HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 75, Kegiatan



dokter Raz ada seminar di Jogjakarta, karena acaranya dekat sama rumah orang tua dokter Raz, akhirnya membawa Hana kesana sekalian. Hana memang belum pernah menginjakkan kakinya disana. Tadinya mau naik pesawat, tapi tidak ada tiket yang jamnya malam, akhirnya naik kereta sekitar Maghrib.


Anak-anak tidak ikut karena sekolah dan kuliah. Jadi perjalanan ini sebagai bulan madu buat dokter Raz dan Hana. Pengalaman naik kereta mahal pun baru kali ini dijalani Hana, jadi agak sedikit norak karena AC nya sangat dingin, memang disediakan selimut, tapi rasanya masih menembus kedalam tubuh Hana. Dia ga bawa jaket, akhirnya memakai jaket yang dikenakan oleh dokter Raz.


"De.. mau makan ga?" tawar dokter Raz.


"Emang ada yang jualan makanan?" tanya Hana.


"Ada.. Tapi menunya udah paketan gitu, nasi box, tuh sebentar lagi juga kita ditawarin" kata dokter Raz.


Hana memilih nasi sei sapi dan teh hangat, sedangkan dokter Raz memilih nasi ayam bakar dan air mineral. Keduanya saling sharing makanan.


.


Saat dokter Raz seminar, Hana bersama mertuanya di rumah. Karena sewaktu menikah tidak semua diundang, jadinya mertua Hana memperkenalkan menantunya ke saudara dan tetangga sekitar sana.


Memang tetangga sana penasaran sama sosok Hana. Karena lumayan banyak tetangga sini yang dulu dikenalkan ke dokter Raz untuk dijadikan istri, tapi selalu dokter Raz menghindar. Bayangan mereka istrinya dokter Raz itu kaya artis ibukota yang cantik, langsing dengan kulit putih, wanita modern yang punya karier cemerlang. Tapi kenyataannya justru kebalikannya, Hana adalah sosok sederhana, tubuhnya kurang ideal dan hanya Ibu rumah tangga biasa.


Namanya mulut orang, tidak bisa ditahan. Ada aja yang membandingkan Hana dengan wanita-wanita yang pernah dijodohin sama dokter Raz selama ini.


dokter Raz yang mendengar hal tersebut membungkam dengan cara unik, ga pakai kata-kata tapi perbuatan.


Sore ini sepulang seminar, Hana menyambut di teras dan mencium tangan suaminya. dokter Raz balik membalas dengan mencium pipinya Hana kemudian merangkul pundaknya Hana. Sesekali menatap Hana yang ada disebelahnya, bahasa tubuhnya dokter Raz ingin menunjukkan kesemua orang kalo dia bahagia bersama wanita pujaannya serta bersamanyalah beliau akan menghabiskan sisa usia sampai nanti menutup mata.


🌿


"Gimana sih.. motong rem begitu aja ga bener?" tanya Zaki.


"Sudah Pak.. Tapi mereka beruntung karena lalu lintas ga rame jadi bisa mengurangi kecepatan dan sengaja nabrakin mobil ke pohon biar berhenti" alasan Hari.


"Ada ide lain ga buat Bhree celaka?" sahut Amalia.


"Gimana kalo bikin dia trauma terus kabur atau bahkan bunuh diri? Jadi ga perlu kita repot-repot ngilangin dia" tawar Hari.


"Mau diapain emangnya?" tanya Zaki.


"Rudapaksa" jawab Hari.


"Bener juga ya.. kan dia bisa stress terus pergi atau bunuh diri.. Emang otak kamu canggih Har" ucap Zaki.


"Gimana caranya coba? Ga mungkin di rumah ini. Dia kan selalu diawasi sama Papa" lanjut Amalia.


"Dia pulang kerja kan bawa motor sendiri, saya pelajari dulu rutenya, atau nanti dibuat motornya bermasalah jadi mogok di jalan. Yang penting saya butuh mobil yang ga dia kenali aja, biar bisa nyulik dan bawa dia pergi" papar Hari.


"Gampang itu.. kita bisa nyewa" jawab Amalia.


"Pokoknya Har.. Jangan sampe Bhree diajak test DNA atau Papa mengubah surat wasiatnya. Kita harus bertindak cepat. Masalah bonus kalo rencana kita berhasil itu bisa diatur" kata Zaki.


"Boss santai aja.. Hari gitu loh.. apa yang ga bisa" sombong Hari.


