
Hana mendengarkan dengan baik kalimat per kalimat yang keluar dari bibir dokter Raz. Hingga tanpa sadar, mereka sudah dalam posisi saling memeluk. Keduanya saling memandang.
dokter Raz memulai inisiatif terlebih dahulu untuk mencumbu istrinya sambil waspada dengan perubahan sikap Hana. Jika Hana merasa tertekan dan kurang nyaman, dokter Raz paling hanya sekedar mencium kening dan memeluk saja seperti biasa.
Sejak menikah, Hana berusaha melupakan gambaran pasangan yang kejam, makanya saat ini tampak diam menerima semua perlakuan dokter Raz meskipun masih rada takut. Melawan rasa traumanya sendiri sedang dia coba karena ga mau dibawa ke psikolog.
Meskipun suasana tidak romantis karena TV masih menyala dan lampu kamar terang benderang. Ga menyurutkan keinginan dokter Raz untuk menjalankan kewajiban sebagai suami.
"De... nyaman ga?" dokter Raz seperti sedang bertanya pada pasien.
Hana mengangguk dan mencium tangannya dokter Raz.
"Maafin Hana ya Mas, sudah dua mingguan kita nikah, tapi Hana belum siap terus.. Semoga Mas ikhlas dan ridho ya" ucap Hana dengan suara mellow.
"Ga usah ngerasa bersalah De. Orang lain mungkin cuma bisa bilang ga bisa move on, ga bersyukur udah dapat pasangan lagi, pikirannya ga panjang.. Tapi Mas yang pernah gagal, sangat paham atas sikapmu De. Sulit memang menghapus kenangan, entah itu indah atau buruk, kita mulai pelan-pelan aja, tanpa ada paksaan. Mas harap makin besar cinta yang tumbuh dalam hati kita masing-masing" kata dokter Raz sambil makin mendekat ke Hana.
Hana sekuat tenaga menerima setiap belaian dan rayuannya dokter Raz. Dia juga terus berpikir kalo suaminya yang sekarang ada dihadapannya adalah lelaki baik yang tidak akan menyiksa fisiknya.
Awalnya memang canggung, tapi begitu Hana bisa rileks dan menikmati suasana, dokter Raz bertindak lebih dan malam itu mereka melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini.
"Makasih De... akhirnya bisa kan? Maaf ya kalo mainnya sebentar, maklumlah faktor usia. Badan Mas juga cape banget, Klinik baru bikin pontang-panting, terus pasien di Rumah Sakit juga lagi rame banget" papar dokter Raz.
"Semoga tadi bisa mendongkrak semangat untuk menjalankan profesi ya Mas. Maafin juga kalo Hana belum terlalu paham dunia Mas. Ingetin aja kalo Hana salah" ucap Hana.
"Ini lebih dari vitamin De.. rasanya lebih bugar.. kita sadar diri ajalah, sehari sekali juga udah bagus.. Hehehe. Tidur De, besok kan mau jalan. Anak-anak udah tau kalo berangkatnya pagi?" kata dokter Raz.
"Udah di grup chat keluarga" jawab Hana.
🌿
Bobby dan Bhree akhirnya janjian ketemu disalah satu Restoran, Bhree ditemani oleh Pak Daliman, sedangkan Bobby bersama Bidan Kokom. Bhree yang meminta untuk bertemu.
Semua makan dengan tenang dulu, perbincangannya pun yang ringan-ringan saja. Ketika sudah selesai makan, baru Bhree angkat suara.
"Saya minta maaf Bu Bidan.. Bang Bobby, sepertinya perkenalan kita cukup sampai disini saja" putus Bhree to the point.
"Kenapa tiba-tiba Bhree? Kepincut cowo lain?" tembak Bobby.
"Ga ada Bang.. Ini murni dari hati. Kalo menjalankan sesuatu cuma setengah hati pasti ga bagus kan? Bang Bobby lelaki baik, punya karier yang bagus dan punya keluarga yang sangat terhormat. Kayanya ga layak dapat wanita seperti saya" lanjut Bhree.
"Jadi selama ini kamu mainin Bobby aja? Padahal dia banyak berkorban buat kamu loh" sahut Bidan Kokom mulai emosi.
"Saya ini dari keluarga broken home, kalo ga ketemu sama Mbah saya, entah jadi apa saya sekarang ini" kata Bhree tanpa ekspresi.
Pak Daliman diam, Bhree yang meminta beliau hanya menyaksikan tanpa berkomentar.
