HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#

HOSPITAL #LIVE, LOVE & LAUGH#
Stetoskop 43, Berjuang



Hubungan Hari dan Wulan semakin dekat, malah mereka sudah beberapa kali liburan bareng. Wulan sangat kesepian, suaminya hanya balik ke Indonesia tiap enam bulan sekali, itu pun ga lama. Kariernya sangat cemerlang, uang tidak masalah baginya, kiriman dari suami bulenya juga sudah lebih dari cukup. Kadang Wulan yang membayar ketika mereka berkencan, baik bayar makan atau check in di Hotel.


Sekarang keduanya menginap disebuah Villa yang jauh dari jalan raya, sengaja menyewa Villa murah agar tidak ada yang mengenali mereka. Hari juga membuat KTP palsu dimana alamat keduanya sama, hal ini agar ketika mereka sedang ngamar dan ada pemeriksaan tidak akan teciduk.


"Bang Hari memang lelaki luar biasa. Sudah sebulan kita bareng. Tapi kian lama makin romantis, perhatian dan pastinya bisa menerima wanita apa adanya" puji Wulan.


"Cuma sama kamu kok sayang.." ucap Hari sambil mendekap erat tubuh Wulan diatas ranjang.


Hari beralasan ada pernikahan saudaranya di Kampung, Melati ga bisa ikut karena ngurusin toko yang lagi banyak masalah.


"Kita itu sama-sama kesepian, akhirnya dipertemukan untuk saling melengkapi dan memenuhi kefakiran cinta dalam hati. Jujur aja ya Bang, saya kan wanita normal yang butuh dekapan, suami ga mau saya pindah ke negaranya, karena dia sudah punya istri disana. Uang memang selalu dipenuhi, tapi hasrat saya ga pernah dia pikirkan" keluh Wulan yang memang sudah menceritakan tentang rumah tangganya.


Karena curhat rumah tangga, keduanya merasa saling membutuhkan hingga nekat menjalin asmara terlarang. Karena Wulan pintar, mereka main cantik dengan berkencan di Hotel mewah atau Villa yang jauh dari keramaian. Keduanya juga tidak pernah makan di restoran, pasti dibungkus dan dimakan dalam kamar yang mereka sewa.


"Abang juga sayang.. Liat kan istri Abang udah tua, menopause pula. Boro-boro bisa muasin, diajak bercinta aja udah ogah. Sedangkan Abang masih gagah-gagahnya untuk bertempur di ranjang. Udahlah sayang, kita nikmati aja honeymoon kita kali ini. Dunia cuma milik kita berdua" ungkap Hari.


"Abang punya niat pisah sama istri ga?" tanya Wulan.


"Dia itu sebatang kara, kalo ga Abang yang urus, bisa dia jadi gembel. Emang kamu ga kasian? Sesama wanita kan harus bisa berempati dong" ujar Hari.


"Sayang .. Kalo saya pisah sama suami, Abang mau nikah sama saya?" tanya Wulan lagi.


"Sekarang aja kamu udah Abang anggap istri. Melati itu cuma istri diatas kertas. Cinta Abang, hati dan tubuh ini cuma buat kamu seorang. Abang ga pernah bercinta sama Melati sejak bercinta sama kamu. Rasanya udah ga timbul hasrat sama dia. Beda kalo sama kamu sayang. Baru liat mukanya aja, hati Abang udah ambyar" rayu Hari sambil menghujani ciuman ke Wulan.


"So sweet banget.. Suamikuuuu sayang" kata Wulan.


"Istriku yang paling cantik dan seksi sedunia" balas Hari.


Keduanya pun kembali terbuai dalam hubungan nista. Saling berpagut dalam dinginnya udara disana.


🌿


Pernikahan Elsa terpaksa diundur karena Kakaknya Tama ditugaskan untuk belajar di Malaysia selama setahun. Tadinya ada wacana untuk mempercepat akad nikah dulu agar Elsa bisa ikut kesana, tapi keluarga Tama tidak setuju. Mereka ingin anaknya bisa fokus selama belajar, demi karier kedepannya. Jika menikah dikhawatirkan akan lalai terhadap tugas belajarnya. Apalagi karier Kakaknya Tama juga baru dirintis, selama ini sibuk dengan mengajar di daerah pedalaman.


Keluarga Elsa mau ga mau menerima keputusan ini. Semua vendor yang akan dilibatkan sudah diinformasikan jika ada penundaan. Untuk uang DP yang sudah masuk disimpan jika kelak mereka akan menyelenggarakan pernikahan.


