
Hari masih juga mengusik kehidupan Hana. Tidak habis-habisnya video dan foto ditunjukkan ke Hana dengan tujuan meminta sejumlah uang.
"Bang.. tolonglah Bang, saya ini Ibu dari anaknya Abang. Kalo foto dan video ini tersebar, apa Nabila ga malu? Lagipula ini diambil saat kita masih bersama. Saya mohon Bang.. jangan ada lagi seperti ini kedepannya. Abang tau kondisi saya seperti apa" pinta Hana memelas.
"dokter itu dimana? Lo minta dong sama dia" kata Hari.
"Dia bukan siapa-siapa, ga layak dilibatkan dalam hal ini" ucap Hana.
"dokter bego.. mau sama cewe modelan kaya Lo, ga berkelas, ga seksi, ga bisa nyenengin suami, durhaka" papar Hari.
"Saya terima semua hinaan Abang. Kalo pun ada hubungan antara saya sama dokter itu, bukan wilayah Abang kan? Abang sudah move on .. bahkan jauh sebelum kita berpisah. Kita jalani hidup kita masing-masing Bang.. Ga usah saling ganggu kaya dulu. Saya dan Nabila juga ga nuntut apa-apa" ucap Hana.
"Cewe jelek kaya Lo mah ga bakalan bisa cakep, biar kata pake make up mahal, baju bagus dan perhiasan.. tetep aja burik dan ga menarik" hina Hari.
Karena karyawan Klinik mulai berdatangan, Hari langsung pergi.
Hana menuju ruangan tempat menyimpan berkas pendaftaran, pura-pura merapihkan berkas agar tangis yang sudah dia tahan bisa tertumpahkan dan tidak dilihat orang.
Ada panggilan masuk dari dokter Raz, cukup lama Hana ga mengangkat panggilan tersebut. Tapi pada akhirnya dia angkat juga. Setelah dokter Raz mengucapkan salam, yang terdengar hanya isak tangis Hana. Dokter Raz diam.
Setelah Hana agak tenang.
"Are you okay?" tanya dokter Raz.
"Sorry Mas.. " jawab Hana.
"No problem.. nangis aja kalo itu buat kita lebih lega" kata dokter Raz.
Baru kali ini Hana menangis didengar oleh orang lain. Dia selalu pandai menyimpan air matanya seorang diri. Menangis saat mandi atau sholat tengah malam, yang biasa ia lakukan.
"Mas jangan bilang ke siapa-siapa ya kalo saya nangis" pinta Hana.
"Ga lah Dek... Mas tau kok hal kaya gini harus keep silent" ujar dokter Raz.
Dokter Raz kembali memanggil Hana dengan panggilan Adek. Kali ini Hana merasa terlindungi ketika mendengar suara dokter Raz yang berwibawa.
dokter Raz tentu bahagia mendengar Hana mulai membuka diri terhadapnya.
"Mas ga kerja?" tanya Hana.
"Jadwalnya baru ada nanti jam sepuluhan. Sekarang lagi sarapan" jelas dokter Raz.
"Tadi Bang Hari datang lagi ke Klinik" adu Hana.
"Dia kurang ajar lagi?" ujar dokter Raz agak emosi.
"Sebenarnya dia punya banyak foto dan video saya yang ga pantas untuk dilihat. Saya ga tau kapan diambilnya" akhirnya Hana mengaku.
"Jadi selama ini dia memeras dengan ancaman menyebar foto dan video itu? Jantan tak guna.. punya otak ga dia? Secara yang direkam saat itu istrinya. Emang ga malu kalo sampai tersebar luas? Terlepas dari akhirnya kalian pisah, tapi kan saat itu harusnya dia menjaga harga diri kalian berdua" akhirnya dokter Raz meledak juga.
Tim yang sedang sarapan kaget mendengar dokter Raz bicara kasar. Karena tau sedang diperhatikan orang, dokter Raz menjauh dari rombongan.
"Lawan Dek.. Laporkan ke polisi kalo perlu" ucap dokter Raz makin geram.
Hana diam.
