
Hari Jum'at, Bhree libur kerja, dia membantu Mas Wisnu di studio foto. Menggunting dan memisahkan foto-foto anak sekolah per kelas. Mas Wisnu sedang kebanjiran orderan foto untuk anak sekolah. Para karyawan yang lain juga sedang melakukan hal yang sama seperti Mas Wisnu.
"Bhree .. jangan tersinggung ya.. sudah tiga bulan kamu ga ketemu sama Ibu, apa ga ada keinginan buat pulang?" tanya Mas Wisnu hati-hati.
"Ada Mas.. tapi tiap Bhree kesana, rumah selalu kosong. Ke Rumah Sakit juga Ibu ga bisa ditemui. Telepon sama chat hingga detik ini ga ada respon. Terus Bhree harus cari kemana lagi?" papar Bhree dengan rasa kecewanya.
"Sekarang kan kamu lagi libur, Ibu kamu juga jelas jam kerjanya dan ada dimana, apa ga coba kamu tunggu aja di Rumah Sakit pas jam pulang atau jam istirahat, masa sih ga ketemu" saran Mas Wisnu.
"Udah pernah kaya gitu Mas.. hasilnya nihil. Ibu lewat pintu yang lain kali. Entahlah Mas.. Bhree juga bingung" kata Bhree.
"Tapi itu Ibu kandung kan Bhree?" tanya Mas Wisnu heran mendengar ada Ibu yang tega berbuat seperti itu.
"Selama ini ga pernah Ibu bilang Bhree anak angkat, jadi anggap aja memang Bhree melakukan kesalahan fatal dan Ibu ga bisa terima" putus Bhree.
"Tapi ini kan bukan kesalahan yang ga bisa ditolerir Bhree. Kecuali kamu berbuat asusila atau tindakan melawan hukum, itu wajar kalo Ibu marah. Ini cuma karena kamu ga mau ikutin rencana Ibu buat lanjut di Akper.. kamunya juga jangan keras kepala Bhree. Mas udah ngalamin hal ini, ga semua orang bisa tahan dan berhasil" ujar Mas Wisnu.
"Nadanya Mas Wisnu kaya ga suka Bhree ada disini. Mas keberatan kalo Bhree tinggal disini?" tanya Bhree.
"Mas sebenarnya ga tega minta kamu keluar dari sini, tapi ada aduan dari masyarakat yang membuat RT setempat menegur Mas.. ya kamu paham kan Bhree? disini laki-laki semua dan kamu perempuan sendiri, ga elok juga dan khawatir terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan" ungkap Mas Wisnu jujur.
"Ya Mas.. Bhree juga lagi nyari kost atau kontrakan dekat tempat kerja, ya hitung-hitung ongkos yang biasa dikeluarkan ditukar buat biaya kontrakan. Maaf ya Mas.. gara-gara Bhree, Mas jadi kena tegur. Makasih ya Mas udah banyak bantu Bhree selama ini, ga tau deh kalo ga ada Mas Wisnu, gak kebayang nasib Bhree saat ini" ungkap Bhree.
"Selama Mas bisa bantu ya gapapa. Tapi ada masyarakat yang harus kita hormati juga" jawab Mas Wisnu.
"Udah dapat tempat kost atau kontrakannya?" tanya Mas Wisnu.
"Besok baru mau ketemu sama yang punya rumah Mas, jadi ada rumah dekat kantor yang kosong. Penghuninya sudah meninggal semua. Setengah tahun kosong. Adik yang punya sekarang pemiliknya, udah janjian besok mau datang buat ketemuan sama Bhree" cerita Bhree.
"Ga takut Bhree? rumah kosong dah enam bulan loh .. mana kamu mau tinggal sendirian disana" kata Mas Wisnu.
"Rumah itu terjaga kebersihannya, sama yang punya ini rutin seminggu sekali dibersihin, mereka juga kadang nginep disana. Tawarannya murah Mas.. udah sama perabotannya lagi. Mana ada di Jakarta kontrakan rumah dua kamar cuma lima ratus ribu, tapi diluar token listrik ya. Kayanya sih hitung-hitung ada yang bersihin dan jagain. Daripada kosong kan juga nanti malah jadi rumah hantu" lanjut Bhree.
"Yakin berani?" tanya Mas Wisnu meyakinkan.
"Ya mau gimana lagi Mas.. tapi sebelahnya rumah rapet-rapet kok, udah ngobrol juga sama tetangga sebelah rumahnya, ga horor disana" kata Bhree.
