Dream Wedding

Dream Wedding
Tidak Menyesal



Sarah masih bengong ditempatnya hingga seseorang masuk kedalam


" Tolong aku.." pekik Sarah


" Ck Diamlah! " Suara yang sangat-sangat familiar ditelinga wanita itu terdengar. Dan benar saja, saat bayangan orang itu semakin dekat juga terlihat wajah tampan yang selalu dingin.


" Pak Ardo." Seru Sarah


" Ck! Dasar bocah! Merepotkan saja." Walaupun bibirnya menggerutu, tak ayal tangannya tetap bekerja melepas ikatan Sarah.


Sarah memanyunkan bibirnya " Tolonglah pak, jangan memancing keributan disini. Saya capek dan ingin tidur." Mengibas-ngibaskan tangannya yang kesemutan


" Yasudah tidurlah disini." Hendak beranjak pergi


Dengan cepat tangan Sarah meraih ujung jas Ardo " hehehe saya bercanda pak. Bisa bantu saya berdiri? Kaki saya keseleo."


Menatap dingin bawahannya " Aku kira kau ingin tidur."


" Hehe pak, itu cuman bercanda." Memperlihatkan gigi nya yang berderet rapi " Tolong yah pak. Kaki saya keseleo karena penculik tadi." Memberikan wajah memelas


" Kita bukan mahram. Haram untuk bersentuhan." Pukulan telak bagi Sarah. Benar juga yah batin wanita itu membenarkan


" Iya juga yah pak. Yaudah saya jalan sendiri ajah." Menarik kembali tangannya dan mulai menopang tubuh. Dengan bantuan kursi Sarah berhasil berdiri. Dengan langkah pelan ia mencoba untuk berjalan


" Aduhh.. auchh sakit pak. Kayanya gak bisa nih." Terduduk kembali ke kursi.


Ardo menghela nafas panjang " Baiklah hanya untuk kali ini." Menggendong Sarah ala bridal


" Ahkkk pak.. jangan ngagetin dong. Kalau aku kena jantungan gimana." Memanyunkan bibir. Tangan ia lipat didepan dada. Ia masih waras kalau tidak bisa bersentuhan dengan pria yang sedang menggendongnya


Ardo hanya berdecih dan mulai melangkah keluar dari sana. Diam-diam Sarah memperhatikan wajah tampan namun dingin tersebut dari bawah 'omg... Pak Ardo emang tampan banget. Kyaaa kapan lagi aku bisa digendong cowok tampan'


Mungkin jika seandainya Ardo ramah senyum seperti Mike, Sarah pasti aka langsung jatuh cinta kepada wajah pria tersebut. Namun naas, pria yang sedang menggendongnya bagaikan es, saat disentuh akan dingin namun lama-kelamaan jadi panas. Tapi bikin meleleh 'ahh ada-ada ajah aku'


" Ada apa? Kenapa memperhatikan ku seperti itu." Bertanya tanpa melihat Sarah


" Siapa juga yang perhatiin situ."


Memasukkan Sarah kedalam mobil " Tidak punya sopan santun." Sentaknya dan ikut masuk kedalam mobil di balik kemudi


" Hello... Ini diluar jam kerja loh. Jadi sekarang situ bukan atasan aku."


Menghela nafas panjang. Kenapa nasibnya harus bersama gadis unik bin ajaib ini sih, gerutu pria tersebut " Terserah kamu." Lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan nya


" Oh yah, itu tuan Ilyas beneran suami Dian yah? " Rasa penasaran yang sedari tadi dibendung akhirnya dikeluarkan juga


Melirik sekilas kearah Sarah dan kembali ke jalanan " Tentu saja. Jadi jika nyonya Dian berkunjung ke perusahaan, jangan terlalu dekat-dekat dengannya."


" Memangnya kenapa? " Menghadap kearah Ardo


" Karena nyonya Dian istri dari pemilik perusahaan. Sedangkan kau hanya kacung." Perkataan tajam tersebut terlontar begitu saja, untunglah Sarah sudah kebal, jadi perkataan tersebut terhempaskan begitu saja


Sarah terdiam. Ia masih mencerna apa yang terjadi 'Alhamdulillah.. Dian dapat jack pot. Eh.. tapi'


" Tapi, gimana caranya Dian berhadapan sama tuan Ilyas yang menyeramkan? " Gumam gadis itu namun masih bisa terdengar


Senyum tipis terlihat dibibir Ardo " Karena nyonya memang satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan tuan Ilyas."


