HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 64, Jumpa lagi



Rumah mewah dengan kamar pribadi yang isinya sudah diubah oleh Pak Daliman sesuai dengan keinginan Bhree kini terbuka pintunya. Sebulan sebelum lulus kuliah, Pak Daliman beserta seorang design interior datang ke asrama Bhree untuk mengetahui apa keinginan Bhree terhadap kamarnya.


Saat kecil, Bhree selalu ingin seperti teman-temannya yang bermain boneka, punya gaun serta kamar bernuansa pink. Tapi apa daya, Ibunya tidak pernah menuruti keinginannya. Bhree memakai pakaian yang Ibunya belikan, kamar seadanya serta ga punya mainan. Inilah yang membuatnya jadi main bareng anak lelaki seusianya. Anak lelaki kebanyakan mainannya tanpa alat, seperti main lari-larian, galasin, panjat pohon dan lainnya. Saat beranjak SMP, Bhree juga tidak kenal skincare atau paling tidak sunscreen, sehingga wajahnya terus terbakar sinar matahari.


Sekarang semua berubah, Bhree lebih girly, sudah banyak meninggalkan celana jeans belel yang dulu dia suka. Penampilannya lebih modis karena Pak Daliman setiap mengunjungi Bhree pasti ngajak ke Mall untuk membeli baju dan perlengkapan wanita lainnya. Dari awalnya tidak mau, hingga akhirnya Bhree menerima pemberian Kakeknya. Wajah Bhree pun lebih glowing dan kulit tubuhnya lebih bersih.


"Ini kamar impian kamu Shabreena .. Masuklah.." pinta Pak Daliman.


Seakan sedang berada di negeri dongeng. Kamar full wallpaper pink dengan motif bunga dan kupu-kupu serta furniture berwarna putih bersih tersaji dihadapan Bhree. Desain kamar tidur dibuat sesimple mungkin. Rupanya ini adalah penggabungan dua kamar, dimana dipisah antara kamar untuk istirahat dan kamar untuk berkegiatan. Tempat tidur ukuran queen dilengkapi dengan furniture meja samping tempat tidur (nakas) serta meja kecil untuk meletakkan home teather yang dilengkapi dengan TV 40 inch keluaran model terbaru. Di ruangan sebelah ada kamar mandi, walking closet (lemari pakaian dan perlengkapan wanita lainnya), meja rias, meja belajar yang terletak persis didepan jendela agar bisa menikmati pemandangan sambil mengerjakan sesuatu. Penataan lampu yang ciamik, membuat jadi room goals semua wanita yang masih single.


"Makasih Mbah ... Ini semua jauh diatas ekspetasi Bhree" ucap Bhree.


Pak Daliman memeluk cucunya dengan keharuan. Inilah kali pertama Bhree memanggilnya Mbah. Meskipun hubungan keduanya semakin baik, Bhree selama ini memanggil Pak ke Pak Daliman.


"Istirahat dulu.. Besok kita ke showroom mobil. Kamu pilih mobil sebagai kado kelulusan. Kamu udah bisa nyetir kan dari dulu?" ucap Pak Daliman.


"Boleh ga kalo minta beli motor aja?" tawar Bhree.


"Kenapa? Mobil kan bisa pilih yang biasa aja, yang kisaran harga dibawah dua ratus juta" kata Pak Daliman.


"Nanti dikira punya sugar Daddy.. Masa bidan baru udah mewah banget gaya hidupnya" alasan Bhree.


"Oke.. besok kita ke showroom motor" jawab Pak Daliman.


"Satu lagi.. tetap rahasiakan rumah ini dari Bang Bobby" pinta Bhree lagi.


"Sudah setengah tahun kan dekat sama Bobby, kenapa ga boleh tau? Sebenarnya mau dibawa kemana hubungan kalian? Mbah ga ngerti sama jalan pikiran anak jaman sekarang, sama-sama suka tapi masih berahasia" ujar Pak Daliman.


"Kadang ketulusan cinta perlu dicoba kan? Bhree belum kenal banget sama Bidan Kokom dan Bang Bobby seperti apa" jawab Bhree.


"Jangan mempermainkan hati orang, apalagi lelaki, bisa berbuat nekat" ingat Pak Daliman.


🌿


"Selamat dr. Barra Alman Said, Sp.OT. Kontribusinya sangat ditunggu. Selamat juga menjadi lulusan terbaik" ucap Profesor Andjar.


"Terima kasih Prof atas bimbingannya" kata dokbar sambil mencium tangan Profesor Andjar.


"Pulang sana .. Lapor ke orang tua kalo sudah lulus.." saran Profesor Andjar.


