarkan jilbab bagi yang perempuan. Orang awam mungkin agak kesulitan meraba denyut nadi, jadi pastikan saja lokasi bisa memberikan udara yang banyak. Kasih wewangian di hidung agar pasien tersadar. Setelah siuman, jangan langsung disuruh duduk terus minum.. biarkan istirahat dulu sampai kuat untuk duduk baru boleh dikasih minum. Baiknya pihak penyelenggara acara juga menyiapkan tenaga medis untuk berjaga-jaga" papar dokbar.


Setelah dokbar memberikan penjelasan singkat, giliran Walid yang memberikan kultumnya. Barra yang baru mau kembali duduk dibelakang panggung, ditahan oleh Walid untuk duduk disebelahnya.


"Hadirin jama'ah rohimakhumullah... perkenalkan, jama'ah baru kita... dokter Barra, masih single ya dok?" canda Walid.


dokbar tersenyum.


"Siapa tau diantara jama'ah ada jodohnya atau yang punya anak atau adik yang masih single boleh dijodohkan" lanjut Walid.


dokbar makin tersenyum, kali ini wajahnya bersemu merah karena malu.


"Becanda ya dok ... tapi kalo mau beneran juga gapapa. Ini refleksnya bagus, sigap tadi menolong beberapa jama'ah yang kurang sehat. Semua dokter apa seperti itu dok? selama Walid berobat kok ya banyakan pasien yang nunggu dokter" tanya Walid.


"Semua tenaga medis memang dilatih untuk terbiasa menghadapi kondisi gawat darurat atau kondisi yang tidak diinginkan. Dari jaman kuliah hingga praktek menjadi makanan harian untuk melayani pasien secepat mungkin. Jadi mau ga mau kita seperti terbentuk di alam bawah sadar untuk cepat bergerak. Mengenai pasien menunggu dokter, ini pasti bukan di IGD ya Walid. dokter kan juga manusia, ada jeda rehat sejenak, mungkin mau makan, ke kamar mandi atau beribadah" jelas dokbar.


"Nah bagus ini.. ada pelajaran.. terbiasa... nah kalo denger adzan terbiasa juga ga nih kita langsung sholat?" tanya Walid ke semua yang hadir.


Riuh rendah yang menjawab iya dan tidak.


"dokter Barra bagaimana?" tembak Walid.


"Jujur ga selalu Walid.. bahkan kebanyakan mepet waktu" jawab dokbar jujur.


"Kenapa banyak dari kita untuk urusan dunia didahulukan?" tanya Walid.


"Kayanya karena saya tidak biasakan" jawab dokbar lagi.


"Nah tambah cakep ini jawabannya. Misalkan sedang tidak dalam menangani pasien yang gawat darurat, dengan menunda sholat.. apa yang dirasakan?" tanya Walid lagi.


"Ga merasa ada beban, karena biasanya sholat sekalian pas waktu rehat aja. Apalagi saya tugas di IGD yang memang jarang ada waktu senggang, jadi kebanyakan pas masuk waktu sholat ada pasien. Rasanya puas melihat orang bisa tersenyum dan bisa tertolong dengan tindakan medis yang kita berikan. Kadang juga ikut sedih kalo kondisi tidak sesuai dengan prediksi kita" papar dokbar.


"Ini bukan untuk dokter saja ya.. tapi berlaku untuk semua. Manusia menganggap dirinya seperti perwakilan Allah. Mengklaim bahwa kalo kita tidak melakukan dengan cepat bisa membahayakan atau merugikan orang lain. Misalnya supir angkot, waktu sholat ngetem di perempatan nunggu penumpang, tidak sholat dulu karena baginya nanti para penumpang bisa tidak terlayani jika sholat dulu. Manusia memang kadang lupa kalo ada Allah yang Maha Mengatur semuanya" lanjut Walid.


Para jama'ah menganggukkan kepalanya.


"Ya Walid, saya yang masih fakir ilmu ini merasa sudah the best dalam urusan hidup orang. Inilah mungkin jalan hidayah, bertemu dengan Pak Ustadz kemudian diundang hadir ke majelis ilmu ini. Kaki saya digerakkan untuk belajar kembali. Saya ga bisa bilang ini adalah hijrah, selama saya masih punya niat dan keinginan belajar, insyaAllah akan ada jalannya" jawab dokbar.


"Barakallah.... kita disini semua sama-sama belajar. Ga ada yang ilmunya lebih dan kurang, semua sama. Tinggal bagaimana kita luruskan niat Lillahi Ta'ala" saran Walid.


.


Acara makan bersama, dokbar duduk disebelah Walid.


"Walid.. mohon do'anya ya, saya mau belajar agama lagi. InsyaAllah jika tidak ada hal penting dan bisa saya tinggal, pekan depan akan datang lagi kesini. Dengan sedikit ilmu yang saya miliki, akan melayani konsultasi pasien secara gratis, tapi sekitar tiga puluh pasien dulu ya. Khawatir waktunya tidak cukup" kata dokbar.


"MasyaAllah.. Alhamdulillah dok, semoga niat dan amalannya kelak menjadi ladang pahala dan pemberat amalan kebaikan buat dokter" jawab Walid haru.


"Aamiin ya robbal'alamin" jawab dokbar.


"Apa ga sebaiknya kajian pekan depan, dokter Barra ada sesi tanya jawab tentang kesehatan?" usul Pak Ustadz.


"Nanti coba dilihat situasi dan kondisinya dulu Pak Ustadz. Saya juga masih dokter umum, mungkin jawabannya juga masih sangat terbatas" papar dokbar.