
Barra begitu sampai di rumah langsung berbincang dengan orang tuanya, menceritakan tentang amanah dari Pak Dasuki yang tidak bisa ia tunaikan.
"Barra .. kamu memang sudah janji, sudah usaha juga buat menyerahkan amplop itu. Hasil seperti ini diluar dugaan bukan? Berat memang sebuah amanah, tapi kamu memohon ampunan sama Allah saja, sambil berdo'a agar suatu saat, Allah takdirkan kamu bisa ketemu sama anak pemilik amplop itu" nasehat Bapaknya Barra.
Barra menceritakan hal ini karena dianggap perlu, umur ga ada yang tau. Jika dia berpulang sebelum amplop ini sampai ke tangan yang seharusnya, dia berharap orang tuanya bisa meneruskan amanah ini.
.
Jam enam pagi Barra sudah rapih dengan kemeja dan celana bahannya. Bersiap akan ke kampus karena ada acara orientasi untuk seluruh calon dokter spesialis di kampusnya.
Setelah pamit kepada kedua orang tua, Barra memacu motornya di jalanan yang sudah mulai ramai lalu lalang anak sekolah dan para pekerja.
Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) adalah calon-calon dokter spesialis yang akan menjadi expert dalam spesialisasinya masing-masing. Pendidikan spesialiasi menitikberatkan pada peningkatkan skill and knowledge melalui pengalaman menangani pasien secara langsung oleh residen (sebutan bagi para peserta PPDS).
Selama masa orientasi ini para residen tidak diberikan penugasan klinis untuk menangani pasien maupun jaga bangsal. Harapannya para residen bisa lebih fokus untuk mengikuti masa orientasi sampai selesai. Jadi yang membuka praktek diharuskan untuk mengambil cuti praktek selama dua minggu.
🍄
Tama bagai kehilangan arah, gairah untuk membuat konten mendadak drop, hal yang ga pernah dia rasakan sebelumnya. Bhree adalah cinta pertamanya sekaligus jadi wanita yang mematahkan harapannya untuk kali pertama.
Untung Tama masih punya beberapa stok konten yang belum tayang. Jadinya masih bisa di upload agar terus kontinyu ada konten yang dinikmati oleh pengikutnya.
"Bang.. Seminggu yang lalu Bhree pamit, sampai sekarang Abang belum bisa move on. Bhree itu lagi berjuang buat masa depannya, menghilang sejenak dari kita. Bukan selama-lamanya" nasehat Uli.
"Apa salahnya masih kontek-kontekan sama kita? nomer kita kayanya udah diblock semua, medsosnya udah dihapus. Ga ada penjelasan mau tinggal dimana..." ucap Tama.
"Mungkin keluarga besar Bapaknya yang pengen dia jadi sosok Bhree yang baru, kita ga tau apa yang lagi Bhree rasakan saat ini. Kita berdo'a aja, suatu saat akan dipertemukan lagi sama Bhree" sahut Bima.
.
Bhree memang hilang dari hingar bingar orang-orang dimasa lalunya. Cukup trauma dengan kenyataan Ibunya meninggal disaat sedang main gila dengan seorang lelaki. Bapaknya meninggal setelah mendonorkan ginjal untuk adiknya. Ditambah keluarga Pak Daliman memintanya untuk tetap menjaga rahasia kalo Bhree adalah anggota keluarga mereka.
Sekarang Bhree tinggal di Klinik, ada dua orang perempuan lainnya yang tinggal disana juga. Keduanya bagian kebersihan Klinik. Untuk satpam, berjaga diluar dan ada ruangan untuk tidur dibagian belakang pos satpam.
Tugas Bhree dibagian pendaftaran, dia bekerja Senin sampai Sabtu (Ahad Klinik tutup), mulai jam delapan pagi sampai lima sore. Selama bekerja dia memakai masker agar tidak ada yang mengenalinya.
