
dokbar resmi menjadi dokter jaga ruang rawat inap untuk pasien kelas tiga. Dengan tugasnya yang baru, dia sudah tanda tangan kontrak baru sebagai karyawan tetap Rumah Sakit. Layaknya sebagai seorang karyawan, dia mendapatkan gaji, tunjangan dan libur Sabtu, Ahad dan tanggal merah, jam kerjanya dimulai dari jam delapan pagi sampai jam empat sore dan ada break ishoma jam dua belas siang.
Dengan diterimanya dokbar menjadi karyawan tetap di Rumah Sakit, praktis tempat praktek lain berubah waktunya, semua diubah menjadi shift malam yaitu mulai jam sembilan malam sampai jam tujuh pagi. dokbar memang belum mau melepaskan praktek di dua Klinik ini karena selain pemiliknya masih mengharapkan dokbar bergabung, dia juga masih butuh dana untuk melunasi hutang Bank yang tinggal setengah tahun lagi.
Rencananya jika dia lulus seleksi untuk melanjutkan spesialis, praktek di Klinik akan dilepas atau dikurangi waktunya. Mengingat waktu untuk kuliah spesialis lebih banyak diadakan pada sore dan malam hari, jadi tidak memungkinkan untuk praktek di jam tersebut. Klinik memang menyayangkan hal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak karena uang jasa medis yang diberikan pihak Klinik tidak sebesar yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit. Lagipula jika dokbar sudah lulus spesialis, diharapkan dapat bersinergi dengan pihak Klinik untuk melayani pasien-pasien tentunya.
Keluarga sudah diajak berbincang panjang, sehingga memahami keputusan dokbar. Pengajuan beasiswanya untuk mengambil spesialis pun sudah disetujui, jadi tinggal menunggu pengumuman dari Universitas tempat dia ikut seleksi. Dukungan biaya kuliah seratus persen dan biaya penunjang akademik sebesar lima puluh juta per semester sudah siap digelontorkan oleh sebuah pabrik yang memproduksi obat untuk tulang, sebagai kompensasinya, dokbar akan bergabung dengan pabrik tersebut sebagai dokter research and development bersama tim yang sudah ada. Pekerjaan di pabrik obat hanya meminta dalam sebulan hadir di Laboratorium pabrik selama dua puluh empat jam dan waktunya bebas, mengatur sendiri tapi membuat janji temu terlebih dahulu dengan kepala Laboratorium.
Pihak Rumah Sakit juga akan memberikan dispensasi waktu jika dokbar kuliah spesialis, bahkan siap memberikan bantuan pendidikan diluar yang dicover beasiswanya, dengan perjanjian kerja mengabdi di Rumah Sakit yang mengikat setelah lulus nantinya. Untuk tawaran pihak Rumah Sakit, dokbar baru mencantumkan tentang perjanjian dispensasi waktu, untuk biaya tambahan masih dipertimbangkan, mengingat dia sudah punya penawaran menarik dari seorang dokter spesialis orthopaedi yang sudah bekerjasama dengan produsen obat tersebut. Jumlah dokter orthopaedi memang masih termasuk langka, sehingga tidak semua Rumah Sakit punya spesialis ini. Bahkan di Rumah Sakit tempat dokbar bekerja hanya ada satu dokter spesialis orthopaedi.
Keluarga dokbar juga sudah menyusun rencana untuk menyiasati kondisi keuangan kedepannya. Selain keluarga ini akan kembali hidup prihatin seperti saat dokbar kuliah kedokteran. Bapaknya juga kembali menawarkan dokbar untuk meminjam lagi dengan jaminan sertifikat tersebut, tapi dokbar menolak. Sekarang Bapaknya dokbar kerja sambilan antar jemput anak sekolah dengan motor, tadinya mau daftar jadi driver ojek online, tapi dokbar melarang karena pasti sangat melelahkan diusia seperti Bapaknya harus berjuang di jalanan. Ibunya pun sudah kembali berjualan nasi uduk, meskipun duduk di kursi roda, semangatnya masih ada. Paling tidak untuk makan harian masih ketemu.
"Maafin Barra yang masih menyusahkan keluarga .. do'akan kedepannya Barra bisa membalas semua pengorbanan keluarga" pinta Barra saat berbincang dengan orang tuanya.
"Bar.. kami orang tua tidak meminta balas Budi, cukup kamu jadi orang yang bermain untuk semua orang, sayang terhadap adik-adik dan menghormati kami sebagai orang tua saja itu sudah lebih dari cukup. Rejeki sudah ada yang mengatur, toh selama kamu kuliah dulu, kita masih bisa makan dan menjalani kehidupan secara layak meskipun tidak berlebihan" nasehat Bapaknya Barra.
