
Dari Maghrib hingga sekarang menjelang subuh, Bhree hanya minum air putih saja. Tidak ada makanan di studio foto. Uangnya pun hanya tersisa lima ribu rupiah, di Jakarta uang segitu hanya bisa beli gorengan atau roti warung saja, tidak cukup untuk membeli nasi.
Terakhir makan dua hari yang lalu, itu juga karena dibawakan makanan oleh Mas Wisnu. Kemarin studio foto tutup, ada pemotretan di pernikahan kliennya Mas Wisnu serta foto wisuda. Bhree tidak diajak karena personilnya sudah cukup.
Dari kemarin hanya minum, membuat perutnya terasa kembung, dia juga merasa agak perih, tetiba teringat masakan Ibunya di rumah, ditengah kesibukannya, Bu Diah tidak pernah absen menghidangkan sajian nan lezat untuk mereka santap. Meskipun hanya telur dadar, tapi enak dirasa oleh mulut.
Bhree berusaha menepis bayangan itu, dia ga akan menyerah begitu aja, Bhree ga mau mengorbankan sikapnya yang menolak perbuatan sang Ibu hanya demi perut terisi makanan.
.
Pagi hari ini, Mas Wisnu mampir ke studio foto karena akan mengambil contoh bingkai yang lupa ia bawa, tak lupa membawakan nasi goreng untuk Bhree, titipan dari istrinya.
Bhree langsung makan dengan lahapnya. Belum pernah ia merasakan kelaparan seumur hidupnya.
Mas Wisnu yang melihat Bhree makan jadi merasa kasihan, anak muda yang seharusnya sedang menikmati hidup justru harus kesepian serta bernasib seperti ini.
Mas Wisnu duduk disampingnya Bhree.
"Kamu masih lapar Bhree?" tanya Mas Wisnu.
"Ga Mas... Alhamdulillah sudah sangat kenyang" jawab Bhree.
"Kenapa ga balik ke rumah? minta maaf ke orang tua, berbincang baik-baik tentang keinginan kamu yang ga mau masuk Akademi keperawatan" lanjut Mas Wisnu.
"Ga Mas, Bhree sudah memilih untuk keluar dari sana. Rasanya sudah cukup" ujar Bhree.
"Kamu masih punya Ibu, masih ada yang mendo'akan.. beda sama Mas" Mas Wisnu duduk memandang keluar dari balik jendela.
"Ibunya Mas Wisnu kemana?" tanya Bhree.
"Sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Mas jadi penyebab Mama kena serangan jantung.. ya ... sama seperti kamu, punya mimpi jadi fotografer, orang tua ga setuju karena Papa maunya semua anak-anak jadi dokter. Akhirnya... Papa marah saat undangan salah satu universitas, Mas tolak. Mama yang sangat sayang sama Mas, langsung terjatuh dan meninggal saat itu juga. Mama meninggal dalam pangkuan Mas. Mas ga nyangka kalo ternyata keinginan Mas bisa jadi polemik dalam keluarga. Mas sempat nyerah dan ikut keinginan keluarga, masuk kuliah di kedokteran seperti keinginan Papa. Tapi gejolak itu kembali muncul setelah Mas melewati satu tahun kuliah di kedokteran. Mas nekat pergi seperti kamu sekarang ini, tapi Mas bawa semua kamera, mobil dan sertifikat rumah yang memang untuk Mas. Jadi bisa dibilang ga ngegembel bangetlah. Mas jual rumah itu dan beli yang lebih murah, sisanya buat daftar kuliah dan kursus fotografi. Mas juga ikut komunitas hingga dapat kerjaan sambilan. Dari angkut kamera, pegang lampu, ah segalanya deh. Setelah lulus kuliah, Papa akhirnya menyerah, mendukung keinginan Mas. Tapi Mas ga dekat sama Papa. Sudah dua kali Papa menikah setelah kematian Mama. Tapi karena ga cocok sama pilihan Papa, ya Mas jarang kesana. Hanya lebaran datang, itupun sekedar salaman aja terus pulang" cerita Mas Wisnu.
Bhree diam menyimak dan ga enak bertanya macam-macam.
"Keluarga Mas sibuk semua... Papa sibuk dengan bisnis di dunia kesehatan, Mama sambung punya bisnis perhiasan. Adik-adik juga sibuk sebagai dokter. Ya dari empat bersaudara, hanya Mas yang ga jadi dokter" lanjut Mas Wisnu.
"Bhree anak tunggal Mas, orang tua lengkap tapi sudah berpisah. Bhree nekat banget ya Mas? memutuskan keluar dari rumah tanpa punya apa-apa" tanya Bhree.
