
Akhirnya dokter Raz bisa janjian malam ini sama dokbar di Restoran dekat rumah dokbar. Mereka janjian selepas isya. dokter Raz sholat isya di Mesjid dekat sana, dokbar berangkat dari rumah setelah sholat.
Keduanya berbincang ringan dulu sambil menikmati makan malam. Sadar dengan profesinya yang kadang untuk sekedar menikmati makan tanpa gangguan selama lima menit aja susah, jadinya keduanya amat sangat menikmati makan sebelum berbincang nantinya.
Makanan di piring sudah pindah ke perut kedua dokter ini. dokter Raz dan dokbar lanjut pesan minuman sebagai teman ngobrol.
"Gimana PPDS nya?" tanya dokter Raz.
"So far so good dok.. walaupun banyak drama ya" jawab dokbar.
"Rame nama kamu sering disebut oleh sejawat yang kebetulan ketemu sama saya" kata dokter Raz.
"Waduh.. positif atau negatif nih dok? dokter Raz ternyata ngikutin juga gosip di PPDS .. hehehe" tanya dokbar.
"Alhamdulillah positif kok beritanya.. Kita kan satu almamater.. Pasti tau lah kalo ada berita kaya gini. Tapi bagus juga gebrakan kamu melawan senior. Memang harus ada yang berani memutus mata rantainya. Memang ga semua senior, hanya segelintir oknum saja" ujar dokter Raz.
"Ini berkat semua pihak dok, bukan saya sendiri. Oh ya.. kayanya dokter Raz juga ngajar ya disana?" tanya dokbar.
"Semester ini sudah mengundurkan diri. Waktunya ga kebagian sama jadwal praktek, anak-anak juga makin besar, jadi perlu diawasi lebih lagi" papar dokter Raz.
"Iya.. Anak sekarang memang harus bisa kita tarik ulur ya dok" jawab dokbar.
"Maklumlah.. single father.. Jadi semua diurus sendiri.. Hehehe" kata dokter Raz.
"Oh ya dok .. katanya ada yang mau ditanyakan ke saya, tentang apa ya?" tanya dokbar mengalihkan pembicaraan karena ga enak membahas tentang statusnya dokter Raz.
"Kejadian tadi pagi, dokbar liat ga pelakunya?" tanya dokter Raz.
"Liat dok, kan saya sempat adu jotos, ini tangan masih merah" jawab dokbar sambil memperlihatkan telapak tangannya.
"Orangnya kaya gimana?" selidik dokter Raz.
"Agak gempal, rambutnya ikal, kulitnya sawo matang cenderung gelap sih" jawab dokbar coba mengingat.
dokter Raz mengambil HP dan mencari foto, rupanya dia sempat mengambil fotonya Hari beberapa waktu yang lalu. dokter Raz melihat Hari di Hotel dengan seorang wanita, saat itu Hari ga sadar ada dokter Raz didekatnya.
"Ini bukan orangnya?" tanya dokter Raz sambil menunjukkan foto Hari yang ada di HP nya.
"Benar nih dok.. dokter Raz kenal?" ucap dokbar.
"Dibilang kenal ya ngga, dibilang ngga ya kenal" jawab dokter Raz.
"Wait.. motor yang dibawa sama pelaku ini jangan-jangan milik Ibu yang tadi ya?" selidik dokbar.
"Yup.. Motor dan HP berhasil diambil sama lelaki itu" jawab dokter Raz.
"Saya kira itu motornya pelaku, jadi saya ga kejar, maaf ya dok.. " kata dokbar.
"It's okay.. yang penting Hana selamat. Makasih juga ya sudah bantu sampai memberikan tindakan pertolongan pertama" ucap dokter Raz.
"Kewajiban dokter untuk membantu sesama, Ibu yang tadi saudara ya dok?" tanya dokbar.
dokter Raz tersenyum.
"Ohhh... sepertinya ada bau-bau saudara ketemu gede nih" ledek dokbar yang akhirnya tidak sungkan berbincang dengan dokter Raz.
"Ga salah kalo Profesor Andjar yang terkenal garang sama mahasiswanya, menjadikan kamu sebagai the golden boy nya, otak kamu tuh cepat menganalisa, jitu juga tebakannya" puji dokter Raz.
"Maaf dok .. becanda" sahut dokbar ga enak hati.
"Gapapa.. hidup harus balance kan. Ada saat serius dan becandanya. Perpaduan bagus tuh, semoga kamu bisa makin jaya kedepannya" harap dokter Raz.
