
dokbar bertemu sama suster Arni di Rumah Sakit, dia menunggu Ibunya yang dirawat inap.
"Loh kok belum pulang? Sekarang udah hampir jam sembilan malam. Abis rujuk pasien?" tanya dokbar heran.
"Ibu saya dirawat dok" jawab suster Arni.
"Di ruang mana? Lama ga ketemu sama Ibu, hampir setahun ya" ucap dokbar.
dokbar menuju nurse station dulu untuk operan jaga sama dokter sebelumnya, kemudian meletakkan bawaannya di ruangan belakang nurse station. Setelah itu baru menjenguk Ibunya suster Arni. Mereka sudah saling kenal.
Selang sepuluh menit kemudian, dokbar keluar membeli makanan dan kembali ke kamar rawat inap Ibunya Arni.
.
"Kayanya gosip dokbar udah siap melamar Kak Arni bener deh, liat aja dokbar langsung jenguk begitu tau kalo calon mertua ada disini. Segala beli makanan lagi" kata perawat.
"Iya nih.. heran deh sama mereka berdua, sampai saat ini ga pernah ada statement tentang hubungan mereka. Siapa sih yang ga tau, dari mulai security sampe direksi juga dibawa penasaran. Tinggal bilang iya atau ngga aja repot ya. Keliatan banget saling perhatian, tapi ya masih betah kucing-kucingan hubungannya" lanjut lainnya.
"Keduanya juga ga keliatan berhubungan sama orang lain, masih betah ngejomblo. Apa jangan-jangan sebenarnya mereka udah nikah, tapi sengaja masih dirahasiakan? Tau sendiri aturan disini ga bolehin suami istri kerja bareng di Rumah Sakit. dokbar kan masih butuh uang buat kuliahnya, Arni juga buat bantu orang tua.. Jadi ya dirahasiakan. Liat ga kalo Arni udah setahun terakhir ini pakai cincin kaya cincin nikah gitu" duga suster senior.
Saat bergosip, ada security lewat. Security mendengar pembicaraan perawat, saat berjaga di pos satpam, dia ngobrol ke rekan security yang lain tentang pernikahan diam-diam dokbar dan suster Arni. Saat ngobrol juga ada driver, bagian maintenance dan perawat IGD yang lagi mau cari makan. Akhirnya malam itu, desas-desus makin kencang. Ditambah dokbar tadi meminta perawat jaga untuk hubungi dia by phone kalo ada keperluan, dia ga stay di nurse station. Tadi malah minta medical record yang perlu dia isi diantar ke kamar rawat inap Ibunya Arni, mau ngerjain laporan disana katanya.
.
Selepas sholat subuh, dokbar sudah rapih bersiap berangkat ke Rumah Sakit lain untuk ikut dalam beberapa tindakan operasi.
"Selamat ya dok" kata driver ambulans.
"Selamat apa? saya belum lulus, sebentar lagi lulusnya. Ga ulang tahun pula" jawab dokbar bingung.
"Ya ijazah emang belum keliatan hilalnya, yang penting kan udah ijabsah. Gimana dok.. enak kan?" timpal security.
"Ijabsah? Maksudnya apa sih?" tanya dokbar makin ga ngerti.
dokbar memakai sarung tangan dan jaket.
"Katanya perawat, dokbar udah nikah diam-diam sama suster Arni" buka driver lainnya.
"Nikah? Saya nikah? Weiii... sampai detik ini masih single. Jangankan punya istri, punya pacar aja ngga" sahut dokbar spontan.
"Yang bener dok? Semalam aja dokbar katanya tidur di kamar rawat inap Ibunya suster Arni karena mau nemenin suster Arni dan mertua yang sakit" lanjut security.
"Makanya.. Liat dulu dong kenyataannya. Saya di kamar operasi semalaman, kan ada banyak kasus kecelakaan semalam. Tadinya emang ngerjain laporan sambil ngobrol sama Ibunya Arni, tapi dipanggil ke kamar operasi, akhirnya naik pake tangga darurat. Arni yang kasih laporan pasien yang saya tulis ke perawat. Tanya aja sama anak OK (kamar operasi). Saya baru tidur jam tiga nih, terus sekarang mau jalan kuliah. Jadi jangan bikin berita yang aneh-aneh" papar dokbar yang langsung pergi naik motor.
🌿
"Selamat sore Mba.. Alhamdulillah bisa datang juga ke Klinik cabang kami" sapa manager Klinik kecantikan Aura.
"Sore, Ibu kenal sama saya?" tanya Bhree bingung.
"Klinik yang di Surakarta udah ngabarin Mba" jawab sang Manager.
"Oh gitu... saya kan udah cocok nih sama skincarenya, jadi mau beli itu aja, kebetulan udah mau habis" kata Bhree.
