
Tama berhasil mendapat orderan kaos untuk family gathering dalam rangka ulang tahun sebuah perusahaan otomotif. Elsa pun sekarang telah resmi bergabung kerja sama Tama. Meskipun gajinya belum standar UMR, tapi Elsa lebih memilih ini daripada pulang kampung. Toh penghasilannya cukup untuk hidup di Jakarta.
Tama juga menyediakan tempat tinggal dan ada uang makan per harinya lima puluh ribu rupiah. Kerap kali kalo Tama membuat konten, dia membawakan makanan untuk orang-orang yang ada di kantor. Jadinya Elsa bisa ngirit.
"Orang tua Mba marah ga pas tau Mba kerja sama Tama?" tanya Tama agak khawatir.
"Mba ga bilang kerja sama kamu, ya tau sendiri gimana marahnya orang tua sama keluarga kamu kan?" jawab Elsa.
"Terus nasib cowo yang dijodohin ke Mba gimana? Masih mau nungguin?" tanya Tama lagi.
"Udah dibatalin, cowonya mau cari cewe yang lebih muda" ucap Elsa.
"Mba.. Saya tadi makan deket Rumah Sakit Cinta Medika, sebelahan sama cowo, ternyata dia dokter. Itu juga karena ada yang menyapa dia dok Barra.. sekilas kaya pernah liat orang itu dimana .. kaya ga asing" adu Tama.
"Mana Mba tau kamu ketemu siapa" jawab Elsa.
"Coba deh Mba.. fotonya dokter Barra yang ada di HP bisa Tama liat? Siapa tau Barra mantannya Mba itu dokter yang tadi" pinta Tama.
Elsa mengeluarkan HP nya, dia membuka media sosial milik Barra yang sudah tidak ada postingan sejak empat tahun yang lalu. Tama melihatnya dengan seksama.
"Bener nih Mba.. tadi itu dokter Barra, lelaki ini. Tapi lebih cakepan aslinya. Orangnya tinggi, badannya juga lumayan berisi, kalo di foto ini kan kurus ya. Suaranya ngebass, cowo banget. Ramah sama siapa aja, saya aja ditegur duluan" papar Tama.
"Mas Barra masih kerja disana?" tanya Elsa.
"Mba tau kalo dia kerja disana? Kenapa ga coba ketemu sama dia buat meyakinkan itu Barra atau bukan" ujar Tama.
"Mba pernah beberapa tahun yang lalu ke Rumah Sakit itu, tanya ke resepsionis, katanya dokter Barra ga buka praktek lagi karena sedang ambil pendidikan spesialis" ucap Elsa.
"Kalo Mba mau yakin, coba cek aja website Rumah Sakit itu, biasanya kan ada nama-nama dokter yang praktek" ide Tama.
Elsa mengikuti saran Tama. Dibukanya situs resmi dari Rumah Sakit Cinta Medika, benar saja di halaman depan terpampang foto dan ucapan selamat bergabung dr. Barra Alman Said, Sp.OT, lengkap dengan jadwal prakteknya.
Ada air mata tertahan disudut matanya Elsa. Tama melihat wajahnya Elsa.
"Mau ketemu sama dia Mba?" tanya Tama hati-hati.
Elsa menggelengkan kepalanya.
⭐
"Pa... Apalagi sih yang mau Papa cari dalam hidup ini?" tanya Wisnu selepas mengantarkan Pak Handoko menjalani sidang perceraian.
Pak Handoko digugat oleh istrinya karena kembali ketahuan berselingkuh.
"Lelaki itu perlu variasi, kalo di rumah disediakan sop, sesekali ingin dong cobain soto, gudeg atau sekedar roti bakar" jawab Pak Handoko dengan entengnya.
"Pa... Gitu banget konsep tentang wanita. Ibu udah yang terbaik buat temenin Papa dimasa tua. Beliau rajin ibadahnya, santun, baik sama semua anak Papa, sama keluarga besar kita juga ga berjarak. Udah tua Pa.. Insyaf" ingat Wisnu.
"Bosan diceramahin mulu tiap malam, sekarang kan dah bebas mau ngapain juga" kata Pak Handoko.
"Yang milih istri kan Papa sendiri, ga ada campur tangan orang lain. Kenapa Papa nyesel?" ucap Wisnu.
"Dia itu buat pengalihan isu aja" jawab Pak Handoko.