"Aamiin ya rabbal'alamin.. pujiannya ketinggian dok.. Saya kadang jadi beban tiap kali Prof Andjar bilang golden boy, khawatir ga bisa sesuai dengan ekspektasi beliau" kata dokbar.
"Jangan dibawa beban, tapi jadikan motivasi. Besok kuliah?" tanya dokter Raz.
"Ya dok, besok seharian di ruang operasi, ada jadwal empat operasi fraktur (patah tulang), kan belajarnya begitu, langsung terjun. Prof Andjar juga akan mendampingi dokter Redy" papar dokbar.
"Ya udah.. rehat deh yang banyak malam ini. Sekali lagi makasih ya atas bantuannya" ucap dokter Raz.
"Sama-sama dok, makasih juga traktirannya. Oh ya.. gimana kondisi Ibu yang tadi?" tanya dokbar.
"Alhamdulillah bedrest aja di rumah, dislokasi telapak kaki, mungkin karena jatuh kali ya" jawab dokter Raz.
"Matanya dokter Raz berbinar banget nih pas cerita, sama persis kaya tadi pagi, ada raut cemas yang ga bisa disembunyikan. Semoga berjodoh secepatnya ya dok" kata dokbar sambil tersenyum.
"Beneran deh si golden boy.. otaknya golden juga, sampe binar mata dan mimik wajah dia bisa baca. Ga salah jurusan kan ambil orthopaedi? Atau cosplay jadi psikolog?" canda dokter Raz.
"Orang kalo lagi jatuh cinta itu ga bisa ditutupi dok. Saya tunggu undangannya" jawab dokbar.
"Kalo dikasih undangan, emang punya gandengan buat diajak kondangan?" ledek dokter Raz.
"Nah itu yang kadang jadi masalah dok. Saya kan ga jelek-jelek amat ya.. tapi susah dapat gandengan" sahut dokbar.
"Ya sih.. cukup ganteng dokbar ini, meskipun masih kalah ganteng sama saya jaman muda dulu.. Hehehehe. Mungkin banyak milih kali jadi susah dapat gandengan" ungkap dokter Raz.
"Salah berguru nanti.. Wong saya aja menduda udah delapan tahunan" jawab dokter Raz.
🌿
"Bhree.. tugas numpuk banget sih, lama-lama pengen lambaikan bendera putih deh. Puyeng amat sih mau jadi Bidan doangan. Ga kebayang pusingnya kalo mau jadi dokter" ungkap Luna.
"Kalo ga mau pusing ya kawin aja sana" jawab Bhree dengan entengnya.
"Lah.. emangnya kawin menjamin bisa ga pusing? Yang ada nambah kepusingan yang udah ada" sahut Luna.
"Bulan depan kan kita mau ada pengabdian di desa, ga tau deh kita segrup apa ngga, semoga aja bisa bareng ya" harap Bhree.
"Aamiin.. Akhirnya terjun ke dunia nyata, selama ini kita kan masih ditempatin di Rumah Sakit atau Puskesmas, nanti ke desa pasti lebih banyak lagi yang dihadapi, apalagi kalo warga masih percaya sama dukun beranak, alemong dah kita bisa banyak musuh disana" kata Luna.
"Jaman dah maju Lun.. Udah banyak Bidan tersebar dimana-mana" jawab Bhree.
⭐
Tiga hari kemudian, dokter Raz datang ke rumah Hana. Membawakan makanan dan buah-buahan, hari ini ada temu janji Hana dengan dokter orthopaedi, dokter Raz yang akan mengantar konsultasi.
Dalam perjalanan..
"Masih ga mau ngaku kalo pelakunya itu sang mantan?" tembak dokter Raz yang sejak kemarin sudah berkali-kali menanyakan hal ini lewat chat dan sambungan telepon.
"Udahlah Mas.. biar saya yang selesaikan" jawab Hana.
"Laporin ke Polisi.. itu jalan terbaik saat ini. Bukan sekedar pencurian, tapi mengancam keselamatan. Dia tau jam kerja dan tau juga jalan yang bakalan kamu lewatin. Kemarin ada orang baik yang nolong, ga tau kalo nanti kejadian lagi apa masih ada yang menolong" papar dokter Raz agak emosi.
Hana diam sambil menundukkan kepalanya.
"Ga habis pikir deh sama kamu, kok dia sekejam itu malah kamu diam aja bahkan membela" ucap dokter Raz lagi.
"Inilah alasan kenapa rasanya enggan buat nikah lagi" jawab Hana pelan.
"Maksudnyaaa????" kata dokter Raz.
"Saya takut disakiti baik secara fisik maupun mental. Jujur aja..sampe sekarang masih takut sama Bang Hari. Jadi kalo berhadapan ya rasanya kaya udah ga bisa banyak mikir, cuma satu yang kepikiran.. gimana menjaga diri biar ga terluka parah" jelas Hana.
