HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 53, Berduaan



Bhree dan Luna lagi jalan-jalan kesebuah Mall, rencananya mereka mau nonton dan makan shusi. Hari ini Luna ulang tahun, jadi mereka akan merayakan berdua aja. Keduanya memang sulit mendapatkan teman yang lain karena ga terlalu menonjol dalam pergaulan. Jadi merasa lebih cocok main berdua aja kemana-mana.


"Permisi Mba .. kami dari Klinik kecantikan Aura, hari ini sedang mencari sukarelawan untuk kami rawat wajahnya dengan teknologi terbaru. Apa Mba bersedia?" tanya SPG Klinik kecantikan.


Bhree dan Luna memang bukan penggila skincare, yang mereka pakai pun masih merek standar dan jenisnya juga sekedar sunscreen, bedak dan lipstik. Sama sekali belum pernah ke Klinik kecantikan seperti yang sedang ditawarkan. Jadi cukup kaget mendengar penawaran ini.


"Mba.. teman saya hari ini ulang tahun, gimana kalo penawaran untuk dirawat wajahnya itu buat teman saya aja?" ide Bhree.


"Kebetulan Mba, yang ulang tahun hari ini juga akan mendapatkan perawatan gratis. Jadi Mba berdua akan mendapatkan perawatan yang sama. Bagus loh Mba buat membersihkan kotoran yang menempel di kulit wajah, biar glowing" promo SPG.


"Oke Mba.. kita mau" putus Luna dengan antusiasnya.


"Eh.. udah setuju aja, kita kan ga tau nanti ada efek ketergantungan atau ngga? abis perawatan sih kinclong, eh seminggu kemudian buluk lagi" ucap Bhree.


"Ini bukan obat atau kosmetik yang menyebabkan ketergantungan Mba, kami memperkenalkan alat terbaru saja" jelas SPG.


"Kita kan mau makan, udah jam satu nih.. laper" bisik Bhree.


"Ye ileh Bhree .. makan mah bisa ditunda, udah biasa juga kita nahan laper karena sibuk sama kerjaan. Tapi penawaran gratis ini ga datang dua kali, liat nih brosurnya, kalo ambil perawatan yang ditawarkan itu harganya lima jutaan, sekarang dapat free.. gas lahhhh" ucap Luna.


Akhirnya Luna dan Bhree setuju untuk melakukan perawatan tersebut. Sebelumnya mereka dijamu makan siang juga oleh pihak Klinik.


"Rejeki anak sholehah.. Pas bday.. Eh dapat perawatan wajah gratis plus makan siang sushi.. Nikmat mana yang Kau dustakan..." kata Luna penuh rasa syukur.


"Hari ini beruntung banget ya, dapat free perawatan wajah, terus dapat makan siang gratis" ucap Bhree happy.


"Masih ada lagi Mba-Mba.. kami juga mengeluarkan kosmetik yang akan diberikan secara gratis. Nanti akan konsultasi terlebih dahulu sama dokter untuk menentukan kosmetik dan perawatan wajah yang akan diberikan" sahut SPG.


Bhree dan Luna saling berpandangan, rasanya ga percaya sama keajaiban yang terjadi hari ini.


"Kayanya hoki lima tahun kepake semua hari ini" canda Luna.



dokter Raz mendapatkan undangan pernikahan anak bungsunya Pak Handoko. Karena kondisi Pak Handoko yang belum sembuh total, nanti yang akan berada di pelaminan mewakili orang tua adalah Mas Wisnu dan Mba Fenti.


Acaranya siang hari, dokter Raz mengajak Hana dan Nabila untuk ikut. Tapi Nabila ga bisa karena ada tugas kelompok.


Kembali dokter Raz mengajak Hana ke Butik milik Ibu Shine. Ga pakai lama, Hana sudah mendapat pakaian yang akan dikenakan hari ini. Dokter Raz sendiri sudah menyiapkan batik yang dibeli saat ke Solo dan belum pernah dipakai.


.


"De.. mampir ke Klinik dulu ya, di Pondok Indah, kebetulan venue acaranya ga jauh dari sana" ajak dokter Raz.


"Terus ganti baju disana? Ga enak kayanya Mas" ucap Hana.


"Ga enak gimana? Atau mau ke salon buat dandan?" tawar dokter Raz.


"Ga usah deh Mas, emang harus banget ya dandan? Bawa sih bedak dan lipstik, nanti dandan sendiri aja" jawab Hana.


"Bisa? Kayanya ga pernah liat kamu pake make up deh" ujar dokter Raz.


.


Sesampainya di Klinik.


"dokter Raz..... apa kabar?" Meli langsung menyambut.