"Jadi gosip dari adik ipar Ibu itu benar? Ibu kamu wanita panggilan? Bapaknya ga jelas yang mana?" tembak Bidan Kokom yang membuat Bobby tersentak kaget.
"Orang tua saya sudah ga ada semua, rasanya ga perlu membuka aibnya" sahut Bhree terpancing emosi karena kondisi orang tuanya seolah menjadi momok yang membayangi langkahnya ketika mencoba berkenalan dengan keluarga lelaki yang menyukainya.
"Syukurlah kamu jujur sekarang, ayo Bobby kita pulang" perintah Bidan Kokom.
Bobby mengeluarkan dompetnya.
"Saya yang akan bayar semuanya" Pak Daliman angkat bicara.
Setelah Bidan Kokom dan Bobby pergi. Pak Daliman mengusap kepalanya Bhree. Tangis Bhree pun sudah tidak tertahankan.
"Kita pulang aja, ga enak disini orang pada ngeliatin" putus Pak Daliman.
Pak Daliman memegang tangannya Bhree untuk menguatkan. Tanpa sengaja, dokbar yang sedang makan di Restoran tersebut bareng Profesor Andjar agak kaget melihat kemesraan antara Pak Daliman dan Bhree.
"Ya Allah.. Apa ini sugar daddy nya? Kemarin pas liat HP dia keluaran terbaru plus pake tas yang kayanya branded, dah ada rasa curiga. Baru lulus kebidanan mana punya uang banyak? apalagi Bapaknya nulis surat yang isinya kisah hidup keluarga mereka. Ya bisa dibilang ga terlalu bagus ekonominya. Kak Diah emang cukup lumayan punya uang, tapi Bhree ga pernah jadi prioritasnya. Apa pas orang tuanya meninggal dia bingung mau kemana? Secara baru lulus SMA kan. Dia cari jalan pintas jadi simpanan kah? Demi keinginan jadi Bidan? Ahhh... Kenapa jadi mikirin hidupnya orang sih. Mau dia punya sugar daddy atau apapun kan ga berhak ikut campur" Barra sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.
"dokbar... Barra Alman Said" panggil Profesor Andjar berkali-kali.
"Ya Prof..." jawab dokbar segera.
"Lagi liatin apa sih? Nyimak ga apa yang tadi dibahas?" tanya Profesor Andjar.
"Maaf Prof, saya kurang fokus" alasan dokbar.
"Mikirin apa? Jadi wisuda ada jas ga?" tanya Profesor Andjar.
"Nanti ikut ke rumah ya, ga bawa motor kan kesininya?" ajak Profesor Andjar.
"Ga dok, tadi saya naik kereta, motor saya dipake buat adik cari kerja" jawab Barra.
.
dokbar memang kerap kali menyupiri Profesor Andjar kalo supirnya sedang tidak bisa. Beliau juga yang membayar biaya les nyetir plus bikinin SIM A buat dokbar. Tak jarang jika ada acara keluarga, dokbar meminjam mobil Profesor Andjar (punya tiga mobil di rumahnya).
Sesampainya di rumah Profesor Andjar (dokbar acapkali ke rumah ini, apalagi kemarin pas masa akhir kuliah, dia sering menginap disini). Jadi sudah sangat familier disini.
Profesor Andjar masuk ke kamarnya dan tidak lama kemudian keluar dengan membawa tas kecil kemudian meletakkan tas tersebut diatas meja.
"Mulai sekarang pake mobil yang hitam, hadiah kelulusan. Gunakan buat mobilitas kamu yang akan sangat tinggi. Banyak barang yang perlu dibawa. Malah mobil akan jadi rumah kedua, segala ada didalamnya. Itu memang sudah model lima tahun yang lalu, tapi masih bagus. Kalo udah punya uang banyak, bisa tukar tambah" jelas Profesor Andjar.
"Terlalu berlebihan Prof.. " jawab dokbar.
"Dimata orang.. kamu adalah seorang dokter spesialis, tapi dimata saya.. kamu adalah seorang anak, meskipun bukan anak kandung, tapi saya sayang dan berharap banyak sama kamu. Semua anak didik yang menuntaskan studinya dengan baik dan hasil cemerlang, pasti saya kasih mobil, meskipun mobil second ya. Ga berlebihan kok" papar Profesor Andjar.
"Rumah saya masuk gang Prof, bingung taro dimana nanti mobilnya, lagipula saya belum ada uang lebih untuk cover bensin mobil" dokbar berkata jujur.
"Pasti dekat rumah ada yang menyewakan halamannya buat titip mobil orang kan? kamu titip aja disana. Mengenai bensin gampanglah nanti" kata Profesor Andjar.
dokbar masih bingung.