"Telepon aja Mba kalo mau dikirim produk, ga usah repot-repot kesini. Kalo mau treatment baru deh kesini. Kebetulan kita juga buka spa untuk rambut. Mba mau coba hari ini?" tanya Manager Klinik Aura.
"Sebenarnya ini punya siapa ya Mba? Dari awal saya ikut treatment terus diminta coba produk, kok ya gratis terus. Ga mungkin dong sekedar faktor keberuntungan?" tanya Bhree.
"Mba jangan khawatir, memang ada program kami untuk membuat wanita menjadi cantik, kebetulan saat itu Mba yang terpilih" jelas Sang Manager.
"Yang saya tau, kalo Klinik memberikan sesuatu kan endorse ya? kedua belah pihak diuntungkan. Saya menikmati treatment dan produk, sedangkan pihak Klinik juga mendapat feedback positif dari saya. Sedangkan saat ini, saya ga pernah ngiklan produk Aura. Saya juga bukan beauty vloger atau influencer, jadi Klinik ini mendapat keuntungan apa? Selama saya treatment pun baru sekali foto, selanjutnya tidak pernah ada foto dengan alat atau produk" ungkap Bhree.
"Mba.. Maaf.. saya ada jadwal meeting, selanjutnya akan ditemani oleh beauty advisor kita ya. Selamat sore Mba" pamit manager Klinik.
Meskipun masih terasa ganjal, Bhree tetap mengikuti treatment gratis yang mereka berikan.
⭐
Saat malam hari, selepas operasi beruntun yang diikuti oleh dokbar. Dia rehat di kamar tidur dokter. Sambil menunggu ngantuk, dia berencana akan mengerjakan laporan di laptopnya.
"Ya Allah.. kenapa map ini lupa dikasih lagi ke Bhree ya? Kemarin diamanin dulu biar ga tercecer, eh malah kebawa. Mana ga punya nomer kontaknya lagi. Besok deh minta alamat Pak Ustadz biar dipaketin kesana" kata dokbar.
Map tersebut dimasukkan kembali kedalam tas ranselnya kemudian dia menyalakan laptop untuk membuat laporan.
.
Istrinya Pak Ustadz menyampaikan chatnya dokbar ke Bhree.
"Gimana Bhree?" tanya Istrinya Ustadz Amirul.
"Ya gapapa, nanti dialamatkan ke Bidan Kokom aja, saya kan lebih banyak disana. Lagipula kalo disini ramai, nanti kurirnya bingung" jawab Bhree.
Istrinya Ustadz Amirul mengetikkan alamat dan dikirim ke dokbar.
.
Selalu aja ada halangan saat Barra akan mengirim map milik Bhree. Pernah map tersebut tertinggal di loker miliknya di Rumah Sakit, dan butuh waktu seminggu untuk balik kesana karena dia sedang ujian. Pernah juga tertinggal di rumah sedangkan dia ga balik rumah selama seminggu. Kemudian pernah terselip, yang pada akhirnya ditemukan oleh security. Begitu aja kejadiannya hingga sebulan berlalu.
.
Barra langsung ke tempat Walid membawa map tersebut untuk Bhree, tapi rupanya mereka belum ditakdirkan kembali bertemu. Bhree sudah dipanggil kembali ke kampusnya karena akan ikut tim medis penanggulangan bencana alam dimana banyak Ibu hamil disana.
"dok.. bukan saya ga mau, tapi Bhree sudah bilang jangan menginformasikan nomer HP dan dimana dia berada kepada siapapun tanpa terkecuali" jawab Bidan Kokom.
"Begini aja Bu, coba Ibu tolong telepon atau kirim pesan ke dia, bilang saya mau kembalikan map milik dia .. tolong banget ya Bu" mohon dokbar.
Bidan Kokom mencoba menelepon Bhree tapi ga diangkat, kemudian beliau mengirimkan pesan ke Bhree, belum dibaca juga.
dokbar menunggu di rumah Pak Ustadz sambil melayani keluarga Pak Ustadz untuk konsultasi medis.
⬅️
Selama dua bulan terakhir ini Bhree praktek kerja di rumah Bidan Kokom, ternyata anak lelaki Bu Bidan menyukai Bhree. Dia bilang ke Ibunya untuk membantu berbicara ke Bhree.
Karena Bidan Kokom agak bingung menyampaikan ke Bhree, akhirnya meminta bantuan istrinya Ustadz Amirul.
Semua langsung bergerak cepat. Bhree dan anaknya Bidan Kokom (Bobby) dipanggil ke rumah Walid.
Disana Bobby menyampaikan maksud hatinya untuk mengenal Bhree lebih lanjut.
"Bagaimana Bhree?" tanya Ustadz Amirul.
