
"Tumben Kak nongkrong disini?" tanya perawat.
"Bayi lagi ga banyak, sekalian kan mau ngobrol tentang Bapak yang tadi. Oh ya dokbar, dapat salam dari anak perina, katanya dokbar sombong sekarang, udah ga main ke perina lagi" jawab Arni.
"Yang nyariin anak buahnya atau kepalanya nih?" ledek dokbar.
Para perawat menahan tawa.
"Ihhh.. sejak kapan seorang dokbar genit kaya gini? Ketularan anak rawat inap nih" kata Arni.
"Gitu aja dibawa serius. Lagi sibuk nih, kan di ruang rawat banyak yang dikerjakan, beda sama di IGD. Kemarin seminggu juga sempat ditugasin secara khusus buat ngawasin pasien yang di VIP itu loh" jelas dokbar.
dokbar dan Arni memang cukup lumayan akrab. Sering ketemu dipelatihan internal. Keduanya kerap kali ketemu saat membeli makan siang atau dokbar kadang main ke perina. Biasanya banyak undangan makan-makan disana.
"dok.. saya masih belum siap nih ikut pencalonan kepala perawat, kayanya masih belum pantas. Calon yang lain lebih bagus" adu Arni.
"Kalo udah masuk bursa pencalonan ya artinya udah pantas" jawab dokbar santai.
"Ngomong sama dokbar ga bisa serius deh.. beneran ini saya lagi curhat dok" protes Arni.
"Nanti kalo saya seriusin ada yang cemburu ga?" ledek dokbar.
"Fix dokbar udah terkontaminasiiii... Please dok.. balik jadi dokbar yang cool" pinta Arni.
"Percaya pada putaran roda kehidupan yang sudah Allah tuliskan buat kita. Jalani prosesnya, kasih yang terbaik dari yang kamu bisa lakukan. Pihak manajemen juga ga akan asal pilih. Do the best.. Fighting..." saran dokbar.
Suster Arni langsung merasakan rasa yang tak biasa terhadap dokbar. Caranya memberikan semangat meskipun simple tapi berkesan.
dokbar tersenyum manis kearah Arni, demikian pula sebaliknya.
"Ehemm... Ehemmm...." dehem seseorang didepan nurse station.
Arni dan dokbar spontan melihat keasal suara. Rupanya Manager Yanmed sedang keliling.
"Maaf dok.. " ucap dokbar dan Arni barengan.
"Serius banget diskusinya sampe tatap-tatapan gitu. Hati-hati jatuh hati loh..." ledek Manager Yanmed.
"Lagi bahas keluarga pasien dok" ucap dokbar pelan.
"Sejak kapan seorang dokter Barra jadi rumpi?" goda Manager Yanmed.
"Tuh kan.. Tadi saya juga bilang begitu dok, sekarang dokbar udah beda, ga sekalem dulu" ucap Arni spontan.
"Arni... balik kandang, udah anter bayi-bayi kan? Mendingan kamu bikin laporan sana" pinta Manager Yanmed.
Arni pamit ke ruangan perina.
"dokbar.. Mulai besok balik ke kamar VIP lagi ya, rencananya malam ini kedua pasien akan dipindahkan dari ICU ke kamar rawat, kondisinya sudah stabil" jelas Manager Yanmed.
"Siap dok, ada perubahan jam atau masih tetap sama?" tanya dokbar.
"Masih sama.. Nanti sebelum pulang, tolong mampir dulu ke ICU untuk tanya-tanya tentang pasien ya, biar paham secara garis besar kondisi terkini pasien" lanjut Manager Yanmed.
"Ya dok" jawab dokbar.
🍄
dokter Raz akan kembali ke Jakarta dulu selama tiga hari, ada tamu dari luar negeri yang akan memberikan bantuan dana untuk pengentasan kasus TB pada anak di Indonesia. Beliau sudah memberitahukan ke keluarga tentang hal ini.
Orang tua dan anak-anak dokter Raz tentunya bahagia mendengar hal ini. Mereka berencana untuk menjemput dokter Raz di Bandara, tapi dokter Raz bilang akan dijemput oleh pihak kantor.
"Raz.. kamu oke kan?" tanya Ummi saat dokter Raz menelepon.
