
Hari ini Dian ingin membuat makan siang suaminya dan mengantarkan nya langsung ke tempat kerja sang Suami yang tidak ia ketahui.
Menutup Tupperware terakhir lalu meletakkan diatas meja “Ada paper bag gak yah?” Tanya Dian ke salah satu pelayan yang saat ini tengah membantunya.
Mia, pelayan yang lebih tua dua tahun dari Dian menjawab “Sepertinya ada didapur nyonya.”
“oh, oke makasih.” hendak berlalu mengambil paper bag tersebut namun langsung ditahan oleh Mia
“Biar saya saja nyonya. Bukannya anda harus bersiap-siap terlebih dahulu?” Bisa dipecat dia jika Ilyas tau ia membiarkan sang nyonya melakukan hal remeh yang bahkan pelayan pun bisa melakukannya.
Dian sedikit berpikir “Baiklah. Tolong, susun yang rapi didalam paper bag. Jadikan satu ajah biar gak rempong.” menampilkan senyuman manis yang mampu membuat yang melihatnya tersenyum malu.
“Baik nyonya. Akan saya laksanakan.”
.
.
Dian duduk dengan tenang didalam mobil. Para pelayan bersikeras agar Dian memakai supir pribadi, Padahal Dian ingin menggunakan taksi. Tapi yah para pelayan masih menghargai pekerjaannya sekarang.
Supir tersebut mulai melajukan mobil dengan hati-hati, ia sangat menghindari jalan yang rusak atau bergunduk, jangan sampai mobil bergoyang yang membuat sang nyonya terbentur. Sungguh ia sangat ingin menjaga agar wanita yang sudah membuat keadaan mansion menjadi lebih hangat dan berwarna tetap terjaga dan selamat.
“Pak Anton tau gak dimana suamiku kerja?” Tanya Dian kepada pria paruh baya beranak 3 yang sedang duduk dikursi kemudi.
“Tuan Ilyas bekerja di perusahaannya, nyonya. Lebih tepatnya di Sky Group.” jawab pria tersebut
Dian manggut-manggut ‘Sky Group? Kaya gak asing? Tapi aku dengar dari mana yah?’
Saat lampu merah, seorang anak kecil datang menghampiri jendela kaca mobil di balik kemudi karena saat itu jendela mobil tak ditutup.
“Minumannya tuan, panas-panas gini enaknya minum yang segar-segar.” Menawarkan minuman kepada pak Anton
Anton melambai-lambaikan tangan mengusir anak kecil tersebut. Gadis itu pun pergi dengan raut yang kecewa, melihat hal itu Dian jadi tidak tega. Ia mengingat saat dirinya juga pernah menjual tisu di lampu merah
Membuka kaca jendela mobil “Dek, sini dulu dek.” melambai-lambaikan tangannya keluar jendela
Gadis kecil itu pun menghampiri Dian dengan wajah yang antusias berharap dagangannya dibeli “Iya kak, mau minumannya?” menawarkan dengan ceria
“Satunya berapa?” Melihat-lihat sebuah tempat yang dikalungkan dileher kecil gadis tersebut
“Cuman 10 ribu kak.” jawabnya antusias
Dian tersenyum “Kalau begitu kakak beli 5 yah.”
Gadis tersebut Tersenyum senang dan mulai membungkus pesanan Dian.
“ini kak.”
Dian merogoh dompetnya dan mengambil 5 uang lembar berwarna merah, lalu melipatnya menjadi gulungan “ini dek, makasih yah.” Mengambil kantong kresek yang berisi lima buah minuman berwarna.
“Eh! Ini kebanyakan kak.” Ia jadi panik sendiri memegang uang yang menurutnya sangat banyak. Bahkan ini pertama kalinya ia memegang uang sebanyak itu
“Anggap rezeki mu, dari Tuhan.”
Gadis itu tersenyum senang, air matanya hampir menetas. Rasa haru menyeruak menyinggahi hatinya. Membungkuk hormat beberapa kali “Terima kasih kak, Terima kasih..”
“Hahaha jangan berterima kasih padaku, tapi berterima kasih lah pada Tuhan.”
Lampu merah pun bertranformasi menjadi hijau “Terima kasih kak, semoga rezekinya bertambah dan tidak habis.” Doa gadis kecil itu memandangi mobil yang membawa seorang bidadari menjauh.
“nyonya, minumannya..” Sebenarnya pak Anton juga tak tega, tapi minuman yang tidak diketahui kadar keamanan nya itu membuat pria paruh baya tersebut enggan untuk membelinya tadi.
“Gak papa, pak. Lagipula mereka juga berhak untuk hidup bukan, aku juga yakin apa yang mereka jual tidak akan membahayakan.” Dian kembali mengingat perjuangannya dulu dengan teman-temannya dari panti asuhan Ilegal yang harus berjuang mencari nafkah dengan menjual barang receh dilampu merah.
Pak Anton tersenyum haru, ia merasa sangat beruntung bisa melayani Dian. ‘Semoga anda diberkahi kebahagiaan yang melimpah nyonya’
“oh iya pak, ini buat pak Anton satu.” memberikan minuman dalam botol berwarna oranye kepada pak Anton
“Untuk saya nyonya?” Menunjuk diri sendiri
“Iya pak, aku sengaja beli buat pak Anton juga. Aku yakin pak Anton bakalan ketagihan” Nada bicaranya terdengar meyakinkan
Mengambil minuman tersebut “Terima kasih nyonya. Nanti saya akan meminumnya.”