"Alhamdulillah sehat.. kaya lama ga ketemu aja, baru seminggu yang lalu saya kesini" jawab dokter Raz.


Security dan Resepsionis tersenyum melihat dokter Raz datang bersama Hana, mereka belum pernah melihat dokter Raz membawa wanita kesini.


Meli adalah Manager Marketing di Klinik milik dokter Raz.


"Mel, minta tolong dong, kamu keliatannya pinter make up. Dandanin nyonya yang satu ini, natural aja" pinta dokter Raz.


"Siap dok .. pasti mau ajak Bu Boss ke acara anaknya Pak Handoko ya?" terka Meli.


"Iya" jawab dokter Raz.


"Sudah kuduga.. Pasti Pak Boss datang kesini dulu buat dandanin Bu Boss" celetuk Meli lagi.


"Kok tau?" tanya dokter Raz heran.


"Tau dong... Tadi ke Butik Bu Shine kan? Tau sendiri apa-apa pasti Bu Shine langsung posting. Saya kan berteman di media sosial sama Bu Shine" jelas Meli.


"Ga salah ya kamu jadi leader di marketing, gercep sama perkembangan berita yang ada .. haha..." jawab dokter Raz.


Ketiganya menuju ruangan dokter Raz.


"De.. ada kamar mandi disini, kalo mau mandi atau cuci muka dulu bisa" kata dokter Raz.


"Mandi? Sekarang kan masih jam sebelas Boss, emang tadi sebelum ke tempatnya Bu Shine belum sempat mandi? Atau... Jangan-jangan... Jangan-jangan" ledek Meli sambil tersenyum menggoda Hana dan dokter Raz.


"Heh.. ngaco aja nih pikirannya.. makanya Mel.. kawin.. Biar otaknya ga kebanyakan traveling" omel dokter Raz.


"Becanda dok.. Hehehe" kata Meli.


Hana mencuci mukanya pakai sabun muka milik Meli. Meli yang meminta karena untuk membersihkan wajah sebelum di make up.


Dokter Raz keluar dari ruangannya, memberikan ruang agar Hana nyaman berdua sama Meli.


Setelah selesai mendandani Hana, Meli pamit keluar.


dokter Raz masuk ke ruangannya.


"Mas.. kita jalan jam berapa?" tanya Hana.


dokter Raz pangling melihat wajah Hana yang makin manis setelah ditambah sedikit kosmetik.


"Cakep De.. baju dan jilbabnya cocok, pulasan make upnya juga ga to much.. Jadi agak sedikit beda" puji dokter Raz.


"Abis sholat dzuhur aja ya, tanggung. Astaghfirullah.. Lupa ..." ucap dokter Raz.


"Kenapa Mas?" tanya Hana bingung.


"Kamu udah dandan rapih begini, kan belum sholat dzuhur, nanti di make up ulang dong?" tanya dokter Raz.


"Amanlah.. lagi.. lagi .." Hana ga melanjutkan perkataannya.


"Oh.. I know .. perempuan kan? Pasti ada cuti sholat" jawab dokter Raz dengan entengnya.


dokter Raz sholat dzuhur kemudian memakai kemeja batiknya, dia pun mengganti sepatu kets dengan sepatu yang formal.


"Bu Meli.. Makasih ya udah didandanin" ucap Hana ketika melintas didepan mejanya Meli.


"Panggil Meli aja Bu, saya belum lama lulus kuliah kok.. masih muda" pinta Meli.


"Kalo begitu panggil Hana aja" kata Hana.


"Ohhhh tidak bisaaaa. Bu Hana kan pasangannya Pak Boss, ga mungkin saya panggil nama aja" ujar Meli sambil tersenyum.


"Jadi setiap wanita yang dokter Raz bawa akan dipanggil Bu Boss gitu?" tanya Hana.


"Ya ga lah Bu, selama saya kerja disini, belum pernah liat dokter Raz jalan sama perempuan. Bu Hana ini yang pertama dibawa" ungkap Meli.


Hana kaget juga sama pernyataan Meli.


"Bu Hana aslinya udah manis, dikasih sentuhan dikit aja udah oke banget wajahnya. Pantaslah kalo owner Klinik ini tergila-gila sama Bu Hana" tutur Meli jujur.


"Udah.. Udah.. Ini malah nanti ngobrolnya panjang lebar kemana-mana. Ayo De.. kita jalan" ajak dokter Raz.


"Walah... Ade... Si paling Kakak nih dokter Raz.. Beneran deh, kita yang muda kalah telak urusan begini sama pakarnya" goda Meli.


