HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 28, Dan terjadilah..



Hari mencoba tetap cool.


"Sekarang bagaimana Pak Hari?" tanya Bapaknya Lili lagi.


"Setelah saya pikir-pikir.. memang ga baik kan kadang hanya berdua di rumah, emang sih kita ga ngapa-ngapain, tapi kan orang diluar sana pasti punya pandangan negatif. Saya juga kasian sama Lili, masih belia tapi tanggung jawabnya besar. Dengan status saya yang sudah punya istri, banyak hal yang harus disepakati dulu, semoga Bapak dan Lili bisa terima. Ini untuk menjaga kenyamanan Lili juga" papar Hari.


"Bapak maunya gimana? saya ikut saja" jawab Bapaknya Lili.


"Pernikahan ini harus dirahasiakan dulu, nanti kalo Lili hamil ya mau ga mau keluar dari kerjaan biar ga dicurigai. Di rumah seperti biasa aja, kaya ga ada apa-apa diantara kita. Saya janji Li.. akan menafkahi kamu dengan baik. Asal kamu mau sabar ya Li.. pastinya saya akan mendahulukan Ibu dulu. Saya akan berusaha mencintai kamu sepenuh hati Li" ungkap Hari.


"Saya paham Pak.. tapi tetap Pak Hari harus cerita ke Ibu, pelan-pelan aja, ga harus terburu-buru. Mungkin kalo alasan ingin punya keturunan bisa membantu untuk meyakinkan Ibu menerima Lili sebagai madunya" pinta Bapaknya Lili.


"Pasti Pak.. saya mau Lili jadi istri saya yang sah secara negara. Besar harapan saya punya anak dari Lili. Bapak kan sudah saya ceritakan tentang keinginan punya anak" ujar Hari seperti menahan tangis.


"Pasti berat ya Pak.. maaf kalo jadi beban buat Bapak.. saya percaya sama semua rencana Pak Hari. Karena saya tau Bapak cukup dewasa buat Lili, pastinya akan memberikan yang terbaik buat Lili" ucap Bapaknya Lili.


"Apa Lili ga masalah nikah sama lelaki setua saya? mana bukan perjaka lagi. Anak muda pasti maunya nikah sama yang masih muda, ganteng, gagah.. sedangkan saya seperti ini.. sudah tua, ga ganteng" kata Hari merendah.


"Gapapa Pak... saya ikhlas" jawab Lili pelan.


"Kalo semua sudah oke.. kapan mau dilaksanakan Pak?" tanya Hari.


"Kalo besok gimana? nanti saya bilang ke keluarga untuk panggil Pak Ustadz yang biasa menikahkan orang di daerah sini" jawab Bapaknya Lili.


"Waduh.. saya belum ada persiapan..." ujar Hari.


"Pak.. yang sederhana aja, ga perlu macam-macam, yang penting sah. Nanti kalo mau bikin pesta ya saat nikah negara saja" harap Bapaknya Lili.


"Saya ijin ajak Lili sebentar ya Pak.. mau ke toko baju, menikah itu kan sakral ya.. masa saya pake kaos aja. Biar Lili juga tampil cantik pakai baju baru. Ini kan pernikahan yang pertama buat dia. Saya juga mau cari cincin, ya layaknya pengantin kan pakai cincin. Maharnya minta apa Li?" tawar Hari.


"Terserah Bapak saja" jawab Lili.


"Panggil Abang dong.. jangan Bapak lagi. Kalo di rumah baru boleh panggil Bapak..." goda Hari.


Bapaknya Lili hanya tersenyum, Lili menundukkan kepalanya.


.


Hari pamit keluar kamar dulu, dia mau menelepon Melati.


"Butuh berapa lagi Bang? memangnya kemarin operasi belum kebayar semuanya? sudah tiga puluh juta kan dikasih ke Abang" kata Melati.


"Ternyata ada komplikasi sayang.. Bapaknya Lili harus operasi lagi, dibagian lain. Bisa kirim tiga puluh juta lagi?" tanya Hari.


"Oke.. Abang kapan pulang?" ujar Melati.


"Dua atau tiga hari lagi ya, tunggu operasi Bapaknya Lili dulu" jawab Hari.


