HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 71, Kesempatan baru



Tanpa sengaja, acapkali Tama bertemu sama Elsa saat mau bikin konten. Dari sana mereka banyak ngobrol dan akhirnya jadi lebih saling mengenal. Bahkan Tama sudah menganggap Elsa seperti Kakaknya sendiri. Banyak hal pribadi yang diceritakan karena saking nyamannya curhat. Demikian pula dengan Elsa, dia menemukan orang yang akhirnya mengerti tanpa menghakimi pilihan hidupnya kini.


"Mba ga diperpanjang kontraknya sama perusahaan yang sekarang, bisnis e-commerce lagi mengalami penurunan, bahkan rencananya bulan depan akan ada PHK massal" cerita Elsa saat bertemu sama Tama didekat stasiun Bogor.


"Terus langkah selanjutnya mau gimana Mba? Udah ada kerjaan? atau ada rencana balik kampung?" tanya Tama.


"Belum ada rencana apapun, Mba dikasih waktu seminggu ini sama keluarga buat dapetin kerjaan, kalo ga... ya terpaksa balik kampung" ucap Elsa pasrah.


"Ya mungkin lebih baik begitu Mba, mending sama keluarga disana, daripada luntang lantung sendirian disini. Pasti keluarga khawatir sama Mba" saran Tama.


"Pulang artinya Mba siap menerima perjodohan.. ga nyangka ya, dulu hidup yang rasanya dah hampir sempurna, sekarang cuma tinggal kenangan. Mungkin karma karena udah menghina seseorang dimasa lalu" ujar Elsa sambil menarik nafas panjang.


"Masih ngarep CLBK sama dia?" tanya Tama.


"Udah lost contact sekitar empat tahun lebih, dia juga ga aktif di medsos, jadi beneran ga ada kabar apapun dari dia. Bisa jadi dia udah nikah kan?" ungkap Elsa.


"Mungkin saatnya merangkai kisah baru Mba, Mas Bagas aja sedang menantikan anak keduanya" kata Tama.


"Ya.. selama ini juga udah coba membuka diri berkenalan dengan lelaki lain, tapi mungkin ga ada yang serius. Usia Mba kan sekarang masuk dua puluh tujuh tahun, hampir mendekati pala tiga.. belum punya pekerjaan mapan, ga punya potensi yang bisa dibanggakan.. Pokoknya ga ada nilai plus deh" ungkap Elsa rada putus asa.


"Siapa tau pilihan orang tua terbaik buat Mba" ujar Tama.


"Ya.. kamu sendiri gimana Tam? Udah ketemu sama your first love?" tanya Elsa balik.


"Kayanya di point ini kita hampir sama, dia menghilang juga selama empat tahun tanpa jejak. Ga punya medsos atau keluarga yang bisa ditanya-tanya. Kadang mikir sih Mba, apa ga sia-sia nungguin dia? Ga tau deh, apa masih bisa ketemu lagi sama dia" ungkap Tama agak mulai bimbang.


"Dia pasti wanita istimewa ya? Dicintai tanpa henti. Beda sama Mba yang ga istimewa ini" ujar Elsa agak sinis dengan dirinya sendiri.


"Jangan nyalahin diri sendiri terus Mba, pernikahan Mas Bagas kan karena kebodohannya juga. Terus penolakan Mba terhadap Pak dokter itu juga karena kebodohan pemikiran pendek Mba. Sebenarnya ga salah sikap Mba, wanita harus yakin kalo laki-laki bisa menafkahinya, mana ada di dunia ini yang bisa dibayar pake cinta doang. Yakin aja ada lelaki baik kalo Mba memang sudah berubah karena dapat banyak pelajaran hidup" sahut Tama.


"Kalo Bhree datang .. Apa yang bakal kamu lakuin Tam?" tanya Elsa.


"Tanya dulu dia masih single atau udah nikah. Kalo single kayanya langsung pedekate lagi deh Mba, pokoknya bakal pol-polan kali ini. Ga mau selow kaya dulu lagi. Kalo Mba ketemu dokter itu gimana?" balik Tama bertanya.


"Kayanya mau dia single atau udah nikah, Mba akan menghindar dulu. Malu rasanya berhadapan sama dia. Mba sih berharap dia udah punya pasangan, jadi Mba ga merasa bersalah banget kalo ketemu sama dia" papar Elsa.