.
Pembawaan karakter dokbar yang tenang dan pandai menyusun kata-kata saat berhadapan dengan keluarga pasien, pasien, rekan dokter sejawatnya dan para perawat, membuatnya cepat dikenal. Jika ada penjelasan medis yang perlu disampaikan ke keluarga pasien pun akan mudah dipahami karena dia memakai bahasa yang simple, sebisa mungkin istilah medis di Indonesia kan. Terkadang para dokter spesialis termasuk yang sangat irit bicara, tak jarang pasien dan keluarga tidak paham dengan perkataan dokternya, dicelah inilah dokbar hadir menjadi jembatan penghubung diantara mereka.
Kadang terlihat juga dia berbincang dengan keluarga dan memeriksa kondisi pasien secara berkala. Kalau dokter lain biasanya akan mencharge biaya visit walau dokter ruangan, tapi dokbar tidak melakukannya, baginya ini adalah tugasnya sebagai dokter jaga ruangan.
Para dokter spesialis pun merasa terbantu dengan kehadiran dokbar, karena biasanya pasien kelas tiga ini termasuk kategori abu-abu, bisa dibilang antara kondisi ekonomi lemah, pas-pasan atau memang memilih kelas tiga untuk menghemat biaya Rumah Sakit. Tapi kebanyakan di kelas tiga ini pasien yang memakai kartu Indonesia sehat dan BPJS, bisa dihitung jari pasien umum dan asuransi. Sehingga kemampuan komunikasi dan pengetahuannya agak kurang.
.
dokbar mendapatkan kabar jika Romonya Elsa sedang dirawat di ICU, selepas operasi pengangkatan batu empedu, malah berakibat fatal bagi Romo, pascaoperasi beliau mengalami masa kritis, sempat koma tiga hari. Malam setelah operasi, Romo mengaku tak bisa tidur karena perutnya sakit, wajar bagi pasien pasca operasi sebenarnya. Tapi setiap kesakitan malah sampai pingsan. Keluarga merasa tidak ada perbaikan, maka diputuskan untuk pindah ke Rumah Sakit lain. Fakta mengejutkan didapat dari tim dokter di Rumah Sakit yang baru bahwa saluran empedunya bermasalah dan diduga akibat operasi kemarin karena alatnya terlalu panas saat operasi, sehingga membuat saluran empedu jadi luka. Akibatnya racun di empedu dan hati tumpah ke organ lain dan menyebabkan infeksi.
Berita ini dia dapatkan dari Kakaknya Elsa. Beliau meminta dokbar untuk datang ke Solo karena setelah operasi, Romo sempat mencari dokbar. Romo memang belum bisa menerima kenyataan jika dokbar sudah memutuskan hubungan dengan putrinya. Besar harapan Romo bermantukan dokbar. Lelaki yang dinilainya mampu membahagiakan Elsa.
Kebetulan Jum'at ini tanggal merah, sehingga dokbar libur kerja, di Klinik juga tidak ada jadwal. Dia berencana datang ke Solo, berangkat Kamis malam dan akan pulang ke Jakarta Sabtu pagi, jadi masih ada waktu istirahat di rumah. Sebelum memutuskan membeli tiket, dokbar menelepon orang tuanya untuk meminta ijin. Awalnya orang tua tidak setuju, tapi setelah dokbar menceritakan semuanya, Bapak membolehkan. Bagi orang tua dokbar, Elsa bukanlah calon yang tepat untuk putranya. Meskipun dokbar tidak pernah menceritakan kenapa hubungannya dengan Elsa berakhir, tapi orang tua sudah punya feeling kalo penyebab utamanya adalah kondisi keluarga dan status sosial dokbar yang tidak selevel dengannya.
.
Selepas sholat Dzuhur, dokbar langsung berburu tiket di aplikasi online pembelian tiket kereta, karena kalo naik kereta lebih cepat dan nyaman untuk beristirahat. Karena libur panjang, maka tiket pun susah didapatkan.
"Ngapain dok ? serius amat sama HP nya" tanya koordinator perawat ruangan.
"Lagi nyari tiket kereta" jawab dokbar.
"Mau jalan-jalan nih libur panjang" ledek perawat.
"Mau jenguk orang sakit di Solo.. kalo libur panjang begini, penuh aja nih kereta, dari tadi cek aplikasi pada sold out" oceh dokbar.
"Suami saya kan kerja di jali-jali.com dok, itu aplikasi online pembelian tiket, mau dipesenin?" tanya perawat.
