HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 7, Menjemput impian



Tama hari Sabtu pagi sudah sampai disebuah taman kota yang baru saja diresmikan didaerah Jakarta Selatan. Tentunya dia ingin membuat konten tentang fasilitas yang ada disana dan makanan murah meriah yang biasanya banyak terdapat disebuah taman kota.


Tama dan timnya sudah menyusun apa saja yang akan diambil videonya, selepas subuh mereka sudah berangkat agar sampai disana sekitar jam enam pagi. Weekend seperti ini pasti semakin siang akan semakin ramai.


Eco park yang baru ini merupakan taman rekreasi yang sosmedable. Cocok untuk spot berwisata, bersantai maupun berolahraga. Bisa dilakukan secara sendirian maupun rombongan bersama kawan dan keluarga. Fasilitasnya lumayan lengkap, apalagi area bermain anak-anak dengan nuansa hijau yang asri, sehingga pastinya anak-anak akan merasa nyaman.


Tidak hanya sekedar taman saja, tempat ini juga dijadikan sebagai kawasan Low Emission Zone (LEZ) atau zona emisi rendah.


Sebelum masuk ke area taman, Tama dan timnya sarapan bubur ayam gerobakan yang ada didepan pintu masuk taman (didalam taman tidak boleh berjualan).


"Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat berkumpul sama keluarga, bisa melakukan berbagai aktivitas seperti liburan, berolahraga dan mengunjungi tempat-tempat wisata untuk melepas penat dari padatnya kegiatan sehari-hari. Kali ini kita akan spill apa aja sih yang ada didalam taman ini.. let's go" buka Tama.


Timnya Tama mengambil video saat Tama masuk kedalam taman.


"Selain gedung-gedung bertingkat, di kawasan ini menjadi salah satu destinasi buat healing tipis-tipis terutama warga Jabodetabek. Pemerintah DKI Jakarta melakukan revitalisasi menjadikan ruang terbuka hijau dengan mengusung konsep taman harmonisasi antara fungsi ekologi, sosial, edukasi dan rekreasi" lanjut Tama menjelaskan sekilas.


Kemudian tim kembali mengambil gambar-gambar menarik disetiap zona taman yang mereka lalui.


Tama bertemu dengan salah satu pengurus taman tersebut, setelah berkenalan dan meminta ijin untuk wawancara singkat, akhirnya Tama dan pengurus tersebut duduk di bangku taman.


"Setiap zona eco park memang dirancang untuk mengambil peran penting dalam keberlangsungan lingkungan dan interaksi sosial, mulai dari menjaga kualitas alam lingkungan hingga meningkatkan kualitas hidup pengunjung dan masyarakat sekitarnya seperti, sungai yang dinaturalisasi kembali, rawa (lahan basah) dijadikan kolam retensi, konservasi tanaman dan penampungan kembali untuk mereduksi polusi, hingga berbagai ruang hijau terbuka yang berfungsi memfasilitasi masyarakat untuk berinteraksi. Jadi tidak sekedar sebuah taman saja, melainkan ekosistem antara alam dan manusia saling berinteraksi dan saling melindungi dalam sebuah harmoni" jelas pengurus taman.


Setelah melanjutkan perbincangan, Tama menuju children playground (tempat bermain anak, yang memiliki berbagai jenis permainan). Ikon di area ini adalah sebuah buaya raksasa berwarna cokelat. Buaya ini merupakan area bermain yang dapat dimasuki oleh anak-anak. Dibagian gigi buaya, digantikan dengan tali supaya dapat digunakan untuk bermain gantungan. Ada juga area panjat tebing di bukit buatan, terdapat pijakan kaki dan tali tambang untuk memanjat. Di area ini, anak-anak bisa melatih keberanian dan ketangkasan. Selain itu, ada permainan jungkat-jungkit, trampoline dan masih banyak lagi.