"Semoga kamu betah ya disana" ucap Mas Wisnu.
"Makasih Mas.. maaf ya sebelumnya .. mau tanya tentang Mba Fenti. Masih di Kampung atau udah balik ke rumah?" tanya Bhree perlahan.
Mas Wisnu menarik nafas.
"Ga usah dijawab deh Mas" putus Bhree.
"Entahlah Bhree .. mau dibawa kemana rumah tangga ini" jawab Mas Wisnu dengan nada pasrah.
"Maaf ya Mas.. semua gara-gara kehadiran Bhree. Apa perlu Bhree hubungi Mba Fenti atau menemuinya langsung buat jelasin semua?" tanya Bhree.
"Mas bisa handle sendiri. Kamu pikirin aja hidup kamu" saran Mas Wisnu.
"Sekali lagi Bhree minta maaf ya .. Bhree do'akan Mas dapat solusi yang terbaik buat rumah tangganya" harap Bhree.
ðŸ’
dokter Raz sudah kembali beraktivitas dengan timnya, tapi selepas rawat inap, beliau tidak ikut penyuluhan dan pengumpulan data secara langsung di lapangan, semua laporan dikirim ke Hotel tempat beliau menginap.
Malam ini selepas makan malam, dokter Raz memilih masuk ke kamarnya dibandingkan berbincang bersama rombongan tim. Dalam masa recovery seperti ini memang masih suka lemas dan agak pusing, jadi kalo ada waktu rehat lebih baik digunakan sebaik mungkin.
Rupanya ada pembahasan tentang HP Nabila yang rusak di grup chat Farraz Family. dokter Raz membaca chat yang lumayan panjang.
#Kata Bunda, selama masih berfungsi untuk komunikasi ya pake aja. Toh hanya kamera yang jelek, ga mengurangi fungsi komunikasi# tulis Nabila.
dokter Raz sangat paham kenapa Nabila berkata demikian, pasti sulit melewati hidup dengan kondisi orang tua yang bisa dikatakan pas-pasan bahkan cenderung kurang. Tidak terbesit sedikit pun untuk menawarkan beli HP baru buat Nabila, karena dokter Raz tau pasti Hana akan menolak. Tapi ide dari Haziq, anak sulungnya, membuat dokter Raz bangga. Jadi Haziq punya rencana mengajak Nabila dan Raifa untuk berjualan minuman di tempat olahraga di hari libur sekolah. Karena Haziq sudah punya SIM mobil, jadinya nanti berjualan pakai mobil milik dokter Raz.
Makin lama tergelitik juga sama pembicaraan anak-anak di grup, akhirnya dokter Raz komen juga.
#Ayah setuju sama idenya Mas Haziq. Ayah bisa kasih kalian modal, ingat ya modalnya harus dikembalikan, semangat nyari cuan biar bisa beli HP# tulis dokter Raz.
.
"Bun.. Mas Haziq dan Mba Raifa ngajakin dagang di tempat olahraga kalo weekend, nanti keuntungannya buat beliin HP Bila" adu Nabila.
"Ya.. tadi baca di grup" jawab Hana.
"Bunda ga marah kan ya?" tanya Nabila hati-hati.
"Ga enaklah jadi merepotkan mereka semua. Sabar aja sampe Bunda punya uang ya" jawab Hana.
"Iya Bu" lanjut Nabila.
Nabila memang terkesan anak yang penurut, tapi sebenarnya dalam hatinya ada rasa kurang menerima keadaan, hanya karena melihat kondisi Bundanyalah dia tidak mau mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
Sebagai seorang Ibu, Hana memang mencukupi semua kebutuhannya Nabila, tapi bersamaan dengan tanggung jawab sebagai orang tua tunggal, mau ga mau dia harus berjuang mencari nafkah sehingga waktu kebersamaannya dengan Nabila pun berkurang.
Komunikasi kurang intens diantara keduanya membuat sama-sama saling menahan diri untuk mengungkapkan perasaan. Hana tidak mau anaknya tau bagaimana sengsaranya dia melewati hari-hari dengan segala perjuangannya, Nabila pun tidak mau Hana kepikiran dengan segala kekurangan yang mendera.
🌿
Pak Daliman memanggil Dasuki untuk datang ke rumahnya. Dasuki dikirimi sejumlah uang yang dia ambil di Kantor Pos (karena tidak punya rekening tabungan).