.........


" Apa kamu jijik dengan bibirku by? Hiks.. pria itu juga sudah mencium ku hiks.. aku tau kamu jijik." Menangkup wajah nya dan kembali menangis, membayangkan suaminya jijik kepadanya, Dian benar-benar tak kuasa menahan air mata.


Rahang Ilyas kembali mengeras mendengar penuturan sang istri. Ia benar-benar tak akan memberikan ampunan kepada siapapun yang berani berbuat seperti ini.


Dilepasnya tangan Dian yang menutupi wajah cantiknya " Bibir mu luka. Aku takut kamu kesakitan kalau aku menciummu." Memberikan penjelasan selembut-lembutnya. Ia bagaikan orang lain


" Benarkah? Tapi aku.. hiks.. gak papa, gak sakit kok. Hubby bisa cium di bibir aku hiks.." sungguh Dian ingin menghilangkan bekas pria bejat


Ilyas dengan perlahan mengecup bibir sang istri, dilumaatnya perlahan dan dengan lembut agar tidak menyakiti istrinya. Dian pun ikut membalas, setelah dirasa cukup. Ilyas melepas ciuman tersebut


Diusapnya bibir istrinya " Sakit? " Dian menggeleng. Ilyas mencium pundak Dian yang terdapat kissmark dan ditambal menggunakan kissmark darinya.


" Ah.."


Naik ketas leher sang istri, bekas kissmark Nizam ditambal dengan kissmark darinya.


" Ah.."


Menyatukan kening nya dengan kening sang istri " Semuanya sudah tertutupi. Kamu tidak kotor, pria itu yang kotor. Aku sudah membersihkannya."


Dian mengangguk. Ilyas tersenyum tipis lalu mulai membersihkan badan sang istri.


Setelah itu, Ilyas kembali menggendong Dian dan membawanya ke tepi ranjang hanya dengan handuk sebatas paha. Masuk kedalam Walk closet, Ilyas mengambil piyama terusan, serta underwear tanpa penutup dada.


Dengan sangat lembut dan telaten, Ilyas memasang kannya di tubuh istrinya. Sebisa mungkin ia menahan hasrat melihat tubuh polos istrinya yang terpampang jelas.


" Sudah selesai."


Dian tersenyum haru. Sungguh ia sangat bersyukur mempunyai suami seperti Ilyas, walaupun datar dan bermulut tajam serta kejadian ini pasti ada hubungannya dengan sang suami, namun Dian tetap tidak akan menyesal menikah dengan Ilyas.


Diambilnya antiseptic diatas nakas. Ia juga mengambil kotak p3k yang tidak pernah ia sentuh. " Kalau sakit bilang." Dian mengangguk


Dengan sangat perlahan, Ilyas mulai mengobati sudut bibir istrinya yang terluka " hisstt.." sedikit meringis


" Tahan, aku sudah bilang berapa kali bukan untuk bawa pengawal bersama mu." Sekarang Ilyas geram akan dirinya yang menuruti keinginan sang istri yang egois tak ingin ada pengawal


" Maaf, aku cuma gak nyaman kalau ada pengawal yang ikutin." 'aku juga bukan presiden'


" Haahhhh tapi kami istriku." Dian hanya diam, ia tak yakin akan menang.


Setelah itu, Ilyas kembali mengambil air dingin untuk mengompres kedua pipi istrinya yang bengkak. Di usap pipi mulus Dian " Apa ini sakit? "


Dipegangnya tangan sang suami yang memegang pipinya. Di usap-usap kepipi " Sedikit."


Ilyas kembali mencium pipi istrinya dan mulai mengompres pipi Dian. Pelan-pelan agar Dian tak kesakitan.


Setelah nya " Kamu Istirahat dulu." Membaringkan tubuh Dian lalu menutupi nya dengan selimut sebatas dada. Mengelus surai panjang sang istri " Tidurlah."


