HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 36, Pertemuan



Haziq menjemput Ayahnya di Kantor Kementrian, jadi tadi pagi dari Bandara, dokter Raz langsung ke Kantor, belum bertemu sama keluarga.


Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.


"Yah.. Jadi fix Bunda Hana sudah nolak Ayah?" buka Haziq.


"Tumben Mas pengen tau, biasanya cuek aja sama Ayah" ucap dokter Raz.


"Mungkin karena Mas dan Raifa berharap lebih atas hubungan Ayah dan Bunda Hana" jawab Haziq.


"Itukan yang ngelamar Yangti. Coba nanti kalo Ayah sendiri yang ngelamar, pasti dia ga akan nolak" kata dokter Raz dengan pedenya.


"Ya Allah ... pedenya Ayahku ini" ujar Haziq.


Lalu mereka tertawa.


"Hana itu terlalu sensitif, Yangti maunya serba sat set sat set.. jadi ga ketemu deh frekuensinya" lanjut dokter Raz.


"Bunda Hana itu pandai menyimpan kesedihannya, apalagi kalo didepan orang lain" sahut Haziq.


"Justru itu kelemahannya, semakin dia tutupi, maka dia akan semakin terluka" jelas dokter Raz.


"Ayah masih suka hubungi Bunda Hana?" tanya Haziq.


"Hanya digrup chat aja. Secara pribadi udah ga lagi, ya sejak dia kasih jawaban ke Yangti" ucap dokter Raz santai.


"Gimana mau dapat pendamping Yah kalo masih aja selow" protes Haziq.


"Kaya yang ngomong punya pacar aja" ledek dokter Raz.


"Mas masih muda Yah.. Santaiii" jawab Haziq.


"Ayah harus menjaga izzahnya. Biar bagaimanapun status Ayah dan Hana itu rawan jadi omongan" papar dokter Raz.


"Iya juga sih, Mas mau coba telepon Bunda Hana ah, udah beberapa kali nelepon buat curhat, Alhamdulillah tercerahkan" ide Haziq semangat.


Haziq mengaktifkan bluetoothnya agar konek ke radio di mobil dan bisa didengar pembicaraannya bareng dokter Raz.


"Assalamualaikum Bunda.." sapa Haziq.


"Waalaikumsalam Mas Haziq, kayanya udah lama ga berkabar nih, ada apa?" tanya Hana.


"Maaf ya Bun, lagi persiapan seleksi masuk univ" kata Haziq.


"Oh iya, semangat .. Semoga apa yang Mas harapkan bisa terkabul" jawab Hana.


"Aamiin.. Nanti kalo Mas wisuda SMA, Bunda datang ya" pinta Haziq.


"Hehehe ga janji ya" jawab Hana tanpa pikir panjang.


"Kan undangannya Ayah Bunda, masa Ayah selalu datang sendirian" oceh Haziq.


"Memangnya Ayah kamu mau ngajak Bunda?" ledek Hana sambil tertawa.


"Pasti mau lah Bun, a.k.a ngarep.. Hahaha" goda Haziq.


"Bisa aja" jawab Hana.


"Bunda tuh manis tau, coba deh kalo dandan sedikit, terus pake baju yang sesuai, pasti akan lebih keliatan manisnya" papar Haziq.


"Wah pengalaman sekali nih Mas.. By the way Mas lagi didalam mobil ya? suaranya agak menggema" lanjut Hana.


"Ya.. lagi jalan pulang ke rumah" kata Haziq.


"Jemput Ayah ya? Kemarin Yangti bilang kalo Ayah balik hari ini, salam buat Ayah" ujar Hana.


"Kenapa ga sampein sendiri aja Bun? Ayah ada sama Mas" ucap Haziq penuh kemenangan.


"Assalamualaikum De...." dokter Raz langsung nimbrung.


"Waalaikumsalam Mas, wah iseng banget nih Mas Haziq.... ngerjain Bunda" kata Hana.


"Abisnya Bunda susah dihubungin kalo sama Ayah" alasan Haziq.


Haziq mematikan bluetooth dan menyerahkan HP ke Ayahnya. Selanjutnya percakapan yang Haziq dengar hanya kata ya, tidak dan begitulah.


.