.


Betapa keluarga Barra tampak haru mendengar pengumuman yang diberikan oleh Barra. Sebulan lagi dia akan diwisuda dan diambil sumpah sebagai dokter spesialis. Pengorbanan panjang yang dilalui terbalas sudah.


"Alhamdulillah Barra.. Semoga ilmu kamu bermanfaat buat orang banyak" kata Bapaknya Barra.


"Kaya mimpi.. Kami hanya lulusan SMA, tapi anak bisa sekolah spesialis" ucap Ibunya Barra agak emosional.


Barra mendekap kedua orang tuanya.


"Terima kasih Pak.. Bu.. Selalu mendo'akan dan menjadi supporter utama saat orang lain gak percaya sama mimpi Barra" ujar Barra.


"Tetap rendah hati, jangan sombong. Bantu pasien dengan ikhlas" lanjut Bapak.


"InsyaAllah Pak.. Barra akan terus ingat nasehat Bapak Ibu" ucap Barra.


✨


Kembali menginjakkan kaki di Rumah Sakit Cinta Medika menjadi hal yang awalnya sulit untuk Bhree terima, tapi Mas Wisnu menyakinkan ke Bhree kalo Papanya sudah jarang ke Rumah Sakit. Memang Bhree tau lowongan ini dari dokter Raz (ada lima bidan yang bekerja disana akan cuti melahirkan dalam waktu yang berdekatan), awalnya ragu memasukkan CV nya, tapi setelah berbincang dengan Mas Wisnu, Bhree mencoba untuk legowo.


"Mereka udah lupa kali Bhree sama kamu, toh Ibu kamu emang ga pernah ngenalin kamu ke orang Rumah Sakit kan? Ini kan cuma pijakan, manfaatkan sebaik-baiknya. Do the best aja di sesi wawancara, lolos ya Alhamdulillah, ga lolos ya coba lagi" saran Mas Wisnu saat dulu dihubungi sama Bhree via telepon.


Bhree menunggu di ruang tunggu depan ruang HRD, ada beberapa orang disana yang sama seperti Bhree, dipanggil untuk wawancara.


dokbar masuk ke ruangan manajemen, dia akan menemui Manager Yanmed. Rupanya seluruh manajemen sudah tau tentang kelulusan dokbar, semua mengucapkan selamat.


Bhree melihat dokbar, tapi dokbar tidak melihatnya.


"Jadi dokbar praktek disini? Udah lulus rupanya .. Enak ga ya minta berkas wasiat Bapak? Nanti kesannya sok kenal banget sama dia. Dikiranya juga ada main sama orang dalam buat kerja disini .. Udah deh mending diam dulu, paling ga nanti bisa tanya ke resepsionis kalo mau ketemu dokbar" ucap Bhree dalam hatinya.


.


Seusai wawancara dan psikotest, Bhree mau ke meja resepsionis untuk menanyakan tentang dokbar, tapi saat pintu lift terbuka, Bhree malah bertemu sama dokbar.


"Bhree... Lagi ngapain disini?" sapa dokbar kaget.


"Wawancara dok, kebetulan ketemu dokbar, ada yang mau saya bicarakan" jawab Bhree.


Sekarang sekitar jam tiga sore, pasien rawat jalan di lantai satu tidak penuh karena sedang tidak ada jadwal dokter spesialis yang buka. Hanya poli dokter umum yang buka.


dokbar mengajak Bhree untuk duduk di ruang tunggu pasien rawat jalan, berbincang disana.


Perawat yang ada di lantai satu langsung berbisik, melihat dokbar tampak akrab sama seorang wanita. Bhree yang tau sedang diperhatikan orang, langsung memakai masker.


"Maaf dokbar.. boleh saya minta titipan dari Bapak?" tanya Bhree.


"Maaf dok.. Saya ga bisa kasih alamat rumah, gimana kalo besok saya kesini buat ketemu, jam berapa dokbar bisanya?" tanya Bhree lagi.


"Seminggu kedepan saya ga ada jadwal disini, ada keperluan mengurus surat kelulusan dan ijin praktek. Kalo Minggu depan gimana? Atau bisa minta nomer HP? jadi kita bisa janjian ketemu kalo ada waktu" kata dokbar.


"Saya datang aja ya Minggu depan, sekitar jam segini" ujar Bhree.


"Ga janji ya, emang kenapa sih ga boleh tau alamat rumah dan nomer HP? Ga boleh sama pacarnya ya?" selidik dokbar.


"Bukan begitu dok.. udah sore nih dok, saya pamit dulu" ucap Bhree.


