
Kematian Lili tidak menimbulkan kesedihan mendalam bagi Hari. Dia kembali mencari mangsa baru. Kali ini tetangga sebelah rumah yang baru pindah. Namanya Wulan, usianya masih muda sekitar tiga puluh tahunan. Menurut warga sekitar, dia bekerja sebagai sekretaris disebuah perusahaan asing. Sering sendirian saja di rumah yang dia sewa karena suaminya orang asing yang jarang ada di Indonesia.
Wulan berangkat kerja sekitar jam enam pagi dan pulang ke rumah sekitar jam tujuh malam. Begitu saja dari Senin sampai Jum'at. Weekend biasanya dihabiskan di rumah saja.
Komplek perumahan yang didiami oleh Hari bisa dibilang komplek baru, belum banyak tetangganya karena masih dalam tahap pembangunan. Kebanyakan juga suami istri para pekerja kantoran yang belum ada anak. Jadinya memang tidak banyak kumpul, sesekali saling menyapa jika akan berangkat beraktivitas saja.
Hari selalu punya akal agar dia dilihat oleh Wulan dan berusaha berkenalan lebih jauh lagi. Sudah semakin ini Hari melancarkan aksinya tanpa dicurigai oleh siapapun.
Seperti pagi ini, sekitar jam setengah enam lewat sudah menyiram tanaman dan merapihkan pot-pot yang letaknya ga beraturan.
Wulan kembali tersenyum padanya seperti kemarin-kemarin. Keduanya belum ngobrol banyak, hanya sekedar kenalan singkat saja karena biasanya Wulan akan terburu-buru kalo mau berangkat kerja.
Memang nasib Hari termasuk sering beruntung, pagi ini mobilnya Wulan tidak bisa nyala. Hari bergaya sok pahlawan kesiangan, dia langsung menawarkan bantuan. Karena tidak bisa diperbaiki olehnya, dengan cepat Hari menghubungi bengkel langganannya.
Melati sedang tidak ada di rumah karena dapat hadiah jalan-jalan dari penjualan skin care yang dia pasarkan. Baru akan pulang besok sore.
"Saya pesan taksi aja deh, Pak Hari gapapa nih saya titip mobil buat diperbaiki sama montir?" tanya Wulan.
"Montir langganan saya, terpercaya kok orangnya. Tapi dia baru bisa datang kesini sekitar jam sepuluh pagi. Kasih kuncinya ke saya, nanti saya laporkan ke Bu Wulan, minta nomer HP aja, buat kita komunikasi" papar Hari.
Wulan memberikan nomer HP nya tanpa pikir panjang.
"Jangan panggil Ibu.. panggil nama aja Wulan, saya kan lebih muda dari Bapak" ucap Wulan.
"Jangan panggil Bapak juga kalo begitu .. Panggil aja Abang, semua warga sini juga panggilnya Abang kok" kata Hari dengan wajah yang sumringah.
"Oke.. Saya mau order taksi dulu ya buat berangkat kerja" ujar Wulan.
"Mau ke daerah mana? Siapa tau bisa bareng, kebetulan saya mau sidak toko-toko yang saya punya. Maklumlah anak buah sesekali harus kita sidak biar kerjanya benar" papar Hari.
"Saya mau ke daerah Pondok Indah.. Apa mau kearah sana juga?" tanya Wulan.
"Kebetulan banget saya mau ke Mall Pondok Indah, ada meeting dulu pagi ini, nanti baru sidak toko" lanjut Hari.
Karena sudah kesiangan dan tiba-tiba turun hujan, akhirnya Wulan menerima tawaran dari Hari.
Hari minta waktu lima menit untuk berganti pakaian.
🍄
Begitu dapat waktu libur, tanpa menunda-nunda, Barra langsung menuju Solo, tujuannya untuk mencari keluarga dari Pak Dasuki guna menyerahkan titipannya.
Tapi justru yang dia dapati tidak sesuai bayangannya. Di Solo, Dasuki hanya bekerja, entah dia dapat membuat KTP dari mana. Yang jelas RT RW setempat yang Barra tanya tidak ada yang kenal. Menurut warga sekitar juga besar kemungkinan KTP tersebut palsu karena jika warga pendatang ingin membuat KTP, ada surat-surat yang diarsipkan oleh pihak RT RW.
Barra langsung pulang hari begitu informasi yang dia dapatkan seperti itu. Semakin lama dia di Solo, biaya akan bertambah. Lagipula lusa dia sudah harus ke kampus guna persiapan kuliah spesialisnya.