"Alhamdulillah sehat wal'afiat .. Kalo yang Ummi maksudkan itu ada hubungannya sama Hana, nanti akan Raz urus setelah program ini selesai. Raz butuh waktu berbincang yang benar-benar intens sama dia untuk menjelaskan semua hal. Ummi ga usah khawatir ya, Raz janji sama Ummi untuk membuka hati kepada siapapun. Raz akan carikan mantu buat Ummi, partner yang bisa membesarkan anak-anak bareng Raz dan wanita spesial sebagai penyemangat Raz. Sebenarnya dengan timbul rasa cinta Raz ke Hana, artinya Raz masih bisa membuka hati kan? Jadi kedepannya Raz harap bisa melakukan hal yang sama. Raz juga kembali berpikir Mi.. Kita memang terlalu terburu-buru terhadap Hana. Sabar ya Mi.. Anakmu ini sedang menjalankan tugas negara dulu" kata dokter Raz panjang lebar.
🍒
Jam dua malam, HP nya Bhree berbunyi, ada panggilan masuk dari Bapaknya. Dia langsung mengangkat.
"Assalamualaikum Pak.. Apa kabar?" sapa Bhree.
"Waalaikumsalam.. Ini Mba Shabreena?" tanya sang penelepon.
"Iya.. ini HP Bapak saya kenapa yang nelepon orang lain?" tanya Bhree bingung.
"Kamu ke Rumah Sakit Cinta Medika sekarang, Bapak kamu ada disini. Kondisinya menurun, tadi sempat menyebut nama kamu" jelas sang penelepon.
"Tapi Bapak ga bohong kan? Bener Bapak saya ada di Rumah Sakit?" tanya Bhree meyakinkan.
Bhree bangun dari tempat tidur dan menuju kamar Mba Uli. Dia menjelaskan tentang telepon yang baru dia terima.
"Kebetulan Bang Tama tidur di Ruko, gimana kalo kita minta tolong aja sama dia. Kita kan cewe nih, takut aja naik taksi tengah malam begini" saran Mba Uli.
Tanpa pikir panjang, Bhree menelepon Tama. Dia menceritakan semuanya. Tama bersedia, tapi minta waktu sekitar lima belas menit untuk merapihkan diri.
.
"Bapak kamu kenapa Bhree ada di Rumah Sakit?" tanya Tama.
"Ga nanya" jawab Bhree.
"Panik boleh.. Tapi logika harus tetap jalan. Ga takut kalo penipuan?" tanya Tama lagi.
"Kalo penipuan ga mungkin pake nomer HP Bapak, udah gitu ketemuan di Rumah Sakit pula" jawab Bhree.
.
Setengah jam kemudian, Bhree sudah sampai di Rumah Sakit.
"Maaf.. Apa Mba ini bernama Shabreena?" sapa seorang lelaki yang sudah menunggu didepan pintu utama.
"Ya.. Bapak siapa?" tanya Bhree.
"Saya asistennya Pak Daliman.. yang tadi menelepon Mba. Mari Mba.. Ikut saya" jelas lelaki tersebut.
Bhree, Tama dan Uli mengikuti langkah Bapak itu menuju lantai tiga, kemudian menuju depan pintu ICU.
"Keluarga Tuan Dasuki?" panggil dokter.
"Saya dok.. Saya anaknya..." jawab Bhree.
Keluarga Pak Daliman langsung menoleh kearah Bhree.
"Yang sabar ya Mba.. kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Pak Dasuki tidak bisa terselamatkan. Kami turut berduka cita" ujar dokter.
Tubuh Bhree lemas dan langsung ditangkap oleh Tama dan Uli.
Keluarga Pak Daliman langsung menghampiri Bhree dan ada pula yang berbicara dengan dokter.
"Kenapa bisa begini dok? Jam tujuh malam keliatannya oke-oke aja, dipindah ke kamar rawat juga pakai kursi roda dan sadar. Kok bisa jam sebelas malam pas perawat memeriksa infusan katanya sudah ga sadar, kan dia tidur dok" tanya Pak Daliman.
"Kondisi pasien saat itu sempat henti jantung, sudah diberikan pertolongan pertama dan bisa terdeteksi lagi. Pasien langsung dibawa kembali ke ICU, tapi didalam kondisinya makin kearah perburukan" jelas dokter.
"Katanya tidak beresiko dengan tindakan operasi transplantasi ginjal, baik donor maupun penerima dinyatakan sehat" protes Pak Daliman.