🌿


Saat sedang ikut Profesor Andjar di Poliklinik, ada pasien anak yang sedang kontrol tiba-tiba kejang demam. Dengan cekatan dokbar mendekati pasien.


"Tolong keluarga menjauh dulu.. beri ruang ya.." pinta dokbar.


"Minta stesolid" perintah Profesor Andjar ke perawat.


Profesor Andjar yang bertanggung jawab terhadap pasien, tapi dokbar yang membantu tindakan.


dokbar membuka kancing atas baju pasien dan memiringkan tubuh anak usia tiga tahun tersebut. Hal ini bertujuan agar pasien tidak tersedak jika ada sisa makanan di kerongkongan dan lidah tidak terlipat kedalam, dia juga mengambil washlap kecil yang ada di lemari penyimpanan di ruang konsultasi agar saat pasien terlihat akan menggigit lidahnya bisa langsung diganjal.


Perawat memberikan obat ke dokbar, dengan cekatan langsung dimasukkan kebagian anus pasien. Kondisi pasien berangsur membaik, pasien dibawa ke IGD untuk ditangani lebih lanjut.


"Untunglah ada kamu, saya gerakannya udah ga secepat dulu" kata Profesor Andjar.


"Alhamdulillah Prof.. " jawab dokbar.



Tama sudah mulai mengisi acara seminar-seminar di SMP dan SMA, pembahasannya lebih kearah ekonomi kreatif, salah satunya dengan membuat konten di media sosial. Beberapa kali juga menggandeng UMKM yang dibuat oleh para anak muda. Seperti kaos sablon, minuman kekinian dan lainnya.


Bahkan dari sharing ilmu, Tama jadi kebayang mau buat usaha juga, meskipun dia belum tau mau usaha dibidang apa.


Waktu silih berganti, tak mampu jua menghapus bayangan Bhree dalam pikirannya. Sudah terukir dalam nama Bhree dihatinya Tama. Dia memang tidak menampakkan rasa kehilangan mendalam, tapi justru dalam diamnya ia menyesal tidak berjuang lebih keras untuk mempertahankan Bhree tetap ada disisinya.


🌿


Jika tidak ada kegiatan les dan kerja di toko, Bhree memilih berkeliling kampung memakai sepeda onthel yang ada di rumah Tante Debi (ga tau sepeda onthel milik siapa).


Membawa kamera satu-satunya yang dia punya. Mengambil gambar pemandangan dan hal menarik lainnya. Siang ini Bhree menuju Pasar Klewer.


Setelah dia lelah berburu objek yang dia ambil pakai kamera, pilihan paling segar adalah minum yang dingin. Disekitaran Pasar Klewer banyak berjejer pedagang minuman dingin, salah satunya es dawet. Kebetulan juga panas banget hari ini, jadilah Bhree mampir ke salah satu penjual es dawet.


Es dawet Pasar Klewer ini sama seperti es dawet pada umumnya. Santan, aroma daun pandan, dawet, ditambah larutan gula jawa sebagai pemanisnya. Ada juga yang ditambahkan tape, nangka atau durian, optional aja. Yang unik adalah penyajiannya, memakai mangkuk tembikar (gerabah yang terbuat dari tanah liat), konon katanya jika disajikan dalam mangkuk tembikar, es dawet ini akan awet dingin dan segarnya lebih lama.


Semangkuk es dawet Pasar Klewer ini dibandrol seharga lima ribu rupiah saja. Sambil berbincang dengan pedagang yang rata-rata sangat ramah terhadap pembelinya.


"Di kota yang setenang ini pun ga mampu membuat hati ini tenang" ucap Bhree sambil mengedarkan pandangannya ke jalanan.


Bhree meneruskan menikmati dawet. Lamat-lamat dia mendengar pedagang sedang bercerita.


"Selalu ini ada dua gentong yang terbuat dari tanah liat. Kita meyakini gentong mampu membuat bahan-bahan racikan es dawet, yang belum disajikan, menjadi dingin, meskipun belum ditambah dengan es. Kedua gentong juga dipikul untuk dijajakan. Pikulan yang digunakan pun unik. Sisi kanan dan kiri gentong terdapat hiasan dua tokoh pewayangan, Semar dan Gareng. Kata Semar dan Gareng jika dipadukan akan menjadi mareng (artinya kemarau). Simbol ini diartikan sebagai harapan dari penjual es dawet yang menginginkan cuaca panas atau kemarau sehingga dawetnya laris manis.


🌿


"Mas..." panggil Tama yang sudah ada dibelakangnya Wisnu.


Karena kaget, fotonya Bhree jatuh ke lantai. Tama mengambilnya.