"Mas ga akan kaya gitu De" ujar dokter Raz melunak.
"Apa jaminannya kalo Mas ga akan seperti itu? Dulu Bang Hari juga baik kaya Mas gini, tapi begitu udah sah eh malah berubah" tanya Hana.
"Ga ada yang bisa menjamin manusia bisa berubah atau ngga, tapi lihat-lihat dulu dong siapa orangnya. Apa tampang kaya Mas ini ada muka orang rese yang bisa melakukan KDRT? Bapak pernah cerita sekilas tentang Hari. Dari situ sebenarnya Mas paham kenapa kamu terus menolak kehadiran Mas. Tapi hati Mas ga bisa melupakan kamu gitu aja De.. makanya Mas tunjukin siapa Mas biar lebih kenal" papar dokter Raz.
"Masa lalu saya bukan urusan Mas. Setiap wanita yang merasakan ada diposisi ini pasti akan melakukan hal yang sama" bela Hana.
"Sorry.. Mas ga akan sebodoh kamu, kalo ada diposisi itu.. bakalan langsung lari ke kantor polisi buat lapor. Ngapain melukai hati sendiri cuma demi nama baik orang lain dan keluarga" jawab dokter Raz agak kasar.
"Ya emang saya bodoh, jadi buat apa Mas mempertahankan orang bodoh seperti saya?" tanya Hana.
"Kamu bisa browsing berita Mas dan almarhumah istri di internet, beritanya semua sangat membuat down, makanya saat itu langsung memutuskan hijrah ke Malaysia sama anak-anak. Bukan sekedar buat Mas, tapi demi anak juga. Pernah ga terpikir, kelak kalo Nabila tau perlakuan Ayahnya ke bundanya? Apa jiwanya ga sakit? Apa yang kita lakukan sebagai orang tua, akan berdampak ke anak, pikir baik-baik De" ungkap dokter Raz.
Hana meneteskan air matanya, tanda dia sudah serba salah dan bingung dengan kondisi yang ada. Dokter Raz diam.
⬅️
Kemarin dokter Raz bertemu sama Hari di Klinik tempat Hana bekerja. Feeling dokter Raz tepat, Hari datang kesana untuk mengetahui kondisi Hana dan pastinya akan kembali mengancam agar Hana ga buka mulut. Akhirnya dokter Raz mengajak Hari masuk ke mobilnya untuk berbincang.
"Hana nikah sama gw tuh cuma karena pengen ringanin beban orang tuanya. Makanya duit gw abis buat keluarganya doang. Pas gw jatoh, mana keluarganya? malah bikin panas suasana" kata Hari.
"Itu masa lalu.. ga usah diungkit lagi, toh ga bisa diulang juga" jawab dokter Raz.
"Wajar dong kalo sekarang gw minta duit ke Hana. Anggap aja kompensasi uang yang udah gw kasih ke dia selama nikah" ujar Hari.
"Hei ... sadar ... kewajiban suami ya nafkahin istri, uang itu bukan pinjaman yang bisa kita ambil dikemudian waktu, konslet nih orang otaknya" ucap dokter Raz kesal.
"Lo yakin mau nikah sama Hana? Orang jelek kaya gitu, gw kasian sama Lo.. kalo dilihat-lihat kayanya Lo pasti kaya. Jangan jadi korban kaya gw, abis harta gw diambil sama cewe matre dan keluarganya" ingat Hari.
"Ga akan ada cewe matre kalo lelakinya ga pelit dan mau bertanggung jawab" sahut dokter Raz ngasal.
"Dia itu bakalan jadi orang baik dan lemah buat merangkap kita. Lo cari yang lain ajalah, dia ga becus ngelayanin suami. Masakannya ga enak, omongannya nyakitin hati dan buat urusan ranjang, hadeh payah banget, kaku kaya lilin... hahahha" cerita Hari.
"Oke .. cukup kayanya pembicaraan kita. Silahkan keluar dari mobil, tapi sekali lagi.. Jauhin Hana atau saya akan bertindak tegas" ancam dokter Raz.
"Bro .. gw bagi uang rokok dong. Asem nih mulut" pinta Hari ga malu.
dokter Raz mengeluarkan uang seratus ribuan dan diberikan ke Hari.
➡️
dokter Raz memberikan selembar tissue ke Hana.
"Sebentar lagi sampe Rumah Sakit, jangan keliatan banget abis nangisnya, nanti disangka Mas jahatin kamu" pinta dokter Raz.