
"dok... kenapa anak saya bisa sampai meninggal? dokter tolong anak saya, dia anak laki satu-satunya yang saya punya, tolong dok, berapapun biayanya saya akan bayar.. dia masih bisa hidup kan?" seorang Ibu memegang erat pergelangan tangan dokbar, Ibu tersebut menangis.
"Saya hanya manusia Bu, tidak bisa mengubah takdir dari Allah. Sudah saya lakukan sesuai prosedur menangani pasien yang datang dalam kondisi seperti anak Ibu, tapi anak Ibu sudah meninggal dalam perjalanan menuju kesini, jadi saya sudah memeriksa dengan seksama dan memastikan kondisinya saat ini. Kami para dokter juga sudah disumpah untuk membaktikan keilmuan kami tanpa memandang apapun" jelas dokbar sambil mengusap punggung sang Ibu.
Kemudian wanita paruh baya itu memeluk dokbar, makin tumpah air matanya karena belum ada keluarga yang datang ke Rumah Sakit, jadinya dokbar memberikan kekuatan untuk sang Ibu menerima kenyataan ini.
"Sabar ya Bu... tabah.. ikhlas.. sekarang yang meninggal sangat butuh do'a dari Ibu, mungkin lebih baik Ibu mengaji sambil menunggu keluarga yang lain datang kesini" ujar dokbar.
Dengan sangat telaten, sang Ibu dibimbing untuk duduk di kursi dan diberikan minum air mineral gelas.
"Dia anak kesayangan saya dok .. dia.. dia.." sang Ibu kemudian makin histeris hingga pingsan.
dokbar yang ada disampingnya dengan cekatan menangkap tubuh Ibu tersebut. Dibantu oleh perawat dan security, tubuh sang Ibu sekarang ada di tempat tidur pasien, tepat disebelah jenazah anaknya.
Keluarga pasien yang meninggal mulai berdatangan, mereka menangis bersama. Ada yang melihat jenazah, ada pula yang melihat Ibunya.
dokbar sedang memeriksa pasien IGD yang lain. Karena IGD makin ramai oleh pasien dan keluarga, dokbar meminta jenazah dipindahkan ke kamar jenazah dulu sambil menunggu keputusan pihak keluarga yang hingga kini belum ada kata sepakat karena masih berunding.
"Sementara dipindahkan dulu ya, untuk kenyamanan pasien yang lain, saya harap pihak keluarga memahami kondisi ini" dokbar memberikan alasan ke keluarga pasien.
"Baik dok, maaf ya kalo kami bikin rame disini" jawab salah satu keluarga.
.
Sambil menulis medical record pasien, dokbar diinformasikan oleh keluarga jika sang Ibu yang tadi anaknya meninggal, sudah mulai siuman dan kembali menangis.
dokbar menghampiri sang Ibu setelah dia meresepkan obat untuk pasien lainnya.
"Bu.. saya periksa dulu ya tensinya.. ada sesak nafas atau ada yang Ibu rasakan? pusing, mual atau lainnya?" tanya dokbar.
"Anak saya dokkkk... anak saya" jawab sang Ibu kembali menangis.
Perawat membantu dokbar untuk memeriksa tensi sang Ibu. Kemudian memberikan selang oksigen karena sang Ibu mulai terlihat nafasnya tidak nyaman.
Pasien meninggal karena overdosis obat terlarang, menurut pihak keluarga yang berbincang dengan dokbar, anak ini pendiam kalo di rumah, jarang terlihat jalan sama teman-temannya. Usianya baru menginjak tujuh belas tahun, ternyata dalam diamnya, ia menyimpan bom waktu yang akhirnya meledak hari ini.
Perceraian kedua orang tuanya saat dia masih kecil dan proses perceraian yang panjang penuh drama perebutan hak asuh anak dan harta gono-gini, membuat anak-anak jadi stress.
Dari ketiga anaknya, dua ikut Ibu dan satu ikut Bapaknya. Yang ikut Ibu justru bermasalah semua. Yang lelaki ini lari ke obat terlarang dan yang wanita lari dengan pacarnya.
dokbar duduk di kursinya sambil kembali menulis medical record, tampak dia menarik nafas agak panjang, sambil berdo'a semoga kelak Allah memberikan anak-anak yang menjadi salah satu kunci syurga untuknya.
dokbar kembali bersyukur, ia termasuk beruntung, berasal dari keluarga yang saling menyayangi, saling support meskipun kondisi keluarganya sangat sederhana.
Kembali dokbar memeriksa pasien yang silih berganti masuk kedalam IGD.