Ada juga infinity link bridge yang merupakan icon dari taman ini, dirancang untuk menyambungkan taman utara dan taman selatan, jembatan dengan tinggi enam meter ini berdiri dilengkapi dengan tiang-tiang berwarna merah yang bergradasi, dimana warna tersebut disesuaikan dengan pohon. Selain itu, bentuk jembatan ini tak hanya berupa sebuah jembatan lurus, melainkan meliuk seperti angka delapan yang membelah pepohonan, seakan jembatan ini bernaung dibawah pepohonan.


Bagi yang ingin ke taman ini, bisa datang setiap hari pada pukul 06.00-17.00 dan tidak dipungut biaya.


🍒


Diva sedang ikut briefing persiapan akhir acara di stasiun televisi swasta, setelah itu baru check sound tergantung giliran tampil. Semua pengisi acara akan mulai di make up nanti siang dan akan perform malam harinya.


Karena Diva bukan artis utama, jadinya nanti akan tampil secara bersama-sama dengan teman-teman semasa ikut kompetisi dulu.


Gayanya Diva sok ngartis banget, membuat artis yang namanya lebih tenar dibanding dia jadi ilfil terhadapnya.


Rika tampak sibuk menyiapkan keperluan Diva. Mulai dari makanan, kostum hingga aksesoris. Ditambah dia juga harus tau jadwal kapan Diva naik keatas panggung.


🌺


Bhree berdiri didepan studio foto milik Mas Wisnu, membawa tas ranselnya dan tas jinjing kecil serta kamera peninggalan Ayahnya.


Mas Wisnu dan Mba Fenti (istrinya Mas Wisnu) akan menemuinya di studio foto. Rupanya setelah membaca chat dari Bhree, Mas Wisnu berbincang dengan istrinya.


.


Kini Bhree duduk di ruangan milik Mas Wisnu, ada Mba Fenti tengah duduk disampingnya Bhree.


"Kenapa jadi begini Bhree.. kok kamu berani ngelawan sama Ibu?" tanya Mba Fenti pelan-pelan.


"Saya cuma mau jadi fotografer Mba" jawab Bhree agak berbohong.


"Sampe pergi dari rumah? emangnya Ibu ga mau dukung anaknya jadi apa yang diinginkan?" kata Mba Fenti lagi.


"Ibu mau saya masuk ke Akademi keperawatan Mba, tapi saya akan buktikan ke Ibu kalo bisa sukses tanpa dukungan Ibu" putus Bhree.


"Tapi Bhree.. ini studio foto, bukan rumah, pastinya tidak lengkap fasilitasnya seperti rumah. Disini juga ga ada kamar, paling gudang kecil yang bisa kamu pakai buat kamar tidur" papar Mas Wisnu.


"Gapapa Mas, selama masih ada tempat untuk berteduh, itu sudah cukup. Saya belum punya uang untuk sewa rumah. Saya juga mau kerja disini buat memenuhi kehidupan hidup sehari-hari. Saya udah ga ke sekolah lagi, udah tinggal tunggu pelepasan siswa kelas XII aja. Saya ga mau daftar ulang di Akademi keperawatan itu Mas" lanjut Bhree dengan wajah tertunduk.


"Ya terserah kamu.. tapi jangan ikutin emosi aja, anak muda memang kadang meledak-ledak. Tetap minta ijin sama Ibu.. ga baik begitu. Ibu dan anak perempuan memang sering berselisih paham. Sekarang kamu bertenang dulu disini, apapun nanti yang kamu putuskan, semoga baik buat semua pihak" kata Mba Fenti.


Bhree memang hanya bilang ada beda pendapat antara dirinya dengan Ibu berkaitan dengan keinginannya menjadi fotografer. Tidak mungkin dia membuka aib keluarga didepan orang lain.


