HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 32, Bicara



Dari semua anaknya Pak Handoko, Mas Wisnu yang paling perhatian terhadap Papanya. Meskipun dia keluar dari rumah sewaktu masih muda dan memilih bersebrangan pemikiran dengan Papanya, tetap dia mengunjungi dan menelepon Pak Handoko sesekali, bahkan setahun belakangan ini, setelah banyak yang tau dia anaknya Pak Handoko, sering kali wanita yang berkencan dengan Papanya datang untuk meminta pertanggungjawaban.


Mas Wisnu biasanya hanya membantu pada tahap mengantarkan para wanita itu kehadapan Papanya, selanjutnya tidak pernah tau bagaimana penyelesaian Papanya dengan wanita-wanita itu. Rasanya sudah lelah memberikan masukan ke Papanya. Meskipun tidak setuju dengan gaya hidup Papanya, Mas Wisnu tetap hormat pada beliau. Inilah yang membuat hubungan Bapak dan anak kembali terjalin dengan baik. Bahkan sudah beberapa kali Pak Handoko merekomendasikan studio foto milik Mas Wisnu ke teman-temannya.


Pak Handoko mengalami pendarahan di kepala bagian kiri akibat kecelakaan, bahkan darahnya sampai keluar melalui telinga kiri. Setelah dilakukan CT Scan, ada gumpalan darah di kepala bagian kiri, kondisi otaknya masih bagus dan tidak cedera.


Sudah sempat setengah sadar dan meracau. Sambil mengatakan kepalanya sakit. Kemudian tidak sadarkan diri kembali.


Sekarang Pak Handoko dalam persiapan operasi, sekitar tiga jam lagi akan dimulai karena mencari dokter anastesi sedang full tindakan semua. Jadinya masih menunggu.


Saat menunggu operasi, kondisi Pak Handoko semakin memburuk, tingkat kesadarannya semakin menurun dan tidak merespon ketika dipegang atau dipanggil.


"Apa Papa saya bisa kembali normal seperti dulu lagi dok? atau bisa sembuh tapi otaknya akan terganggu?" tanya Mas Wisnu sambil menandatangani persetujuan operasi.


Pertanyaan Mas Wisnu memang kerap kali terdengar ketika ada keluarga yang harus menjalani operasi dibagian kepala. Jadi dokter bedah tidak kaget dengan pertanyaan awam seperti ini.


"Traumatic brain injury atau cedera otak merupakan kondisi dimana terdapat gangguan pada otak dan struktur disekitarnya yang terjadi akibat trauma atau faktor eksternal seperti kecelakaan, sehingga menyebabkan berbagai macam keterbatasan fisik, kognitif maupun psikis. Diagnosis, tatalaksana, dan prognosis (keluaran dari cedera ini) dipengaruhi oleh mekanisme dari trauma, tingkat keparahan dan struktur otak atau sekitarnya yang terlibat dan menyebabkan trauma tersebut" jawab dokter bedah.


"Jadi gimana dok? saya ga paham" tanya Mas Wisnu lagi yang belum paham atas jawaban tersebut.


Inilah kadang yang membingungkan keluarga pasien, dokter ahli biasanya menjelaskan dalam bahasa medis atau jika menggunakan bahasa sehari-hari juga njelimet bin ruwet, sehingga yang mendengar kadang ga nyambung dan ga menangkap maksudnya.


"Kami sudah mengevaluasi melalui rekam medis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan. Dan akan melakukan operasi bedah pada kepala. Jadi Mas.. ini memang riskan dilakukan mengingat usia juga sudah tidak muda lagi. Selalu ada harapan, selama kita masih berusaha mengupayakan yang terbaik. Jika semua lancar, dapat berangsur-angsur pulih dalam waktu beberapa bulan. Namun bisa juga kemungkinan munculnya komplikasi seperti kerusakan fungsi alat gerak yang bersifat permanen, infeksi otak, kejang dan sebagainya. Pasca operasi nanti juga akan ada tindakan rehabilitasi medis seperti fisioterapi untuk membantu organ gerak bisa digunakan secara normal dan rehabilitasi lainnya. Sekarang keluarga banyak berdo'a saja agar operasi berjalan dengan lancar dan Pak Handoko bisa pulih kembali" lanjut dokter.


Mas Wisnu duduk bersama keluarga didepan kamar operasi, sama-sama melantunkan do'a dalam hati.


.