Sesampainya di rumah, dokter Raz langsung melepas kangen ke orang tua dan anak perempuannya. Walau jaman sudah canggih, bisa video call liat wajah, tetap saja beda sensasi kangennya.


dokter Raz merasa anak-anaknya lebih bersikap manis, tidak seperti biasanya.


"Tumben banget ini anak-anak Ayah kangen sampe melukin begini" tanya dokter Raz.


"Emang ga boleh?" tanya Raifa.


"Ada maunya ya?" terka dokter Raz.


"Jangan nethink dong Yah" protes Raifa.


Mereka kumpul di ruang keluarga.


"Kurusan Raz" Abi langsung menilai.


"Mungkin cape kali ya, kadang daerah yang kita kunjungi itu cuma bisa ditempuh dengan berjalan kaki" cerita dokter Raz.


"Muka juga kucel banget" Ummi langsung menambahkan.


"Tapi tetep ganteng kan Mi..." jawab dokter Raz sambil tertawa.


"Ummi masakin kesukaan kamu tuh, gudeg lengkap" ujar Ummi.


"Alhamdulillah... Raz mau bersih-bersih dulu, nanti baru makan" jawab dokter Raz.


"Assalamualaikum.."


Sepertinya ada tamu. Ummi bergegas menuju pintu depan.


"Waalaikumussalam... Mari masuk..." jawab Ummi ramah.


Rupanya orang tua Hana, Hana dan Nabila yang datang. Ummi yang meminta mereka datang dan dijemput sama supir. Tadinya Hana menolak, tapi Ummi sangat gencar menghubungi orang tuanya Hana. Lagipula hari ini adalah wedding anniversary orang tua dokter Raz, jadi mereka ingin berkumpul dengan orang-orang yang tersayang. Adik dan keponakan dokter Raz juga sudah datang sejak tadi pagi.


dokter Raz masih memakai jaket, karena acaranya didekat kolam renang. Badannya sudah terasa kurang fit sejak tadi pagi, jadi untuk makan pun belum selera. Dia ga jadi mandi karena melihat Hana rasanya sudah segar.


Semua orang berbincang, tapi lama kelamaan mengatur agar dokter Raz dan Hana berdua saja didekat kolam renang.


"Boleh" jawab dokter Raz.


Hana menuangkan teh hangat yang sudah tersedia di meja kedalam cangkir kemudian menghidangkan didepan dokter Raz.


"Yang lain udah masuk makan, Mas ga makan?" tanya Hana lagi.


"Perut rasanya sebah.. belum enak kalo langsung diisi makanan berat. Siapa tau teh ini bisa meringankan sebah" jawab dokter Raz yang tetap mencoba cool padahal hatinya sangat gembira.


"dokter kok ga bisa swamedikasi" kata Hana.


"dokter juga manusia kali, bisa sakit juga walaupun udah minum obat" jawab dokter Raz yang tampak masih mengusap perutnya.


"Mau diambilin makan?" tanya Hana.


"Boleh.. Eh iya.. kok malam ini keliatannya lebih santai dibandingkan saat ditelepon?" lanjut dokter Raz.


"Ummi sangat baik selama ini, ga ada salahnya memberikan kado terbaik untuk beliau. Melihat anak kesayangannya bisa kumpul bareng keluarga dan tersenyum. So.. tersenyumlah sekarang" papar Hana.


dokter Raz bengong dengan jawaban Hana yang begitu lancar.


Entah karena memang gudegnya enak atau ada Hana yang menemaninya makan, dokter Raz sampai lupa kalo perutnya sedang bermasalah, dia makan sampai nambah tiga kali.


"Alhamdulillah kenyang banget" ucap dokter Raz.


Hana mengambil piring yang kosong, dia berniat mencucinya di dapur.


"Mas lusa ada undangan gala dinner dari kementerian, ikut ya.. dampingin Mas" pinta dokter Raz.


"Sorry ga bisa..." jawab Hana.


"Temenin lah, ini acara penting masa ga bawa gandengan" ucap dokter Raz.


"Biasanya juga jalan sendiri kan? Selama ini oke aja" jawab Hana lagi.


"Gak pernah sendiri tuh, ganti-ganti bawa pendampingnya" sahut dokter Raz.


"Wow...Laris manis ya..." Hana meledek.


"Ya iyalah" dokter Raz menjawab dengan pedenya.