"Kalo Lili mau disana dulu ya gapapa, sayang pulang duluan aja" kata Melati.


"Dia ga enak katanya lama libur, udah empat hari kan disini. Dia bilang mau pulang bareng aja ke Jakarta, Bapaknya juga minta begitu, malu sama kita .. udah dibiayai, dikasih banyak libur.. " papar Hari.


"Pake segala ga enakan gitu .. Lili kan seperti anak kita sendiri, jadi wajar kalo kita kasih perhatian kaya begini. Lili pasti sedih ya Bang?" ungkap Melati.


"Ga berhenti nangis, eh iya.. adik-adiknya Lili kasian deh sayang .. pada kurang gizi, kurus-kurus kaya tinggal tulang aja. Kemarin Abang beliin roti, makannya kaya orang ga ketemu makanan seminggu, lahap bener" lapor Hari.


"Kasian banget Bang.. ya udah .. dikirim tiga puluh lima juta ya, yang lima juta kasih buat Lili beli makanan bergizi dan baju sekalian buat adik-adiknya. Kalo kita banyak memberi.. akan dilipatgandakan rejeki kita sama Allah" ucap Melati.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. memang istri Abang ini wanita luar biasa, udah kaya, banyak amalnya, baik.. pokoknya susah diungkapkan dengan kata-kata.. Abang kangen banget nih sayang.. nanti pulang kita tempur ya..." ujar Hari dengan genit.


"Iya sayang.. jaga kesehatan ya sayang.. ngurusin orang sakit jangan ikutan sakit" ingat Melati.


"Abang sih mencoba jaga kesehatan.. tapi tetap pikiran ke istri Abang seorang nan jauh dimata.. jadi sakaw.. sakit kangen sama dikau..." gombal Hari.


"Pelan-pelan Bang Hari..." canda Melati.


🌿


Tama mengajak semua tim ke rumah orangtuanya. Ada kumpul keluarga sore ini untuk membahas tentang acara lamaran Kakaknya Tama.


Tama memperkenalkan Bhree ke Ibunya, karena memang Ibunya belum kenal. Sudah terbiasa semua teman dan karyawannya Tama diperkenalkan ke keluarga bahkan diajak main ke rumah.


Tidak ada kamera yang on untuk buat konten karena ini acara pribadi dan keluarga keberatan untuk dipublikasi.


Uli, Farah dan Bhree membantu Ibunya Tama di dapur. Masak sendiri untuk jamuan, tidak pesan dari katering.


"Uli.. tolong gorengin ayam ya, hari ini buat soto, jadi kalo sudah matang langsung disuwir-suwir ya" kata Ibunya Tama.


"Siap Boss.. kerjaan gampang ini" sahut Uli yang memang sudah akrab sama keluarganya Tama.


"Farah bantuin gorengin kerupuk sama emping ya" pinta Ibunya Tama.


"Ya Tante .. minyak sama kerupuknya dimana?" tanya Farah.


"Itu dilaci bawah samping kompor" jelas Ibunya Tama.


Bhree masih berdiri disampingnya Mba Uli, bingung mau bantu apa lagi.


"Bhree bisa masak?" tanya Ibunya Tama.


"Standar aja Tante, kalo masak kaya yang Tante mau bikin kayanya ga terlalu bisa. Sekedar sayur sop, bening dan ayam goreng aja bisanya, itupun pakai bumbu instan" jelas Bhree jujur.


"Anak sekarang ya .. malas belajar masak. Emang Ibunya ga ngajarin masak?" ujar Ibunya Tama.


"Ibu saya sibuk cari uang buat biaya sekolah dan kehidupan saya Tante. Waktunya juga tergantung kondisi di Rumah Sakit, maklum perawat" ucap Bhree.


"Bisa aja kamu Bhree, seorang Ibu mah ga perlu kerja keras, kan ada Ayah kamu yang tugasnya cari duit buat keluarga. Mau tinggi jabatan dalam profesinya, wanita sudah kodratnya di dapur" kata Ibunya Tama.


