
Melati ditangkap oleh pihak kepolisian karena terlibat jaringan penjualan organ manusia. Dia termasuk salah satu anggota sindikat di Indonesia. Beritanya pun heboh diberbagai media massa.
Hari langsung ngumpet begitu rumah digerebek pihak berwajib, yang tertangkap disana hanya Melati.
Jadi selama ini Hari dijadikan alat oleh Melati untuk mendapatkan calon-calon korbannya. Melati tau kalo Hari genit sama perempuan, jadinya pasti bisa membuat perempuan bertekuk lutut dihadapannya. Kematian Lili dan wanita-wanita lain yang dekat sama Hari, terkesan seperti kecelakaan, padahal sebenarnya adalah skenario Melati.
Modusnya semua calon korban akan masuk dalam perangkap nafsu setannya Hari, kemudian ketika mereka sudah dekat, Melati akan menggunakan nama Hari agar korban mau menjumpai Hari disuatu tempat (tanpa sepengetahuan Hari). Para korban mau menjalankan perintah tersebut karena Melati mengancam akan mengedarkan video porno antara Hari dengan wanita tersebut.
Ketika korban sudah sampai di tempat yang disepakati, maka akan langsung dibius agar tak sadarkan diri kemudian ada tim yang siap mengambil organ yang dibutuhkan (tentunya ada keterlibatan pihak medis dalam tahap proses ini). Setelah organ diambil, maka dipersiapkan rencana busuk agar terkesan korban mati secara wajar, yang paling memungkinkan untuk menghilangkan jejak bekas operasi adalah dengan kecelakaan. Dengan kecelakaan maka tidak menimbulkan kecurigaan jika telah dilakukan pembedahan sebelumnya, karena biasanya korban akan ditemukan terbakar di mobil atau sudah busuk karena terendam air. Tapi sepintar-pintarnya sindikat tersebut, ada suatu waktu terbongkar juga karena ada satu korban yang ditemukan dalam kondisi utuh meskipun jatuh ke jurang. Dari penyelidikan ternyata ada HP korban yang terjatuh dan ada kontak Melati mengirimkan chat ke korban.
Hari memang disini termasuk korban juga, bukan bagian dari jaringan sindikat penjualan organ manusia, tapi dia hanya dijadikan umpan semata. Tapi pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa melarikan diri agar tidak terlibat dalam kasus yang menjerat Melati.
Hari menjual apa yang ada di mobil, kebetulan tadi dia habis membeli sembako untuk keperluan toko. Jadi untuk dapat uang cash cepat, dia berjualan di mobil dengan harga yang sangat murah.
Sudah seminggu kasus Melati bergulir, Melati juga tidak buka suara tentang keterlibatan Hari. Video porno yang biasa digunakan oleh Melati sudah dihapus setelah diperlihatkan ke korban. Dia masih mencoba melindungi Hari karena berharap kelak Hari bisa dijadikan senjatanya lagi untuk bisa meringankan hukuman.
Warung-warung milik Melati bagai tak bertuan, memang sudah sempat dipindah namakan atas nama Hari belum lama ini, rupanya agar semua aset tetap bisa aman jika dia ditangkap polisi (Melati sadar bahwa yang dilakukannya melanggar hukum, tapi karena sudah dijalankan lama dan menghasilkan uang berlimpah, jadinya tetap memilih menjadi sindikat).
Tanpa Hari ketahui, sebenarnya dia kini pemilik harta yang Melati punya dan belum disita, sementara hanya rumah yang dipasang garis polisi. Para karyawan di warung akhirnya menjual barang yang ada di warung untuk gaji mereka. Setelahnya tidak ada yang datang lagi ke warung.
"Gila.. gw ga tau kalo ternyata bini gw sindikat penjualan organ. Untung gw ga jadi korbannya. Tuh kan ... bukan gw yang bawa sial buat cewek-cewek, ternyata emang mereka sengaja dibunuh. Kemana gw sekarang ngumpet ya? Harus nyamar nih, mobil juga dijual cepet aja deh, terus beli motor sama ngontrak rumah, gw ga boleh deket sini tinggalnya" Hari sedang menyusun rencana hidupnya.
.
"De.. Masih ingat dokter Barra kan?" tanya dokter Raz.
"Masihlah Mas, ga bakal lupa sama dia, udah dua kali nyelametin Hana. Ya bisa dibilang utang budi sama dokter Barra" jawab Hana.