"Yes... kamu ga punya perhitungan yang matang Bhree. Apalagi kamu perempuan. Mas juga khawatir nantinya akan jadi masalah kalo kamu disini terus" ucap Mas Wisnu.
"Mas Wisnu mau ngusir?" tanya Bhree.
Bhree dan Mas Wisnu kini menatap langit yang sama tapi dari jendela yang berbeda.
HP Bhree berbunyi, ada panggilan dari nomer yang tidak dikenal. Buru-buru dia mengangkatnya.
"Halo selamat siang...dengan Mba Shabreena Narasati?" kata sang penelepon.
"Selamat siang ... Ya benar saya Shabreena, maaf dengan siapa ini ya?" tanya Bhree
"Mba pernah masukin message ke media sosialnya Bang Tama ... Utuber" ucap sang penelepon.
"Iya Mas, waktu itu saya liat postingannya di media sosial kalo dia membuka lowongan pekerjaan untuk bagian umum" jelas Bhree.
"Besok bisa datang ke kantor? Kita ngobrol disana" pinta sang penelepon.
"Bisa Mas, boleh minta alamatnya?" tanya Bhree.
"Oke .. nanti saya share loc ya" jawab penelepon.
"Terima kasih Mas" lanjut Bhree.
Dua Minggu yang lalu, Bhree melihat unggahan dari Tama yang sedang mencari asisten bagian umum. Sebagai Utuber yang mulai dikenal lebih luas, banyak yang harus diurus. Jadinya memerlukan semacam personal asisten tapi masih tingkat yang simpel, makanya ditulis untuk bagian umum.
.
Tama sekarang sudah menyewa sebuah ruko sebagai basis kantornya. Ada editor yang direkrut untuk mengedit vlognya karena dia sudah sangat terbatas waktunya. Ada juga bagian khusus handle semua media sosial milik Tama serta mengurus endorse.
Kali ini Tama perlu seorang asisten yang bisa membantunya dalam proses pembuatan konten, seperti bawain barang, mengatur pakaian yang dipakai dari kepala hingga kaki, bisa diminta bantuan ketika proses syuting berjalan. Terkadang Tama jadi repot sendiri ketika syuting, timnya sibuk mengambil konten sedangkan dia perlu fokus, beberapa kali ada aja kehilangan barang seperti HP dan dompet. Syuting ditengah keramaian memang beresiko ada yang melakukan tindak kejahatan seperti itu.
Saat Tama memeriksa pesan yang masuk ke media sosialnya, surat lamaran Bhree rupanya menarik minatnya sehingga Tama meminta asistennya untuk menghubungi Bhree.
Banyak pertanyaan yang sudah diajukan ke semua pesan yang masuk, tapi rupanya Bhree mempunyai jawaban yang menurutnya sangat menarik, apalagi saat ada pertanyaan mengapa ingin bekerja dibawah naungan Tama, Bhree menjawab keinginannya untuk ambil kursus fotografi dan mempunyai kamera agar dia bisa mencari uang dari kamera tersebut. Tama pastinya punya tim kameramen dan editor yang bisa diambil ilmunya sebagai bekal pengetahuan kedepannya. Bagi Tama, jawaban seperti itu adalah jawaban dari semangat muda yang ingin maju dibawah pijakan kaki sendiri. Sama seperti dirinya.
🍄
Diva makin kewalahan ketika menyelesaikan pekerjaannya karena sering tidak ada asisten, padahal pihak manajemen artisnya sudah memberikan beberapa kali asisten pribadi kepadanya, tapi tidak ada yang tahan sama perangai Diva yang makin lama makin sok ngartis.
Pernah Diva akhirnya dipanggil oleh pihak manajemen artis, diberikan nasehat agar mengubah sedikit perangainya, bahkan tidak segan-segan pihak manajemen akan memutuskan kontrak dengan Diva.
"Jangan gagap sama ketenaran yang Lo punya sekarang. Kami pihak manajemen tau mana yang baik dan ga buat artisnya. Lo masih artis bau kencur.. baru kemaren. Artis papan atas kita aja masih mau kok diatur. Bisa apa Lo kalo ga kita support? kontrak-kontrak kerjaan itu juga harus diperiksa biar sesuai antara pekerjaan dan bayaran" kata pihak manajemen dengan geramnya.
Sudah biasa bahasa tidak formal ketika pihak manajemen artis dan artisnya berbincang.
"Maaf Pak.. tapi asisten yang diberikan ke saya ga bisa kerja" bela Diva.
"Eh.. Lo yang belagu kali.. semua udah kita tanya dan jawabannya seragam.. Lo yang punya tabiat jelek. Sekarang mau Lo apa? kalo masih mau dibawah Bintang Management.. ya Lo ikutin semua aturan yang ada" ucap pihak manajemen kesal.