"Sudah dijelaskan sebelumnya oleh dokter, resiko sekecil apapun bisa terjadi jika sudah dilakukan pembedahan, tidak ada dokter yang bisa memberikan garansi 100% tidak terjadi apa-apa. Saya harap Bapak paham, kondisi ini memang sudah kami informasikan sebelumnya, tindakan pertolongan terbaik yang bisa kami berikan pun sudah dilakukan. Tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien" tutur dokter.
Suasana berubah menjadi kesedihan, isak tangis terdengar. Pak Daliman memutuskan untuk segera membawa jenazah anaknya keluar dari Rumah Sakit.
Bhree yang sudah siuman, langsung menghampiri Pak Daliman.
"Maaf.. Bapak siapa? Kenapa kenal sama Bapak saya?" tanya Bhree pelan.
"Dasuki itu anak saya" jawab Pak Daliman datar.
Begitu terperanjatnya Bhree mendengar jawaban Pak Daliman.
"Nanti semua akan dijelaskan setelah kita memakamkan jenazah, dia akan dimakamkan disamping makam Ibunya" jelas Pak Daliman.
"Saya mau Bapak dimakamkan di TPU yang sama dengan Ibu" pinta Bhree.
"Anak kecil ga usah banyak ngatur.. Saya lebih berhak terhadap Dasuki dibandingkan kamu" omel Pak Daliman.
Tama menahan tubuhnya Bhree.
"Bhree.. Ga baik berdebat disaat seperti ini" saran Tama.
"Bang Tama ga ada diposisi saya. Kehilangan kedua orang tua dalam waktu yang berdekatan. Sekarang lagi harus menerima kenyataan kalo Bhree masih punya Kakek. Paham kan?" ucap Bhree kesal.
"Bhree.. Bang Tama maksudnya baik, ga usah marah begitu. Sekarang ikuti semua kemauan keluarga Bapak kamu, kan mereka janji akan kasih penjelasan nanti" lanjut Mba Uli.
.
Jam setengah delapan pagi, Barra memarkir motornya kemudian langsung naik ke kamar VIP.
"Pagi dok.." sapa perawat yang ada disana.
"Pagi.. minta rekam medis pasien yang di VIP 1 ya" pinta dokbar.
"Satu pasien kan dok?" tanya perawat.
"Dualah, kan pasiennya room in" jawab dokbar.
"Dinihari tadi pasien atas nama Dasuki plus (meninggal) dok" kata perawat.
Barra kaget.
"Kok ga hubungin saya?" tanya dokbar.
"Kami sudah hubungi dokter penanggung jawab dok" ujar perawat.
"Kapan dibawa pulangnya?" tanya dokbar lagi.
"Sebelum subuh dok, sudah dimandikan dulu disini, informasi yang saya tau, jenazah akan langsung dimakamkan pagi ini" kata perawat.
"Dimana?" tanya dokbar.
"Kurang tau dok" ucap perawat.
⬅️
Barra teringat pesan dari Dasuki saat kemarin mau pulang kerja, dia mampir ke ICU. Dasuki sadar dan tampak sehat.
"dokter.. barang yang saya titip, jangan sampai keluarga saya tau ya. Hanya anak saya yang berhak atas itu. Tolong saya dok.. Apapun yang terjadi, tolong kasih ke anak saya" pinta Pak Dasuki setengah berbisik.
"Anak Bapak kapan datang kesini? Atau Bapak ada nomer HP nya?" tanya dokbar.
"Itulah dok.. Saya lupa dimana naro HP" jawab Pak Dasuki.
"Semoga anak Bapak segera datang ya" harap dokbar.
➡️
dokbar menghela nafasnya. Dia membaca rekam medis milik adiknya Pak Dasuki yang masih dirawat. Kemudian pamit sebentar menuju parkiran ambulans.
"Ga pakai ambulans kita dok, datang dari luar, kaya dari yayasan gitu" jelas supir ambulans.
.
dokbar menuju ruang rekam medis, mencari alamat Pak Dasuki yang tertera disana.
"Solo... " kata dokbar pelan.
"Kenapa dok? Kenal sama pasien yang plus?" tanya petugas rekam medis.
"Iya.. Ada titipan yang harus saya sampaikan ke keluarganya" jawab dokbar.
dokbar mencatat alamat yang tertera disana, memang tidak terlalu lengkap, tapi paling tidak sudah ada gambaran dimana domisili keluarga Pak Dasuki.
"Pak.. Maaf ga sempat bertemu untuk terakhir kalinya .." sesal dokbar.