"Jum'at ini dia pelepasan PPDS" kata dokter Raz.
"PPDS itu apa Mas?" tanya Hana.
"Program pendidikan dokter spesialis, dia jadi lulusan dengan IPK tertinggi, lulusan dokter spesialis termuda.. Pokoknya jadi lulusan terbaik deh" cerita dokter Raz.
"Emang kita diundang sama dia?" tanya Hana.
"Mas diundang dari kampus, kan termasuk salah satu dosen pengajar PPDS" jawab dokter Raz.
"Masih muda banget dia ya Mas, hebat udah jadi spesialis" puji Hana.
"Kayanya belum tiga puluhan dia.. keliatan cerdas sih dari cara bicara dan kerjanya. Profesor aja sampe anak emasin dia, gosipnya sampe dikasih mobil sama Profesor pendamping" kata dokter Raz lagi.
"Rejeki namanya tuh .. Mungkin ada amalan baik dari dia yang bikin banyak dikasih limpahan rejeki. Keliatannya baik dan tulus banget orangnya" ujar Hana.
"Sayang Mas ga ada anak yang udah gede, kalo ada mah udah dijodohin sama dia.. Hahaha" canda dokter Raz.
"Udah punya pacar kali Mas .. udah ganteng, baik, keliatannya bertanggung jawab.. Dokter spesialis lagi .. Pasti udah panjang antriannya" sahut Hana.
"Di Rumah Sakit aja banyak gosip beredar, tapi sampe sekarang ga tau yang mana pacarnya. Mas pernah tanya tentang keluarganya, ternyata Ibunya sakit-sakitan, terus Bapaknya udah ga kerja. Mereka jualan nasi uduk didepan rumah. Sekolah adik-adiknya ditanggung sama dia semua. Rumahnya kecil masuk gang, untungnya udah punya sendiri. Motor yang dia pakai sekarang itu doorprize acara apa gitu, dulu motornya dijual buat berobat. Ambil spesialis juga awalnya maju mundur, tapi niatnya sangat besar, jadi dimudahkan jalannya. Kadang kasian kalo liat dia lagi jaga malam di Rumah Sakit, besoknya kuliah pagi. Mata sepet banget itu. Empat tahunan deh dia kaya begitu, ketemu keluarga cuma seminggu sekali. Kalo Mas saat PPDS jadwal praktek banyak yang ditinggal, mungkin pertimbangan saat itu cukup biaya buat sekolah dan hidup, beda sama dia yang masih harus kerja keras" cerita dokter Raz panjang lebar.
"Kenapa ya Mas.. kadang orang yang punya kemampuan otak cemerlang, hidupnya justru sulit buat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Eh anak-anak yang asal-asalan justru punya peluang kuliah di tempat elit hanya karena punya duit" kata Hana.
"Ngeri ngomongnya nih .. Hehehe.. intinya semua takdir, tinggal bagaimana kita sebagai manusia menyikapi takdir itu. Misalnya hidup dengan ekonomi sulit, ya usaha atau kerja dengan berbagai macam upaya biar bisa keluar dari kesulitan itu" ujar dokter Raz.
"Kaya Hana ya Mas?" tanya Hana.
"Toh tetap mau usaha kan meskipun hasilnya ga seperti yang diharapkan. De .. semoga segala apa yang dilakukan dulu, Allah berikan pahala dan mengganti yang lebih baik kedepannya" jawab dokter Raz.
"Ngobrol sama Mas kayanya adem banget. Jawaban simpel tapi ngena. Makasih udah jadi suami yang baik dan Ayah yang penuh kasih sayang" ucap Hana tulus.
"Jangan banyak muji, mending bikinin kopi aja" pinta dokter Raz.
🌿
"Katanya mau dampingin Pak dokter?" tanya Pak Daliman saat sarapan melihat Bhree masih santai.
"Jam dua acaranya" jawab Bhree.
"Ga .. dandan sendiri, tadinya mau minta bantuan Luna, eh dia masuk kerja" ucap Bhree.
"Kenapa sih dokter Barra ga boleh main kesini? kan enak tinggal dijemput terus nanti diantar pulang" ujar Pak Daliman.
"Mbah.. Inget ya.. ini proyek balas budi" tekan Bhree.
Bhree memang sudah menceritakan semua tentang perihal wasiat Bapaknya yang ada ditangan Barra dan bagaimana usaha Barra untuk bertemu dan memberikan titipan tersebut.