"Ngomong kek dari tadi" sahut dokbar.
"Lah.. ga bilang nyari tiket.. emang saya peramal yang bisa tau apa yang dokbar pikirin" ucap perawat.
"Ya udah telepon suaminya, nanti foto KTP saya kirim ya ke nomernya Kakak" ujar dokbar.
Perawat tersebut menelepon suaminya, tidak lama kemudian mengirim foto KTP dokbar.
Lima menit setelahnya, tiket online sudah dalam genggaman dokbar.
"Makasih ya .." ucap dokbar senang.
"Sama-sama dok.. itu yang jam sembilan malam ya keretanya" ingat perawat.
"Siap.. tolong bilang makasih juga ke suaminya karena saya dikasih harga promo.. lain waktu kalo ada perlu tiket bolehlah saya hubungi Kakak" ujar dokbar.
"Siap dok .. jangan lupa pulang bawa oleh-oleh" sahut perawat.
"Dibilang mau jenguk orang sakit, saya bukannya mau vacation" jawab dokbar.
"Jangan-jangan yang dijenguk ini calon mertua, secara ngapain sampe berusaha banget dapetin tiket. Atau mau nikah kali ya kesana? kan biasanya begitu, kalo orang tua sakit dan sekiranya tipis harapan, anak yang sudah lama pacaran pasti disuruh nikah, biar masih sempat menyaksikan" terka perawat.
"Emang ya.. kerja dikelilingi para wanita.. ga jauh-jauh dari bikin gosip, makan-makan sama godain dokter ganteng kaya saya ini" ujar dokbar sambil ketawa kecil.
"Siapa yang ngegosip dok, secara dokbar kan katanya udah punya pacar, sengaja tuh diumpetin biar pamor dimata para jomblowati disini ga menurun.. hehehe" canda perawat.
"Pacar? ini gosip dari mana lagi? i'm single" tegas dokbar.
"Single but not available kan dok" jawab perawat.
"Umur masih muda kawan.. saatnya mencari cuan, demi masa depan yang lebih nyaman" sahut dokbar.
"Gayaneeee... cewenya cantik aja masih diumpetin, apalagi kalo ga cantik kaya kita ini? udah pernah beredar kali dok foto pas dokbar gandengan sama tuh cewe di Mall" jelas perawat.
"Oh doang? oh nya apa nih?" selidik perawat.
Ketika masih berbincang, ada suara kegaduhan tidak jauh dari nurse station.
"Gimana sih infus anak aja ga bisa, kamu perawat atau bukan sih!!!" omel orang tua pasien.
Rupanya ada anak yang lepas infusannya karena ngamuk, perawat berusaha memasang kembali, karena kondisi anak yang masih banyak gerak, jadinya pemasangan gagal.
Bu Diah yang kebetulan lewat, langsung menuju kamar pasien dan meminta perawat dan keluarga untuk menunggu anak dalam kondisi lebih tenang.
Perawat yang tadi dimaki-maki pasien langsung diminta mengikuti langkahnya Bu Diah. Mereka menuju nurse station.
Bu Diah yang kebetulan lewat, langsung menuju kamar pasien dan meminta perawat dan keluarga untuk menunggu anak dalam kondisi lebih tenang.
Perawat yang tadi dimaki-maki pasien langsung diminta mengikuti langkahnya Bu Diah. Mereka menuju nurse station.
Dengan arogannya Bu Diah duduk dan didepannya ada seorang perawat tengah tertunduk.
dokbar memperhatikan keduanya.
"Udah lama kan jadi perawat? kalo kondisi pasien anak lagi kaya gitu ya ga usah dipaksakan untuk diinfus. Makanya upgrade dong kemampuan menginfus pasien. Ini nih.. harusnya perawat baru itu ditempatin ke IGD atau ruang rawat kaya gini, jadi lebih terasah. Ini malah ditempatin di poli.. perawat poli kan jarang infus pasien, cuma bantu-bantu dokter aja" omel Bu Diah sambil menunjuk kearah perawat.
dokbar yang sedang membaca rekam medis pasien yang baru di visite dokter spesialis kaget mendengar ada keributan di nurse station. Dia langsung menghampiri.
"Ada apa ya?" tanya dokbar pelan.
"Ini nih dok.. kalo kerja pada ga serius, sibuk update status di media sosial, bikin asuhan keperawatan juga ga lengkap" lapor Bu Diah.