"Artinya Mba mengakui kalo dia mantan terindah dan yang paling nyaman di jiwa, sampe rela melihat dia bahagia meski ga sama Mba?" ujar Tama.


"Lama kami berhubungan meskipun LDR, wanita mana yang ga merasa dicintai kalo dia selalu memberikan sinyal cinta yang sangat manis" ucap Elsa sambil tersenyum.


"Yakin ga nangis kalo dia gandengan sama cewe lain?" kata Tama meyakinkan.


"Sama Diva ga ada rasa?" Elsa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ga.. Ga sama sekali hati saya bergetar, cuma sama Bhree saya ngerasain cinta" jawab Tama yakin.


"Kalo Bhree udah nikah gimana? Mending buka lembaran baru aja" saran Elsa.


"Ya.. Maunya gitu sih Mba, tapi tiap mencoba mencari cinta yang baru kok inget sama dia terus. Pokoknya otak saya cuma penuh sama nama dia" ujar Tama agak berat suaranya.


"Tam... Jangan mengejar yang masih dalam impian, sekarang ada Diva tuh didepan mata, jangan sia-siakan gitu aja. Mba liat dia suka sama kamu. Cukup kisah Mba jadi pelajaran, melepaskan orang yang tulus demi impian bareng Mas Bagas, padahal Mas Barra udah jelas ada didepan mata, mana keluarga suka dan setuju banget sama dia" nilai Elsa.


Diva menghampiri Tama dan Elsa.


"Bang.. Ada orderan dadakan nih, kaos stok kita, tapi minta dibungkus satu persatu pake kertas kado, Mba Uli udah hitung semua plus okir, orangnya udah transfer juga, ngelembur kita nih, soalnya besok malam minta udah sampe" lapor Diva.


"Berapa pieces?" tanya Tama.


"Gope" jawab Diva.


"Mba Elsa ga ada acara kan? Bisa ikut bantu?" tawar Tama.


"Boleh" jawab Elsa antusias.


🌿


Hari mencari kerja serabutan, uangnya sudah menipis karena buat bayar kontrakan dan makan, rupanya keberuntungan masih ada di tangannya. Dia sekarang menjadi supir dokter Amalia, anak angkat Pak Daliman. Secara tidak sengaja mobil yang dikendarai oleh dokter Amalia mogok, Hari membantu memperbaiki dan bisa jalan lagi. Supir dokter Amalia baru saja resign karena mau kerja disebuah perusahaan yang jam kerjanya jelas. Kalo kerja sama dokter maka jam kerjanya kadang tidak tentu waktu.


Tanpa pikir panjang akhirnya Hari setuju, dia tidak tinggal di rumah dokter Amalia, tapi akan standby disana dari jam tujuh pagi. dokter Amalia ini seorang dokter umum, tapi juga punya Klinik kecantikan yang serupa dengan Klinik kecantikan Aura milik Debi. Dulunya mereka kerjasama, tapi pecah kongsi, Debi mengganti nama Klinik menjadi Aura dan tidak beroperasi di Jakarta agar tidak bersaing dengan Klinik kecantikan milik Kakaknya. dokter Amalia hanya praktek di Klinik dokter bersama milik Pak Daliman dan Klinik kecantikannya.


Hari juga menumbuhkan kumisnya dan selalu memakai topi agar orang-orang ga gampang mengenalinya. Hari masih takut kalo dia terseret dalam kasusnya Melati.


.


Saat sarapan, semua berkumpul, Bhree ikut bergabung, hari ini dia akan berangkat sekitar jam tujuh seperempat karena jam delapan sudah ditunggu oleh pihak HRD Rumah Sakit.


"Kerja dimana?" tanya Amalia.


"Di Rumah Sakit Cinta Medika Tante" jawab Bhree.


"Rumah Sakit beken itu, susah loh bisa jadi karyawan disana. HRD nya sangat selektif. Sering juga artis berobat disana karena memang dokternya bagus-bagus. Tau dari mana ada lowongan disana?" tanya dokter Amalia.


"Ada dokter anak yang kasih informasi, kebetulan kenal pas Bhree lagi PKL" jelas Bhree.