Setelah berbincang, akhirnya Mas Wisnu sudah bersepakat akan memberikan gaji tetap ke Bhree, tapi dia akan diberikan tambahan pekerjaan. Selain membersihkan studio foto sebelum dan sesudah jam operasional, dia juga harus lebih bagus lagi dalam mengedit foto, sehingga untuk yang mau cetak foto standar bisa dilayani olehnya.


.


Bhree mencoba menghubungi Ibunya, tapi panggilan teleponnya selalu ditolak, akhirnya dia mengirim pesan, dia minta ijin bertenang keluar dari rumah, akan menemui Ibunya jika sudah punya jalan terbaik buat mereka berdua.


Ibunya Bhree hanya membaca tanpa bereaksi apapun. Ibu mematikan HPnya dan meletakkan diatas meja samping tempat tidur.


"Dari siapa Diah?" tanya Pak Handoko yang sedang memakai bajunya.


"Bhree" jawab Bu Diah singkat.


"Kemana tuh anak? masih belum kenal dunia aja sok marah" cibir Pak Handoko.


"Dia pergi.. ga suka liat hubungan kita kaya gini" lapor Bu Diah.


"Ah diemin aja... bisa apa anak ingusan kaya dia, emangnya dunia ini seperti taman bermain dimana hanya mengenal rasa senang gembira" lanjut Pak Handoko.


"Ya itulah sayang.... jiwa muda" jawab Bu Diah.


"Sama dong kaya kita... pasangan udah berumur tapi masih berjiwa muda... setiap hari kita masih sanggup tempur di kasur. Oke deh sayang, Mas mau ke Rumah Sakit dulu" kata Pak Handoko.


"Tumben Minggu siang ke Rumah Sakit" ujar Bu Diah sambil menyisir rambutnya.


"Ada janjian sama salah satu prinsipal obat. Bisanya hari ini. Makasih makan siangnya dan pelayanan plusnya" bisik Pak Handoko sambil mencium pipi Bu Diah.


"Jangan lupa transfer buat ke salon, mau coloring rambut nih sama lulur. Kan kalo saya cantik, buat Mas juga" ucap Bu Diah menggelayut memanja.


"Kamu tuh emang paling pinter deh, kalo minta sesuatu pasti ngasih servis luar dalam yang memuaskan. Istri Mas ga paham tuh yang kaya gitu" lanjut Pak Handoko sambil mengetik sesuatu di HPnya, kemudian menunjukkan bukti transfer ke Bu Diah.


"Ahhhh... love banget deh" rayu Bu Diah sambil memberikan ciuman hangat ke bibir Pak Handoko.


"Udah dulu ya sayang.. Mas sudah ditunggu orang nih, kalo diciumin terus jadi pengen nambah kan" Pak Handoko dengan genitnya menyolek dagunya Bu Diah.


Bu Diah tersenyum lebar saat melihat bukti transfer sebesar tiga juta rupiah masuk ke rekeningnya.


Pak Handoko meninggalkan rumah Bu Diah naik ojol, seperti biasa, setiap kesana naik ojek agar tidak ada jejak kendaraannya terparkir didepan rumah Bu Diah.


.


Berangkat pagi hari naik kereta dan akan janjian bertemu Elsa di stasiun, kebetulan Elsa juga pulang ke rumah karena Kakaknya akan lamaran malam ini


.


Keesokan paginya, saat keluarga Elsa sudah santai, orang tuanya Elsa menerima kedatangan dokter Barra dengan hangat. Mereka melihat dokter Barra sebagai sosok yang ramah, sopan santun dan terlihat bertanggungjawab. Elsa memang sudah bercerita sekilas tentang dokter Barra ke keluarganya.


"Jadi dokter Barra kapan rencananya akan melamar Elsa?" tembak Romonya Elsa.


"Panggil Barra saja Pak.. mohon maaf sebelumnya, kami berdua belum berdiskusi sampai tahap itu. Jadi.. saya belum bisa menjawab pertanyaan dari Bapak" jawab dokter Barra berusaha tenang.


"Panggil Romo aja.. seperti yang lain" pinta Romonya Elsa.