Dokter Raz langsung meninggalkan Meli, wajahnya merah padam diledek anak buahnya sendiri.


Sepeninggalan dokter Raz, berlanjutlah obrolan dengan topik pasangan tadi di Klinik. Pada intinya semua baru melihat sisi lain dari dokter Raz yang selama ini mereka kenal. Memang dokter Raz baik dan ramah dengan siapa aja, tapi ketika membawa Hana ke Klinik ini, sisi dewasa dan matangnya dokter Raz sangat terlihat.


.


"You look so gorgeous De" puji dokter Raz saat didalam mobil.


"Makasih" jawab Hana.


"Sepatunya nyaman?" tanya dokter Raz.


"Mungkin karena masih baru kali ya, jadinya agak kaku bahannya" jawab Hana lagi.


"Lecet?" timpal dokter Raz.


"Ga sih, kan pake kaos kaki jadi kulit aman. Tapi ya agak licin jadinya" ujar Hana.


"Pake plester luka bakar aja, kayanya ada didalam tas, di bangku belakang. Plester jaring itu kan agak bertekstur, jadi lumayan biar ga licin dasarnya" jelas dokter Raz.


Begitu sampai di gedung tempat acara, dokter Raz mengeluarkan dompetnya. Beliau menyodorkan kartu debit sebuah Bank swasta ke Hana.


"Buat apa Mas?" tanya Hana.


"Buka usaha aja, jangan kerja disana lagi. Ga aman buat kamu. Lelaki brengsek itu ga akan pernah ada kapoknya buat kamu sengsara. nomer pinnya nanti Mas chat ya" jelas dokter Raz.


"Maaf Mas.. Saya ga bisa terima" jawab Hana.


"Gimana kalo Mas kasih kamu kerjaan?" tawar dokter Raz.


"Kerja apa Mas?" tanya Hana.


"Rekening ini isinya transfer jasa medis dari dua Rumah Sakit tempat Mas praktek. Dikasih slip tiap bulan dan copy kertas lembar konsultasi. Selama ini Mas ga pernah cek, apa sama jumlah pasiennya Mas sama uang jasa yang masuk ke rekening ini. Kan pasien juga ada yang umum dan asuransi atau BPJS. Menurut pengalaman teman sejawat, suka ada aja selisihnya. Karena Mas tipenya males buat cek satu persatu, jadi oke-oke aja sama jumlah yang ditransfer. Nah tugas kamu deh cek apa sama jumlah pasien sama uang yang Mas terima" papar dokter Raz.


"Jasa medis emang ga dimana-mana suka bikin antara bagian keuangan dan dokter agak memanas. Saya bisa aja Mas, tapi ga bisa resign dari sana. Saya masih butuh biaya" kata Hana.


"Mas bayar sama seperti gaji Klinik" lanjut dokter Raz.


"Tapi Mas.. Saya juga mau nabung buat gantiin motor Bapak, jadi masih cari sambilan-sambilan" ujar Hana.


"Kerja di Klinik Mas, jadi asisten Mas, gimana?" tawar dokter Raz lagi.


"Nanti dibicarakan dulu sama orang tua" jawab Hana.


Ada sebuah rasa yang muncul tiba-tiba dalam diri Hana, yaitu kagum terhadap sikap dokter Raz yang sangat tanggap terhadap apapun yang menyangkut hidupnya. Sudah sebulan ini, dalam tiap sujudnya, Hana meminta kepada Allah untuk bisa memberikan jawaban terbaik untuk dokter Raz.


"Kok bengong.. Ayo masuk kedalam" ajak dokter Raz.


"dok.. dokter Raz" panggil dokbar dari arah samping.


Keduanya bersalaman.


"Kok datang sendiri, gandengannya mana?" ledek dokter Raz.


"Ampun suhu.. hamba ngaku kalah kalo urusan gandengan" sahut dokbar.


Keduanya tertawa, Hana diam berdiri disampingnya dokter Raz.


"Bu.. Bagaimana kondisi kakinya?" tanya dokbar yang ingat dengan wajahnya Hana.


"Alhamdulillah baik dok.. Terima kasih atas bantuannya, maaf baru sekarang bisa ngucapinnya, soalnya saat kejadian saya udah bingung mau apa" kata Hana.


"Alhamdulillah kalo Ibu sehat.. Saya yakin Ibu pasti cepat pulih, secara punya dokter pribadi yang jempolan" puji dokbar.


"Saya ini dokter anak, bukan orthopedi seperti dokbar" ucap dokter Raz.


"dokter Raz kan juga spesialis bedah, sekarang aja udah ga mau pegang pisau operasi karena lebih nyaman jadi dokter anak" kata dokbar.