"Maksudnya Papa apa?" ungkap Wisnu kaget.
"Tau kan nama Papa lumayan tercoreng pas kecelakaan itu? hubungan sama Diah... Inget kan? pilihannya untuk memulihkan nama baik adalah dengan menikah sama wanita yang bisa membuat citra Papa jadi positif lagi. It's work.. pada akhirnya orang lupa akan peristiwa yang lama. Tapi dia bukan selera Papa.. So baguslah dia yang gugat cerai duluan" ungkap Pak Handoko.
"Papa lebih memilih hubungan tanpa status dibandingkan menikah? Pa.. Kalo Papa mau nikah lagi juga ga masalah, tapi stop berzina. Inget umur Pa" ingat Wisnu.
"Ga usah kebanyakan ngatur orang tua, emangnya udah bisa kasih apa ke Papa?" tanya Pak Handoko.
"Pa.. Nu kehilangan keluarga karena Papa. Nu coba berdamai dengan keadaan, menerima Papa selayaknya orang tua. Please berubah Pa sebelum menutup mata" kata Wisnu.
"Istri kamu aja yang kesepian, dia yang duluan kok yang ngerayu Papa. Ya mana ada sih kucing kalo disodorin ikan menolak? Daripada kamu repot protes pilihan hidup Papa, kenapa ga kamu aja yang nikah? Udah lama kan menduda? Emang ga kesepian?" pertanyaan Pak Handoko cukup menohok batin Wisnu.
⭐
Finally usaha Hana mempersiapkan kerjasama dengan BPJS sebagai faskes tingkat satu Klinik tempatnya dulu bekerja sudah membuahkan hasil. Memang banyak dibantu oleh dokter Raz juga. Sebagai pengganti uang lelah, Hana diberikan uang oleh pemilik Klinik sebesar lima juta rupiah. Setelah berdiskusi dengan dokter Raz, uang tersebut diberikan ke orang tua Hana dan disumbangkan ke Mesjid dekat rumah orang tua Hana karena membutuhkan dana pembelian sarung dan mukena.
Sekarang Hana sudah lebih fokus mengurus rumah tangga, tidak banyak keluar seperti dulu lagi. Memang Hana pernah minta ke suaminya untuk membantu di Klinik milik dokter Raz, tapi ditolak. Alasannya karena tidak mau ada polemik nantinya, serta tidak mau berada dalam pilihan posisi suami dan atasan dalam satu waktu. Hana lebih disarankan untuk ikut kursus atau mengikuti majelis taklim untuk mengisi waktu. Kesibukan dokter Raz memang meningkat, terutama turut mengawasi proyek pembangunan Klinik barunya. Praktis waktu bersama anak-anak jadi berkurang, disinilah sosok Hana diperlukan. Anak-anak masih bisa dihandle oleh Hana.
"Kalo Mas mau mah udah dari dulu De.. tenang aja, Mas tau kok bagaimana bergaul dengan lawan jenis" selalu ini yang dokter Raz ucapkan tiap kali Hana merasa cemburu.
Namanya orang, ada aja yang ga suka dengan kebahagiaan mereka, jadinya memberikan informasi tentang dokter Raz yang selalu dikerumuni oleh wanita dan tujuan menikah hanya untuk mendapatkan sosok yang bisa mengurus anak-anak dan rumah agar dokter Raz bisa bebas diluaran sana. Secara terus menerus menelan berita tersebut tanpa dikonfirmasi ke dokter Raz, membuat Hana nekat memakai alat kontrasepsi berupa suntik KB. Usianya masih ada kemungkinan hamil karena belum menopause. Apalagi dokter Raz pernah bilang kalo diberikan anak lagi maka akan sangat bersyukur.
Serapat-rapatnya hal tersebut ditutupi, akhirnya dokter Raz tau juga karena melihat kartu jadwal KB milik Hana yang tercecer. dokter Raz emosi mengetahui hal ini, karena sejak awal menikah, beliau meminta Hana untuk tidak memakai alat kontrasepsi.
Malam minggu ini hanya mereka berdua di rumah, anak-anak dan orang yang kerja di rumah sedang hangout bareng, nonton film di bioskop. Mereka makan malam berdua dalam kondisi diam tanpa suara. Yang terdengar hanya suara sendok yang mengenai dasar piring.