Ibu pasien yang meninggal tadi, mendekati dokbar, dibantu oleh saudara untuk jalan kearah dokbar.
Kemudian mereka duduk dihadapan dokbar.
"Maafkan saya ya dok, sudah marahin dokter tadi" ungkap sang Ibu menyesal.
"Gapapa Bu, saya sangat paham kondisi Ibu, sekarang do'akan saja agar anak Ibu diampuni segala dosa dan kesalahannya. Ada baiknya juga diberikan keputusan yang cepat agar jenazah langsung diurus untuk proses pemakaman" saran dokbar.
"Iya dok, ini Bapaknya minta dimakamkan di kampung aja" jawab sang Ibu.
"Ya Bu, saya tunggu keputusannya agar bisa saya menginformasikan ke kamar jenazah" kata dokbar.
"Ya dok... lagi nyari ambulans yang bisa antar ke kampung, saya ini saking sedihnya jadi lupa, kalo anak kita itu kepunyaan Allah, sewaktu-waktu Allah bisa ambil dengan cara apapun.." tutur sang Ibu.
"Ya Bu..." jawab dokbar bersimpati.
"Pelajaran buat kita semua ya dok, kelak kalo dokter sudah punya anak, harus benar-benar hati-hati, kita perhatikan mereka. Jangan mengulang kesalahan saya" curhat sang Ibu.
dokbar menyimak, baginya saat ini cukup mendengar saja, sudah sebuah dukungan moril bagi sang Ibu.
"Diam bukan berarti penurut, bisa jadi dia kecewa hingga malas untuk bicara" lanjut sang Ibu.
"Ya Bu... Allah memberikan kejadian ini agar kita sama-sama bisa belajar, do'akan saya bisa menjadi orang tua yang baik" pinta dokbar.
"Dokter sudah menikah?" tanya sang Ibu penasaran.
"Belum Bu" jawab dokbar.
"Tapi sudah ada calon istrinya kan dok?" tanya Ibu tersebut.
dokbar hanya senyum, sulit untuknya menjawab sekarang ini, hubungannya dengan Elsa belum terlalu jelas arahnya meskipun dokbar sudah bertemu dan berbicara dengan Romonya Elsa.
Sudah dua hari ini komunikasi antara dokbar dan Elsa tidak lancar, entah karena jaringan internet yang tidak bagus atau ada kegiatan Elsa yang membuatnya tak sempat memberikan kabar ke dokbar.
"Pak dokter masih sendiri ya? Saya do'akan segera diberikan jodoh ya dok" harap sang Ibu.
"Aamiin ya robbal'alamin.. sudah ada Bu, hanya belum waktunya saja, semoga hubungan kami dilancarkan hingga menikah nanti" jawab dokbar.
🍒
Hari rupanya sudah pusing karena baru berhasil mencium Lili sekali saja, rasanya belum puas hasratnya tertumpah, jadi dia melanjutkan keinginan untuk bercinta ke Melati. Hari langsung mencium bibir istrinya dengan penuh nafsu. Melati pun terlarut dalam permainan bibirnya Hari.
"Pelan-pelan sayang, kan ga bisa dilayani dulu" ucap Melati.
"Ini gara-gara ga tuntas sih, keburu darahnya keluar banyak" oceh Hari.
"Nanti di rumah ya dipuasin deh secara manual" janji Melati.
"Janji ya..." kata Hari dengan genitnya.
Pintu terbuka, Hana berdiri disana membawa obat.
"Maaf .. maaf..." kata Hana sambil menutup pintu kembali.
Melati dan Hari pun menyudahi ciuman mereka.
"Bodoh.... kenapa ga ketok pintu dulu sih... udah tau kan modelan Bang Hari kaya gimana... kan jadi ga enak sama mereka" ucap Hana dalam hati merutuk kebodohannya.
Tak lama berselang, Hari keluar dari kamar.
"Ngiri ya? mau merasakan ******* bibir Abang lagi? bolehlah kalo masih mau ngerasain .. hehehe" goda Hari sambil berjalan keluar pintu masuk Klinik.
"Wong Edddiiyaaannnnn" rutuk Hana tapi tanpa suara.
.
Melati akhirnya diperbolehkan pulang oleh Bidan Neneng. Tapi dianjurkan untuk ke dokter kandungan guna pemeriksaan lebih lanjut.
.
Didalam mobil menuju pulang ke rumah, Melati dan Hari berbincang. Melati tiduran di kursi belakang. Hari yang menyetir mobil.
"Beneran Lili sakit Bang?" tanya Melati membuka pembicaraan.