"Move on Dek.. buka mata lebar-lebar, dia ga pantas buat dibela. Kamu dan Nabila berhak bahagia. Mas juga mengalami susah buat membuka hati kembali. Khawatir Mas melakukan kesalahan kedua kalinya. Tapi sejak pertemuan kita, Mas ngerasa klik" ungkap dokter Raz.
"Semua orang juga bilang begitu, mudah buat diucapkan tapi sulit dilakukan" jawab Hana.
"Boleh Mas tau kenapa dia spesial?" tembak dokter Raz.
"Cinta pertama, cinta yang saya harap bisa membawa kebahagiaan dan membawa ke syurga nantinya" papar Hana.
"Kenyataannya? Boro-boro syurga di akhirat kelak, wong di dunia aja buat kamu tersiksa. Jangan keras kepala Dek, turunin dikit egonya. Kamu bukan wonder woman" kata dokter Raz.
Hana mengakhiri perbincangan karena akan melanjutkan pekerjaannya.
Dokter Raz kembali ke meja untuk meneruskan sarapan.
Teringat tiga hari yang lalu, saat mendengar khotbah sholat Jum'at.
"Jika kamu menginginkan seseorang untuk menjadi pasanganmu, maka dekatilah Sang Penciptanya. Karena akan Allah aturkan jalan yang terbaik untuk kalian".
Kalimat yang menohoknya dalam. Meskipun sudah sering kali dia adukan semua permasalahan hatinya pada Allah, hingga hari ini masih belum menemukan jawabannya. Keinginan menikahi Hana untuk saat terdekat sedang disimpan dulu, khawatir niatnya ini akibat tekanan dari kesendiriannya yang sudah terlalu lama. Semakin kesini pun, banyak keraguan timbul dalam benak dokter Raz, terutama karena Hana yang tidak bisa melepaskan bayang-bayang Hari. Sebagai laki-laki, dokter Raz tau kalo hati Hana masih untuk Hari. Mungkin dibibirnya berkata ga mau kembali ke Hari, tapi hati Hana masih berharap Hari berubah dan kembali padanya.
🌿
Selepas kepergian Bhree yang entah kemana, keduanya kerap kali bertemu untuk mengetahui keberadaan Bhree.
Pak Handoko sudah pulang ke rumah, beliau meminta Wisnu sekeluarga pindah ke rumahnya dulu. Fenti setuju dengan usulan tersebut.
"Fen.. Papa transfer uang buat kamu, kan udah cape ngurusin Papa selama ini. Pakai buat me time.. Ke salon atau belanja apa aja yang kamu mau" kata Pak Handoko.
"Makasih Pah" jawab Fenti sambil melihat mbanking di HP nya.
Fenti kaget melihat deretan nol dibelakang angka satu.
"Ga salah transfer Pah? seratus juta?" tanya Fenti ga percaya.
"Kurang?" kata Pak Handoko.
"Gede banget Pah.. nanti bilang apa ke Mas Wisnu?" ujar Fenti.
"Ga usah kasih tau Wisnu, ini kan hadiah buat kamu yang selama dua bulan ini mengorbankan banyak hal buat Papa" ucap Pak Handoko.
⭐
Sudah dua bulan ini hubungan Bhree dan Tante Debi selalu memanas. Bhree dengan jiwa muda dan tidak mau banyak didikte menjadi alasan ketidak terimaannya terhadap omongan Tante Debi.
Meskipun mereka tinggal diatap yang sama, Bhree selalu mencoba untuk menghindar. Biasanya sepulang les, dia akan ke toko perlengkapan bayi milik Tante Debi. Dia memang ikut kerja disana. Tapi ketika Tante Debi ada di toko, dia selalu memilih untuk menghindar.
Toko perlengkapan bayi ini memang ramai karena berada didepan salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak serta berjualan secara online juga.
"Mbak.. Saya mau cari kado buat bayi perempuan ada?" tanya pembeli saat Bhree sedang merapihkan baju yang digantung.
"Ada Mas.. Mau cari apa ya?" kata Bhree dengan sopan.
