HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 59, Bercerita masa lalu



Rombongan dokbar kembali pulang ke rumah Bidan Kokom. Karena tadi pas di jalan dokbar mendapatkan telepon untuk shift jaga dadakan menggantikan dokter lain yang sedang sakit (padahal hari ini jadwal libur), jadinya begitu sampai dia langsung pamit pulang.


"Maaf ya Bu Bidan.. Saya buru-buru pulang, maklumlah masih terima on call" kata dokbar.


"dokbar memang dedikasinya jempolan. Lagi ambil spesialis, masih kerja di Rumah Sakit sebagai penanggung jawab ruang rawat, di Pabrik obat juga suka kasih pelatihan.. Eh masih pula nerima on call. Emang ga cape dok?" ujar Bidan Kokom.


"Demi Bu Bidan.. demi masa depan yang lebih cerah.. Hehehe" jawab dokbar.


"Makasih ya dok.. sudah menyampaikan amanat Bapak saya" ucap Bhree.


"Sama-sama.. finally... Amanahnya sudah tertunaikan.. Pamit dulu ya semua.. Assalamualaikum.." pamit Barra.


"Waalaikumsalam" jawab Bidan Kokom dan Bhree bersamaan.


.


"BHREEEEE..." panggil Mas Wisnu.


Bhree yang baru mau masuk kedalam rumah spontan menengok keasal suara.


"Mas Wisnu..." sahut Bhree ga percaya.


"Siapa Bhree?" tanya Bidan Kokom.


"Orang yang sudah saya anggap seperti Kakak sendiri" jawab Bhree.


"Oh.. Kakak ketemu gede.. Ya udah sana temuin, kangen kali sama kamu" ledek Bidan Kokom yang langsung masuk kedalam rumah.


Mas Wisnu menghampiri Bhree, Bhree tersenyum manis.


"Apa kabar Mas?" tanya Bhree senang.


"Alhamdulillah baik.. Ya ampun.. pangling banget sih Bhree.. jadi cantik sekarang. Dulu mana ada cakep-cakepnya, wong tomboi abis" puji Mas Wisnu.


"Jangan muji kelebihan Mas.. Nanti Mba Fenti cemburu lagi loh" ucap Bhree mengingatkan.


"Tapi beneran loh Bhree.. Jadi cantik. Udah berubah nasib nih kayanya.. Dapat warisan? kerjaan yang bagus? Atau .. Atau nikah sama lelaki kaya nih?" lanjut Mas Wisnu bercanda.


"Bercanda aja nih Mas.. " sahut Bhree.


"Long time no see .. Tapi Mas senang kamu sehat dan baik-baik aja" ujar Mas Wisnu.


"Mas Wisnu tau Bhree disini dari mana?" tanya Bhree mengalihkan pembicaraan.


"Istrinya Ustadz Amirul bilang katanya ada Bidan yang lagi tinggal disana, namanya Bhree. Mas penasaran pas dengar namanya, terus ditunjukin foto kamu. Langsung deh Mas kesini buat mastiin. Ternyata ini beneran kamu. Ga nyangka kita bisa ketemu lagi, udah tiga tahun kan kita ga kontak. Kamu kaya ilang ditelan bumi, kemana aja sist?" ungkap Mas Wisnu.


"Panjang ceritanya Mas.. Nanti kalo sempat diceritain deh" kata Bhree.


"Minta nomer kamu dong, biar kita bisa keep in touch" pinta Mas Wisnu.


Bhree memberikan nomer teleponnya ke Mas Wisnu.


"Gimana kabar Mas sekeluarga?" tanya Bhree.


"Gimana ya Bhree .. Dibilang baik ya ngga, dibilang ga baik juga ngga. Bisa ga kita makan diluar, sekalian ngobrol, disini rasanya ga pas tempatnya" ajak Mas Wisnu.


"Saya ikut praktek bidan sampe jam lima Mas, kalo mau nanti ba'da Maghrib kita bisa ngobrol. Emangnya Mas pulang kapan?" tanya Bhree.


"Gampanglah urusan pulang mah" jawab Mas Wisnu.


.


Mas Wisnu pergi sama Bhree sekitar jam tujuh malam, mereka pamit ke Walid untuk makan diluar. Walid sudah tau bagaimana hubungan mereka, memang tidak melarang secara frontal untuk pergi berduaan, tapi mengingatkan untuk pulang dibawah jam sembilan malam.