🍒
Bhree masuk ke halaman rumah yang cukup besar. Dia masih terdiam didepan pagar, masih ragu untuk memencet bel.
"Apa benar ini keluarga kandung Bapak?" ucap Bhree pelan.
Penjaga rumah melihat Bhree dan langsung menyapa. Bhree mengatakan maksud dan tujuannya ke rumah ini.
"Oh ini Mba Shabreena? Tadi Pak Daliman sudah kasih info ke saya. Mari masuk Mba, sudah ditunggu" ajak penjaga rumah.
Bhree mengikuti langkah penjaga rumah dan duduk di ruang tamu. Lima menit kemudian Pak Daliman sudah duduk dihadapannya Bhree.
Pak Daliman menolak tangannya dicium oleh Bhree.
"Kita langsung saja, ga perlu basa-basi. Saya percaya kamu anaknya Dasuki, ada kemiripan wajah kalian dan foto kamu sudah pernah ditunjukkan oleh Dasuki. Kamu terima kan untuk ambil kuliah kebidanan seperti pembicaraan kita sebelumnya?" tanya Pak Daliman.
"Iya Pak.." jawab Bhree.
"Selama menunggu waktu pendaftaran tahun depan, kamu akan bekerja di Klinik dan sorenya akan dipanggilkan guru privat agar kamu bisa lulus tes masuk kebidanan" pinta Pak Daliman.
"Ya.." Bhree berucap tanpa beban.
"Kamu jangan ngimpi tinggal disini, separuh diri kamu itu keturunan ga jelas. Ada kamar di Klinik yang bisa kamu dipakai. Dan jangan pernah mengatakan ke siapapun kalo kamu bagian dari keluarga kami" papar Pak Daliman.
"Iya.." jawab Bhree singkat.
"Untuk menjamin kamu ga kabur, akan ada orang yang mendampingi kamu. Tenang aja, dia akan jaga jarak kok" ucap Pak Daliman.
"Kenapa Bapak mau mendonorkan ginjalnya? Apa demi kuliah saya?" tanya Bhree.
"Kamu lebih pintar dibandingkan Dasuki ternyata, tanpa banyak penjelasan sudah paham" kata Pak Daliman.
"Keuntungan apa yang akan Bapak dapatkan kalo saya jadi Bidan? Kan kata Bapak saya tidak boleh berharap menjadi bagian keluarga ini" tanya Bhree lagi.
"Selain kuliah.. Apa yang akan saya dapat? Ketika sudah lulus, berapa tahun saya mengabdi ke Bapak? Apa ginjal Bapak saya ga cukup untuk membayar semuanya?" kata Bhree entah dapat keberanian dari mana.
"Matre ... persis Ibunya .. Semoga ga sebinal Ibunya. Kamu akan dapat gaji selayaknya karyawan lulusan SMA" seringai Pak Daliman.
"Saya setuju tawaran ini, karena pasti akan banyak hal menguntungkan kedepannya untuk saya. Terserah Bapak mau bilang saya matre atau apapun. Sebagai single fighter, saya harus berjuang habis-habisan untuk memperbaiki hidup saya seorang diri" tegas Bhree.
Pak Daliman tersenyum puas, tanpa banyak perlawanan, Bhree sudah dalam genggaman. Entah apa yang ada dibenak Pak Daliman saat ini, Bhree pun belum bisa membaca arah tujuannya.
.
Kesempatan kedua, istilah yang sering dipakai jika pasien dalam kondisi koma kemudian bisa stabil dan sadarkan diri dengan cepat.
Para dokter yang merawat juga tidak percaya akan ada keajaiban seperti ini. Kondisi Pak Handoko yang bisa dikatakan akan lama sembuhnya, sekarang malah sudah bisa menggerakkan tangan dan berbicara dengan lancar. Bahkan ingatannya pun belum ada yang terlewatkan. Beliau masih mengenali keluarga dan para dokter spesialis yang merawatnya.
Barra sedang ikut makan siang selepas rapat medis. Para dokter membahas kondisi Pak Handoko sebagai bahan pembelajaran kedepannya. Terapi yang telah diberikan, paling tidak bisa menjadi salah satu acuan pengobatan.
"Bisa ya dok kondisi yang kita perkirakan sebulan baru ada perbaikan, ternyata dalam seminggu sudah terlihat?" tanya dokbar agak takjub.
"Kuasa Tuhan" jawab dokter anastesi.