"Jadi Mas Dasuki yang akan kita minta jadi donor ginjal buat Debi (adik bungsu Dasuki)?" tanya adiknya Dasuki.
"Siapa lagi yang mau? kemungkinan besar kan kalo masih keluarga bisa cocok. Kita sudah mengupayakan donor ginjal buat Debi, tapi selalu ga bisa terlaksana. Hidup dengan satu ginjal dan kondisinya ga bagus malah buat Debi tersiksa" papar Pak Daliman.
"Mas Dasuki datang disaat yang tepat" kata adiknya Dasuki.
.
Malam harinya, Dasuki sudah ada di kediaman keluarganya. Dia diajak makan malam dan berbincang ringan. Setelah makan, semua keluarga pindah ke ruang tengah.
"Dasuki... kedua adik kamu sudah berkeluarga, tapi belum ada yang punya anak. Bisa dibilang sekarang hanya anak kamulah yang bisa Papa harapkan. Meskipun Papa belum membuat wasiat tentang warisan untuk kamu dan anak kamu" buka Pak Daliman.
Semua keluarga menujukan pandangan pada Pak Daliman.
"Sekarang kondisi Debi makin lemah. Dia sudah banyak berbaring di kamarnya. Tadi kamu liat sendiri kan keadaannya seperti apa.." kata Pak Daliman.
"Debi sakit apa Pah?" tanya Dasuki.
"Kecelakaan yang membuat ginjal kanannya hancur. Hidup dengan satu ginjal dan mobilitas yang tinggi membuatnya gampang lelah. Sekarang ditambah dia terdiagnosa auto imun, makinlah terpuruk dalam sakit yang berkepanjangan. Papa ga mau banyak basa-basi.. Dasuki... Papa ingin kamu donorkan ginjal kamu buat Debi, sebagai bayarannya, anak kamu akan Papa biayai secara penuh untuk kuliah, uang saku dan keperluan lainnya. Bagaimana?" tembak Pak Daliman.
"Ya.. saya bersedia" jawab Dasuki tanpa berpikir panjang.
Sejak awal Dasuki sadar, datang kembali ke keluarga dan mengemis agar Bhree bisa kuliah, pastinya tidak akan gratis. Jadi apapun yang akan diminta oleh keluarga pasti dia akan terima, termasuk nyawanya sekalipun.
"Kapan kita bisa mulai pemeriksaan kesehatan? semoga ginjal kamu cocok buat Debi. Sebelum semuanya terlambat" ucap Pak Daliman.
"Besok bisa, saya sudah ijin kesini selama tiga hari" jawab Dasuki.
"Mas... Hidup dengan satu ginjal memang dapat dilakukan. Tapi tentunya tidak terlepas dari resiko yang menyertainya. Ketika tubuh hanya memiliki satu ginjal, maka organ tubuh tersebut perlu bekerja ekstra untuk menyaring darah" jelas singkat adik iparnya Dasuki yang seorang dokter umum dan sekarang sedang mengambil spesialis orthopedi.
"Mas tau.. tapi yang terpenting saat ini adalah masa depan Bhree" jawab Dasuki.
.
Hari makin berada diatas angin, setiap ada kesempatan mendekati Lili pasti selalu dimanfaatkan olehnya. Sejauh ini Lili masih mencoba untuk melawan meskipun pada akhirnya pelukan dan ciuman paksa tidak bisa dihindari. Jika Hari mulai meraba tubuhnya, Lili berusaha berontak dan lari keluar rumah.
Sebenarnya sudah tidak nyaman hidup seperti ini, tapi desakan ekonomi membuatnya sulit untuk memutuskan pergi dari sini.
Melati pun tidak pernah menaruh curiga terhadap suaminya, dia santai aja meninggalkan rumah dimana hanya ada Lili dan Hari.
"Li.. gimana..mau ga?" tanya Hari.
"Jangan ya Pak" jawab Lili.
"Gimana kalo kita nikah siri aja, yang penting sah. Abang udah ga tahan nih bisa bercinta sama kamu" rayu Hari.
"Bapak kan masih ada istri, saya ga mau disebut pelakor" kata Lili.
"Kamu ga ngerebut Abang, tapi Abang yang jatuh cinta sama kamu" ujar Hari.