Memegang tangan suaminya " Jangan tinggalkan aku. Temani aku disini sampai aku tidur." Untuk pertama kalinya Dian merengek. Jika seandainya tidak dalam kondisi yang seperti ini, sudah pasti Ilyas akan memangsa istri kecilnya.


" Baiklah." Ikut naik dan berbaring disamping sang istri. Ilyas memeluk erat-erat tubuh Dian, sedangkan Dian memelasnya tak kalah erat. Dibenamkan kepala didada bidang sang suami.


" Hangat, wangi. Aku suka baumu by. Harum." Lirih Dian dan mulai memejamkan mata.


Tangan pria tersebut terangkat mengelus rambut dan juga punggung sang istri. Dikecupnya Beberapa kali pucuk kepala istrinya " Mimpi indah, sayang."


.........


Ilyas keluar dari kamar setelah memastikan istrinya tertidur. Dengan cepat pria tersebut bergegas ke ruang kerja, dimana disana Ardo Dan Mike sudah menunggu.


Ceklek..


" Tuan.." sapa keduanya


Duduk diatas sofa " Langsung saja."


" Saya sudah memastikan nya tuan. Sepertinya orang yang berani mengganggu anda hanyalah anak kemarin sore." Mike tersenyum licik mengatakan nya.


" Apa maksud mu? " Memang jika dipikir kan, siapa yang berani mengusik seorang Mahendra Ilyas Sam? Kecuali orang-orang yang belum mengenal pria mempesona itu.


" Apa anda ingat dengan Mireccle Nizam, dia adalah anak Mireccle Brama, pengusaha yang baru-baru saja memberikan proposal tentang perusahaan nya. Dan mengajukan kerja sama."


" Cukup! Kau sudah menangkap nya kan." Menatap tajam si pemberi laporan


Tersenyum manis " Tentu saja tuan. Sangat mudah menemukannya dan sekarang pria bejat itu sudah ada di markas."


Ilyas tersenyum licik, senyum yang benar-benar sangat langka dan kadang jika dikeluarkan akan terjadi sesuatu yang, ah.. entahlah tak akan ada yang bisa membayangkannya.


Glek...


" Kita kesana sekarang." Tanpa membuang waktu, mereka pun segera menuju ke markas tempat di sekapnya dalang penculikan sang istri.


Keluar dari ruangan dan berjalan cepat " Tu... Tuan." Bu Mega menghampiri. Ia benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan Dian.


Langkah Ilyas berhenti. Ia berdecih dalam hati, kenapa bawahan nya sangat ceroboh " Kau harus dihukum." Mega pasrah dan hanya mengangguk. Ia juga sudah menduga kalau akan dihukum. Apapun itu ia akan menerimanya


" Selama satu Minggu, kau ku pindahkan di bagian cuci baju." Ucap Ilyas


" Baik tuan." Ia kembali pasrah. Sebenarnya hukuman ini terbilang ringan setelah kecerobohan yang telah ia perbuat.


Walaupun sebenarnya juga, itu adalah hukuman yang lumayan bagi bu Mega yang sudah paruh baya. Tempat pencuci baju, biasanya dikerjakan oleh 3 sampai 4 orang sangking banyaknya baju. Dan sekarang ia harus melakukannya sendiri, pasti itu tidak mudah.


.........


Ilyas dan kedua anak asistennya yang selalu ada bersama turun dari mobil. Mereka bertiga melangkah memasuki sebuah rumah yang lumayan besar.


Di pagar terdapat penjaga yang pastinya bukan seorang satpam biasa " Selamat datang tuan." Hormatnyaa


Ilyas tak menjawab, terus melangkahkan kaki masuk kedalam rumah itu. Hingga mereka sampai di sebuah pintu ruangan yang katanya didalamlah dalang dari penculikan sang istri.


Ceklek..


'kita lihat, siapa yang berani bermain-main dengan ku' Dengan langkah tegap ia masuk kedalam.


Seorang pria terlihat diikat di kursi. Pria itu nampak tak sadarkan diri " Bukannya dia.." gumam Ilyas. Yah dia mengenal pria itu, mereka bertemu dipesta salah satu koleganya.


Tangan Ilyas mengepal. Rupanya hanya sebuah kacung tapi berani-beraninya menyentuh istri nya. Ilyas benar-benar akan membuat perhitungan padanya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...subscribe yah manteman😖...