"Mungkin karena beliau sering menolong, jadinya ditolong sama Allah" lanjut dokter bedah.
"Kalo dari sisi nonmedis iya .. tapi secara medis, organ-organ tubuh Pak Handoko memang masih berfungsi dengan baik meskipun kemarin dilakukan pembedahan kepala. Yang saya tau, beliau tidak minum alkohol dan merokok" kata manager Yanmed.
Saat membahas Pak Handoko, tiba-tiba Barra teringat sama anaknya Kak Diah.
"Gimana nasib anaknya ya? Katanya perawat kan Kak Diah single mom, anaknya juga baru lulus SMA. Semoga dia ada ditangan orang yang baik" harap dokbar dalam hatinya.
.
dokbar kembali ke nurse station.
"dok.. Kemarin katanya ke Solo pulang pergi ya? Kangen someone tuh" ledek perawat.
"Someone siapa? Masih inget sama pasien yang meninggal pasca transplantasi kemarin kan? Beliau nitipin amplop buat anaknya. Saya belum buka, baru liat sampulnya ada nama anaknya. Itu kan amanah, sampai beliau menutup mata, anaknya ga datang. Padahal Bapaknya sering cerita tentang anak perempuan satu-satunya itu" ujar dokbar.
"dokbar ga ada ya pas pasien tersebut meninggal?" tanya perawat.
"Ga.. kan pasca operasi masuk ICU, jadinya ga tugas" jawab dokbar.
"Nah ini dok yang lagi diomongin sama beberapa perawat, masa anaknya pasien yang meninggal itu katanya mirip sama anaknya Kak Diah" adu perawat.
"Yang bener? Serius nih?" sahut dokbar.
"Ya ga ada yang bisa pastiin sih dok, kejadiannya cepet banget. Begitu meninggal langsung minta dimandikan dan dikafani disini, terus dibawa. Kayanya ga sampe dua jam deh" jelas perawat.
"Masih ingat ga nama anaknya Kak Diah siapa?" tanya dokbar.
"Lupa dok.. abisnya Kak Diah kan nutup banget tentang keluarganya. Ga taunya... ya bisa jadi kan itu anaknya bram" jawab perawat.
"Bram siapa?" ujar dokbar belum paham.
"Bram.. Brame rame, alias banyak petani yang bercocok tanam, ga tau benih siapa yang berhasil.. Hahahaha" canda perawat.
dokbar langsung meletakkan pulpennya dan memandang kearah perawat yang tadi baru menjawab.
"Kemarin kamu olok-olok kelakuan Ibunya, sekarang kamu bilang anak itu seakan-akan punya banyak penyumbang benih. Dulu waktu kuliah keperawatan kamu tidur atau bolos?" ucap dokbar marah.
"Maaf dok.. becanda" jawab perawat.
"Kalo ada yang bilang kamu bapaknya banyak gimana? sakit hati ga? Marah ga? Sedih ga?" tanya dokbar kesal.
Tidak ada yang berani menjawab, semua langsung sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dokbar langsung pindah ke ruangan dibelakang nurse station, dia duduk di sofa setelah menyeduh kopi.
Perawat senior menghampiri dokbar. dokbar diam sambil menikmati secangkir kopi hitam dengan sedikit gula tanpa diaduk.
"dok..maaf ya kalo kami kadang becanda keterlaluan, apalagi sekarang banyak perawat-perawat muda yang baru lulus. Mereka anggap kita kaya teman sebaya yang bisa diajak becanda seperti itu" kata perawat senior dengan tulus.
Tidak ada jawaban dari dokbar, dia masih menikmati kopinya. Saat ini sulit menyalahkan siapapun, sejak kepergian Bu Diah, pihak manajemen belum juga kunjung memilih kepala perawat, padahal setiap bertemu sama Manager Yanmed, dokbar selalu mengingatkan hal ini. Selama ini disetiap ruangan, koordinator perawat yang bertanggung jawab terhadap perawat yang ada dibawahnya.
"Kerja dulu sana, banyak pasien kan" pinta dokbar.
Perawat senior langsung meninggalkan dokbar.
dokbar membuka tasnya, mengambil map coklat yang masih tertutup dengan rapih.
"Pak Dasuki .. Sebelumnya saya minta maaf, amanah ini belum juga sampai ke tangan anak Bapak. Bukan saya tidak mau tunaikan, tapi semua informasi tentang Bapak sangat minim sekali" kata dokbar bicara sendiri.