"Baik Romo" jawab dokter Barra.


"Kalian itu sebenarnya tidak punya rencana atau memang ada satu dan lain hal yang tidak mau dibicarakan saat ini? Kalian kan sudah sama-sama dewasa, apa yang ditunggu?" lanjut Romonya Elsa.


"Romo.. Elsa mau jadi guru yang benar-benar mengajar di sekolah dulu" sahut Elsa.


"Wanita ga perlu punya karier diluar rumah" jawab Romonya.


"Tapi kan Elsa juga punya keinginan pribadi Romo" ucap Elsa lagi.


Seakan Romonya tidak mendengar perkataan Elsa, beliau melanjutkan berbincang sama dokter Barra.


"Elsa itu sudah banyak yang meminta untuk dijadikan calon menantu, tapi Romo mau membebaskan anak-anak untuk memilih pendampingnya sendiri, asalkan dari keluarga baik-baik dan punya pekerjaan untuk menafkahi anak Romo, itu sudah cukup" papar Romonya Elsa.


"Romo.. saya dan Elsa pastinya akan menuju kejenjang yang lebih serius, tapi tidak dalam waktu dekat. Mengingat saya baru saja menjadi dokter dan Elsa masih mengajar didaerah pelosok yang sulit sinyal untuk berkomunikasi. Jujur saja, ini pertemuan kita lagi setelah terakhir dua tahun yang lalu saat saya wisuda" jelas dokter Barra.


"Baru ketemu lagi?" tanya Romonya heran.


"Iya Romo, pasca wisuda, Mas Barra langsung ditempatkan di daerah, Elsa pun sama.. ikut Indonesia mengajar, jadi ya ndak ketemu, kita hanya lewat video call kalo mau ngobrol" sambung Elsa.


"Iya Romo.. saya juga belum dapat waktu libur yang agak lama, maklumlah sebagai dokter baru, sering dijadikan bantalan rekan sejawat untuk tukar dinas atau shift jaga. Ini saya juga sebentar berkunjung kesini, karena besok sudah praktek lagi. Mumpung Elsa juga bisa pulang, jadi saya berinisiatif berkenalan langsung kesini" alasan dokter Barra.


"Anak sekarang memang aneh, berhubungan hanya via telepon, bagaimana bisa menyatukan pemikiran kalo masing-masing dipisahkan jarak dan sinyal" protes Romonya Elsa.


Elsa dan dokter Barra hanya diam saling memandang.


"Saran Romo segeralah menikah, Romo khawatir Elsa terlalu asyik sama karier mengajarnya" pinta Romo.


"InsyaAllah Romo" jawab dokter Barra.


"Kamu pulang besok?" tanya Romo.


"Malam ini Romo, karena besok siang sudah jaga IGD" jawab dokter Barra.


"Belum pernah ke Solo kan? kita putar-putar kota dulu saja, biar kenal daerah disini, siapa tau mau praktek di kota ini" ajak Romonya Elsa.


"Sama siapa ya Romo?" tanya dokter Barra.


"Yo wes... sama Romo, sepertinya kaum wanita di rumah ini masih sibuk rapih-rapih. Elsa juga ada teman-temannya yang datang. Kamu bisa nyetir mobil?" kata Romo.


"Bisa Romo" jawab dokter Barra.


.


Elsa sangat bahagia bahwa lelaki yang telah memikat hatinya bisa diterima dengan baik oleh keluarganya.


dokter Barra pun merasa lega karena tidak sehoror yang dia bayangkan sebelumnya.


Elsa sedang ngobrol sama teman-teman SMA nya, setelah mengenalkan dokter Barra ke teman-temannya Elsa, Romo memanggil dokter Barra untuk bersiap keliling menyusuri kota.


Romo bak pemandu wisata bagi dokter Barra, menjelaskan dengan lumayan agak detail tentang kota tercintanya.