"Masa ga percaya sih sama Abang" jawab Hari.
Rupanya Hari sudah meminta Lili untuk berbohong jika ditanya oleh Melati. Dia diminta mengikuti skenarionya Hari kalo ga mau dipecat.
"Apa ga sebaiknya kita kasih dia waktu istirahat biar pulang ke Kampungnya dulu? kali aja dia kangen sama keluarga" ide Hari.
"Iya juga ya Bang, Lebaran kemarin dia ga pulang karena nungguin warung yang lumayan rame di Komplek lain. Ngelembur dia.. tukar libur lebaran sama uang. Buat biaya adiknya ujian sama bayar perpisahan sekolah katanya. Kali aja dia sakit karena kangen sama Kampung dan orang tua" ucap Melati.
"Emang jauh Kampungnya?" tanya Hari.
"Ga sih Bang.. daerah Ciseeng, dari yang sumber air panas masih masuk lagi katanya, ya kalo dari ruko tempat dia tinggal sekarang naik kendaraan umum sekitar tiga jam. Soalnya muter-muter gitu" jelas Melati.
"Kasian ya kalo lama di jalan, mana lagi sakit .. gimana kalo Abang yang antar dia pulang ke rumahnya? ya sekalian kenalan sama keluarganya" ide Hari lagi.
"Bagus tuh Bang.. udah satu tahun kerja sama kita, masa kita ga kenal keluarganya. Tapi saya ga bisa ikut ya Bang, kan masih kaya gini.. Abang ga keberatan kan kalo anterin Lili sendiri? ya dia kan udah kaya anak buat saya" lanjut Melati.
"Karyawan kamu kan karyawan Abang juga sayang.. kalo kamu anggap dia anak ya Abang juga sama lah" ucap Hari berusaha menahan hasrat yang meledak dalam dadanya.
"Gimana kalo Abang sekalian ijin sama keluarganya biar dia tinggal sama kita di rumah, bulan depan kan Ningsih (asisten rumah tangganya Melati) hamilnya makin gede, dia mau lahiran di Kampung. Jadi sampai kita dapat asisten rumah tangga yang baru lagi, sementara Lili kita minta bantu-bantu di rumah, nanti gajinya ditambahin. Kan ga repot juga, kita ga punya anak kecil. Nyuci bisa pake mesin cuci, masak juga jarang.. kita juga jarang di rumah. Paling dia nyetrika sama bebenahan aja" papar Melati.
"Mau ga anaknya?" tanya Hari meyakinkan.
"Nanti saya telepon dia deh Bang, sambil jelasin biar Abang antar dia pulang ke rumahnya buat istirahat, libur ekstra selama tiga hari" kata Melati.
"Ya udah telepon Lilinya dulu, biar dia besok siap-siap" pinta Hari.
"Tapi bawa ke dokter dulu ya Bang, biar ketahuan sakit apanya" ucap Melati.
"Kita yang bayarin? Abang ga pegang uang" sahut Hari.
"Nanti ditransfer sekalian ongkos buat antar Lili" jawab Melati.
"Oh iya lupa.. tadi kan mobil ini mogok ya, Abang pinjam uang sejuta sama teman. Terus besok mau dibawa ke bengkel dulu sekalian ganti rem, udah ga pakem nih, bisa bahaya kan urusan rem mah" jelas Hari.
"Jadi totalnya berapa?" tanya Melati.
"Balikin uang teman sama buat servis besok ada kali sekitar lima jutaan. Terserah mau kasih buat berobat dan ongkos anterin Lili berapa. Abang irit-irit deh nanti" jawab Hari.
Melati mengambil HP nya dan membuka mobile banking.
"Udah dikirim sepuluh juta ya, buru-buru kembaliin uang temannya Abang. Malu-maluin aja pinjam sama orang" kata Melati.
"Emang istri Abang ini paling baik sedunia, makin cinta deh" ucap Hari.
"Fokus dulu ke jalanan, katanya remnya udah ga beres, jadi hati-hati" pinta Melati.
"Siap sayangku.. nanti sampe rumah jangan lupa ya.. udah pengen banget nih bisa keluar tuntas" rayu Hari.
"Iya Abang sayang ... tapi ga usah aneh-aneh dulu ya, jangan pake masukin mainan getar itu, punya Abang yang real juga udah gede, ga usah pake alat begituan buat muasin saya" lanjut Melati.
"Buat hiburan aja liat kamu mengerang kesakitan, enak kannnnn???" goda Hari dengan genit.