Keesokan harinya, Mas Wisnu menghubungi Bhree, janjian untuk ketemu di restoran dekat Rumah Sakit. Mba Fenti juga ikut serta agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.


Tama juga ikut mengantar Bhree, tadinya sudah ditolak, tapi Tama khawatir sama kondisi Bhree yang tampaknya tidak tidur semalaman. Dengan terpaksa Bhree menerima penawaran dari Tama.


Mba Fenti menemani Tama di meja yang lain, memberikan tempat untuk Bhree dan Mas Wisnu berbincang berdua. Keduanya juga menyadari ini adalah hal pribadi yang melibatkan orang tua Mas Wisnu dan Bhree.


"Ga nyangka ternyata wanita simpanan Papa itu Ibu kamu Bhree..." buka Mas Wisnu.


"Bhree udah pernah ketemu sama Pak Handoko, tapi ga tau kalo ternyata beliau Papanya Mas Wisnu. Dunia sempit banget ya Mas" jawab Bhree.


"Jadi kamu tau kalo almarhumah ... " ujar Mas Wisnu spontan.


"Berbuat zina? tau Mas.. malah sempat ngegep di rumah. Sebenarnya itu jadi salah satu alasan Bhree keluar dari rumah Mas" cerita Bhree.


"Oh... pantesan... Mas juga udah mikir, kalo sekedar beda pandangan kuliah, ga akan sampe kamu angkat kaki dari rumah. Pasti ada hal prinsip yang ga bisa kamu terima. Beda sama Mas yang memang hengkang karena ego yang tinggi dan ga mau diatur orang tua. Ya ingin hidup bebaslah.." kata Mas Wisnu.


"Ini kan aib ya Mas.. dulu berusaha nutupin semua. Dengan kejadian ini mau ga mau terbongkar. Gimana kondisi Pak Handoko sekarang?" tanya Bhree.


"Sudah dioperasi semalam, sekarang ada di ICU masih melewati masa kritisnya. Semoga hasilnya seperti yang keluarga harapkan" ucap Mas Wisnu.


"Pasti keluarga Mas malu ya atas kejadian ini. Mas sudah dapat laporan tentang kecelakaan kemarin?" tanya Bhree.


"Dugaan sementara kecelakaan tunggal karena pengemudi lalai dan ga fokus hingga menabrak pembatas jalan" tukas Mas Wisnu.


"Apa keduanya lagi becanda atau melakukan hal negatif di mobil ya sampai Pak Handoko ga fokus?" duga Bhree.


"Entahlah Bhree... ga ada yang bisa kita mintai keterangan sekarang ini. Sepertinya Mas duga keduanya lelah dan memaksakan diri ke Rumah Sakit untuk mengantar Ibu kamu kerja. Mas masih nyimpan HP Papa, sengaja Mas ga serahin ke polisi. Mas dikasih sama perawat IGD" papar Mas Wisnu.


Mas Wisnu menyerahkan HP milik Pak Handoko ke Bhree (HP Bu Diah sampai sekarang belum ketemu, kemungkinan diambil orang di TKP).


"Rasanya geli banget membaca chat orang tua kita" sahut Mas Wisnu.


Bhree membaca chat antara Ibunya dengan Pak Handoko. Isinya bisa dibilang menjijikkan sekali. Tidak sekedar chat nakal, tapi ada juga foto keduanya dalam kondisi yang amat sangat memalukan.


Bhree meletakkan HP nya Pak Handoko didepan Mas Wisnu.


"Mas bingung .. mau minta maaf pun rasanya ga tepat, kita sama-sama ga tau kenapa kecelakaan ini bisa terjadi. Tapi Mas merasa perlu menjaga kamu Bhree... Papa yang mengendarai mobil, jadi harusnya bisa membantu kamu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak" terang Mas Wisnu.


"Terus gimana kedepannya Bhree?" tanya Mas Wisnu.


"Ya mengalir aja Mas.. " kata Bhree.


"Kamu tinggal disalah satu rumah atau apartemen milik Papa aja Bhree. Mas dan keluarga akan bantu kamu buat kuliah, biar kamu lebih mandiri dan makin maju kedepannya" saran Mas Wisnu.


"Belum bisa mikir Mas" jawab Bhree lagi.


"Tapi Bhree... Mas minta ketemuan hari ini mau minta sesuatu.." ucap Mas Wisnu ragu.


"Minta apa Mas?" kata Bhree.