🌿


Tama masuk kedalam ruang konsultasi dokbar, dia membawa seorang anak yang tangannya terlihat bengkak.


Pagi ini Bhree tidak bertugas dibagian rawat jalan, dia sedang membantu di ruang bersalin karena ada lima Ibu akan melahirkan, sedangkan bidan yang berdinas hanya empat orang. Jadinya ambil bala bantuan dari bidan yang ada di poli. Sudah biasa terjadi kalo junior pasti akan dikorbankan, menunggu pasien melahirkan waktunya bisa lumayan panjang ketika berdinas, makanya senior lebih memilih di poli karena begitu jam kerja selesai bisa langsung pulang.


"Pagi dok" sapa Tama.


"Pagi.. " jawab dokbar ramah.


"dok.. Saya bawa anak ini untuk dicek kondisi tangannya, jadi dia katanya jatuh pas lagi main, terus diurut, hari ini bengkak kaya gini dok" cerita Tama.


"Naik dulu ke bed, saya mau liat" pinta dokbar.


dokbar membuka kain yang membungkus tangan anak tersebut. Kemudian melihat kondisi tangannya.


"Di rontgen dulu ya, saya mau liat apa ada patah atau tidak dibagian dalam" kata dokbar.


Pasien dan Tama menuju ruang radiologi.


Setengah jam kemudian, hasil rontgen basahan diserahkan ke dokbar.


"Gimana dok?" tanya Tama.


"Adiknya ya Mas?" dokbar balik bertanya.


"Bukan dok.. jadi ini anaknya Ibu tukang sayur yang keliling dekat toko saya. Single parent dan punya dua anak, saya kasian liat anaknya ikut dagang dengan kondisi tangan kaya gini, udah saya bawa ke Klinik, kata dokter disana lebih baik konsultasi ke dokter ortopedi, makanya saya kesini dok" jelas Tama.


"Ini memang ada patah, tapi bisa kita gips dulu, ga perlu dilakukan operasi. Pada dasarnya setiap tulang yang patah bisa tersambung kembali, tapi kalo dokter itu merapihkan patahan agar tersambung dengan baik, sedangkan ahli patah tulang ya asal nyambung aja ga tau persis letaknya miring atau tidak. Saya minta waktu boleh? Mau terima dua pasien konsultasi dulu. Nanti baru saya gips tangannya, sambil dipersiapkan untuk pemasangan gipsnya ya" papar dokbar.


"Boleh dok.. Saya tunggu diluar" jawab Tama.


Tama menunggu di ruang tunggu pasien rawat jalan. Dia sibuk dengan HPnya sehingga tidak melihat Bhree yang lewat didepannya tengah menjemput pasien dari IGD ke ruang bersalin.


Bhree pun tidak menyadari ada Tama disana karena selain memakai masker, dia juga langsung fokus menuju lift. Pasien juga sudah kesakitan, jadinya Bhree mencoba untuk menenangkan.


"Kenapa berdebar ya? debar yang sama tiap dekat Bhree. Dimana kamu sekarang Bhree? Apa kabar? Masih sendirikah?" tanya Tama dalam hatinya.


Setelah antrian pasiennya sudah tidak ada lagi, dokbar mempersilahkan Tama masuk kembali. Dengan cekatan dokbar memasang gips ke pasien, dia dibantu oleh dua orang perawat.


"Nanti sekitar enam atau delapan minggu, balik kontrol ya, di cek lagi apakah sudah bagus nyambungnya. Setelah bagus baru gips dilepas, lanjut fisioterapi untuk memulihkan kondisi tangan" papar dokbar.


"Baik dok terima kasih" jawab Tama.


dokbar menuliskan FOC dinota konsultasi (setiap dokter berhak menulis free of charge/tidak dikenakan biaya konsultasi atau tindakan yang dilakukan kepada pasien, sebagai konsekuensinya dokter tersebut tidak mendapatkan jasa medis dari pasien yang digratiskan).


.


Jam dua siang, dokbar menuju ruang operasi, akan ada tindakan operasi dua pasien yang dijadwalkan nanti jam empat sore. dokbar rencananya mau rehat sejenak di ruang dokter yang ada di kamar operasi.


Baru dia mau berbaring, teleponnya udah berdering.


"dok... masih di Rumah Sakit kan? Bisa ke IGD sekarang?" ucap perawat IGD.


"Ada apa?" tanya dokbar.