"Abang emang sukanya gitu ya? seneng liat orang yang kesakitan? saya nih udah hampir menopause Bang ... jadi udah seret pastinya, jangankan alat yang segede itu, punya Abang aja kadang udah sakit rasanya. Tapi kan sebagai istri wajib melayani suami. Toh selama ini Abang juga udah melayani saya dengan baik. Anterin kesana kemari, mau ngurusin kontrakan dan warung, pokoknya ga salah pilih deh" puji Melati.
Melati langsung menelepon Lili, karena Hari tadi sudah bilang ke Lili untuk beralasan sakit, jadi Lili terpaksa berbohong.
"Pokoknya besok ke dokter dulu ya Li.. abis dari dokter baru pulang ke rumah, istirahat dulu tiga hari. Kamu badan udah kecil bisa tambah kecil deh kalo sakit. Warung besok ditutup aja, toh disana masih sepi. Biar yang lain jaga di tempat biasa yang lebih rame. Kamu ga usah mikirin kerjaan.. harus sehat lagi ya kalo abis pulang kampung" perintah Melati lewat sambungan telepon.
Setelah menelepon Lili, Melati memasukkan HP nya kedalam tas.
"Bang.. Lili masih diam aja, paksa aja Bang biar ke dokter. Biarin warung disana tutup dulu" jelas Melati.
"Siap Boss..." jawab Hari.
.
Sesampainya di rumah, Melati langsung masuk kedalam rumah. Hari masih di mobil alasannya mau isi air karburator dulu daripada lupa.
Rupanya dia menelepon Lili.
"Kamu besok harus mau ya diajak jalan sama Abang... kita jalan-jalan kaya orang-orang" kata Hari setengah berbisik.
"Tapi Pak.. saya ga enak berbohong sama Ibu.. padahal Ibu baik banget sama saya" ucap Lili takut.
"Kamu mau dipecat?" ancam Hari.
"Jangan Pak.. kasian nanti orang tua saya" ujar Lili makin takut.
"Nanti habis kita jalan-jalan, Abang antar kamu ke rumah orang tua. Dandan yang cantik, bawa baju sekalian, kan mau pulang ke rumah" lanjut Hari.
"Tapi kita mau kemana dulu Pak?" tanya Lili.
"Ga usah banyak tanya, pokoknya ikutin aja" jawab Hari.
.
Keesokan harinya, jam enam pagi Hari sudah siap berangkat, Melati menyiapkan kopi dan roti untuk dinikmati didalam mobil. Hari beralasan harus pagi-pagi ke bengkel agar ga antri. Seperti biasa, Melati selalu percaya sama mulut manisnya Hari.
🍄
dokter Raz sedang sarapan sambil membaca laporan dari timnya. Mereka juga membahas ringan tentang laporan tersebut.
"Baru dua propinsi saja sudah terjadi kenaikan sangat signifikan atas temuan kasus tuberkulosis (TBC) pada anak, bahkan hampir seratus persen" kata dokter Raz.
"Iya dok.. ini terjadi karena banyak orang tua yang tidak menyadari gejala TBC, sehingga tidak segera mengobati penyakitnya dan berimbas penularan pada anak-anak yang masih senang bermain bersama" jawab salah satu anggota tim.
"Makanya misi kita kali ini juga menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteran Keluarga (TP PKK) guna membantu memberantas TBC pada anak, karena kader PKK yang lebih bisa menjangkau akar rumput, sehingga efektif dalam melakukan sosialisasi terhadap bahaya TBC serta upaya untuk memutus mata rantai penyebaran. Buku yang kita siapkan sebelum berangkat, dipastikan bisa terdistribusi dengan baik ke Ibu-ibu PKK, harapannya mereka dapat mengedukasi, apabila ada yang terserang atau bergejala, melaporkan ke dinas kesehatan setempat bahkan membantu memfasilitasi anak yang tercurigai terpapar bakteri sehingga cepat diperiksakan ke layanan kesehatan" lanjut dokter Raz.
"Siap dok" jawab anggota tim.
"Tolong berikan kontak layanan kita, jadi para kader bisa bertanya, agar paham cara mengedukasi bagaimana cara penularan dan memahami ciri-ciri anak yang terkena TBC, agar bisa melakukan deteksi dini. Terus membantu tenaga kesehatan untuk menjadi pendamping minum obat secara rutin. Kadang masyarakat kurang patuh terhadap obat-obatan yang harus rutin dikonsumsi selama enam bulan" papar dokter Raz.
Setelah berdiskusi, dokter Raz dan tim bergerak kesalah satu kecamatan yang angka penderita TBC anaknya banyak.