"Mas... Hana minta maaf ya. Hana benar-benar menyesal banget" ucap Hana pelan.
dokter Raz yang sudah selesai makan, berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan TV.
Hana membawakan secangkir kopi buat suaminya dan duduk persis disebelahnya dokter Raz.
"De.. Hampir sebulan nikah, masih aja punya pikiran aneh-aneh. Mas tau kamu takut hamil karena trauma masa lalu. Anak itu rejeki De. Allah akan menitipkan ke orang yang layak untuk dititipkan. Please De.. Jangan ada bayangan mantan lagi diantara kita. Liat Mas dengan sosok yang jauh berbeda sama dia" ungkap dokter Raz.
"Maaf Mas.. Hana udah terus berusaha menghilangkan trauma itu, tolong bantu ya Mas" pinta Hana.
"Udah saatnya kamu ke ahlinya, biar bisa mengobati luka hati masa lalu. Mas cuma bisa mendukung, ada ahlinya yang akan membantu memberikan solusi" ujar dokter Raz meyakinkan.
Hana bersandar ke pundak suaminya, melingkarkan lengannya ke lengan dokter Raz.
"De.. simple aja, kubur dalam-dalam ketakutan dan membuka diri menerima Mas sekarang ini sebagai sosok yang baru" nasehat dokter Raz.
🌿
Karena masih dibagian poli, jadwal kerja Bhree masih teratur dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang atau dari jam dua siang sampai jam sembilan malam. Kebetulan Sabtu ini dia shift pagi, sudah janjian juga sama Mas Wisnu buat ngumpul di studio fotonya karena Mas Wisnu ulang tahun.
"Bhree... liat deh foto kamu sama dokter itu" tunjuk Mas Wisnu sambil memperlihatkan laptopnya.
"Wah ngambil diam-diam nih" kata Bhree.
"Bagus aja pas kamu benerin dasi, pak dokter ngeliatin kamu terus. Suka kali dia" goda Mas Wisnu.
"Ga mungkinlah.. secara dia dokter spesialis, pasti udah ada gandengan" ucap Bhree.
"Yakin ga berlanjut?" tanya Mas Wisnu.
"Maksudnya gimana Mas?" Bhree balik bertanya.
"Mas pernah liat kamu di Mall jalan sama dia" tembak Mas Wisnu.
"Oh yang itu... Ga sengaja ketemu, terus dia ngajak ikut dampingin pelepasan PPDS. Karena punya hutang budi sama dia, ya setuju ikut jadi pendamping dia.. Saat acara itu doang loh" papar Bhree.
"Hutang budi? Kalian kenal dari lama?" tanya Mas Wisnu belum paham maksudnya Bhree.
Bhree menceritakan sekilas tentang titipan Bapaknya ke Barra.
"Kaya sinetron banget ya kisahnya. Bisa gitu jalan ketemunya, jangan-jangan jodoh kali Bhree" makin Mas Wisnu ngeledek.
"Mas .. Jangan mulai deh jodoh-jodohin orang, Mas sendiri gimana? Udah ga mau nikah lagi?" sindir Bhree.
"Duda, umur dah mendekati pala empat, kerjanya begini, sibuk nyari kerjaan... Kapan mau nyari ceweknya?" kata Mas Wisnu rada hopeless.
"Jodoh mah ga usah dicari Mas.. nanti juga akan ketemu kalo udah pas waktunya" ujar Bhree.
"Sok banget nih bocil.. kamu sendiri gimana? sama Bobby udah berantakan, padahal cocok banget kan, keliatan sabar ngadepin gaya cuek kamu" ucap Mas Wisnu.
"Belum jodoh" jawab Bhree singkat.
"Masih inget sama Tama? Apa dia true love kamu selama ini?" tembak Mas Wisnu.
"Apaan sih Masss.. " ujar Bhree.
"Kalo suka tuh ga usah sok menghindar, udah sama-sama di Jakarta, apa perlu Mas antar buat ketemuan? kamu bisa kirim pesan ke dia lewat media sosialnya kalo mau. Mas pernah nonton kontennya, emang lebih ingin memajukan UMKM belakangan ini. Ga terlalu aktif juga, paling seminggu sekali upload. Kayanya bisnis clothing linenya udah maju. Mas lagi ngajuin kerjasama buat moto produknya. Mudah-mudahan goal" cerita Mas Wisnu.
Bhree terdiam.