
"Pak Hari... saya sudah ga tau harus bagaimana lagi mengucapkan rasa terima kasih, Bapak sudah mengurus semua administrasi Rumah Sakit" ucap Bapaknya Lili dengan tulus.
"Ga usah dibahas Pak.. kewajiban sesama saudara muslim saling membantu, lagipula Lili sudah saya anggap keluarga sendiri, jadi keluarganya adalah keluarga saya juga" jawab Hari dengan sopan.
"Bapak memang orang yang sangat baik, Lili dapat atasan yang sangat luar biasa terhadap karyawannya. Saya jadi makin tenang melepaskan dia kerja di Jakarta. Sebenarnya kasian dia sendirian disana, tapi kan kami semua butuh biaya dan dia bersedia menanggung semua" puji Bapaknya Lili dengan nada sedih.
"Tenang Pak.. ada saya kan di Jakarta" ucap Hari meyakinkan.
"Pak.. bisa saya minta tolong jagain Lili? anggap saja seperti anak sendiri" pinta Bapaknya Lili.
"Iya Pak.. selama ini begitu kok, tanya aja ke Lilinya" jawab Hari.
"Dia masih dibawah umur, tapi mau berjuang demi kami semua.. Pak Hari .. maaf sebelumnya, kata Lili.. Bapak dan Ibu belum punya anak ya? apa memang tidak mau punya anak?" tanya Bapaknya Lili.
"Gimana ya ngomongnya.. jadi bingung juga jelasinnya ..." kata Hari sambil garuk-garuk kepala.
"Maaf kalo pertanyaan saya menyinggung Bapak" ujar Bapaknya Lili.
"Ga Pak.. saya ga tersinggung, tapi ini pembicaraan diantara kita sesama lelaki aja ya Pak. Saya juga bingung mau cerita kemana sebenarnya, rasanya Bapak bisa saya percaya untuk mendengarkan kisah saya dan siapa tau memberikan pandangan sebagai solusi" ungkap Hari.
"Silahkan Pak.. selagi saya bisa, akan saya bantu" ujar Bapaknya Lili.
"Istri saya lebih tua Pak, jadi sudah menopause. Dulu sebelum itu, dia ga mau punya anak, ga tau alasannya apa. Jadilah sampai sekarang ga punya anak. Padahal saya ingin punya keturunan Pak, harta saya buat siapa nanti kalo saya udah ga ada" cerita Hari membual.
"Ada masalah kesehatan mungkin Pak" kata Bapaknya Lili.
"Kami semua sehat.. dia ga suka anak kecil, katanya ribet, udah gitu dia juga ga mau repot hamil dan sakitnya melahirkan. Kalo ga punya anak juga bisa kesana kemari dengan bebas, kaya sekarang ini. Kerjaannya ya shopping, ngumpul bareng teman yang katanya arisan lah.. acara sosial lah.. Makin tua seperti ini saya sebenarnya butuh kasih sayang, perhatian.. jangan mau uang saya aja dong" lanjut Hari.
"Bapak ga coba negur baik-baik?" tanya Bapaknya Lili yang sepertinya percaya cerita bohongnya Hari.
"Cape Pak.. kaya sekarang ini, saya bilang mau antar Lili dan ngurusin Bapaknya yang masuk Rumah Sakit.. saya ga dicariin tuh. Mungkin bagi dia yang penting uang saya pulang, gapapa orangnya ga pulang juga" ucap Hari dengan wajah yang dibuat mellow.
"Berat pasti ya Pak.. saya juga ngalamin ga diperhatikan istri" sahut Bapaknya Lili.
"Sejak Lili tinggal di rumah saya, rasanya saya bahagia banget Pak. Lili perhatian banget, nanya saya udah makan atau belum, terus dihidangkan makanan yang lezat. Kadang nemenin saya nonton TV.. pokoknya ga merasa sepi di rumah" ucap Hari.
"Bapak di rumah berdua saja sama Lili? istrinya ga cemburu?" tanya Bapaknya Lili.
"Ya kadang saya sengaja pulang malam biar ga berduaan terus sama Lili. Kasian kan nanti dia kena fitnah. Istri saya ga jelas Pak.. kayanya ga ada rasa cemburu ke saya, ga sayang mungkin ya?" papar Hari.
"Namanya sudah menikah pasti sayanglah Pak" bela Bapaknya Lili.
"Susah sekarang cari wanita yang benar-benar mau ngurusin kita diusia tua. Ini harta saya masih banyak, coba kalo saya susah, udah didepak kali sama istri saya. Maaf ya Pak kalo saya vulgar, istri saya udah ga mau melayani di ranjang sejak menopause, katanya sakit. Sebagai lelaki normal kan pasti ada keinginan ya.. sebenarnya bisa aja saya jajan. Tapi inget dosa dan rasanya melakukan tanpa cinta tuh ga bisa" curhat Hari yang mulai meneteskan air mata.