"Tapi bener kan bukan dia yang bikin kamu putus sama Bobby?" tanya Pak Daliman lagi.
"Mbah... Berpisah sama Bang Bobby itu udah jalan terbaik, ini permintaan Bapaknya Bang Bobby" jawab Bhree keceplosan.
"Bapaknya? Kapan ketemu sama kamu?" Pak Daliman kaget.
"Waktu masih di asrama" jawab Bhree.
Bhree bercerita apa adanya semua omongan Bapaknya Bobby. Jadi Bhree memutuskan untuk mengambil "peran jahat" disini agar Bobby dan keluarganya tidak timbul konflik. Bhree tau rasanya hidup dalam keluarga yang tidak harmonis, jadi tidak mau hal serupa dialami oleh Bobby.
"Inilah yang ga bisa kita ubah .. penampilan kamu bisa di upgrade, pendidikan bisa ditempuh lebih tinggi, sikap dan perilaku bisa diubah jadi lebih baik .. Tapi masa lalu ga bisa diubah, terutama Ibu kamu" kata Pak Daliman.
"Mbah tau kalo Ibu begitu?" tanya Bhree.
"Ya.. Itu yang bikin Mbah marah sama Dasuki, lebih milih dia daripada keluarga. Jatuh cinta ga dilarang, tapi lihat-lihat dulu dong siapa orangnya" jawab Pak Daliman.
"Ibu udah kaya gitu sebelum nikah sama Bapak?" tanya Bhree penasaran.
"Ya .. pacarnya Debi dulu ketangkep basah sama Ibu kamu disebuah hotel, Ibu kamu itu temen akrabnya Debi pas SMP, jadi kenal Dasuki dari lama. Saat itu belum ada getar asmara kayanya, ga tau deh mereka ketemu lagi kapan.. cuma bilang mau kawin karena hamil duluan" papar Pak Daliman.
"Apa itu alasan Tante Debi ga suka sama Bhree? Karena Bhree anak dari teman yang udah ngerebut pacarnya?" tanya Bhree makin penasaran.
"Udahlah .. Ga usah bahas orang yang udah ga ada semuanya. Oh ya.. Senin udah mulai kerja?" ujar Pak Daliman.
"Ya .." jawab Bhree.
"Janji ya cuma sebentar disana, lanjut kerja di Klinik aja. Motor udah siap Minggu depan, jadi selama seminggu pertama diantar jemput sama supir" ingat Pak Daliman.
"Naik ojol aja, ga enak kayanya karyawan baru diantar jemput naik mobil" jawab Bhree.
"Terserah.. Yang penting sekedar cari pengalaman aja disana" ujar Pak Daliman.
"Rumah Sakit itu banyak kasus, jadinya bisa mengasah kemampuan dan menambah pengetahuan. Nanti kalo Rumah Sakit Ibu dan Anak punya Mbah udah jadi, baru deh kerja disana" janji Bhree.
"Masih dua tahunan lagi itu bisa mulai beroperasinya" kata Pak Daliman.
"Jadi selama dua tahun ini, Bhree akan berkelana dulu ke Rumah Sakit lain" putus Bhree.
.
Rupanya Barra dan orang tuanya sudah menunggu Bhree di lobby hotel tempat acara berlangsung.
"Beneran nih cewe.. udah mah HP nya mahal, outfitnya branded... eh sekarang dia naik mobil keluaran terbaru. Beneran dia punya sugar daddy kayanya, kan kalo disurat Bapaknya nerangin kondisi ekonomi mereka kaya gimana" ucap Barra dalam hatinya.
Bhree menghampiri Barra.
"Bhree ... Kenalin ini orang tua saya" kata Barra.
Bhree mencium tangan kedua orang tuanya Barra, seperti layaknya orang Indonesia dengan adat ketimurannya, memberi hormat kepada yang lebih tua.
"Pak .. Bu.. Ini Bhree... yang Barra cari selama ini" terang Barra.
"Ini anak Bapak yang nitip surat ke kamu? Ya Allah.. Akhirnya ketemu juga. Alhamdulillah.. anak Ibu sudah menyampaikan amanah orang yang sudah tidak ada" ujar Ibunya Barra terharu.
Mereka berempat jalan beriringan, kedua orang tuanya Barra didepan, sedangkan Barra dan Bhree berjalan mengikuti dari belakang.