"Saya minta agar Mba Rika balik kerja sama saya. Dia yang paling cocok selama ini" pinta Diva.
"Dengerin ya.. sebagai sanksi atas perbuatan Lo yang bikin para asisten artis ini seolah ga bisa kerja saat sama Lo.. selama satu bulan, ga ada asisten ya. Urus semuanya sendiri. Pihak manajemen hanya akan memberikan jadwal mingguan. Terserah Lo mau jungkir balik gimana nyiapin kerjaan ... paham? Setelah satu bulan kita akan nilai, masih pantes ga dipertahanin di Bintang Management" gertak pihak manajemen.
Diva mendengar ancaman akan diputus kontrak rupanya langsung ciut. Bintang Management ini salah satu manajemen artis yang sudah punya nama di negeri ini. Banyak artis ternama dibawah naungan manajemen ini. Konon katanya sangat profesional, melayani artis dengan baik dan tentunya pembagian penghasilan yang adil. Mereka juga mendatangkan para profesional dibidangnya agar kemampuan artis makin bertambah. Penyanyi akan diberikan pelatih vokal, para aktor dan aktris akan diberikan kelas akting dan lain sebagainya. Dan semua diberikan secara gratis oleh pihak manajemen.
Seminggu yang lalu, Elsa sudah menyelesaikan tugas mengajarnya didaerah terpencil. Rupanya dia mendapatkan panggilan kerja dari salah satu sekolah internasional yang ada di Jakarta. Selain itu, dia juga menjadi bridesmaid temannya sesama pengajar saat didaerah terpencil dulu.
Elsa akan berangkat dari Solo dan tiba di Jakarta subuh ini. Berhubung Barra sedang tugas jaga IGD dan baru menyelesaikan tugasnya jam tujuh pagi, jadinya Barra akan menjemput Elsa di Hotel tempat Elsa menginap.
Rupanya kesempatan ini akan mereka gunakan untuk mengenalkan keluarga Barra ke Elsa. Barra sudah menceritakan tentang Elsa ke orang tuanya, mereka pun sangat antusias menunggu kehadiran Elsa di rumah.
Jam tujuh pagi, setelah dokter Barra operan dinas dengan dokter jaga selanjutnya, buru-buru dia menuju parkiran.
"dokbar.. laju amat jalannya, tumben juga udah mandi dan ganteng" goda security.
"Iya nih Pak.. lepas dinas" jawab dokbar.
Memang pagi ini dia sudah mandi, biasanya baru mandi kalo sudah sampe di rumah, tapi karena ada janjian sama Elsa, jadinya dia sudah mandi.
.
dokbar memakai celana jeans dan kaos berkerah dilengkapi topi, dia menunggu Elsa di lobby hotel.
Pertemuan ini menjadi lepas kangen keduanya. Elsa langsung menggandeng lengan dokbar menuju parkiran.
Memang rencananya pagi ini ke rumah Barra kemudian nanti jam satu siang akan ada meeting untuk para bridesmaid guna mengetahui susunan acara untuk esok hari. Dan dokbar sudah menyediakan waktunya hari ini full untuk menemani Elsa. Besok pagi dokbar akan berdinas lagi di Klinik selama dua belas jam, jadi tidak bisa menemani Elsa diacara pernikahan temannya Elsa.
Elsa kaget ketika Barra hanya membawa motor untuk menjemputnya.
"Mas Barra ga jemput pake mobil?" tanya Elsa heran.
"Ga punya mobil Ca" sahut Barra.
"dokter di Jakarta ga punya mobil? Masa sih Mas.. apalagi jadwal Mas lumayan padat, ada tiga tempat praktek. Emang ga bisa gitu nyicil mobil?" ucap Elsa.
"Kan Mas udah bilang berapa pendapatan Mas per bulannya dan penghasilan itu buat apa aja" jawab Barra serius.
"Kalo gitu, Ceca pesan taksi online aja deh. Minta alamat rumah Mas, kita ketemuan disana" ungkap Elsa.
"Ca... Mas jemput jauh loh dari Rumah Sakit kesini. Lagi pula Jakarta di pagi hari plus hari kerja itu pasti macet. Kamu kan lagi ngejar meeting, kita akan cepat sampai kalo naik motor" alasan Barra.
"Ga mau... berdebu dan panas" ucap Elsa.
Barra memesankan taksi untuk Elsa, kemudian dia memacu motornya menuju rumah.
Perjalanan dari Hotel ke rumahnya sekitar empat puluh menit kalo pakai motor. Dia rehat sejenak bahkan sempat tidur dulu.