Lili mendapatkan telepon dari Bapaknya. Beliau bilang harus operasi usus buntu karena merasa kesakitan yang amat sangat. Makin bingung saja Lili menghadapi hal ini. Dia coba menelepon Ibunya, tapi Ibunya tidak mau membantu.
"Kenapa lagi Li?" tanya Hari.
"Bapak harus di operasi Pak.. uang dari mana coba?" ungkap Lili sedih.
"Ada apa Li? kok nangis" ujar Melati yang baru masuk ke rumah.
Lili malah tambah nangis.
"Kenapa dia Bang?" bisik Melati.
"Bapaknya harus di operasi" jawab Hari.
"Kamu mau pulang kampung Li?" tanya Melati.
"Mau Bu.. tapi bingung biaya operasinya dari mana?" tanya Lili.
"Bang.. antar Lili ke Kampung, Abang urus semua urusan operasi Bapaknya Lili. Seminggu disana cukup?" perintah Melati.
"Tanya anaknya" ucap Hari.
"Gimana Li?" tanya Melati.
Lili langsung memeluk Melati.
"Makasih ya Bu.. makasih banget.. Lili ga tau harus bagaimana membalas jasanya Ibu" kata Lili disela tangisnya.
"Udah.. kamu kan sudah seperti anaknya Ibu, berhenti nangis, sana rapih-rapih bajunya. Berangkat sekarang juga" lanjut Melati.
"Naik apa?" tanya Hari.
"Sekarang Abang kuat ga nyetir?" tanya balik Melati.
"Kuatlah.. paling cuma tiga jam, kalo cape ya melipir dulu" jawab Hari.
"Terserah aja, yang penting selamat sampai tujuan. Sekarang saya transfer ya ongkosnya dulu, nanti kalo sudah di Rumah Sakit akan ditransfer lagi" ucap Melati.
"Kamu baik banget sih sayang.. jadi makin cinta deh" rayu Hari.
"Abang juga rapihin baju, biar cepet jalan" ucap Melati.
Lili masuk ke kamarnya untuk merapihkan baju yang akan dibawa. Hari menarik lengannya Melati untuk masuk kedalam kamar.
"Sayang.. seminggu nih disana ... bakalan kangen" bisik Hari dengan nakal.
"Bang.. seminggu sebentar kok" jawab Melati.
"Tapi kan udah seminggu Abang ga dapat jatah" lanjut Hari.
"Bang.. saya masih pendarahan lagi. dokter udah bilang jangan berhubungan suami istri dulu sampe darahnya berhenti. Tiap hari kan juga udah manual" kata Melati.
"Bedalah sayang..." sahut Hari memanja.
"Gimana kalo Abang nikah lagi.. ya buat muasin Abang" usul Melati.
"Jangan gila deh sayang.. cinta Abang udah mentok banget sama sayang seorang.. ga ada yang lain" ujar Hari sambil mendekap istrinya.
"Tapi kalo begini terus .. saya kasian sama Abang, masih pingin-pinginnya tapi ga bisa dilayani" jawab Melati.
"Udah ah.. ga usah dibahas lagi, Abang ga mau menduakan kamu sayang" ungkap Hari sambil merapihkan bajunya.
"Abang emang lelaki the best, ga salah pilih deh. Inilah yang buat bisnis jadi makin lancar, punya suami yang penuh cinta dan mensupport istrinya lahir dan batin" sahut Melati.
"Sayang.. pokoknya segalanya buat kamu" rayu Hari makin menjadi sambil menjatuhkan tubuhnya Melati ke kasur dan meminta istrinya untuk melayani hasratnya.
Melati membuka bajunya, Hari memang suka melihatnya tanpa sehelai kain.
"Ayolah sayang..." ajak Hari.
"Masa lewat belakang Bang? bukannya dosa ya?" tanya Melati.
"Istri harus taat kan sama suami? jadi apapun yang suami minta ya harus mau" jawab Hari.
Melati pasrah, dia memang selama ini menolak permintaan Hari untuk digauli dari belakang, tapi karena penasaran pernah dipertontonkan video tentang bagaimana cara berhubungan seperti itu, jadinya dia setuju untuk mencoba.
Hanya tiga menit, Melati sudah minta untuk berhenti, rasanya sangat sakit katanya. Hari yang belum merasa tuntas langsung meminta Melati melakukan cara manual sebagai lanjutan.
.
Setelah mandi, Hari bersiap pergi. Mobil sedang di cek kondisinya. Dia juga memasukkan ban cadangan untuk berjaga-jaga.