Bhree akan berada di Jakarta hanya sekitar dua bulan saja. Selanjutnya dia akan meneruskan disebuah Poltekkes di Surakarta. Keluarga Pak Daliman sudah mengatur semua. Selama masa persiapan tes masuk kebidanan, Bhree akan mengikuti bimbingan belajar. Dia akan tinggal bersama Tante Debi yang pindah karena masih punya bisnis perlengkapan bayi dan spa bayi disana.
Untuk dapat berpraktik secara mandiri, maka seorang bidan diwajibkan mengambil pendidikan profesi, seperti yang diatur dalam Undang Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan. D4 Kebidanan dianggap setara dengan S1 Kebidanan. Sehingga dapat melanjutkan ke Pendidikan Profesi Bidan. Lain dengan lulusan D3 Kebidanan, mereka tidak bisa langsung melanjutkan ke Pendidikan Profesi Bidan. Jika ingin meneruskan pendidikan, lulusan D3 Kebidanan harus mengikuti program penyetaraan dengan mengambil studi S1 Kebidanan.
Bhree memutuskan mengambil D4 saja kemudian mengikuti pendidikan profesi setahun nantinya, agar bisa membuka praktek mandiri. Keluarga Pak Daliman awalnya meminta Bhree mengambil S1 tapi Bhree menolak.
🍒
dokter Raz kembali bergabung bersama tim untuk melanjutkan misi mereka keliling Indonesia, tinggal satu setengah bulan lagi. Sebelum berangkat, dokter Raz menemui Hana di Klinik.
"Mas ga mengikat kamu .. tapi satu pesan Mas.. lawan rasa takut kamu sendiri. Hadapi trauma dengan kepala dingin, jangan panik dan harus berusaha melindungi diri kamu sendiri. Mas tau mantan kamu masih suka kesini, seperti yang sering kamu bilang, ini adalah urusan pribadi kamu. So.. Mas ga akan ikut campur" kata dokter Raz.
"Makasih" jawab Hana singkat.
"Maaf juga kalo lancang sudah membayarkan biaya study tour Nabila. Biar dia punya pengalaman pergi bersama teman-temannya" ucap dokter Raz.
"Nanti saya usahakan untuk ganti Mas" lanjut Hana.
"Kamu boleh ganti kalo sudah kondisinya agak longgaran. Bantu Bapak dan Ibu kamu dulu. Saya ikhlas memberikan uang itu buat Nabila, ga ada niat apapun. Mengenai hati saya, tenang aja .. kita sama-sama sudah dewasa dan matang, pasti banyak yang harus kita pertimbangkan jika akan melangkah ke jenjang yang serius. Kita pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya, pasti ada luka disana. Ga hanya kamu, Mas juga merasakan hal yang sama meskipun dengan kisah yang berbeda" ucap dokter Raz.
"Mas.. Jaga kesehatan.. Keluarga menanti Mas pulang setelah misi kesehatan ini kan? Semoga Mas sukses kedepannya, segala kebaikan Mas dan keluarga ga akan saya lupain" tutur Hana.
Hana menyerahkan perhiasan yang dulu pernah diberikan kepadanya.
"Mas jual aja terus dipakai untuk membantu misi kesehatan Mas. Memang Mas pernah bilang untuk Mesjid, tapi kesehatan juga penting bukan? Ga seharusnya saya simpan ini lagi" kata Hana.
"Bisa tolong kasih ke Ummi aja? Saya mau langsung ke Bandara soalnya" pinta dokter Raz.
"Ya.. Nanti kalo libur, saya ke rumah Ummi" jawab Hana menyanggupi.
.
Keduanya berbincang dibelakang Klinik. Di kebun kosong.
"Begini kan urusan jadi enak .. banyak juga ya uang Lo, dalam waktu kurang dari seminggu udah ada. Tidur sama dokter itu ya? Hahaha" ledek Hari sambil menghitung uang.
"Bukan urusan Abang" jawab Hana jutek.
"Dia duda kan? Kenapa ga nikah aja sama dia? biar keluarga Lo yang penyakitan itu bisa berobat gratis" timpal Hari.
"Udah ga ada urusan lagi kan? silahkan pergi dari sini" usir Hana.
Hari mendorong tubuh Hana dan membekap mulutnya Hana. Tubuh Hana tersender di tembok. Jarak wajah keduanya sangat dekat.