"Sabar ya Pak.. " ujar Bapaknya Lili.
"Sudah banyak sabar saya Pak..." lanjut Hari sambil menghapus air matanya.
"Bapak ada rencana nikah lagi?" ucap Bapaknya Lili.
"Mana ada wanita yang mau sama saya Pak.. udah tua. Kalo pun ada ya sama-sama tua. Saya tuh butuh perhatian aja kok Pak .. ga perlu istri. Ya kaya Lili, dia kasih saya perhatian, jadi saya kasih dia bantuan untuk keluarganya" papar Hari makin menjadi.
.
Hari pamit mau sholat Jum'at katanya. Sekarang Lili yang menjaga Bapaknya.
"Li... menurut kamu, Pak Hari itu baik ga?" tanya Bapaknya Lili.
"Kenapa tanya begitu Pak?" Lili balik bertanya.
"Bapak kasian mendengar cerita dia, lelaki sebaik itu malah dapat istri yang ga bisa melayani dengan baik. Istrinya Pak Hari sudah tua? terus selalu keluar rumah dari pagi sampai malam?" kata Bapaknya Lili.
"Ya Pak .. Ibu lebih tua, tapi orangnya lembut, sabar, baik banget. Setiap hari Ibu berangkat keliling ke warung dan kantin punyanya, kalo Pak Hari kadang dampingin, kadang ngga" papar Lili.
"Keliatannya Pak Hari suka sama kamu Li. Buat apa dia melakukan semua ini kalo dia ga ada maksud mengambil hati kamu. Bapak ini lelaki, taulah gerak-gerik kalo lelaki suka sama wanita" terka Bapaknya Lili.
"Pak.. ga mungkin lah, Lili ini siapa? lagian Pak Hari juga sudah punya istri. Jangan berpikir jauh Pak. Diantara kami tidak ada apa-apa" ujar Lili menyakinkan.
⬅️⬅️
Ketika perjalanan menuju Kampung, Lili yang diantar pakai mobil sama Hari, dipaksa mau dicium dan disentuh ***********. Hal ini sebagai bayaran biaya berobat Bapaknya. Lili juga dipaksa menjadi pacarnya. Lili pun bersedia karena terpaksa demi Bapaknya.
Bahkan saat Bapaknya Lili dioperasi, biaya yang dikeluarkan Hari lumayan besar. Hari meminta lebih dari sekedar ciuman. Tapi minta bisa memegang bagian dadanya Lili.
Lili dengan kepolosannya dan Hari yang berada diatas angin karena menanggung biaya Rumah Sakit, membuat hal tersebut terjadi. Lili bersedia tapi masih memakai baju lengkap dan Hari hanya memegang, tidak melihat.
Mobil diarahkan Hari menuju jalan kampung yang masih banyak pepohonan dan jarang dilalui kendaraan.
"Tenang aja sayang, biasa kok anak muda sekarang pacaran kaya gini, ga ada yang hamil dan masih perawan. Jangan bilang sama siapapun, ini rahasia diantara kita. Tau kan sudah tiga puluh juta biaya Rumah Sakit dan pastinya akan bertambah. Asal kamu nurut, berapapun akan siap ditanggung. Tapi kalo kamu ngelawan dan ngebocorin apa yang kita lakukan sekarang, siap-siap aja dipecat. Pikirin masa depan adik-adik dan kesehatan Bapak" ancam Hari.
Lili hanya diam pasrah wajah dan dadanya diremas kencang oleh Hari. Lili menangis dalam diam, mencoba menahan rasa menolaknya.
➡️➡️
"Gimana kalo kamu menikah sama Pak Hari?" tembak Bapaknya Lili.
"Pakkkkk..." jawab Lili kaget.
"Bapak yakin kamu bahagia Li.. dia punya segalanya. Punya uang, penuh rasa sayang dan perhatian sama orang tua. Apalagi yang kamu cari?" ujar Bapaknya Lili.
"Tapi Pak.. Lili masih muda, belum tujuh belas tahun" kata Lili.
"Li.. Bapak juga khawatir kalo kamu berduaan terus sama Pak Hari, bisa timbul fitnah. Bapak percaya kamu bisa jaga diri, tapi kalo ada setan menggoda gimana? Bapak sudah sakit-sakitan kaya gini, adik-adik juga masih kecil. Kamu ga sayang sama kita semua?" tanya Bapaknya Lili.
Lili terdiam.