"Maaf Bu Diah.. ini nurse station, banyak keluarga pasien lalu lalang disini. Menasehati perawat bukan seperti ini, dibelakang nurse station kan ada ruangan, kenapa ga dipanggil kebelakang aja?" saran dokbar yang memang tidak suka dengan gayanya Bu Diah yang terkenal sangat bossy karena kedudukannya sebagai Kepala perawat di Rumah Sakit ini.
"Biar sekalian warning buat perawat lainnya dok" jawab Bu Diah.
"Warning? sebagai Kepala perawat, bukan begini Bu" protes dokbar.
"dokbar ini siapa? seenaknya ngajarin saya kerja. Saya udah kerja disini sebelum dokbar jadi dokter" ucap Bu Diah.
"Ibu ikut saya ke ruang belakang, sudah lama saya ingin berbincang dengan Ibu, hanya ga ada kesempatan dan waktunya yang belum ada. Rupanya hari ini saatnya" ajak dokbar.
Bu Diah mengikuti dokbar, keduanya duduk di sofa yang ada didalam ruangan yang tidak ada pintu karena ruangan yang disekat dari nurse station, biasanya digunakan untuk perawat makan, minum dan bergantian istirahat.
"Bu .. sudah banyak karyawan yang bicara tentang Ibu. Saya ga bisa menunjuk satu persatu, tapi tindakan Ibu yang seperti tadi itu yang sering mereka keluhkan. Apa begini cara Ibu sebagai salah satu yang punya kedudukan disini?" tanya dokbar.
"Sama bawahan ga boleh lembek dok, nanti kita yang diinjek-injek" sahut Bu Diah dengan nada tinggi.
"Bawahan? mereka semua rekan kerja Bu, termasuk kami para dokter. Kedudukan kita sama disini, bersama-sama merawat pasien" jawab dokbar.
"dokter kenapa ikut campur wilayah saya? selama ini pihak pelayanan medis ga pernah protes kok, ini malah dokter baru yang banyak omong" ucap Bu Diah.
"Betul saya dokter baru di ruang rawat inap, sebelumnya saya di IGD, sepertinya Bu Diah kenal siapa saya karena sering bertemu jika ada rapat internal pelayanan medis" kata dokbar.
"dokter maunya apa?" tembak Bu Diah.
"Apa perawat disini ada pelatihan internal mengenai cara menginfus, berkomunikasi dengan dokter atau keluarga pasien, dan keahlian lainnya?" tanya dokbar.
"Itu bagian HRD dong dok, kan ada bagian development, ya mereka yang akan mengadakan training internal" jawab Bu Diah.
"Bagian development itu dari medis atau non medis?" tanya dokbar.
"Non medis dok, mereka ada yang dari jurusan psikologi dan ada juga yang manajemen sumber daya manusia" jawab Bu Diah santai.
"Bagaimana pihak development tau kalo pelatihan perlu diadakan jika kita pihak user tidak meminta? atau Bu Diah punya penilaian terhadap kinerja para perawat dengan mengetes secara berkala ketrampilan mereka?" ungkap dokbar.
Bu Diah terdiam.
"Kalo memang diperlukan, saya bisa mengadakan pelatihan untuk menginfus pasien, saya tau semua perawat pasti bisa, tapi ini mengenai jam terbang dan trik biar langsung bisa masuk ke pembuluh sekali tusuk" tambah dokbar.
"Ya dokbar aja lapor kepihak development" kata Bu Diah seenaknya.
"Kepala perawatnya kan Ibu.. kenapa saya yang harus minta pelatihan? Oh ya satu lagi.. seminggu saya di nurse station, kenapa asuhan keperawatan tidak standar cara penulisannya, apa Ibu sudah memberikan arahan saat mereka mulai bekerja disini? banyak dipermasalahkan sama dokter spesialis karena kaya orang bikin cerpen" papar dokbar.
Bu Diah makin kesal dan diam.
Sebagai Kepala perawat bisa dibilang kerjanya sekedar muter aja, semua laporan yang dibutuhkan oleh pihak pelayanan medis selalu dibuat oleh para koordinator perawat disetiap ruangan. Biasanya Bu Diah hanya terlihat di Rumah Sakit saat ada rapat, training, pagi saat datang dan jam pulang. Kadang susah mencarinya di jam kerja.
Bu Diah setelah rapat koordinasi pagi dengan kepala ruangan biasanya langsung menghilang. Beliau akan dijemput oleh taksi online sekitar jam sebelas siang dan akan kembali ke Rumah Sakit sekitar jam empat sore, sedangkan jam lima sore sudah jam pulang.
Bu Diah langsung pergi tanpa pamit dengan muka yang ditekuk, kesal sama ocehan dokbar.