"Paling ga .. bisa dipakai buat ajak keluarga pas wisuda" tambah Profesor Andjar.
"Saya mau ngomong dulu ke orang tua ya Prof" putus dokbar.
🏠
Didalam kamar, Bhree duduk di ranjangnya. Dia memasukkan flashdisk ke laptopnya kemudian melihat video yang tersaji. Bapaknya merapihkan per folder tergantung tahunnya. Bhree membuka dari tahun dia lahir. Disana ada foto-foto saat dia hadir ke dunia ini. Tidak banyak yang diabadikan, tapi jadi kali pertama Bhree melihat foto saat bayi. Setelah itu masa kecil Bhree, kebanyakan foto berdua dengan Bapaknya, karena memang Ibunya mulai ga banyak waktu untuk mengurusnya. Beranjak remaja, kebanyakan berisi foto candid kegiatan Bhree diluar rumah, saat itu kedua orang tuanya sudah berpisah. Jadinya Pak Dasuki mengambil foto saat Bhree diluar rumah secara diam-diam. Terakhir foto kebersamaan mereka yang akhirnya bertemu di Mesjid saat Bhree baru lulus SMA. Memang saat itu, beberapa kali Bapaknya meminta foto bareng. Ada beberapa video, tapi Bhree belum membukanya, karena rasanya belum kuat untuk mendengarkan perkataan Bapaknya.
Laptop dimatikan, Bhree melihat foto cetakan. Hasil dulu suka motret sambil jalan kaki sama Bapaknya. Ada yang pakai kamera lama dan HP jadul.
"Meskipun Bapak ga banyak hadir dalam hidup Bhree, Bapak ga pernah ninggalin Bhree gitu aja. Bapak selalu mengirimkan kabar dan berusaha ada didekat Bhree.." ucap Bhree sambil melihat foto keluarga.
"Bu.. Bhree sekarang ga marah atas pilihan Ibu. Dulu rasanya durhaka banget ya.. ngelawan terus. Pasti berat jadi Ibu, anak yatim piatu dan ga punya keluarga, terus menikah sama Bapak yang kariernya ga jelas dan ga berpenghasilan. Kepepet kebutuhan hidup, meskipun jalan yang Ibu tempuh salah" ujar Bhree sangat legowo.
Disandingkan foto keluarga, foto pernikahan orang tuanya dan foto saat Bhree masih bayi.
"Sayangnya.. sekarang Bapak dan Ibu ga bisa ngerasain hidup mewah yang Bhree rasakan. Mbah banyak mewujudkan impian Bhree.. Mbah menjadi keluarga terdekat Bhree saat ga ada keluarga lagi. Meskipun Mbah bisa memberikan segalanya, Bhree akan berusaha cari uang sendiri" tutur Bhree lagi.
HP nya Bhree berbunyi, ada pesan masuk. Rupanya Barra yang mengirimkan pesan.
#Assalamualaikum, kalo nanti ga bisa nemenin ya gpp. Maaf ya jadi ada pamrihnya, padahal itu kan amanah#
Simpel tanpa bertele-tele. Bhree tidak menjawab dan meletakkan HP nya.
Bhree melihat ada beberapa lembar surat dalam amplop yang sudah terbuka. Tapi Bhree belum berniat melihatnya.
Bell pintu kamar Bhree berbunyi (karena kamarnya luas, Pak Daliman memang memasang bel didepan kamarnya Bhree).
Buru-buru Bhree merapihkan wasiat Bapaknya kemudian dimasukkan ke laci. Dia langsung menuju pintu kamar.
"Abis nangis?" tanya Pak Daliman.
"Ga ... Lagi rapih-rapih eh kemasukan debu" jawab Bhree berbohong.
"Ibunya Bobby tadi nelepon Mbah, katanya kecewa sama sikap kamu yang kasih harapan palsu" langsung Pak Daliman cerita.
"Mbah .. Bhree boleh ngasih tau alamat rumah ke Luna ga?" tanya Bhree malah mengalihkan pembicaraan.
"Loh... Luna belum tau alamat sini?" kata Pak Daliman ga percaya.
"Belum.. Makanya mau minta ijin Mbah dulu" jawab Bhree.
"Ini kan rumah kamu juga, jadi terserah mau kasih alamat ke siapapun" ucap Pak Daliman.
Bhree memeluk Pak Daliman, rasa kerinduan untuk dilindungi menyeruak dalam relung hatinya.
Dari kejauhan ada asisten rumah tangga yang mengabadikan momen itu, kemudian melaporkan ke anaknya Pak Daliman.