"Kerja yang bener, jangan bikin malu keluarga" ingat Zaki.


"Ya Om.. Ini kan kerja pertama kalinya, biasanya cuma PKL, jadi Bhree pasti ingin nunjukin kinerja yang bagus untuk Rumah Sakit" kata Bhree.


"Pede boleh.. Tapi jangan kepedean" sahut dokter Amalia.


🌿


Bhree turun dari ojol didepan pintu gerbang Rumah Sakit. Kemudian dia berjalan menuju pos security untuk melapor diri.


Klakson berbunyi, security menyembulkan kepalanya keluar.


"Ada makanan nih" teriak dokbar dari dalam mobil.


Security langsung berlari mendekati dokbar dan mengambil bungkusan.


"Bhree.. mulai masuk hari ini?" sapa dokbar.


Bhree tersenyum, padahal dia udah sengaja menghadap belakang agar tidak ditegur oleh dokbar, tapi rupanya dokbar sudah melihat ada Bhree disana.


dokbar melajukan mobil menuju parkiran. Terlihat juga dia memberikan bungkusan ke supir ambulans.


Bhree diantar oleh security menuju ruang Manajemen di lantai lima. Dia dipersilahkan duduk di ruang tunggu, ga lama kemudian dokbar juga datang, membawa buku kecil dan bergegas masuk ke ruang meeting.


Karena ada morning meeting dari level Manager sampai kepala instalasi, jadinya Bhree harus menunggu untuk bertemu dengan kepala HRD.


Setengah jam berlalu, peserta rapat satu persatu keluar kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"dokter Barra, ditunggu oleh Pak direktur di ruangannya" panggil sekretaris direktur.


dokbar diantar menuju ruangan direktur.


Bhree dipersilahkan masuk ke ruang HRD dan berbincang mengenai pekerjaan serta hak dan kewajibannya.


"Selamat bergabung Bidan Shabreena, semoga bisa memberikan kontribusi terbaik untuk Rumah Sakit ini. Nanti staf HRD akan memperkenalkan ke semua bagian. Karena kami kekurangan bidan yang ada di poli, jadinya akan ditempatkan dirawat jalan dulu ya" kata kepala HRD.


"Baik Pak, terima kasih atas kesempatan yang diberikan, semoga saya bisa mengaplikasikan keilmuan yang sudah saya dapatkan selama ini" jawab Bhree.


Bhree diajak berkeliling dan diperkenalkan secara singkat dengan para karyawan Rumah Sakit.


"Oke.. Bhree.. Sekarang kamu bisa tanya ke kepala perawat poli mengenai tugas dan apa saja yang harus dipersiapkan" kata staff HRD.


"Baik Pak.. " jawab Bhree.


Bhree dijelaskan secara singkat apa saja yang akan dia lakukan sebagai bidan poli, selain mendampingi dokter obsgyn, dia juga diajarkan alur pasien dari pendaftaran, pemeriksaan hingga nanti berkas yang dibawa pasien menuju kasir. Diajarkan juga berkas apa saja yang disiapkan untuk pasien umum, pasien jaminan kantor, BPJS dan asuransi swasta.


"dokbar buru-buru amat nih.. " ledek resepsionis.


"Jangan berisik.. Pak Dirut bentar lagi turun" kata dokbar.


Karyawan tidak ada yang bercanda.


Direktur dan Manager Yanmed meninjau poli orthopedi, dulu ada dua dokter yang praktek di poli ini, tapi sekarang tinggal satu. dokbar rencananya yang akan mengisi slot kosong tersebut.


"dokbar ga masalah nih dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang setiap hari, enam hari dalam seminggu?" papar Manager Yanmed.


"Siap dok.. " jawab dokbar.


"dokter Budi cuma bisa Senin dan Kamis aja, maklum sudah banyak pasien di Rumah Sakit lain" lanjut Manager Yanmed.


"Iya dok.. beliau senior saya, memang sempat bilang kalo sudah sempit waktunya praktek di Rumah Sakit ini, jauh juga dengan tempat praktek lainnya. Kalo saya kan sementara disini saja, nanti kalo ada tawaran baru saya sesuaikan setelah dari sini" janji dokbar.