Dream Wedding

Dream Wedding
Apa dia tidak malu?



Dengan semangat empat lima, Dian duduk di meja belajar yang ada diruang kerja sang suami. Setelah memutuskan akan melanjutkan pendidikannya, suaminya memutuskan menambah meja belajar khusus untuk Dian.


Semalam Dian juga sudah mengirimkan berkas pendaftaran nya, untunglah semuanya bisa diatur dengan bantuan Ilyas. Dan ujiannya akan dilaksanakan tiga bulan lagi bersama dengan calon mahasiswa/i lainnya.


Dian fokus membaca buku-buku yang kemarin dibelikan suaminya. Ia juga kadang-kadang mencoret-coret di kertas gambar, menguji kemampuan gambarnya.


“Hmm kemampuan gambarku kayanya menurun deh. Iya sih, terakhir aku ngegambar waktu kelas 12.” Memperhatikan gambar yang sedang ia lukis di kertas gambar berukuran A5, sedikit besar memang tapi itulah yang terbaik.


“Gak papalah, ini juga masih bagus. Kalau dilatih terus pasti kembali bagus.” Menyemangati dirinya sendiri. Apalagi Dian juga baru saja dibelikan peralatan melukis dari Ilyas. Padahal Dian tak ingin menjadi pelukis namun tetap saja suaminya kekeuh.


Ia terkikik geli saat mengatakan hal random oada suaminya namun di anggap serius oleh Ilyas “Dian akan jadi animator hebat. Terus Dian ingin buat anime versi Indonesia.” Begitulah kata-kata Dian malam tadi saat berbicara mengenai pekerjaan yang bisa Dian lakukan setelah lulus.


Niat nya yang hanya bercanda ditanggapi serius oleh suaminya “Biar aku yang membangunkan gedung dan mencari team dan komikus untuk anime perdana mu.” Jawabnya dengan serius


Dian benar-benar ingin ketawa saat itu namun ia juga merasa bersalah. Memang yah, suaminya itu tidak dapat diajak bercanda, tapi itulah sisi menyenangkan nya.


“Haha hubby.. hubby.. lucu banget sih, kira-kira sepupu-sepupu hubby lucu kaya suamiku atau menyeramkan kaya suami ku yah? Hahaha ada-ada ajah. Kenapa jadi suami ku yang jadi modelnya.”


Saat asik menggambar tiba-tiba pintu ruang kerja tersebut terbuka menampilkan suaminya yang gagah masuk kedalam.


“Mau kerja by?”


Tanpa menjawab, Ilyas berdiri di samping sang istri lalu mengintip gambar iatrinya “Gambarmu sangat bagus.” Merebut gambar yang ada digangan Dian


Sontak Dian berdiri “Jangan by, gambarnya belum jadi. Itu juga jelek bangat.” Ingin merebut kembali gambar nya namun Ilyas langsung membawa gambar tersebut tinggi-tinggi.


“Jadi aku jelek?” Menaruh gambar tersebut disamping wajahnya. Yap gambar yang dibuat Dian adalah gambar suaminya sendiri.


Dian menggeleng cepat “Kamu tampan by, gambar ku yang jelek!”


“Tidak, hanya mata mu yang mengatakan gambar ini jelek. Ini sangat bagus, gambar ini bahkan lebih bagus dari gambar pelukis diluar sana.” Memandangi gambar yang dibuat Istri nya. Sungguh itu sangat bagus, walau hanya berwarna hitam-putih tapi arsiran dan detailnya sangat bagus.


“Kamu pernah masuk sekolah seni? Atau les melukis?” Tanya Ilyas dan dijawab gelengan kepala dari Dian


“Selama ini Dian hanya belajar otodidak. Jelek yah? Iya sih Dian ‘kan emang bukan pro.” Ucapnya dengan nada lesu


“Mungkin hanya kamu yang menganggap gambar mu ini jelek! Perlihatkan pada sahabat mu, aku yakin dia juga akan mengatakan hal yang sama dengan ku. Hanya dia orang yang kamu percayai bukan?”


