
Orang tua terutama seorang Ibu, memang paling rentan banyak pikiran jika sesuatu terjadi pada anaknya. Demikian pula Ibunya Tama, setelah dua hari pulang dari Malaysia, beliau jatuh sakit.
Tama yang baru pulang, berniat membangunkan Ibunya dengan cara mengguncang kakinya.
"Bu.. udah mau Maghrib.. " kata Tama hati-hati.
Kakinya Ibu panas sekali, lama kelamaan Ibunya ada reaksi tapi lemah, Tama langsung berinisiatif membawa ke Rumah Sakit bersama Bapaknya.
Selama diperjalanan, Ibu mengeluh pusing dan kedinginan, Bapaknya Tama menyelimuti tubuh istrinya pakai jaketnya Tama.
.
"dokbar.. bisa bantu IGD ga? Ada kecelakaan beruntun, dokter jaga kurang nih, jadi minta bantuan dokter umum yang lagi standby di Rumah Sakit" pinta perawat IGD.
"Oke... Otewe.." jawab dokbar.
dokbar berlari ke lift dan langsung menuju IGD. Sesampainya disana, banyak orang berkerumun didepan pintu IGD. dokbar meminta jalan untuk bisa masuk IGD.
Sudah tergeletak lima pasien kecelakaan yang sedang ditangani oleh dua orang dokter umum.
"dokbar itu ada pasien baru, pegang pasien yang baru datang aja. Sebelah kanan khusus untuk korban kecelakaan. Yang bukan di kiri ya" perintah dokter jaga IGD.
"Siap" jawab dokbar.
dokbar langsung menghampiri pasien selain korban kecelakaan.
.
Sesampainya di IGD, Ibunya Tama langsung ditangani oleh dokbar. Keluarga dimintai keterangan sekilas tentang kondisi pasien. Pihak laboratorium dipanggil untuk mengambil darah guna pemeriksaan darah. dokbar menduga diagnosa kearah DBD atau typhoid fever.
Tama menunggu disebelah Ibunya, Bapaknya Tama sedang mendaftarkan pasien.
"Dari hasil laboratorium, trombositnya menurun. Disarankan untuk rawat inap saja Mas. Panasnya juga belum turun padahal sudah diberikan suntikan. Sepertinya Ibu juga dehidrasi, kalo dirawat bisa masuk cairan infus" jelas dokbar.
"Saya setuju aja dok, yang terbaik buat Ibu pasti saya oke" jawab Tama tanpa pikir-pikir.
"Baik .. Pasien akan diinfus dulu ya, Mas silahkan urus kebagian administrasi. Ibu ada yang bisa jaga selain Mas? Jadi ada yang bisa dampingi disini" tanya dokbar.
"Ada Bapak saya dok.. nanti saya panggilkan" jawab Tama.
Tama bergegas kebagian administrasi rawat inap. Begitu mau keluar dari IGD, sebuah ambulance merapat dekat pintu hingga ia mengalah untuk mundur dulu. Brankar pasien diturunkan segera. Kertas permintaan rawat inap yang dipegang oleh Tama terjatuh karena ga sengaja tersenggol perawat yang buru-buru mendorong pasien. Tama berjongkok untuk mengambil kertas tersebut.
Tama meneruskan langkah kebagian administrasi rawat inap. Mengurus kamar untuk Ibunya. Ada kartu BPJS yang kebetulan ada didompetnya.
"Mba.. Ini kan emergency ya.. mana kepikiran bawa fotocopy KTP dan KK. Kartu BPJS aja ada di saya karena baru diambil tadi" jelas Tama.
"Tapi ini prosedurnya seperti itu Mas jika terdaftar sebagai pasien BJPS disini" kata bagian administrasi.
"Saya tau Mba ini peraturan, tapi lihat dong kondisi pasien. Saya janji akan bawa KTP dan KK nya. Setelah urus kamar, saya telepon Kakak buat datang kesini" janji Tama.
"Baik.. di kartu terdaftar sebagai pasien kelas dua, tapi kelas duanya masih penuh" papar bagian administrasi.
"Kelas satu atau VIP?" tanya Tama.
"Penuh juga.. adanya kelas tiga untuk saat ini. Mau di kelas tiga dulu? Nanti jika kelas dua ada yang pulang bisa dipindahkan" jelas bagian administrasi.
"Ya.. oke aja" jawab Tama tanpa pikir panjang.
"Mohon maaf sebelumnya, karena persyaratan sebagai pasien pengguna BPJS belum lengkap, kami bisa meminta deposit sebesar lima ratus ribu rupiah? Jika semua persyaratan lengkap, uang deposit akan dikembalikan" jelas bagian administrasi lagi.