Bhree hanya tersenyum, Tama memperhatikan senyum Bhree yg tampak menahan rasa malu. Andai Ibunya Tama tau apa yang terjadi antara Bhree dan Ibunya, pasti ga akan berkata seperti ini


Akhirnya Bhree diminta untuk mengupas dan memotong buah. Tama duduk disebelahnya Bhree sambil memegang kamera. Dia sambil membersihkan kameranya.


"Maaf ya.. namanya juga Ibu-ibu, jadi kalo rada bawel ya sesuatu yang lumrah" buka Tama.


"Gapapa Bang, sangat memaklumi kok" jawab Bhree.


"Alhamdulillah kalo kamu terima .. " kata Tama.


Saat Bhree dan Tama masih ngobrol, Ibunya Tama menghampiri, membawakan buah-buahan lain.


"Kamu beneran bisa ikut kan Tam?" ujar Ibunya menyakinkan.


"InsyaAllah Bu, berangkat bareng tim, sekalian mau cari konten" papar Tama.


"Pas acara jangan dikontenin" ucap Ibunya Tama mengingatkan.


"Iya Bu.. tenang aja. Makanya ini lagi diskusi sama tim mau bikin apa disana" kata Tama.


"Terserah kamu, tapi tanggung biayanya sendiri ya" sahut Ibunya Tama.


"Siap, hotelnya juga beda, kita mau cari yang murah" kata Tama.


"Awas ya.. jangan macem-macem. Kumpul anak muda semua, bukan mahramnya. Jangan sampe Ibu dengar yang aneh-aneh pokoknya" warning Ibunya Tama.


"Iya Bu .. percaya deh sama anak sendiri. Selama ini Tama ga pernah yang aneh-aneh kan" ucap Tama.


Ibunya Tama kembali ke dapur.


"Oh ya Bhree... udah kosongin jadwal kan ya dari Jum'at pagi sampai Selasa siang?" ujar Tama sambil memakan buah.


"Iya.. tapi boleh ijin Kamis ini ga? sekitar ba'da ashar" kata Bhree


"Mau kemana emangnya?" tanya Tama.


"Ada urusan keluarga Bang" jawab Bhree.


"Udah kaya emak-emak aja, tiap ditanya bilangnya ada urusan keluarga.. hehehe. Jadi kerja setengah hari?" sahut Tama.


"Tiga perempat hari tepatnya" ucap Bhree sambil nyengir.


"Oke.. Jum'at kita berangkat ba'da subuh ya, kan ada break sholat Jum'at di jalan, biar sore kita udah disana dan bisa mulai berpetualang" papar Tama.


"Iya.. kan emang udah rencana kerja sambil jalan-jalan, toh kita jalan berenam, jadi ga perlu ada yang dikhawatirkan" tutur Bhree.


"Ijin sama keluarga dulu, jadi ga dicariin" pinta Tama.


Dalam hatinya Bhree sedang berpikir, mau minta ijin ke Ibunya rasanya percuma, chatnya tidak akan dibalas. Mau minta ijin ke Bapaknya pun biasanya hanya oke-oke saja. Rasanya kedua orang tuanya tidak khawatir sesuatu terjadi dalam hidupnya Bhree. Seperti sekarang ini, anak gadis tinggal diluar rumah tanpa pengawasan, bahkan Ibunya sama sekali ga peduli. Bapaknya peduli tapi tidak pernah menyarankan ini itu karena sadar kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk berbuat banyak.


"Kayanya anak yatim piatu di Panti Asuhan itu lebih baik dibandingkan hidup gw. Paling ga mereka ada tempat bernaung tanpa mikir bayar, dapat kasih sayang dan perhatian dari pekerja disana serta para donatur.. Miris amat hidup ini, udah mah hidup cuma sekali, tapi apes ga ada ujungnya... hadehhhh... ngeluh juga rasanya udah malas" kata Bhree ngomong sendiri.


"Ngomong apa Bhree?" tukas Tama.


"Ga Bang.. lagi nyanyi aja" ucap Bhree berbohong.


"Nyanyi kok kaya orang ngedumel" ledek Tama.