"Ya udah kalo banyak pilihan kan gampang, tinggal tunjuk" sahut Hana.


"Biasanya Mas ajak anak atau adik, kali ini mereka ga bisa. Mas kan punya jabatan De, kayanya kalo ga bawa gandengan tuh gimana gitu" ucap dokter Raz.


"Ya ikut aja Han... Raz pasti akan jemput kamu sama supir, jadi ga mungkin berduaan aja di mobil" Ummi ikut nimbrung.


"Liat nanti aja Mi, kalo hari Selasa ada obat masuk di Klinik. Biasanya malah pulang malam buat rapihin obatnya" jelas Hana.


"Emang ga bisa datang pagian gitu obatnya? atau ganti ke Senin" tanya dokter Raz.


"Ga bisalah, emang kita Klinik nomer wahid yang bisa ngatur-ngatur kapan barang datang" ucap Hana.


"Ya sudahlah... up to you, debat sama kamu ga akan ada kelarnya" dokter Raz berjalan meninggalkan Hana dan bergabung bersama orang tua.


🍄


Keesokan harinya, Hana kaget melihat Hari datang ke Klinik.


"Gw butuh uang nih" kata Hari.


"Datang-datang minta uang, mana ada" ucap Hana agak kesal.


Hari mengeluarkan foto Hana saat mereka masih menikah. Ada foto tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya Hana. Rupanya Hari sering mengambil foto-foto seperti ini saat Hana terlelap, biasanya Hari mencampur obat tidur agar Hana tidak sadar ketika Hari mengambil foto.


Tentu saja Hana kaget melihat foto tersebut, dia buru-buru merobeknya.


"Mau dirobek juga gw masih punya masternya, tinggal cetak aja terus bisa disebarin" ancam Hari.


"Bang.. Kenapa masih jahat aja sih? Hana ga pernah ganggu Abang. Bahkan ga meminta uang ke Abang, kenapa Abang ngancam begini?" ucap Hana sedih.


"Intinya gw akan sebarin ini kemana-mana kalo Lo ga kasih uang sebanyak yang gw minta" ucap Hari dengan teganya.


"Apa untungnya Abang nyebarin foto itu? Hana bukan artis atau orang kaya, mana ada yang mau liat" tantang Hana dengan segenap keberaniannya.


"Gimana kalo dikasih ke dokter Farraz? siapa tau dia mau melihat apa calon istrinya ini seksi atau ngga. Siapa tau berubah pikiran" Hari tersenyum penuh kemenangan.


"Tau dari mana tentang dokter Raz?" tanya Hana.


"Tau dari mana itu ga penting, yang penting gw minta uang sekarang.. Dua juta aja buat gw kasih masternya" kata Hari.


"Mana ada Bang.. Nabila mau study tour ke Malang aja belum kebayar" jelas Hana.


"Ya ga usah ikutlah, kebanyakan gaya kaya orang kaya segala jalan-jalan. Anak tuh diajarin dari kecil biar ga hedon. Ntar kalo udah bisa cari duit sendiri baru deh boleh jalan-jalan" ucap Hari.


Hana malas untuk menjawabnya.


Suasana Klinik masih sepi karena memang baru akan buka jam delapan, sekarang masih jam tujuh pagi.


"Sini cepet bagi duit.. Atau foto ini akan ada ditangan dokter Raz" ancam Hari lagi.


"Kasih waktu buat cari pinjaman" jawab Hana.


"Nah .. Kalo gini kan kelar urusan. Kapan?" ucap Hari.


"Dua Minggu" jawab Hana.


dokter Raz masuk kedalam Klinik saat Hari akan keluar, keduanya berpas-pasan didepan pintu.


Hana melihat kejadian tersebut tapi hanya bisa terdiam.


"Klinik belum buka kok udah ada yang mau berobat?" tanya dokter Raz.


"Cuma daftar" jawab Hana berbohong.


"Kenapa De.. Keliatannya ada masalah? Belum sarapan?" tanya dokter Raz lagi.


"Udah.. Ada perlu apa kesini ya Mas?" kata Hana.


"Ngajak buat dampingin ke acara besok" jawab dokter Raz.


"Saya sibuk, Mas pulang aja kalo ga ada keperluan sama Klinik ini. Maaf ya" ujar Hana.


Dokter Raz memandang kearah Hana kemudian pamit pulang.