"Ya.. Oke.. " ucap Tama sambil mengeluarkan kartu debitnya kemudian menyerahkan kebagian administrasi rawat inap.
.
Tama kembali ke IGD dan menyerahkan surat rawat inap ke perawat IGD. Ibunya sedang dipasang infus oleh dokbar. Tadi sempat muntah dua kali. Jadinya menunggu kondisi Ibunya Tama lebih tenang.
Tama menelepon Kakaknya untuk membawa berkas yang dibutuhkan. Sekaligus meminta untuk dibawakan baju.
Pasien-pasien kecelakaan semuanya meninggal dan langsung dipindahkan ke kamar jenazah agar tidak menggangu pelayanan di IGD. Keluarga pasien yang plus pun berkerumun didepan kamar jenazah, tampak saling emosi menyalahkan satu dengan lainnya.
Disebelah bilik Ibunya, terdengar keramaian, perawat dan dokter sibuk berteriak minta alat. Ada juga suara tangisan perempuan.
Setelah memasang infus Ibunya Tama, dokbar menuliskan tindakan serta obat yang sudah diberikan di medical record.
"dokbar.. bantu RJP" panggil perawat.
dokbar langsung berlari kearah bilik pasien, sempat kaget ketika melihat siapa pasiennya. Tanpa pikir panjang, dokbar langsung menggantikan dokter sebelumnya yang sudah terlihat lelah.
Lima menit kemudian, detak jantung pasien terdengar, di monitor pun sudah terlihat. Kondisi pasien masih belum sadarkan diri.
"Alhamdulillah... " jawab dokbar sambil menghapus keringatnya pakai snelli.
dokbar keluar dari bilik dan mencuci tangannya. Dokter jaga memanggil keluarga pasien untuk diinformasikan tentang kondisi pasien. dokbar duduk di bangku sebelah sambil menulis status pasien-pasien yang dia tangani.
"Butuh ICU?" tanya Elsa.
"Ya Mba.. sempat henti jantung Bapaknya, baiknya masuk ICU agar lebih intensif pengawasannya" jawab dokter jaga IGD.
"Baik dok.. nanti Kakak saya yang urus" kata Elsa.
dokbar memperhatikan Elsa yang tampangnya kusut. Kakaknya Elsa belum melihat keberadaan dokbar disana. Elsa yang sudah melihat pura-pura ga kenal.
Elsa duduk disamping Romoya.
"Minum dulu .." kata dokbar menghampiri Elsa sambil membawakan sebotol air mineral.
"Makasih" jawab Elsa sambil menerima air tersebut.
Elsa minum perlahan.
"Romo ke Jakarta ada apa?" tanya dokbar penasaran.
Kakaknya Elsa kembali ke IGD dan menyerahkan berkas rawat inap ke perawat.
"Barra? kamu jaga disini?" tanya kakaknya Elsa.
"Ya Mas.." jawab dokbar.
"Permisi dok.. pasien akan dipasang infus" ucap perawat.
"Saya aja yang pasang" pinta dokbar.
Ibunya Tama dipindahkan ke ruangan rawat inap. Keluarga Tama yang baru datang langsung ikut mengantar ke ruangan rawat inap.
dokbar dengan cekatan memasang infus ketangannya Romo. Elsa dan Kakaknya memperhatikan gerakan dokbar.
"dok.. diminta operan pasien ke ICU bisa? Maaf ya dok.. soalnya disini masih repot laporan pasien plus" tanya perawat.
"Ya.. siapin aja medical recordnya. ICU sudah siap?" kata dokbar.
"Lima menit lagi dok" jawab perawat.
dokbar mendekati dokter jaga IGD. Mereka berbincang serius. Tentunya kedua dokter tersebut sedang operan kondisi pasien.
"dokbar kenal?" tanya dokter IGD.
"Ya ..." jawab dokbar.
.
dokbar mendorong brankar bersama perawat, keluarga Elsa mengikuti dari belakang. Kakaknya Elsa sangat menghormati posisi Barra sebagai dokter saat ini, jadi tidak sok akrab. Elsa yang masih terus menangis, dipeluk oleh Kakaknya.
"Kenapa mereka ada di Jakarta ya? Romo juga kena serangan jantung. Jadi penasaran" kata dokbar dalam hatinya.
dokbar masuk bersama perawat, keluarga menunggu diluar ICU. Cukup lumayan lama operan di ICU.
.
Bagas dan istrinya datang ke Rumah Sakit. Karena mereka datang sekitar jam tujuh malam, bersamaan dengan jadwal besuk pasien, jadinya lift sangat antri. Bagas akhirnya naik tangga manual. Begitu di lantai dua, kaget melihat ada keluarga Elsa duduk di ruang tunggu pasien ICU.