Tak berselang lama, mobil sampai di depan perusahaan. Dengan dibukakan pintu mobil, Dian keluar dari mobil. Ia melihat gedung yang menjulang tinggi didepan.
“Ini beneran perusahaan suami saya pak?” Bertanya ke pak Anton melalui kaca jendela mobil yang terbuka
“Iya nyonya, saya ingin memarkirkan mobil dulu. Anda bisa masuk kedalam terlebih dahulu.” Ia harus benar-benar memastikan bahwa sang nyonya sampai dengan selamat.
“Gak usah pak. Pak Anton pulang ajah, nanti aku pulangnya sama suamiku.”
“Gak papa pak. Aku bukan anak kecil lagi loh.”
Pak Anton terlihat berpikir, menghembuskan nafas pelan “Baiklah nyonya. Anda bisa bertanya pada resepsionis disana nanti.”
“Oke, makasih yah pak.” Setelah mengucap salam, pak Anton pun berlalu dari sana.
Dian kembali melihat gedung didepannya, terdapat tulisan Sky Gr. “Rupanya aku benar-benar jadi istri sultan yah” Berdecak kagum dalam hati.
Dengan langkah yang sedikit ragu, Dian masuk kedalam perusahaan sambil menentang sebuah paper bag dan satu kantong kresek hitam bersisi minuman yang tadi dibelinya.
“Masya Allah, ini kantornya besar bangat.” Padahal ia baru masuk kedalam loby tapi lidahnya sudah tidak bisa ditahan untuk tak berdecak kagum.
Dian menghampiri resepsionis seperti Perkataan pak Anton tadi. Terlihat dua orang wanita dan satu pria disana memakai pakaian senada
“Hmm permisi.” Sapa Dian sedikit ragu. Orang pendiam dan sedikit pemalu sepertinya memang tidak cocok dihadapkan dengan orang baru
Wanita dengan rambut diikat keatas Tersebut Tersenyum manis “Iya, ada yang bisa saya bantu?” Suara nya terdengar sangat ramah.
“emm begini.. ” Terlihat ragu-ragu mengatakan nya. Dian takut menganggu sang suami
‘Wah, ada Barbie yang mampir kesini. Kyaaa kiyowo..’
“Emmm apa Ilyas ada?” Tanya Dian
Mendengar nama CEO nya, senyum resepsionis tersebut luntur. Kedua petugas resepsionis yang lain menghampiri
“Ada urusan apa mbak ingin bertemu tuan Ilyas?” Tanya resepsionis pria
“Emm saya..__”
“Anda sudah punya janji?” Resepsionis wanita berambut panjang memotong
“Ti.. tidak.” Dian jadi takut melihat ketiga orang resepsionis tersebut yang seperti menghakiminya ‘Sebenarnya apa salahku?’
Ketiga resepsionis tersebut saling pandang “Maaf mbak tuan Ilyas sedang meeting dan tidak bisa diganggu.” Ucap resepsionis yang pertama
Dian terdiam, ia sudah terlanjur datang sayang jika harus pulang “Apa masih lama? Saya tidak keberatan menunggu.”
“Baiklah terserah mbak saja.” Seru resepsionis wanita yang berambut panjang
Dian tersenyum senang “Terima kasih, tolong katakan kepada saya jika Ilyas sudah selesai dengan meeting nya.” mendapatkan anggukan, Dian pun berlalu ke kursi loby untuk menunggu disana.
“Cantik-cantik kok kelakuannya kaya gitu.” Bisik resepsionis wanita berambut panjang
“Iya, tapi dia bukan pelayan tuan Ilyas ‘kan. Lihat deh paper bag yang dibawanya, kayanya itu makan siang deh.”
“Ck pasti bukanlah, mana mungkin seorang pelayan berani memanggil nama tuan Ilyas tanpa embel-embel tuan.”
“Benar juga yah.”
“Udah-udah, jangan ngegosip lagi. Lagian kalian kenapa di izinin sih nunggu, kenapa gak langsung suruh pulang ajah.” Tegur resepsionis pria
“Sengaja, biar tuan Ilyas yang negur dia atau biar security yang seret dia keluar.” Jawab resepsionis yang rambutnya diikat keatas
“Nah itu benar. Ishh punya wajah cantik kok dimanfaatin buat yang gak baik.” Timpal resepsionis rambut panjang
“Mata kalian buta yah, dilihat dari sudut manapun mbak itu pasti wanita baik-baik. Coba lihat hijab panjang dan baju syariah nya.”
“Yee yang bening-bening ajah di belaain. Kamu gak tau sih, itu pasti trik yang dia lakukan supaya di kira wanita baik-baik, eh gak taunya cuman wanita penggoda.” Cibir wanita berambut panjang
“Yaelah bilang ajah kalian sirik sama kecantikannya.” Jawab resepsionis pria tersebut dan kembali bekerja
“Huh! Sialan tuh Darjo.” Kedua wanita itu mengumpat bersamaan.
Dian bisa mendengar mereka bicara apa. Menggeleng keras ‘pasti niat mereka baik. Aku juga gak mau ganggu suamiku’
Para karyawan yang melihat Dian ada yang tersenyum saat Dian balik senyum kepadanya. Ada yang melihatnya dengan tatapan sinis ada juga yang tidak melirik sama sekali.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...