Ibunya sudah menyiapkan masakan untuk menyambut Elsa. Meskipun kondisi Ibunya masih sakit, tapi memaksakan diri karena bahagia akan berkenalan dengan calon mantu. Bisa dibilang inilah saat yang mereka tunggu, yaitu Barra mengenalkan sosok wanita yang dicintainya selama kurang lebih lima tahun. Dulu pernah kenalan saat Barra lulus sarjana kedokteran, tapi hanya sekilas saja dan tidak tau kalo Elsa adalah kekasih anaknya.
Benar saja prediksi Barra, Elsa terjebak macet dan baru sampai di rumah Barra sekitar jam sepuluh pagi.
Rumah Barra masuk gang, bukan di jalan yang masuk mobil, Barra menjemput Elsa diujung gang.
Rumah yang terletak di perkampungan biasa. Bangunan sederhana dengan tiga kamar tidur dan ruangan standar lainnya, berdiri diatas tanah seluas tujuh puluh meter persegi, ga ada tempat parkir, langsung teras sekitar satu meter dan sudah ketemu pintu masuk. Motornya Barra saja ada di ruang tamu.
Keluarga Barra menyambut Elsa dengan hati yang berbunga dan kehangatan keluarga.
Setelah berbincang, Elsa ditawari untuk makan.
"Ini rumah orang tuanya Mas? Ceca kira Mas rumahnya di komplek mewah, ga taunya di kampung begini, mana ga masuk mobil lagi" bisik Elsa ketika keluarganya Barra menuju ruang tengah untuk menyiapkan hidangan.
"Ya inilah istana keluarga Mas. Kecil memang, ga seperti rumah keluarga kamu Ca, tapi disinilah banyak cinta luar biasa dari orang-orang yang biasa aja" jawab Barra pelan.
"Mas.. Ibu Mas penyakitnya ga menular kan?" tanya Elsa.
"Maksudnya apa ya Ca?" Barra balik bertanya.
"Ya kan kalo menular bahaya buat yang datang kesini" jawab Elsa tanpa memikirkan perasaan Barra.
"Kok kamu gitu sih Ca?" rupanya Barra mulai tersinggung.
"Makanya Ceca tanya... Mas kan dokter, masa kehidupannya kaya begini sih" lanjut Elsa.
Barra seakan tak percaya, wanita yang amat dikagumi dan dicintainya bisa berkata seperti ini kepadanya. Bahkan khawatir ketularan penyakit Ibunya. Terbetik rasa kecewa, tapi dia tutupi demi rasa cintanya yang sudah mendalam pada Elsa. Toh selama ini dia tidak pernah mengaku sebagai anak orang kaya atau pamer punya ini itu. Semua diceritakan secara gamblang apa adanya.
Image sebagai seorang dokter itu banyak uang dan kehidupannya mentereng, sudah lazim ada disetiap benak umat manusia dimuka bumi ini. Tapi pada kenyataannya, masih banyak dokter-dokter yang penghasilannya minim. Rasanya tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan untuk menuntaskan kuliah kedokteran hingga menjadi seorang dokter yang siap praktek.
Barra terus berdo'a, semoga selama perkenalan Elsa dengan keluarganya kali ini akan berjalan lancar.
Dengan langkah ragu dan perlahan, Elsa menuju ruang tengah untuk makan, Barra berjalan dibelakangnya Elsa.
"Silahkan Elsa.. jangan malu-malu, hanya ini yang bisa kami siapkan" basa basi Bapaknya Barra.
Elsa yang melihat hidangan hanya ada sayur bening, orek tempe dan telur balado, merasa ga tertarik.
"Maaf Bapak .. Ibu.. saya sudah ada janji meeting untuk acara wedding teman saya besok, siang ini acaranya, ga enak kalo telat. Lagipula tadi saya sudah sarapan di Hotel. Yang penting saya sudah berkenalan dengan keluarga Mas Barra" jawab Elsa menolak.
"Oh begitu.. lain kali mampir lagi ya, nanti Ibu siapkan makanan istimewa buat Elsa" kata Ibunya Barra.
"Oh ya.. Pak.. Bu .. sepertinya saya tidak bisa pamit pas mau pulang ke Solo, karena jadwalnya padat. Besok wedding teman, lusa saya ada interview kerja dan malamnya langsung balik ke Solo" jelas Elsa.
"Gapapa Elsa.. terima kasih sudi mampir kesini dan berkenalan dengan kamu" ucap Bapaknya Barra.
🍄
Maaf ya baru bisa update dua hari sekali, banyak alasan teknis dan non teknis. Tapi lebih kepada banyak pertimbangan untuk penyajian tentang Rumah Sakit. Semoga bisa bersama menjadi bahan pembelajaran bersama dan tidak selalu memandang buruk ke pelayanan Rumah Sakit.