.


Buru-buru Mas Wisnu menyodorkan minuman ke Bhree. Setelah reda batuknya Bhree, Mas Wisnu melanjutkan cerita.


"Ga lama dari kamu pergi, ada kejadian yang menghebohkan. Fenti ketahuan selingkuh sama Papa Mas sendiri.. Gila kan main sama mertua" ucap Mas Wisnu dengan nada mengejek.


Bhree tidak berkomentar.


"Ternyata kejadian Fenti pergi dari rumah itu bukan karena cemburu sama kamu atau kesibukan Mas, tapi ngambek sama Papa. Papa janji ga berhubungan lagi sama Ibu kamu, tapi ternyata Fenti memergoki kebersamaan Papa dan Ibu kamu di Apartemen. Dia balik juga atas rayuan Papa, diiming-imingi uang. Mas kira balik untuk lebih saling memahami, ternyata hanya untuk bisa bareng Papa. Ditambah saat itu kan Papa memang butuh support dan ada yang merawat. Kesempatan itu mereka gunakan buat main gila tanpa Mas curiga" lanjut Mas Wisnu.


"Yang bener Mas? Jadi saat itu cinta segitiga antara Mba Fenti, Ibu dan Pak Handoko? beneran dunia emang udah deket akhir jaman" sahut Bhree sambil geleng-geleng kepala.


"Ternyata mereka mulai berhubungan saat Mas dan Papa berbaikan dan saling menerima kejadian masa lalu. Kan Mas sering ajak keluarga main ke rumah Papa. Emang dasar Papa mata keranjang, ditambah Fenti tipe cewe maunya senang.. kloplah. Mas pernah dengar selentingan orang yang bilang buat hati-hati jagain Fenti, tapi ya namanya Mas percaya sama dia, so Mas ga gubris. Kalo ingat itu mah rasanya jadi laki paling bego sedunia" jawab Mas Wisnu.


"Mas baik-baik aja sekarang?" tanya Bhree.


"Karena kamu nanya sekarang ya jawabannya baik-baik aja, malah udah bahagia. Padahal tiga tahun lalu Mas ada dititik terendah dalam hidup, malah sempat putus asa dan mau mengakhiri hidup. Rasa sedih, marah, kecewa dan segala macam jadi satu" kata Mas Wisnu.


"Anak-anak gimana Mas?" ujar Bhree.


"Anak-anak udah sama Mamanya" jawab Mas Wisnu agak berat suaranya.


"Tapi masih bisa ketemu kan?" ucap Bhree.


"Mereka sudah berpulang ke Rahmatullah semuanya. Saat kejadian, Mas pulang cepat, terus mergokin Papa dan Fenti tengah bercinta di rumah Mas, dalam kondisi tanpa busana. Anak-anak tengah bermain di kamarnya masing-masing. Asisten rumah tangga hari itu libur, katanya sakit, padahal setelah itu Mas baru tau kalo memang Fenti yang nyuruh mereka libur. Ya secara mau enak-enak kan sama Papa, biar ga ada yang ganggu. Mas pecahin kaca jendela kamar karena memang pintunya ga bisa didobrak. Begitu ketahuan, Papa langsung kabur. Mas dan Fenti ribut besar didepan anak-anak. Dalam kondisi ga stabil, Fenti bawa anak-anak naik ke mobil, sempat tarik-tarikan anak. Tapi Mas akhirnya lepas karena anak-anak udah histeris, Mas ga mau mereka trauma. Mas berpikir nanti akan diperjuangkan di pengadilan saja untuk hak asuh. Tapi malang ga bisa terelakkan, terjadilah kecelakaan itu. Mereka bertiga meninggal di tempat kejadian. Kecelakaan tunggal, mobil menghantam pembatas jalan dan terguling" Mas Wisnu cerita semuanya secara terputus-putus menahan rasa.


"Maaf Mas.. Jadi membuka luka lama" pinta Bhree ga enak hati.


"Gapapa Bhree.. Mas udah oke kok sekarang, legowo menerima semua. Walid dan Pak Ustadz Amirul yang nolong Mas buat bangkit. Makanya Mas sering ke tempat Walid" sahut Mas Wisnu.


"Terus hubungan Mas sama Pak Handoko kembali tegang?" tanya Bhree hati-hati.


