
Dengan langkah cepat Ilyas masuk kedalam mansion. Ia pulang lebih cepat karena tidak tahan dengan kerinduan yang semakin lama semakin membuncah saat mengingat keluarga kecilnya.
Baru melangkahkan kakinya kedalam ruang tamu, tiba-tiba ia mendengar banyak langkah kecil berlari menghampiri nya.
Ia tersenyum kecil tatkala melihat tiga kurcaci dengan hanya menggunakan popok dan celanaa dalaam saja berlari menghampiri nya
Ilyas berjongkok membuka lebar kedua tangannya.
“Yah... Yah... Yah..” Seru ketiganya bersemangat di dalam pelukan sang ayah. Rasa lelah yang tadi melimpah kini hilang tak terkira.
Ilyas terkekeh lalu mengecup kepala satu-satu anaknya “Ayah pulang.” Mereka bertiga kembali melompat-lompat girang.
Ketiga bocah yang masih berusia 2 tahun tersebut tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat ayahnya pulang.
Dian datang dengan langkah tergopoh-gopoh “Astagfirullah, sayang. Pakai baju dulu baru keluar.” Keluh Dian. Bajunya nampak basah, sepertinya tadi triple baru sudah mandi dan tengah di pakai ‘kan baju, tapi saat mendengar suara deru mobil ayahnya mereka langsung berlari tertatih-tatih kearah ayahnya
Ilyas berdiri kembali lalu mengecup kening istrinya dan turun melumaat sebentar bibir sang istri
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.” Jawab Dian mengecup punggung tangan suaminya
“Ini Kenapa?” Tanya Ilyas sembari menunduk melihat ketiga anaknya yang sedang memeluk kakinya
Dian menghela nafas panjang “Mereka terlalu bersemangat. Tadi Dian lagi pasangin baju, eh pas dengar suara mobil hubby mereka langsung lari keluar.”
Ilyas tertawa geli “Tidak apa-apa. Mereka masih asik dengan kaki mereka karena baru bisa lancar berlari.”
Dian mengangguk setuju, hanya saja ia kaget saat mereka tiba-tiba berlari keluar dari kamar. Untung saja Ilyas mengubah kamarnya menjadi dibawah semenjak triple bisa berjalan, mereka takut kalau anak-anak nya yang sedang aktif-aktifnya berlari-lari di lantai atas.
“yasudah biar aku bantu.” Menggendong Dylan dan juga Ilmy di kedua lengannya membuat mereka berdua tertawa keras, sedangkan Dian menggendong Delon.
“Yakin? Mendingan hubby istirahat ajah.”
“Tidak apa-apa, aku juga pulang cepat karena ingin membantu mengurus mereka.”
Mereka kemudian duduk di atas ranjang. Dengan sigap kedua orang tua tersebut memakai 'kan pakaian untuk ketiga balita menggemaskan tersebut.
“Bagaimana kuliahmu?”
“Udah sidang Minggu lalu, tinggal nunggu pemberitahuan kapan wisuda nya.”
“Yah.. yah.. yah..” Celoteh ketiga bayi berusia 2 tahun tersebut
“Ada apa hmm?” Ucap Ilyas mengunyel wajahnya di perut Ilmy dan Dylan yang sedang ia pakai ‘kan celana membuat mereka berdua tertawa geli. Tawa mereka sampai menular ke kedua orang tuanya
Berbeda dengan Delon yang fokus dengan wajah ibunya yang sedang tertawa. Tangan mungilnya kemudian hinggap di pipi sang ibu
“I.. ibu..”
Dian dan Ilyas terdiam, mereka saling pandang. “Aku gak salah dengar kan by? De.. delon.”
Ilyas mengangguk “Aku juga mendengar..__”
“Ibu.. ibu.. ayah.. ayah..” Delon berceloteh untuk membuktikan kembali kepada kedua orang tuanya
Lagi-lagi kedua pasangan manusia tersebut saling pandang, tak lama lengkungan lebar tersemat di bibir keduanya
“ibu.. ibu..” Melompat-lompat di pangkuan sang ibu
Ilyas mendekat “Coba panggil ayah..”
Balita berusia 2 tahun tersebut menoleh melihat ayahnya “Ayah.. ayah..” Ia kembali melompat-lompat girang di pangkuan ibunya saat melihat wajah kedua orang tuanya terlihat sangat gembira.
“Yah.. yah.. bu.. bu..” Dylan dan Ilmy juga tak ingin kalah dan ikut memanggil kedua orang tuanya walaupun belum terlalu pasif.
Ilyas dan Dian saling pandang lalu tertawa bersama-sama. Sungguh ketiga anaknya benar-benar membawa kebahagiaan baru untuk keduanya.
...***...
Dian yang tengah mencuci tangannya di westafel tersentak saat merasakan tarikan di gamis bagian bawah. Ia menunduk melihat tangan kecil yang sedang menarik-narik gamisnya
“ibu..” Panggil putri kecil Dian yang sekarang berusia 4 tahun
Dian berjongkok menyamakan tinggi nya “Ada apa hmm?”
“Ibu, Il mau cuci tangan juga.” Serunya Menggoyang-goyangkan kedua kuncir di kepalanya ke kanan dan ke kiri sembari memperlihatkan tangan nya.
“Hmm memang nya tangan Ilmy kotor?”
“Gak kotol. Tapi Il mau pegang ail.” Serunya semangat dengan penuh kejujuran
Dian mengulas senyum tipis, sudah ia duga kalau tujuan putri kecilnya itu pasti bermain air.
“Hmm gimana yah?” Dian nampak berpikir membuat Ilmy gelagapan takut tidak di izinkan
“Nanti Il gak nakal lagi. Boleh yah bu..” Ia memelas. Jujur saja di Antara kedua saudaranya ia lah yang paling aktif dan sangat nakal
“Janji?”
Ilmy mengangguk cepat “Janji!” Serunya
“Hmm tapi ibu takut Ilmy ingkar janji.”
Sontak perkataan Dian membuat pipi Ilmy menggembung tak suka “Il celalu tepatin janji Il, ibu.”
“Hahah iya.. iya.. janji yah, Il gak nakal lagi. Gak suka gangguin abang-abang nya, gak lagi nyembunyiin mainan abang Dylan, gak lagi ambil makanan lebih tapi gak di makan, gak lagi suka gangguin mbak-mbak yang kerja, gak lagi gangguin ayah yang kerja, gak lagi gangguin ibu kalau tidur, gak lag...__”
“Ibu...” Rengek Ilmy bergelayut di lengan ibunya. Ia tidak ingin semua kejahilan nya di beberkan sang ibu.
Dian tertawa geli lalu mengangkat jari kelingking nya “Janji?”
Ilmy ikut mengangkat jari kelingking nya lalu menautkan di jari sang ibu “Janji, Il gak ganggu-ganggu abang lagi, janji makan cemua makanan yang Il ambil, janji gak ganggu-ganggu mbak-mbak lagi, janji gak ganggu ayah kerlja lagi, janji gak ganggu ibu tidul lagi dan banyak janji lagi.” Seru nya bersemangat
Dian mengulas senyum dalma hati ‘Semoga Ilmy gak jadi orang yang suka ngumbar-ngumbar janji seenaknya saat dewasa nanti’
.
.
Lanjut gak nih😆