Waktunya makan siang, semua berkumpul di ruang tengah yang sudah ditata untuk acara sore ini. Bhree menyiapkan nasi dan lauk pauk buat Tama seperti biasanya. Ibunya Tama kaget dengan perlakuan Bhree ke Tama. Bapaknya Tama juga melihat, tapi hanya senyum-senyum aja.


Bhree duduk disebelah Uli dan Farah. Menikmati hidangan bersama dengan semua orang yang ada di rumah.


Setelah itu, dia ikut membantu mencuci piring. Tama pun ikut membantu angkat piring kotor ke dapur.


"Tumben anak Bapak rajin banget, ini pasti karena ada Bhree ya?" tembak Bapaknya Tama.


"Bapak aja yang ga pernah liat Tama bantu-bantu kerja di rumah" jawab Tama.


"Gapapa kali ngaku suka, keliatannya anak baik-baik. Cuma agak diam aja, sungkan mungkin baru pertama kali main kesini" timpal kakaknya Tama sambil tersenyum kearah Tama.


"Sehari-hari juga anaknya begitu, ga banyak ngomong, manut aja kalo diminta ini itu" ujar Tama.


"Beneran suka ga?" lanjut Kakaknya Tama.


Tama hanya bisa tersenyum dan kaget jika keluarga mampu menangkap gerak geriknya yang selalu memperhatikan Bhree diam-diam.


"Kayanya bau-bau calon mantu" goda Bapaknya Tama.


Tama jadi salah tingkah, dia buru-buru meninggalkan ruangan dan mengambil laptopnya. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan yang rasanya sudah menyudutkan.


"Apa bener suka sama dia ya?" tanya Tama dalam hatinya.


🍄


Akad nikah dilangsungkan di kamar rawat inap Bapaknya Lili. Yang hadir juga para orang tua saja. Dengan sekali ijab kabul, bermaharkan uang lima juta rupiah serta perhiasan sepuluh gram, Lili resmi menjadi istrinya Hari.


Tampak rona wajah bahagia keluarga besar Lili. Hari juga tampak sumringah. Hanya Lili yang sedih.


Rupanya Hari memesan nasi kotak untuk merayakan hari pernikahannya.


Keluarga satu persatu pulang, tinggal Hari, Lili dan adik Bapaknya yang ada di ruangan.


"Pak.. saya minta ijin pulang langsung ya ke Jakarta. Kemarin istri saya sudah telepon minta segera pulang, toh saya lihat kondisi Bapak sudah sehat, besok sudah bisa pulang kan?" tanya Hari.


"Iya .. Alhamdulillah semua rencana sudah berjalan lancar. Sekarang silahkan bawa anak saya kemana saja, saya percayakan Lili ke Pak Hari" jawab Bapaknya Lili.


"Jangan panggil Bapak .. panggil Hari aja, kan sekarang sudah jadi menantu" pinta Hari.


"Sungkan Pak" jawab Bapaknya Lili lagi.


"Kalo ga panggil Abang aja, sama kaya Lili nanti manggil saya" ide Hari.


Pasangan pengantin baru ini bergegas meninggalkan Rumah Sakit.


"Kita langsung pulang ke Jakarta Pak?" tanya Lili saat sudah di mobil.


"Ga lah .. kita honeymoon dulu sayang" ucap Hari sambil mencium tangannya Lili.


"Bukannya Ibu udah nyariin?" tanya Lili dengan polosnya.


"Selama kita honeymoon, ga usah bahas Ibu. HP kamu harus ga aktif, nanti Ibu tanya macam-macam ke kamu, pokoknya ikutin semua yang saya minta.. oke sayang?" perintah Hari.


Lili mengangguk. Dia diberikan satu blister obat oleh Hari.


"Minum ini sesuai hari yang ada disana, jangan sampe ga minum ya" pinta Hari.


"Ini obat apa Pak?" tanya Lili.


"Panggil sayang dong.. atau Abang gitu.. kan biar mesra... ini vitamin buat anak seusia kamu" ujar Hari berbohong.


Karena kemasan sudah Hari buang, jadi hanya tinggal blister obat saja. Lili yang tidak paham kalo itu pil KB langsung meminumnya sesuai perintah Hari.


.