"Anaknya Pak Handoko jatuh, Pak Handoko sekarang di IGD minta dokter spesialis aja yang periksa" jawab perawat.


"Pak Handoko siapa?" ucap dokbar.


"Pemilik Rumah Sakit ini dok" kata perawat.


"Ohhh Big Boss.. lima menit lagi ya, ini lagi di kamar dokter lantai dua" ujar dokbar.


.


"dok.. Ini hasil rontgennya" lapor dokter IGD ke dokbar.


dokbar mengamati dan menelaah.


"Mas jatuhnya nahan pake bahu ya?" tanya dokbar.


"Ya dok.. saya lagi fotoin pasangan prewed, lagi bikin videonya, jadi naik di mobil pickup, eh ga sadar udah pinggir banget, pas mobil belok langsung jatuh. Saya nahan kamera biar ga terlempar dok" cerita Mas Wisnu.


"Mentingin kamera ya daripada bahu.. Tapi it's okay.. ini dislokasi sendi ringan aja kok. Nanti saya benerin lagi letaknya, ga perlu operasi. Bisa tahan sakit ya Mas?" tanya dokbar.


"Kaya dikretek-kretek gitu dok?" ujar Mas Wisnu.


"Ya hampir mirip, tapi saya kurang tau apa yang melakukan kretek itu belajar tentang tulang dan sendi atau tidak. Jadi Mas, sendi bahu kan sendi dengan ruang gerak paling luas pada tubuh dan rentan mengalami cedera, salah satunya ya dislokasi ini. Kondisi tulang bergeser dari posisi normalnya pada sendi. Nanti setelah dibenerin letaknya, pake arm sling dulu sekitar seminggu ya, sama jangan beraktivitas berat menggunakan tangan kanannya" jelas dokbar.


"Ya dok.. dokter ini yang pernah foto sama saya ya? temannya Bhree kan?" tanya Mas Wisnu.


"Oh iya Mas.. pantes kok saya kaya pernah ketemu, ternyata Mas fotografer toh. Oke ya .. kita mulai, ini gigit dulu handuk kecil, dibius lokal biar ga terlalu sakit, tapi kalo masih berasa sakit tolong jangan teriak-teriak di IGD, nanti dikira ada tindak kejahatan disini" canda dokbar.


"dokter ini orangnya santai dan suka becanda kayanya. Bagus dok begitu, biasanya pasien tegang kalo udah urusan sama tulang dan sendi" ujar Mas Wisnu.


Sekitar setengah jam dokbar mengobati Mas Wisnu. Pak Handoko yang ada disana penasaran dan melihat langsung, tapi beliau malah begidik ngeri melihat dokbar melakukan gerakan untuk mengembalikan posisi sendi yang bergeser.


"Ya ampun dok, sampe nangis saya nahan sakitnya" ucap Mas Wisnu.


"Itu udah dikasih pain killer juga sebelumnya. Oke deh Mas.. Saya resepkan beberapa obat, rehat dulu disini sampai agak enakan. Saran saya off kerja selama seminggu kedepan. Jika ada keluhan bisa datang kesini lagi" kata dokbar.


"Ya dok.. makasih banyak" ujar Mas Wisnu.


"Sudah tugas dokter Mas .. Saya pamit dulu, mau ada jadwal operasi sebentar lagi" tukas dokbar.


Pak Handoko berbincang sebentar dengan dokbar, kemudian dokbar menuju ruang operasi karena sudah ditunggu.


"dok.. dokter anastesi ondewei.." lapor perawat ruang operasi saat dokbar sedang mencuci tangannya.


Kemudian perawat membantu memakaikan baju tindakan operasi dan dipastikan kondisi dokbar sudah steril.


"dokbar makin kesini makin cakep aja" ledek perawat lelaki yang tadi membantu dokbar.


"Serem amat nih yang ngomong cowo" sahut dokbar.


"Ya ga menyimpang dok, tapi beneran setelah jadi spesialis lebih keliatan seger, ga pusing kuliah lagi ya dok?" bincang perawat.


"Bisa jadi.. Paling ga sekarang udah kenal tidur biar kata sebentar. Selama PPDS kayanya mewah banget tidur sejam juga" ucap dokbar.


Setelah semua dokter dan perawat lengkap berkumpul. Perawat membacakan kondisi pasien yang tertulis di medical record pasien, mulai dari datang hingga menjelang operasi. dokbar sebagai operator memimpin do'a bersama untuk kelancaran operasi.