🍄
Hubungan Hana dengan anak-anak dokter Raz makin dekat, bahkan mereka ikut memanggil Hana dengan sebutan Bunda. Hana tidak keberatan, karena dari sorot mata anak-anak, Hana melihat ada ketulusan sekaligus rasa kehilangan sosok Ibu.
Sabtu ini mereka akan jalan-jalan bersama keluarga besar dokter Raz ke Darajat Pass, Hana dan Nabila ikut serta karena Ummi yang meminta.
Semua naik dalam satu bus pariwisata, Hana duduk disampingnya Ummi. Anak-anak remaja duduk di kursi belakang, Bapak-bapak di kursi depan.
dokter Raz sudah mendapatkan banyak cerita tentang Hana serta pandangan keluarga besarnya terhadap Hana. Semua memberikan respon yang positif. dokter Raz sengaja sudah dua Minggu ini tidak menghubungi Hana sama sekali, rasanya ingin menjajal hatinya dan mengetahui sejauh mana perasaan Hana jika tidak dihubungi oleh dokter Raz.
.
Saat sampai ditujuan, Ummi jalan-jalan disekitar pemandian ditemani Hana.
Hana kaget sampai bingung mau jawab apa.
"Apa sudah siap kalo Ummi datang melamar?" tanya Ummi lagi.
"Hana ga bisa Mi..." akhirnya Hana angkat bicara.
Mereka duduk berdua agar lebih nyaman buat bicara.
"Apa Farraz ga sesuai sama sosok suami yang kamu cari?" ujar Ummi dengan lembut.
"Mas Farraz terlalu tinggi buat Hana gapai Mi ... Ummi pernah ga berpikir, Mas Farraz itu orang penting, seorang dokter favorit pula, sangat baik dan masih banyak lagi. Undangan dari para pejabat, artis, pengusaha dan para sosialita itu bisa dikatakan hampir selalu ada. Hana mana layak mendampingi beliau, muka pas-pasan begini, badan juga padat berisi, ditambah hanya lulusan SMA. Jauh banget kan sama Mas Farraz yang spesialis. Mas Farraz pasti bisa dapat yang sebanding Mi.. yang layak jadi pendampingnya untuk membesarkan anak-anak" papar Hana.
"Ini artinya kamu nolak?" Ummi mencoba memperjelas.
"Maafin Hana ya Ummi.. Hana ga mau kasih harapan palsu ke Ummi dan Mas Farraz" jawab Hana.
"Kalo diikutkan hati, Ummi memang kecewa. Tapi ini kan sudah jadi pilihan. Kamu berhak bahagia Hana" ucap Ummi menenangkan.
"Mi... Hana mau berterus terang sama Ummi, Hana masih belum bisa lupa sama mantan suami" kata Hana.
"Mantan kamu yang ringan tangan, pengangguran yang taunya hanya mau hidup senang? lelaki yang bergelar Ayah tapi ga punya rasa tanggungjawab terhadap anaknya? lelaki seperti itu yang jadi penghalang kamu move on?" Ummi terpancing emosi.
"Ya Allah .. Ummi tau dari mana?" tanya Hana. "Maaf Ummi kebawa emosi. Bapak kamu yang cerita hal ini ke Ummi, Abi dan Farraz" kata Ummi.
"Ga seperti itu Mi.." bela Hana.
"Hana .. ga perlu kamu tutupi borok mantanmu itu. Dia aja ga mikirin kamu sama Nabila" lanjut Ummi.
Hana terdiam.
"Farraz mampu memberikan apa yang kamu butuhkan Hana. Rumah dia sudah punya, ada pekerjaan tetap, punya usaha kecil-kecilan, kasih sayangnya lebih dari cukup, hormat sama orang tua dan sangat bertanggungjawab" promo Ummi.
"Karena Mas Farraz se perfect itulah Mi.. membuat Hana jadi minder" ujar Hana.
"Apa yang buat kamu minder? dia cari istri buat jadi partner, bukan sekedar untuk melampiaskan hasrat laki-lakinya saja. Dia niatkan sebuah pernikahan untuk beribadah" sahut Ummi.
"Hana takut mengecewakan, Hana takut Mas Farraz lelah dengerin keluh kesah Hana. Hana takut...." ucap Hana.
Ummi langsung memeluk Hana. Pelukan yang sudah lama ga Hana rasakan. Orang tua Hana memang sayang padanya, tapi bukan tipe orang yang mengekspresikan rasa sayang dengan dekapan.
"Maafin Hana Mi..... Hana mau jadi anaknya Ummi. Tapi Hana ga bisa jadi menantu Ummi" ujar Hana disela tangisnya.
"Sudah Hana... berhenti nangisnya, kalo hati kamu masih belum bisa menerima Farraz, Ummi ga bisa maksa" saran Ummi.