"Udah tiga bulan ga ada kabar beritanya, dia kaya ditelan bumi" kata Tama kemudian duduk di sofa dekat Mas Wisnu.


"Kapan kamu datang Tam?" tanya Mas Wisnu.


"Serius banget sih liatin fotonya Bhree, jadi ga sadar kalo saya udah ada disini" jawab Tama.


"Ada perlu apa? Tumben main kesini" ucap Mas Wisnu.


"Gimana ya Mas.. Bingung juga mau mulai dari mana" ujar Tama yang memang terlihat bingung.


"Kenapa sih? Mau tanya tentang Bhree? kalo itu Mas juga ga tau" kata Mas Wisnu.


"Mas.. Bisa ga foto prewed ke Malaysia?" spontan Tama bicara.


"Katanya diundur tahun depan, sekarang dah ga sabar jadi dipercepat?" canda Mas Wisnu.


"Serius ini Mas" sahut Tama.


"Kakak atau kamu nih Tam?" makin Mas Wisnu ngeledek.


"Kakaklah Mas" jawab Tama.


"Kapan?" tanya Mas Wisnu.


"Dua mingguan lagi, makanya minta kosongin jadwal" pinta Tama.


"Besok Mas info, bisa atau ngga nya. Soalnya Papa juga masih butuh pengawasan, Mas ga bisa lama-lama pergi. Mas terima kerjaan juga yang masih Jabodetabek aja, biar sehari kelar" jelas Mas Wisnu.


"Oke..." ucap Tama.


"Semangat dong Bro.. masa lemes banget sih anak muda. Kangen ya sama yang di foto itu, ya udah.. Kamu bawa aja fotonya" goda Mas Wisnu.


Mas Wisnu memang sudah tau perasaan Tama ke Bhree, bahkan sering mereka berbincang tentang Bhree.


"Sejak punya rasa yang berbeda sama Bhree, saya banyak berubah Mas. Liat aja konten saya jadi lebih dewasa, cara ngomongnya, terus pembahasannya. Rasanya kaya lagi ngasih sinyal ke anak muda yang sudah memiliki kemampuan untuk menikah muda ya bisa dilaksanakan secepatnya daripada terjerumus dalam hubungan pacaran" papar Tama.


"Jawaban dari Allah ga instan Tam.. percaya aja kalo sudah jodoh .. Kamu yang ada disini bisa ketemu sama dia yang lagi entah dimana. Peluang kamu keliling daerah-daerah itu terbuka dan pastinya bisa membuka peluang ketemu sama Bhree. Mas yakin dia masih ada di Pulau Jawa" ungkap Mas Wisnu.


"Semoga apa yang saya semogakan bisa terkabul" sahut Tama.


"Tam.. Bhree itu punya potensi, hanya ga tergali dan ga tersalurkan dengan baik. Gayanya sok perkasa, padahal dia ga sekuat itu. Kehilangan kedua orang tua pasti jadi pukulan dahsyat dalam hidupnya. Kita do'akan dia baik-baik aja. Jangan terkesan kita memburunya, toh dia bersama keluarga dari pihak Bapaknya. Ga mungkin dong disia-siakan" jelas Mas Wisnu.



Dokbar terlihat berjalan menuju parkiran motor, mau pulang ke rumah. Dilihatnya suster Arni ga berhasil menyalakan motornya.


"Kenapa?" tanya dokbar.


"Ga nyala dok" jawab suster Arni.


"Cewe tuh taunya make doang, ga ngerti ngerawat. Nih busi harus ganti, kayanya oli juga dah kotor. Ga servis berkala ya?" tanya dokbar.


"Lupa dok.. biasanya Bapak saya yang ke bengkel" jawab suster Arni.


"Satpam kan ada yang bisa benerin, minta tolong aja. Sekarang saya anterin pulang, sore begini susah nyari ojol, barengan orang pulang kerja" tawar dokbar.


"Gapapa nih? Ga ada yang cemburu?" ujar suster Arni.


"Kebalik kali.. nanti perawat ruang operasi sama dokter IGD ada yang marah ga nih?" ledek dokbar.


"Ihhh.. Kok tau banget gosipnya? Ga bener tuh dok, saya masih single and available" ucap suster Arni.


"Udah cepetan naik, keburu Maghrib di jalan nanti" ajak dokbar.


Mereka berboncengan menuju pos security untuk meminta bantuan serta absen sidik jari.


"dokbar seleranya emang mantul.. Kirain sering main di perina karena liat pasien, ga taunya liat koordinator ruangannya toh" ledek security.


Dokbar hanya tersenyum, membuat semua orang meyakini kalo dokbar sedang kasmaran sama suster Arni.