"Romo langsung merasa klik sama kamu, rasanya seperti ngobrol sama anak lelaki sendiri. Maklumlah anak Romo perempuan semuanya, tinggal si bungsu Elsa yang belum melabuhkan rencana pernikahan. Kakaknya kan sudah dilamar dan akan segera menikah. Tapi Romo sekarang lebih tenang, dia sudah memilih calon yang baik" puji Romo.


.


dokter Barra pulang ke Jakarta naik kereta, disebelah bangkunya adalah seorang Bapak berusia sekitar lima puluh tahun keatas.


Sudah menjadi hal yang umum jika di kendaraan saling berbincang ringan, ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh rasa sepi dalam perjalanan.


"Sudah nikah?" tanya Bapak tersebut.


"Belum Pak" jawab dokter Barra singkat.


"Tapi sudah ada calonnya kan?" ucap Bapak itu lagi.


"InsyaAllah sudah ada" lanjut dokter Barra.


"Jadilah kepala keluarga yang baik, sebagai lelaki harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga" nasehat Bapak tersebut.


"Ya Pak... Bapak sendiri ke Jakarta mau mengunjungi keluarga atau pulang dinas?" gantian dokter Barra bertanya.


"Mau ketemuan sama anak, sudah hampir delapan tahun ga ketemu langsung, sejak saya dan Ibunya memutuskan untuk berpisah. Saya dulu Bapak yang ga baik, akhirnya ketika tinggal di Solo, banyak yang berubah dalam diri Bapak. Ada marbot Musholla yang mengajarkan agama lagi. Dulu Bapak ga kenal agama, cuma Islam KTP, ga jalanin. Ketika Bapak memperbaiki sholat, mulai membaca Al-Qur'an lagi, menjalankan puasa sunnah... Alhamdulillah Allah memberikan Bapak pekerjaan yang lumayan untuk menyambung hidup. Bapak sekarang kerja bersihin kebun orang dan kerja serabutan" jelas Bapak tersebut.


"Pasti Bapak dan anaknya sama-sama kangen" sahut dokter Barra.


"Ibaratnya Solo itu rindu, maka Jakarta adalah cinta. Bapak akan menjemput cinta untuk menuntaskan rindu" kata Bapak tersebut berpuitis.


"Maksudnya mau dibawa ke Solo?" tanya dokter Barra ga paham.


"Terserah anaknya saja, tapi kalo ke Solo pasti repot tempat tinggalnya. Bapak selama ini tidur di Musholla" jawab Bapak tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Semoga bisa ketemu ya Pak" harap dokter Barra.


"Aamiin.. nanti kalo kamu punya anak... disayang ya, jangan kaya Bapak..." saran Bapak tersebut.


"Maaf ya Pak.. tidak perlu kita bicara sedalam ini, pasti ini kan aib keluarga" ujar dokter Barra mulai ga enak hati.


"Gapapa Barra...semoga kamu bisa belajar dari kisah Bapak. Bapak ingin jadi seniman, sampailah pilihannya ke fotografi, dulu sempat kuliah tapi DO, menjadi fotografer keliling, lama-lama ikut orang sampe kerja di salah satu studio milik fotografer terkenal di negeri ini. Banyak pengalaman yang Bapak dapatkan. Tapi rupanya Bapak tamak. Saat itu berpikir kenapa kita yang kerja keras tapi Boss yang kaya. Makanya Bapak memutuskan resign dan mulai usaha sendiri. Channel belum bagus, skill melobi pun ga punya, akhirnya usaha gagal. Istri perawat, kadang dia kerja, Bapak tidur, begitu sebaliknya. Rupanya lama-lama dia lelah juga dan menceraikan Bapak. Terusir dari rumah yang memang istri yang nyicil, ga tau mau kemana. Petualangan hidup delapan tahun yang sangat luar biasa... semoga masih ada kesempatan menjadi Bapak yang baik" nanar Bapak tersebut berbicara.