"Mi... Hana ga mau mutusin tali silaturahim diantara kita. Hana takut kehilangan Ummi, Abi dan anak-anak yang sayang banget sama Hana dan Nabila... Boleh Hana minta satu hal?" ucap Hana.
"Apa?" tanya Ummi.
"Hari ini baiknya jadi hari terakhir kita membahas tentang hubungan Hana dan Mas Farraz. Kita seperti layaknya anak dan Ibu saja. Ga lebih dari itu" jawab Hana.
"Maaf ya.. kalo selama ini Ummi selalu memaksa kamu menerima Farraz" pinta Ummi.
"Ga ada yang salah Mi.. yang salah adalah kenyataan kalo Hana belum bisa move on. Ummi sangat baik, pasti beruntung menjadi mantunya Ummi. Hana do'akan semoga Ummi cepat dapat mantu" harap Hana.
"Sesakit itukah kamu dalam pernikahan yang dulu?" ucap Ummi refleks.
"Ya Mi, rasanya Hana ga sanggup bangkit lagi, susah banget Mi pokoknya. Baru setahun ini belajar menerima kenyataan yang ada, ibaratnya Hana baru mulai berdiri, masa mau jatuh lagi" papar Hana.
.
Ummi tampak kecewa dengan kenyataan penolakan Hana, hingga tidak menikmati liburan kali ini.
"Ya Allah... kenapa anakku Farraz susah banget dapat jodoh lagi? Apa karena dia masih cinta sama Ibunya anak-anak? tapi kan kasus itu membuatnya terpuruk.. memaksa Hana pun bukan jalan terbaik. Ya Allah.. semoga hati ini ikhlas menerima semua hal kedepannya" ucap Ummi dalam hatinya.
HP Ummi berdering, ada panggilan dari Farraz, beliau langsung menjauh dari rombongan.
"Raz ... Ummi sudah ga bisa bantu kamu untuk mengenal Hana lebih jauh" ucap Ummi.
"Kenapa Mi? Hana sudah menolak lamaran Raz kah?" tanya dokter Raz
"Lukanya terlalu dalam, dia sendiri aja belum tau kapan luka itu bisa sembuh" jawab Ummi.
"Ya Mi... Raz udah coba buat ikhlasin semuanya, selama berjauhan seperti ini banyak berpikir ulang. Rasanya begitu sulit untuk masuk kehatinya yang sudah berantakan. Menyusun kepingan hati, butuh ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. Kita percayakan pada putaran takdir Mi.. semoga Allah masih menyiapkan jodoh buat Raz" ungkap dokter Raz.
"Tapi Ummi ga mau kehilangan Hana yang sudah Ummi anggap sebagai anak sendiri. Anak-anak kamu pun sama, Hana sudah menjadi sosok yang anak-anak inginkan. Pesan Ummi, terus berjuang Raz, pelan-pelan dapatkan hatinya" pinta Ummi.
"InsyaAllah" jawab dokter Raz.
.
Malam harinya, Haziq menghubungi Ayahnya. Berbincang sejenak tentang kabar masing-masing.
"Mas jadi perpisahan ke Lombok dari sekolah?" tanya dokter Raz.
"Jadi.. berangkat Minggu depan" jawab Haziq.
"Pas banget dong.. Ayah juga pas disana kalo Minggu depan. Kita ketemuanlah.. udah empat bulan ga ketemu" ucap dokter Raz.
"Iya.. Ayah... sekarang Ayah baik-baik aja kan?" ujar Haziq.
"Alhamdulillah baik Mas.. kenapa?" kata dokter Raz.
"Yangti bilang Bunda Hana menolak lamaran Ayah" ujar Haziq
"Itukan yang ngelamar Yangti, coba nanti Ayah yang ngelamar langsung, pasti ga ditolak" jawab dokter Raz dengan pedenya.
"Ayah timnya anak muda sih ya.. jadi keikut pede yang selangit" sahut Haziq.
"Jangan ganggu Hana dulu ya, kasih waktu dia sendiri" pinta dokter Raz.
"Bunda Hana itu pandai menyimpan kesedihannya, apalagi kalo didepan orang lain" nilai Haziq.
"Sejak kapan nih anak Ayah bisa menilai perempuan? jangan-jangan Mas udah punya gandengan ya?" cecar dokter Raz.
"Belum Yah .. ini kenapa jadi kebalik, Mas tanya ke Ayah tentang kondisi Ayah, kenapa malah Ayah yang nanya-nanya. Udah dulu ya Yah.. semangat berjuang lagi, sebentar lagi kan balik, kita berjuang bareng Yah" semangat Haziq.
dokter Raz hanya tertawa mendengar ucapan anak sulungnya.