"Oke... " jawab dokbar.


Saat Bhree bangkit dari duduknya, ga sengaja tertabrak pasien yang menggunakan kursi roda dan didorong agak kencang menuju kamar mandi karena pasien ingin muntah. Tubuh Bhree ga seimbang karena dia memakai sepatu berhak tiga centimeter dan lantai baru saja di pel, dia jatuh tepat dipangkuan dokbar. Secara refleks dokbar langsung menahan punggungnya Bhree agar tidak terjatuh. Keduanya saling berpandangan.


"Sorry dok.. Sorry...." Bhree yang malu dan ga enak hati langsung bangun.


Buru-buru Bhree mengambil sepatunya yang terlepas.


"Tunggu...." tahan dokbar.


dokbar menghampiri Bhree.


"Kakinya tergores tuh, ada darahnya juga, kita ke ruangan poli buat diobati, ini kan terjadi di Rumah Sakit dan ada keteledoran dari pengunjung, jadi kami harus tanggung jawab" ujar dokbar.


dokbar meminta perawat yang sedang berjaga untuk membuka poli bedah yang pasti ada perlengkapan untuk perawatan luka.


"Saya bantu bersihkan dok" inisiatif perawat.


"Saya aja, mau liat apa ada keseleo atau gimana. Tolong kamu siapkan obat dan alat buat pembersihan luka aja" pinta dokbar.


dokbar memperhatikan kakinya Bhree. Kemudian membersihkan lukanya.


"Gapapa dok.. Saya bisa sendiri kok" kata Bhree.


dokbar tetap membersihkan dan menutup luka di kaki Bhree. Perawat yang ada di ruangan merasa baper sendiri, wajah dokbar sangat serius, sedangkan Bhree menahan perih lukanya.


"Coba bangun.. Bisa jalan kan?" tanya dokbar.


Bhree memakai sepatunya dan berjalan agak pincang.


"Bawa kendaraan atau naik umum?" tanya dokbar.


"Bawa motor dok" jawab Bhree.


"Bawa sepatu kets buat naik motor?" tanya dokbar lagi.


Bhree menggelengkan kepalanya.


"Besok-besok bawa sepatu kets ya kalo naik motor, bahaya bawa kendaraan pakai sepatu yang ada haknya. Lagian kenapa ga pakai seragam bidan aja pas wawancara, kan sepatunya pas tuh buat aktivitas" saran dokbar.


"HRD yang minta untuk tidak pakai seragam profesi dok, khawatir tertukar pas di lantai bawah sama bidan yang ada disini" jelas Bhree.


"Iya dok.. Kan ada perawat dan bidan yang masih masa percobaan tiga bulan, seragamnya masih putih-putih, khawatir nanti pasien salah panggil, kan disangkanya perawat sini ga mau bantu" tambah perawat.


"Saya ambilin motornya ya, minta nomer polisi sama kuncinya, kamu tunggu didepan IGD" pinta dokbar.


"Saya bisa sendiri dok, cuma luka kecil" ujar Bhree.


Semua keluar dari poli kemudian Bhree berjalan menuju parkiran, dokbar mendampingi dari belakang.


"Makasih dok.. Tapi ga perlu ngikutin saya, ga enak sama karyawan dan perawat yang dari tadi ngeliatin aja" kata Bhree pelan.


"Jangan ge er .. Saya mau ke IGD" kata dokbar yang jalan mendahului Bhree.


Bhree kembali berjalan pelan.


"Tadi kayanya dia mau naik lift, kenapa sekarang alasan mau ke IGD? lelaki emang ya.. gede banget gengsinya, bilang aja mau mantau sampe ke parkiran. Letak parkiran motor kan dibelakang IGD" ujar Bhree dalam hatinya.


Bhree berjalan agak pincang menuju motornya.


"Ngeliatin apa sih dok?" tanya perawat IGD yang heran melihat dokbar masuk IGD dan melihat dari jendela kearah parkiran motor.


"Lagi liatin motor" alasan dokbar.


"Motornya kenapa dok?" sahut perawat lagi.


"Emang ga boleh ya liatin motor?" tanya dokbar yang kembali menuju pintu depan IGD.


"Lah.. dia yang tiba-tiba masuk, eh dia yang bingung. dokbar kenapa sih?" ujar perawat agak gerundelan.


"dokbar lagi keder ruangan atau gimana? kok masuk IGD langsung ke jendela belakang terus pergi lagi" tanya dokter jaga IGD.


"Ga tau dok.. Tadi saya tanya katanya liatin motor, tapi ga jelas juga ada apa sama motornya" jawab perawat.