"Maaf Bhree kalo menyinggung perasaan.. keluarga minta Mas ngomong hal ini.. minta jangan ada tuntutan hukum akibat kecelakaan, kita damai saja. Tidak perlu jadi urusan pihak berwajib dan kami akan membiayai hidup kamu sampai selesai kuliah dan dapat kerja. Kamu tau kan kredibilitas Papa akan tercoreng dengan kasus ini jika dilanjutkan, makanya kami minta case closed. Kecelakaan ini menyebabkan korban nyawa, pasti pihak berwajib akan mengusut hal ini" Mas Wisnu berbicara dengan berat hati.


Bhree memandang kearah Mas Wisnu. Kemudian bangkit dari duduknya.


"Nyawa Ibu ga bisa dibayar dengan uang. Bhree ga silau sama harta yang Pak Handoko punya. Atas nama balas budi ke Mas Wisnu, Bhree anggap sudah selesai insiden kecelakaan ini. Percayalah Mas.. ga akan ada tuntutan hukum apapun ke Pak Handoko dari saya. Anggap semua ini atas bayaran kebaikan Mas yang baik dan menampung disaat terusir dari rumah. Kita jadi impas ya... Permisi..." kata Bhree sambil meninggalkan Mas Wisnu.


Tama langsung mengejar Bhree, Mba Fenti melihat kearah Mas Wisnu yang masih duduk terdiam.


🍒


Sudah seminggu pernikahan diam-diam Hari dan Lili, semua berjalan normal saja. Hari tetap mesra ke Melati. Tidur pun masih bersama Melati. Biasanya nanti dia akan mendekati Lili disaat Melati ga ada di rumah.


"Bang.. bisa minta tolong cek lokasi tempat warung baru mau dibuka ga didaerah Bekasi?" tanya Melati.


"Abang meriang banget nih sayang" jawab Hari sambil menggigil dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Semalam gapapa Bang.. badannya juga ga panas" ujar Melati sambil memegang dahinya Hari.


"Meriang kan ga harus panas badannya. Ga ngerasain sih" oceh Hari.


"Gapapa Abang ga ditungguin? soalnya ini mau ketemu sama pemilik tanah di Bekasi, orangnya susah ditemuin, mumpung bisa. Lokasinya bagus banget nih, depan Kantor kecamatan dan sampingnya sekolahan" cerita Melati.


"Gapapa.. pergi aja" jawab Hari.


"Nanti minta Lili nyiapin makan deh.. mau dimasakin apa?" tanya Melati.


"Sayang kan mau pergi, repot kalo masak dulu. Nanti beli aja deh, Lili kan masaknya belum enak" kata Hari.


"Namanya anak abege sekarang, pada ga pinter masak. Ya udah nanti Lili dititipin uang buat beli makanan. Dia keliatannya udah kelar semua kerjaan. Emang ga salah ya Bang, dia banyak bantu banget disini" ujar Melati.


"Sayang... bisa kerokin dulu ga?" tanya Hari.


"Mau buru-buru Bang.. minta tolong Lili aja" usul Melati.


"Yang bener aja dong sayang.. masa sama Lili" protes Hari.


"Ya kan Lili udah kaya anak sendiri, masa Abang malu. Nanti deh dipanggilin, Abang ga usah sungkan" ujar Melati yang sedang siap-siap mau berangkat.


"Sayang.. jangan lama-lama ya.. kangen kan, udah dua hari nih kita ga tempur. Sayang nolak terus sih, tumben...biasanya ga pernah nolak" kata Hari.


"Abis reparasi bagian itu Bang.. katanya kalo mau bagus, seminggu ga boleh berhubungan dulu. Sabar aja, kita lihat hasilnya. Kan buat bikin enak Abang juga" bisik Melati.


Melati mau pamit pergi, beliau berpesan ke Lili untuk mengunci pagar dan pintu rumah agar tidak ada maling yang masuk.


"Jadi Pak Hari di rumah sama saya aja Bu?" tanya Lili yang keliatan canggung.


"Bapak lagi sakit, paling ga keluar kamar. Nanti tawarin aja makan apa, sama kamu kerokin Bapak ya, lagi meriang" pinta Melati.


"Masuk kamar Ibu?" tanya Lili kaget.


"Gapapa Li.. kamu buka aja pintunya kalo ga enak. Atau minta Bapak duduk didepan TV kalo kamu malu. Anggap aja kaya ngurus Bapak sendiri Li" ucap Melati.