"Setahun pertama iya, tapi sekarang udah lebih baik. Papa udah nikah sama karyawan di Rumah Sakit, Ibu sambung ini banyak memberikan perubahan ke Papa. Anak-anak Papa dikasih warisan sebelum Papa nikah lagi. Sekarang Papa tinggal sama istri dan anak sambungnya. Istrinya udah ga kerja lagi di Rumah Sakit, full jadi Ibu Rumah Tangga" ujar Mas Wisnu.


"Sampai detik ini, sulit saya berdamai sama keadaan Mas, salah satunya ke Pak Handoko. Saya ga menyalahkan satu pihak, karena Ibu juga mau kan? Apa yang menimpa saya sebenarnya ga ada apa-apanya dibandingkan sama yang Mas alami. Gimana bisa setegar ini Mas?" ungkap Bhree rada mellow.


"Ikhlas aja.. percaya kalo ini adalah bagian takdir yang Mas harus jalani" ucap Mas Wisnu santai.


"Maaf Mas.. Apa Mas udah nikah lagi? Soalnya keliatan banget bahagianya" tanya Bhree.


"Belum.. move on bukan berarti Mas udah nikah lagi kan? Kayanya banyak hal yang Allah ganti jadi lebih baik, kecuali urusan jodoh ya. Udah pernah mencoba membuka hati, tapi ujung-ujungnya ga ada yang berhasil untuk dijadikan istri. Hari gini duda udah ga laku kali ye ..." jawab Mas Wisnu.


"Usaha Mas gimana sekarang?" tanya Bhree lagi.


"Alhamdulillah Bhree .. Mas udah punya sepuluh studio foto yang tersebar diseluruh Jabodetabek. Mas sejak menang lomba fotografi diluar negeri jadi banyak dapat klien konglomerat, pengusaha dan artis. Coba aja kamu googling nama Mas, udah cukup dikenal loh.. Hahaha" pamer Mas Wisnu.


"Alhamdulillah.. Semoga nanti Mas bisa dapat pendamping yang mengerti Mas" harap Bhree.


"Cari istri jaman sekarang susah-susah gampang Bhree.. Let it flow aja. Oh ya.. Kamu sendiri gimana?" tanya Mas Wisnu.


"Saya kuliah kebidanan, sekarang lagi ambil profesi dulu, aturan baru Mas kalo Bidan mau praktek sendiri ya harus jalanin profesi, tapi udah punya sih ijin kerja, sabar dulu deh setahun lagi baru cari kerja" kata Bhree.


"Kok bisa nyasar di kebidanan? Lupa sama cita-cita mau jadi fotografer?" ledek Mas Wisnu yang tau banget bagaimana kerasnya keinginan Bhree jadi pekerja seni.


"Hidup ternyata perlu pikir panjang kan Mas? Ga sekedar keinginan, tapi harus sadar sama kenyataan. Saya dibiayai oleh keluarga Bapak, ya.. pada akhirnya Bapak ternyata punya keluarga. Karena semua keluarga bergerak di dunia medis, jadilah saya pilih ke Bidan. dokter dan apoteker udah ada, kalo perawat kayanya ga perlu banget di keluarga mereka. So.. inilah pilihan satu-satunya yang bisa diambil" ucap Bhree.


"Kayanya keluarga Bapak kamu kaya kali ya Bhree? kuliah kebidanan kan ga murah, ditambah .. look.. penampilan kamu berkelas sekarang. Baju, sepatu, tas dan jam tangan yang kamu pakai ini lumayan loh harganya. Pasti kamu udah jauh lebih bahagia ya Bhree?" ucap Mas Wisnu.


"Semua ini dikasih Mas, saya hanya menikmati fasilitas saja. Tapi ga mentang-mentang dikasih enak jadi hura-hura ya, tetep aja Mas.. harus down to earth" jawab Bhree merendah.


"Hati-hati Bhree.. mereka kan baru kamu kenal. Semoga ga ada niat jahat sama kamu, bisa sayang dan mendukung selayaknya keluarga" kata Mas Wisnu mengingatkan.


"Saya justru udah bersiap pergi dari keluarga mereka setelah lulus. Bukan ga mau balas budi, tapi ini semua buat kebahagiaan keluarga mereka juga. Susah Mas kalo diceritain, next lah kalo ada waktu kita bisa lanjutin obrolan, sekarang pulang aja yuk Mas, nanti ga enak sama keluarga Walid" kata Bhree.