‘Apa benar yah?’


“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ini sudah sangat bagus! Percaya pada suami mu ini.” Memeluk sang istri


Dian membalas pelukan suaminya “Hubby gak bohong ‘kan?”


“Hmm.” Mencium kepala Dian, wangi rambut istrinya benar-benar candu baginya.


Entah mengapa mendengar jawaban yang selalu dilontarkan Ilyas membuat Dian sangat senang “Makasih by.” Mengeratkan pelukannya


Mendongak “Yaudah siniin gambarku. Aku mau jadiin koleksi ku.”


Ilyas menggeleng “Gambar ini punya ku sekarang! Aku yang jadi modelnya, tentu aku yang harus mendapatkan hasilnya.”


“Apa? Tapi ‘kan...” Belum sempat Dian melanjutkan ucapannya, bibirnya sudah dibungkam dengan bibir Ilyas.


Melumaat dan menghisapnya pun tak akan membuat Ilyas puas mencicipi bibir ranum sang istri. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan.


Hah.. hah.. hah..


Nafas keduanya memburu setelah melepas pagutannya. Ilyas menempelkan kedua kening mereka, jarak wajah keduanya benar-benar sangat dekat. Bahkan ujung hidungnya bersentuhan


“Hmm sangat manis.” Mengusap bibir Dian


“By, Dian belum selesai bicara tadi.”


Mengecup sekilas bibir istrinya “Bicaranya sudah selesai. Sekarang saatnya kita olahraga sayang.” Berbisik ditelinga Dian membuat empunya bergidik


“Tapi by, kita ada di ruang kerja sekarang." Menunduk malu


Memegang dagu Dian lalu mengangkat nya “Bukannya kita juga sudah pernah melakukannya disini?” Lirihnya lalu mendekatkan mulutnya di telinga istrinya


“Waktu itu kamu sangat hot baby.” menggigit daun telinga Dian


Blushh..


“By..”


“iya sayang? Main yuk!” Tanpa menunggu jawaban dari Dian, pria itu langsung membopong Dian kearah sofa.


Mereka merenggut kenikmatan dari masing-masing tubuh pasangannya, bertukar peluh tanpa rasa lelah. Suara nakal Keluar dari bibir keduanya, saling menyebut cinta dan nama pasangannya tatkala gelombang itu datang menghantam sanubari keduanya membawanya ke kenikmatan surga dunia.


...***...


Setelah pernyataan cintanya waktu itu, Sarah mulai mendekati Ardo, yah walaupun selalu ditolak oleh empunya. Alhasil Sarah harus ekstra sabar menghadapi sikap dingin Ardo.


Sarah mengangguk “Ada apa emangnya kak?”


Mengangkat sebuah map “Ini Laporan keuangan yang diminta pak Ardo tadi. Gue pengen ngasih ke pak Ardo tapi gak berani.” Membayangkan tatapan dingin dari Ardo sudah membuatnya ketar ketir.


Sarah terkekeh “hahah bisa ajah kak. Kalo kakak takut, taruh ajah disini biar nanti aku yang ngasih.” Sekalian Sarah ingin melihat wajah tampan Ardo


Pria tersebut nampak antusias “Benar nih? Gak ngerepotin ‘kan?”


“Tenang, aku udah biasa ngeladenin sikap pak Ardo.” Jawabnya meyakinkan


“Wah.. makasih yah, gue taruh disini yah. Jangan lupa kasi ke pak Ardo.” Sarah mengangguk yakin dengan tersenyum


Pria tersebut pun berlalu dari sana “Jangan lupa yah.” Ucapnya sebelum benar-benar pergi


Mengangkat jempol nya “Beres!” Sahut Sarah.


Tok.. tok.. tok..


Setelah mendapat sahutan dari dalam, Sarah pun masuk. Sebelumnya ia sudah merapikan penampilan nya agar terlihat sedikit menarik ‘Udah kaya wanita apaan ajah aku’


“Ini pak Laporan keuangan yang anda minta.” Ucap Sarah saat ia sudah benar-benar Berdiri di hadapan Ardo


Sontak Ardo mendongak. Ia menyerngit heran “Kenapa kau yang membawanya?”