"Saya pikir-pikir dulu Pak Ustadz, meskipun saya tidak punya orang tua, tapi saya masih ada Kakek. Jadi perlu berbincang dulu. Lagipula saya masih fokus untuk ambil pendidikan profesi ini, sebentar lagi akan selesai. Jadi tidak dalam waktu dekat saya menikah" jawab Bhree.
"Bukan nikah maksudnya Bhree.. Bobby ini mau mengajak kenal yang lebih mendalam lagi" Bidan Kokom meluruskan.
"Saya paham maksudnya Bu, tapi saya belum siap membuka jati diri saya ke siapapun. Mohon dipahami.. Ini berkaitan dengan aib keluarga, ga mungkin saya ceritakan semua" papar Bhree.
"Bhree.. Setiap orang punya masa lalu, saya dan keluarga insyaAllah akan menerima kamu apa adanya" timpal Bobby.
"Benar Bhree.. Selama kamunya baik dan sopan, kami sekeluarga menerima dengan tangan terbuka. Kami ini siap jadi orang tua kamu" tambah Bidan Kokom.
➡️
Selain memang permintaan Bhree, Bidan Kokom juga menjaga agar Bhree tidak pindah kelain hati. dokbar dinilai sebagai salah satu lawan yang pastinya akan menyulitkan anaknya untuk mendapatkan hati Bhree.
Sejak pertama melihat dokbar mencari Bhree aja cukup membuat Bidan Kokom ketar ketir, jadinya berusaha segala upaya untuk tidak mempertemukan Bhree dan dokbar.
🌿
Berita pernikahan dokbar dan suster Arni bak bola api, makin keduanya diam, makin besar beritanya. Hingga pihak HRD turun tangan memanggil keduanya untuk menjelaskan duduk permasalahannya.
Selepas pulang shift jaga tugas kuliah, dokbar akan merapat ke Rumah Sakit Cinta Medika.
Keduanya jalan bareng menuju ruang HRD, sepanjang jalan keduanya hanya tersenyum melihat semua karyawan Rumah Sakit yang memandang seolah menunggu kejelasan hubungan mereka.
dokbar dan suster Arni menjelaskan semuanya secara gamblang.
"Jadi benar ya kalian belum menikah?" tanya HRD lagi.
"Ini masalah pernikahan, ga mungkin saya buat main-main" jawab dokbar tegas.
"Terus masalah cincin di jari kamu Arni.. bisa dijelaskan?" tanya HRD.
"Ini cincin milik Ibu saya, karena kalo pakai di jari kiri kesempitan, akhirnya pake di jari kanan. Tapi setiap dinas, saya copot Pak, khawatir melukai bayi-bayi" jelas suster Arni.
"Kenapa kalian terlihat akrab bahkan sering pulang bareng?" tanya HRD terus berusaha mengorek.
"Ini pertanyaan titipan kaum netijen sini ya Pak?" tanya dokbar.
Semua tertawa.
"Intinya saya dan Arni profesional saja disini, mengenai bagaimana hubungan kami ya biar menjadi konsumsi kami sendiri. Mengenai kenapa akrab? ya sesama karyawan kan harus seperti itu. Bisa tanya ke IGD, saya dulu bagaimana. Mengenai pulang bareng kalo dibilang sering ya ga juga. Saya datang dia udah pulang, dia datang saya udah pulang" papar dokbar.
.
Begitu keluar dari ruangan HRD, dokbar bertemu dokter Raz, beliau sedang menyebar undangan untuk Manajemen Rumah Sakit.
"Saya keduluan nih" ledek dokter Raz.
dokter Raz dan dokbar duduk di sofa depan ruang HRD, suster Arni pamit kembali bekerja.
"Gosip dok, ini gegara berita ga bener, hari ini saya kena panggil HRD" ujar dokbar.
"Banyak yang ga percaya kok, secara sudah lama kenal sama Arni dari jaman di poli, dokbar ini bukan tipenya .. Hahaha" ucap dokter Raz.
"Saya juga belum berniat punya hubungan dengan wanita dok, masih fokus nih di semester akhir" ujar dokbar.
"Emang top nih calon spesialis ortopedi yang satu ini, Prof Andjar udah koar-koar dimana-mana" kata dokter Raz.
"Ya nih.. Jadi malu saya" jawab dokbar.
"By the way, kalo Sabtu ini senggang, datang ya ke pernikahan saya, ga pesta, hanya sekadar makan bareng aja" ucap dokter Raz.
"Sama Ibu yang itu dok?" goda dokbar.
"Iya" jawab dokter Raz berbunga-bunga.
"Congrats ya dok, tapi saya ga bisa hadir, Kamis saya berangkat sama Prof Andjar ke Singapura, ada seminar ahli-ahli orthopedi disana selama sepuluh hari. Jadi saya ucapkan semoga acaranya berjalan lancar, menjadi keluarga samawa, salam buat calon istrinya dok" ucap dokbar.