"Lo masih cinta sama gw ya? gimana kalo kita rujuk? gw tau Lo kesepian.. Kalo mau sekedar nyari kepuasan pun gw bisa berikan, mau check in hotel atau nginap di villa? Sebut aja.. Nanti gw yang bayar semuanya" bisik Hari sambil mencium keningnya Hana.
Hana berusaha menolak. Tapi tenaga Hari lebih kuat darinya.
"Ga usah sok.. Lo suka kan?" ucap Hari.
"Heiiii .. Lepasin!!!!!" teriak dokter Raz yang sudah ada disana.
Rupanya dokter Raz balik ke Klinik karena ada map yang tertinggal di mejanya Hana. Mendengar ada suara mencurigakan, dokter Raz langsung mencari sumber suara.
Hari melepaskan Hana.
"Pak dokter.. Ini yang bakalan gantiin posisi gw.. Ngaca dok.. Udah tua masih mau kawin aja. Lagian matanya dokter harus diperiksa tuh, Hana ga ada cantik-cantiknya, mending cari cewe lain yang lebih seksi. Kita kalo punya uang tinggal jentik jari mau cewe model gimana juga bisa dapat" ucap Hari tanpa pikir panjang.
"Oh.. rupanya sang mantan cemburu?" jawab dokter Raz santai.
"Cuma kasih tau.. Gw kan udah pernah ngerasain. Hahaha.. Keliatannya doang kaya permata.. aslinya cuma kaca murahan" hina Hari.
"Mungkin Anda yang ga bisa bedain mana kaca dan permata.. Anyway.. pernah liat permata yang asli?" ucap dokter Raz menusuk.
Hari kesal dan meninggalkan Klinik.
Dokter Raz membantu Hana duduk di ruang tunggu Klinik. Rekan kerja Hana baru datang.
"Kenapa Han? Pucet amat.. Tangan juga berdarah gitu" kata rekan kerjanya Hana.
"Maaf.. Saya boleh ijin untuk mengobati Hana?" tanya dokter Raz.
"Anda dokter atau perawat?" tanya rekan kerja Hana.
"Saya dokter" jawab dokter Raz.
Dokter umum belum datang, jadi dokter Raz yang membersihkan tangan Hana yang tadi terkena besi yang menyangga buangan freon AC.
"Ga perlu dijahit ini, nanti minta obat aja ke dokter" kata dokter Raz.
Hana diam.
"Kalo dia datang dan macam-macam lagi, baiknya laporin ke polisi. Dia ngancam apa sih sampai kamu masih mau nemuin dia?" tanya dokter Raz.
Hana ga mau menjawab.
"Buka mata Hana... Mas ga masalah kamu menolak perasaan Mas, tapi jangan karena lelaki itu kamu jadi menutup diri. Tindakannya bisa jadi cermin siapa dia. Kamu sudah pernah mengalami KDRT, tau rasa sakit dan sedihnya. Masih mau jatuh di lubang yang sama?" ungkap dokter Raz.
"Jangan sampai ada yang tau kejadian tadi. Anggap aja Mas ga liat apa-apa" pinta Hana.
"Tangan berdarah dan memar begini kamu bilang ga ada apa-apa. Orang kaya dia ga layak dapat perlindungan dari kamu. Mas ga mau kamu terus dihantui masa lalu. Kalo mau move on dengan lelaki lain silahkan, tapi pilih yang bisa membahagiakan kamu" saran dokter Raz.
"Mas.. Kayanya jalan satu-satunya biar dia ga ganggu adalah menikah. Apa tawaran Mas masih berlaku?" tanya Hana spontan.
Dokter Raz kaget mendengar perkataan Hana. Meskipun beliau bahagia, tapi tetap harus berpikir realistis.
"Kayanya ga tepat membicarakan hal ini. Maaf.. Mas harus segera ke Bandara. Lain waktu kita bahas lagi. Dengan kesadaran penuh dan pikiran yang tenang pastinya. Nanti kita berkabar aja lewat telepon" saran dokter Raz.