
Dian mengikuti pembelajaran dengan kusyuk. Walaupun tadi sebelum berangkat ia sempat kembali ditahan suaminya karena terlalu menggemaskan, yah itulah yang dikatakan Ilyas saat itu. Tapi akhirnya Dian bisa bebas juga.
“Dian ke ruangan ku nanti.” Seru dosen tampan yang terkenal killer tersebut membuat para mahasiswi ingin berteriak histeris berbanding terbalik dengan Dian dan Ayla yang malah menghembuskan nafas panjang.
“Baik pak.”
Selesai kelas, Dian berencana ingin ke toko buku bersama Ayla dan Adil. Namun sepertinya hal itu harus di tangguhkan. Ayla dan Dian tak terlalu melirik dosen tampan tersebut karena mereka sudah disuguhkan dengan pria-pria tampan selama ini.
Ilyas, sih pria datar namun rupawan. Mike siu tampan murah senyum, Ardo yang dingin dengan kegantengan yang tak kalah. Said si sangklek namun tetap tampan dan jangan lupakan Adil yang walaupun ajaib namun tetap tampan.
Dibandingkan dengan dosen mereka? Tentu saja kalah!
.
.
Dianra Masuk kedalam ruangan dosen tampannya setelah mengetuk pintu.
“Pemisi pak.” Seru Dian melihat seorang pria tengah duduk di balik meja
“Duduklah Dian.”
Dian menurut dan duduk di depan dosennya yang bernama Arga.
“Ada apa pak, memanggil saya?” Dian langsung to the point. Ia ingin segera pergi dari sana dan ke toko buku. Ayla dan Adil sedang menunggunya dibalik pintu.
Menatap wajah muridnya yang terlihat cantik dan lembut “Saya ingin kamu menjadi Asisten dosen saya. Seperti yang kamu tau, saya sedikit sibuk dan kamu lebih unggul dibanding teman-teman sekelas mu yang lain.”
Dian terdiam, sebenarnya ia tak keberatan. Tapi ia juga sibuk mengurus suaminya yang sedang di rawat di rumah sakit.
“Hmm bisa saya pikirkan terlebih dahulu pak?” Pertanyaan Dian berhasil membuat alis Arga terangkat. Biasanya para siswi yang lain pasti akan sangat senang berdekatan dengannya namun Dian malah terlihat tidak terlalu suka berdekatan dengannya.
Apakah pesonanya tidak terlihat oleh Dian?
“Apa kau tidak mau?”
“Bukannya tidak mau, tapi saya juga sedikit sibuk pak.” Ia mencoba menolak dengan halus
“Hanya sedikit ‘kan? Baiklah mulai hari ini Kamu akan menjadi asisten dosen saya.” Ucapnya tegas “Dan saya tidak menerima bantahan!”
“Baik pak.”
Mau tidak mau Dian harus menyetujui nya. Setelah berpamitan ia pun keluar dari dalam sana dan langsung disambut kedua sahabatnya.
“Ada apa Di?” Tanya Ayla
Dian menghela nafas lalu membuangnya “Pak Arga mau aku jadi asisten dosennya. Menurut kalian gimana?”
“Wahh orang pintar memang beda yah. Apalah kita yang cuman rempahan rengginang.” Celetuk Aldi
Ayla menyikut perut Aldi. Sahabatnya itu memang tidak peka akan situasi, yah tapi hal itulah yang membuat persahabatan mereka bagaikan tali tambang yang susah putus.
“Yah bagus dong Di, itu artinya pak Arga ngakuin kemampuan lu.”
“Sebenarnya aku juga senang, cuman akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Kalian tau sendiri apa yang aku maksud ‘kan?”
“Hmm benar juga. Yah semuanya terserah lu ajah, asalkan hati-hati ajah sama pak Arga.” Ucap Adil
Dian dan Ayla Melihat Adil dengan tatapan bingung. Hati-hati? Kenapa? Begitulah kira-kira pertanyaan yang dapat Adil lihat dari wajah keduanya.
Adil menghembuskan nafas panjang. Punya dua sahabat perempuan cantik tapi sama sekali tidak peka membuat nya harus bekerja keras
“Pak Arga keliatan banget suka ama lu Di.”
Ucapan santai Arga tentu membuat banyak kerutan dikening Dian dan Ayla “Jangan ngawur kamu, Adil. Gak mungkin lah pak Arga suka sama aku.”
“Iya, jangan ngomong yang enggak-enggak. Entar kalau orang nya tau bisa habis kita." Timpal Ayla meliha sekelilingnya, takut ketahuan.
Sekali lagi, Arga menghela nafas “Gue sama pak Arga sama-sama cowok. Udah keliatan banget dari tatapan pak Arga buat lu Di. Yah walaupun gue yakin lu pasti lebih milih suami lu yang gantengnya pari purna.”