Istrinya Bagas tengah menggandeng tangannya Bagas. Tentunya pemandangan ini membuat Elsa marah, tapi ditahan oleh Kakaknya.
"Kamu naik dulu keatas, saya mau ada perlu" pinta Bagas ke istrinya.
Setelah istrinya Bagas naik keatas, Elsa langsung berlari mendekati Bagas dan menamparnya. Bersamaan dengan itu, dokbar baru keluar dari ICU. Semua orang terkejut.
Security yang tengah berjaga didekat ruangan ICU langsung menghampiri untuk mencegah keributan yang lebih dari itu.
"Mas tegaaaa..." kata Elsa penuh amarah.
"Sa.. udah Sa.. udah.. ini Rumah Sakit.. nanti kita selesaikan semuanya" cegah Kakaknya Elsa.
"Laki-laki kurang ajar.. pengecut.. nih .. ambil cincin kamu... Saya ga butuh" ujar Elsa sambil melepaskan cincin kemudian melemparkan kearah Bagas.
"Sa.. kita perlu ngobrol.." pinta Bagas.
"Ngobrol? mau bilang kalo foto dan berita pernikahan itu cuma hoax?" ucap Elsa makin emosi.
"Maaf Bapak.. Ibu.. Mba dan Mas... Ini Rumah Sakit, tolong hormati pasien-pasien disini. Jika ingin ribut jangan dalam lokasi Rumah Sakit" tengah security.
"Pergi.... pergi jauh-jauh dari hidup saya dan jangan pernah kita ketemu lagi" kata Elsa sampai histeris.
Spontan dokbar ikut menengahi, kondisi sudah makin memanas. Elsa lemas dan terjatuh, dokbar yang meraih tubuh Elsa agar tidak terjatuh ke lantai.
dokbar memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Elsa. Kini Elsa sudah pingsan.
"Pak.. Tolong ambil brankar" pinta dokbar ke security.
dokbar, Kakaknya Elsa dan Bagas mendorong Elsa ke IGD. Disana Elsa mendapatkan pertolongan pertama. dokbar yang menangani.
.
Tama bergegas ke ruang tunggu ICU, mencari Kakaknya. Tapi tidak ketemu. Akhirnya dia menelepon dan mengetahui posisi Kakaknya ada di IGD.
Setelah ditangani, kondisi Elsa sudah mulai sadar meskipun masih lemas. Melihat wajahnya Bagas, amarah Elsa timbul kembali.
"Pergi .. Pergi...." terima Elsa yang membuat seisi IGD kaget.
"Ca.. sabar Ca.. Istighfar Ca.." ingat dokbar spontan menahan pundaknya Elsa.
Tanpa sadar, Elsa memeluk pinggang dokbar yang berdiri persis disebelahnya. dokbar merapihkan pashmina Elsa yang terbuka sehingga bagian rambut kepala atasnya terlihat.
Kakaknya Elsa dan Bagas keluar, untuk memberikan ruang ke Elsa untuk lebih tenang. dokbar memberikan Elsa segelas air mineral.
"Ca.. tolong bisa kontrol emosi, disini Rumah Sakit. Kalo ada permasalahan, baiknya diselesaikan di tempat yang layak" saran dokbar.
"Sekarang Mas Barra bisa tertawa.. puas Mas?" ucap Elsa datar, pandangannya ke langit-langit ruang IGD.
"Tertawa? Apa yang lucu? Maksudnya gimana?" tanya dokbar.
"Mas Bagas.. Lelaki yang lebih Ca pilih dibandingkan Mas Barra.. Ternyata menikah diam-diam di Malaysia. Katanya tugas belajar dari Kantor, ternyata dia main gila disana. Dia yang Ca kira adalah pilihan terbaik, ternyata jadi lelaki paling buruk yang pernah Ca kenal" jelas Elsa.
dokbar langsung paham apa yang sedang terjadi terhadap Elsa.
"Dia berkhianat Mas.. kami datang ke Jakarta untuk ketemu sama keluarga Mas Bagas dan meminta penjelasan. Belum sampai tujuan, Romo pingsan. Ternyata serangan jantung" kata Elsa lagi.
dokbar mendengarkan keluh kesah dan cerita kekecewaan mendalamnya Elsa. dokbar ga bisa berkata apapun, baginya saat ini Elsa hanya perlu didengar saja.
"Maafin Ca ya Mas..." akhirnya kata itu keluar dari mulutnya Elsa.
"Ga ada yang perlu dimaafkan Ca.. Kamu ga salah. Sekarang rehat dulu, Mas masih dinas, ada pasien yang menunggu untuk diperiksa" papar dokbar sambil meninggalkan bilik periksa.