“Hehe sekalian ketemu bapak.” Tersenyum tanpa dosa sembari cengengesan.


Ardo hanya menatapnya seperti biasa, dingin penuh intimidasi namun Sarah orang yang sudah kebal akan tatapan itu


“Taruh dimeja.” Titahnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sarah menurut lalu menaruh map tersebut diatas meja. Ia bergeming, Memandangi wajah tampan Ardo. Dimulai dari alis tipis namun nampak terbentuk, matanya yang tajam dan tegas berwarna hitam pekat, rahang tegas Ardo membuat wanita manapun akan dibuat gigit jari melihatnya. Turun ke bibirnya yang terlihat penuh nan seksi


‘Astagfirullah, nafsu.. nafsu.. sadar Sarah’ Menggeleng cepat


Ardo menatap Sarah aneh “Kenapa kau diam saja? Tidak pergi?”


“Emm a.. ada yang ingin saya tanyakan pada pak Ardo.” Memainkan tangannya sendiri


“Apa?”


Sarah yang saat itu menggunakan celana kulot membuatnya leluasa untuk berjongkok didepan meja Ardo lalu menumpkan jari-jarinya dipinggir meja. Hanya mata Sarah yang terlihat membuat Ardo bingung akan sikap random Sarah


“Pulang kerja nanti, pak Ardo ada rencana gak?” Tanya Sarah dengan ragu-ragu


Mengangkat sebelah alisnya “Memangnya kenapa?”


“Hehe Saya ingin mengajak pak Ardo makan malam bersama. Kaya kencan ala-ala anak muda pak.” Terdengar cengengesan dari mulut Sarah


‘Apa dia sungguh menyukaiku? Tapi apa yang bagus dariku?’ batinnya. Inilah salah satunya alasan Ardo yang sampai sekarang masih jomblo, dia terlalu tidak percaya diri jika dihadapkan dengan perempuan yang menyukai nya.


“Aku harus mengantar tuan Ilyas pulang.” ucap Ardo beralasan. Walaupun memang dia tidak bohong, tapi Ilyas juga tidak pernah memaksanya untuk mengantarkan nya pulang.


Sarah menunduk. Ia kecewa dan yap maluuuuuuu ‘ahkkkk ditolakkkkkkkkk’ Pekiknya dalam hati. Wajahnya memerah menahan malu.


Setelah menetralisir perasaan dan membuat wajahnya kembali normal, Sarah kembali Mendongak menatap Ardo “Yah sayang sekali. Kalau begitu lain kali pak Ardo jangan menolak lagi yah!” bangkit berdiri seolah ia biasa saja


“Aku tidak ada waktu untuk berleha-leha.” Jawab Ardo dengan nada dingin seperti biasa.


Sarah mencebik “Jangan langsung ditolak dong pak. Setidaknya pak Ardo pertimbangan lagi, aku tunggu ajakan pak Ardo, atau mungkin aku yang akan mengajak bapak.” Cengengesan. Ia mengatakan nya seperti tanpa beban padahal sudah dari tadi Sarah menahan malu


Ardo menghela nafas panjang “Keluarlah dan lakukan pekerjaan mu!”


Mendengus kesal “Baiklah pak. Saya undur diri.” Sarah pun keluar dari ruangan Ardo.


Ardo hanya diam memandangi punggung Sarah yang tertelan pintu dan akhirnya menghilang dari pandangan nya.


“Apa dia tidak malu mengatakan perasaannya terang-terangan. Tapi kenapa aku tidak keberatan yah? Haaahh ada-ada saja.” Mengingat tingkah Sarah membuat nya geleng-geleng kepala tak sadar ia tersenyum tipis.


Sarah menjatuhkan dirinya dikursi. Mengambil kertas diatas meja lalu menutup wajah “Ahhkkkk malu bangat.... Hiks.. harga diriku... ” Pekiknya tertahan


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...