Bhree melayani pembeli tersebut, bahkan rencananya beli satu jenis, jadinya malah membeli banyak karena Bhree pintar berjualan. Sepertinya darah Pak Daliman dalam bisnis mengalir deras dalam tubuhnya.
Minggu depan Bhree akan ikut bazaar dalam rangka ulang tahun RSIA, sudah mendapat persetujuan dari Tante Debi untuk membawa barang. Yang dia bawa adalah barang stok lama, sehingga nantinya bisa dijual murah. Bhree juga menyiapkan brosur dengan nomer telepon toko. Dia meluncurkan promo pesan antar jika masih dalam satu kecamatan secara gratis dengan minimum pembelanjaan dua ratus ribu rupiah.
♥️
Jungkir balik hidup Barra melakoni hidupnya. Mengandalkan gaji Rumah Sakit tanpa ada intensif tambahan karena tidak ada lemburan membuatnya makin mengencangkan ikat pinggang. Dana beasiswa tidak bisa diutak-atik karena untuk menjamin keberlangsungan kuliahnya.
Kemarin dia baru aja menjadi trending sesama residen PPDS karena melawan seniornya yang minta diisikan bensin mobil full tank.
"dokter Eno itu anaknya petinggi di kampus ini, jangan cari masalah dokbar" nasehat sesama residen.
"dok.. saya kuliah aja mengandalkan beasiswa, penghasilan hanya dari gaji pokok di Rumah Sakit. Ga bisa cari tambahkan lain karena PPDS ini benaran menyita waktu. Masih panjang jalan kita.. Lima tahun kuliah, ini masih awal-awal" kata dokbar.
"Hati-hati dokbar.. Kalo diam-diam mereka bergerak, habis riwayat .." ujar residen lain.
"Kita harus berani memutus mata rantai bully seperti ini. Stop di kita, jangan ada lagi residen-residen yang akan datang mengalami hal yang sama. Orang awam melihat kita keren bisa ambil spesialis, pasti uangnya banyak. Kenyataannya seperti ini, ga lanjut ya memang kita ingin serta dapat beasiswa, lanjut pun makan hati sama senior" kata dokbar berapi-api.
Akibat dari kejadian itu, dokbar seperti ditandai oleh para residen senior. Tak jarang tugas dilimpahkan ke dokbar dalam jumlah yang banyak, pengaturan praktek di Rumah Sakit pendidikan pun diatur banyak waktu jaga buat dokbar.
Untunglah Profesor Andjar selalu memback upnya. Memberikan semangat hingga banyak menyelamatkannya dengan alasan diminta membantu Profesor Andjar di Poliklinik.
"Terima kasih Prof" ucap dokbar setiap kali diselamatkan oleh Profesor Andjar.
"Kadang kita ga boleh keras dengan prinsip, sedikit melunak tapi bukan menyerah. Saya lihat kamu punya potensi yang bagus kedepannya. Selesaikan kuliah PPDS ini dengan tuntas. Saya akan bantu dengan menjadikan kamu asisten saya di Poli" kata Profesor Andjar.
"Terima kasih sekali lagi Prof" ucap dokbar.
"Saya ga akan bisa selalu melindungi kamu, jadi tetap hati-hati dalam bersikap" saran Profesor Andjar.
.
Sudah seminggu ini Barra ga pulang ke rumah karena jadwal kuliah dan kerjanya. Sabtu sekitar jam tujuh malam dia akhirnya pulang. Setelah membersihkan tubuhnya dan makan malam, berbincang dengan keluarga dan nonton TV bareng, jam sembilan malam sudah merasa ngantuk.
Di kamar, ga sengaja melihat map yang tertutup amplop coklat. Tergelitik juga tangannya untuk membuka.
"Maafin saya Pak Dasuki, semoga dengan membuka amplop ini, saya bisa menemukan anak Bapak" kata Barra.
Barra membuka dengan rapih amplop tersebut, didalamnya ada beberapa flashdisk, beberapa lembar surat penting dan foto.
Barra melihat foto-foto tersebut.
"Kayanya pernah liat dia.. dimana ya?" pikir Barra coba mengingat sosok yang ada dalam foto tersebut.