Keduanya memasuki hotel murah yang sudah di booking oleh Hari lewat aplikasi. Hanya enam puluh ribu semalam. Tempat tidurnya pun seperti rumah, bangunan sangat sederhana. Hanya ada fasilitas kamar mandi dengan kipas angin didalam kamar.


"Ini rumah siapa Pak.. eh Abang?" tanya Lili bingung saat digandeng tangannya memasuki sebuah kamar.


"Ini hotel sayang.. Abang cape mau istirahat" kata Hari.


"Tapi tempat tidurnya cuma satu Pak.. eh Abang.. Kita tidur bareng?" tanya Lili dengan polosnya.


"Kita kan sudah sah nikah Li" jawab Hari yang langsung menarik tangannya Lili hingga terduduk di tempat tidur.


Hari langsung menubruk tubuh remaja enam belas tahun ini.


"Bapak..mau ngapain?" tanya Lili ketakutan.


"Kita habiskan waktu dengan bercinta sayang" bisik Hari yang tangannya sudah berada didalam bajunya Lili.


Dihujaninya ciuman ke wajah Lili. Lili makin ketakutan.


"Sayang.. rileks.. ini wajar dilakukan oleh pengantin baru. Kamu pasti tau kan?" bisik Hari dengan nakal.


"Tapi Pak.. Lili takut" ujar Lili bergetar.


"Takut apa sayang?" lanjut Hari sambil membuka satu persatu baju yang dikenakannya hingga tersisa boxer saja.


Lili langsung menutup wajahnya karena malu. Hari langsung mendekap tubuh mungil Lili.


"Buka bajunya sayang... tanpa sehelai benang pun" pinta Hari.


Lili ketakutan, sekarang dia duduk dipojokkan tempat tidur.


"Jangan Pak.. jangan perkosa saya..." pinta Lili sambil menangis.


"Perkosa? kita suami istri... mau dilaporin ke Bapak karena kamu ga mau melayani suami? mau jadi istri durhaka? kamu lupa kalo semua biaya Rumah Sakit sudah dibayar oleh suami kamu ini? Bapak kamu sendiri yang menyerahkan kamu dalam genggaman saya. Jadi saya berhak melakukan apapun terhadap kamu" kata Hari marah.


Lili makin ketakutan karena wajah Hari memerah dan suaranya menakutkan.


"Pak.. saya mohon... saya mohon jangan sekarang. Saya tau sudah jadi istri Bapak.. tapi saya belum siap" Lili memohon ke Hari.


"Kalo kamu berani menolak dan berteriak, saya pulangin ke Bapak sekarang juga. Terus semua biaya puluhan juta yang kemarin buat Bapak harus hari ini juga dikembalikan. Mau liat Bapak kamu mati jantungan kalo saya melakukan hal itu?" ancam Hari.


"Jangan Pak.. jangan bilang apa-apa ke Bapak. Saya ikuti semua keinginan Bapak" jawab Lili pasrah.


Karena sudah tidak sabar, ditariknya kaki Lili, dalam posisi telentang, dilucutinya baju Lili satu persatu hingga tidak ada yang menutupi tubuhnya.


Hari tersenyum penuh kemenangan. Lili menutup matanya sambil menangis. Hari bak singa kelaparan yang langsung menerkam mangsanya.


"Sakit Pakkkkk..." ucap Lili kesakitan.


"Jangan teriak.. boleh mendesah tapi cuma boleh berkata sayang..kalo kamu ga nurut, saya telepon Bapak sekarang juga" bisik Hari yang makin membuat Lili ketakutan.


Lili ga berani mengeluarkan suara, menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibirnya, tangannya memegang sprei yang terkoyak karena dia tarik.


"Ayo bilang sayang.." perintah Hari.


Lili masih diam, dia masih kesakitan karena Hari melakukan hubungan intim tidak dengan pelan-pelan.


"Ayo cepat... " bentak Hari.


"Ssssaaaayanggghhh.... " ucap Lili kaku.


"Yang mesra.. biar tambah semangat" lanjut Hari.


"Ssaayyaanngg..." kata Lili dengan lembut.


Mendengar ucapan Lili, makin Hari terbuai dan dengan kasarnya menikmati tubuh Lili dari kepala hingga kaki.