Dian terdiam ‘Apa benar?’ Jika demikian Dian malah takut untuk jadi asisten dosen pak Arga yang otomatis mereka pasti akan ada banyak interaksi.
“Sudah.. sudah.. bukannya kita mau ke toko buku? Sekalian kita jenguk suami mu Di. Gimana?” Ayla menengahi
Merangkul bahu Dian “Yee kaya sama siapa ajah. Gak perlu sungkan!”
“Benar tuh. Apalagi kalau sama Curut gue tuh!”
“Wah lu benar-benar minta di hajar yah.” Geram Ayla. Entah sahabatnya yang satu itu terbuat dari apa! Ganteng-ganteng tapi lambe turah.
Dian tertawa kecil melihat perdebatan mereka, tak akan pernah habis sampai mereka benar-benar dapat topik baru
“Sabar Ay. Lagian kamu sih Aldi, ngajak ribut mulu. Jangan-jangan kamu..” Sengaja menggantung ucapannya sembari memicingkan mata melihat Aldi dan Ayla bergantian
“Jangan-jangan apa?” Tanya Aldi ikut memicingkan mata
“Jangan-Jangan kalian punya hubungan lebih dari sahabat. Hayoo.. ‘kan gak mungkin bangat ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan.” Mengangkat kedua bahu
Kedua orang itu saling tatap lalu melihat Dian dengan wajah datar bin malas
“Kalau becanda jangan berlebihan Di.” Seru Aldi “Mana mau gue sama cewek tomboi kaya dia. Bisa mati muda gue.”
Ayla memutar bola matanya malas “Haaahhh sabar.. sabar Ay.. orang sabar awet muda.” Mengelus dada. Punya dua sahabat semuanya sama saja, suka bikin naik darah.
Dian lagi-lagi dibuat tertawa pelan melihat mereka berdua. Ia jadi ingat dengan Sarah, sahabat terbaiknya yang selama ini selalu menemani dirinya kala senang maupun susah.
‘sedang apa yah anak itu’
Sedangkan yang sedang di pikirkan Dian tengah berkutat dengan komputer didepannya. Sebentar lagi jam makan siang tiba dan pekerjaan Sarah masih sangat banyak.
“Semangat Sar!” Hanya kata-kata itu yang ia lontarkan tatkala jari, punggung serta matanya sudah lelah.
Bunyi keyboard komputer terdengar di meja Sarah. Hingga sebuah panggilan masuk yang menyuruhnya untuk segera menemui sang atasan.
Sarah menghembuskan nafas panjang “Jaga batasan!” Hanya itu yang dapat ia lontarkan. Jujur saja, selama ini Sarah juga sudah sedikit lelah akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Jika di pikir-pikir sekarang, tingkah Sarah yang selalu ingin menempel kepada Ardo malah terkesan aneh dan menjijikan “Hahhh aku memang menyedihkan. Kalau memang bukan jodoh yah mau gimana lagi.” Sekarang ia sudah pasrah akan takdir yang akan membawa jodohnya entah kemana.
Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan sahutan dari dalam, Sarah pun masuk kedalam ruangan Ardo
“Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?”
Tanpa melihat Sarah “Apa kau ada janji nanti siang?” Tanyanya membuat Sarah bingung namun ia tetap menjawab
“Tidak ada pak, saya berencana ingin menuntaskan pekerjaan saya sampai selesai.” Jawabnya jujur. Ia ingin segera menuntaskan pekerjaan nya sebelum masa magang yang tinggal satu Minggu habis.
Ardo akhirnya mendongak menatap Sarah, sedangkan yang di tatap Langsung menunduk. Berbeda dengan dirinya yang biasanya, Sarah biasanya kembali menatap mata Ardo tanpa rasa takut sedikitpun.
“Jam makan siang ada untuk digunakan beristirahat dan makan. Pihak perusahaan melakukan nya agar semua karyawan tidak di pusingkan dengan pekerjaan!”
Sarah mengangguk “Saya tau pak, jadi apa ada yang bisa saya bantu pak? Kenapa pak Ardo memanggil saya ke ruangan bapak?” Ia ingin segera pergi dari sana.
Jantung nya sudah tidak dapat di kondisikan. Bisa-bisa niatnya yang ingin tobat dan menjaga batasan hancur dilibas karisma Ardo.
Kini Ardo yang terdiam. Sudah ia duga ada yang salah dengan asistennya yang satu ini.
“Kau kenapa?”
“Apa maksud bapak? Apa ada yang salah dengan saya?” Balasan Sarah membungkam mulut Ardo
“Tidak. Jadi bisa kau temani aku makan siang diluar?”
Sarah terdiam. Ingin sekali ia berteriak dan melompat-lompat mendapatkan ajakan makan siang dari atasannya. Tapi..
“Maaf pak, tapi saya bawa bekal.”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...