Dream Wedding

Dream Wedding
Penyesalan Malik



Malik keluar dari dalam kamar saat mendengar suara melengking istrinya, ia sudah mengganti pakaiannya “Bisa gak si jangan nyalahin aku mulu. Ini itu salah kita berdua.”


Serly tertawa sinis “Sekarang mas mau bilang ini juga salah ku? Hah! Memang yah laki-laki cuman pengen enaknya doang.”


“Kamu lupa, waktu itu aku sudah suruh kamu buat minuman obat konstresepsi, lalu apa yang kamu bilang waktu itu? Gak suburlah, yang penting gak dibuang didalam, inilah itulah. Dan lihat hasilnya sekarang.” Malik tentu tak ingin disalahkan begitu saja


Serly mengeraskan rahangnya dan menatap Malik dengan tatapan tajam, sedangkan yang diberi tatapan malah santai dan berlalu kedapur.


Dibukanya tudung saji yang ada diatas meja. Menghembuskan nafas kasar. Kosong tak ada isi didalam “Serly, bibik dimana?” Tanya Malik kembali ke ruang tengah melihat istrinya yang hanya fokus dengan ponsel


“Pulang kampung, anaknya sakit.” Jawabnya tanpa melihat suaminya


Malik berdiri tepat dihadapan istrinya lalu merebut ponsel tersebut “Mas, apa lagi sih!!?” Menggeram kesal


“Kalau suami bicara itu, dilihat jangan malah fokus dengan hp.” Mengantongi ponsel tersebut, bekas ponsel yang pernah dipakai Dian


Serly membuang nafas kasar “Yaudah kamu mau ngomong apa mas.”


“Kenapa gak ada makanan?” langsung ke intinya


“Yaudah masak ajah sana.”


“Haaaahh kamu ‘kan istri aku Serly, kamu yang harusnya masak.” menekankan kata-kata


Serly bangkit “Aku udah bilang mas, aku itu istri mu bukan pembantu mu!, lagian aku juga gak bisa masak.” Meninggikan suara


Mengusap kasar wajahnya “Nyesal aku menikahi mu!” Sentak Malik


Serly tertegun, bibirnya bergetar. Ia menangis mendengar perkataan suaminya “Jadi apa? Mas mau ceraikan aku! Iya?!” Bentak Serly dengan linangan air mata. Istri mana yang tidak sakit hati mendengar perkataan sarkas yang tajam dari suami


Bukannya merasa bersalah, Malik malah menggeram kesal “Berhentilah menangis, kalau air matamu bisa membuat mu sedikit berguna maka menangis lah sejadi-jadinya. Dan kecilkan suara mu nanti tetangga mendengar nya.”


“Hiks.. kamu jahat mas, pantas saja mantan istri mu menggugat mu! Aku juga nyesal nikah sama kamu mas!” Berlari masuk kedalam kamar


Brakk..


Membanting pintu kamar. Malik menghela nafas kasar. Dengan perasaan yang tak menentu ia masuk kedalam dapur untuk membuat makanannya sendiri.


Padahal saat Dian masih menjadi istrinya, Malik sama sekali tidak pernah meninggikan suara atau Dian juga tidak pernah mengeluh ini itu, kecuali saat kerabat Malik menggunjing nya yang tidak-tidak.


Dian selalu menyambutnya dengan senyuman manis, melayani dengan ikhlas dan tulus, tidak pernah marah atau meninggikan suara, selalu membantu dalam keuangan. Tapi sekarang, Malik benar-benar menyesal telah mengkhianati Dian.


Setiap ada waktu ia pasti menyempatkan untuk mendatangi rumah atau warung Dian, namun hasilnya selalu nihil. Yang ia dengar Dian sudah menikah lagi karena kesalah pahaman warga, namun semenjak saat itu Dian sudah tidak pernah menampakkan wajahnya.


“Haaahh aku menyesal dek, maafin mas. Kamu sebenarnya dimana dek.”


...***...


Darjo menunduk menatap tangannya yang saling remas diatas pangkuan. Keringat dingin menetes dikening, namun ia tidak berani untuk mengusapnya.


Berbeda dengan Ilyas yang sedari tadi hanya menatap datar Darjo didepannya. Sudah beberapa menit semenjak Darjo duduk didepan Ilyas namun bosnya masih diam tidak mengatakan apa-apa


“Pulanglah.” ucap Ilyas yang akhirnya membuka suara


Darjo mendongak heran “Ma.. maksudnya tuan?” Bukankah ia tidak akan dipecat? Pikir Darjo


“Pulanglah lalu bersihkan dirimu. Apalagi tanganmu, cuci pakai sabun sampai benar-benar bersih, sampai bekas istriku hilang ditangan mu.” tanpa pikir panjang Darjo mengangguk cepat


“Ba.. Baik tuan.” Ucapnya.


Keadaan kembali hening, Darjo ingin menanyakan hukuman nya sekarang namun ia tetap tidak berani berbicara terlebih dahulu.


“Aku mengapresiasi dirimu yang membela serta membantu istriku. Tapi kau tetap tidak luput dari kesalahan yang membiarkan istriku menunggu di loby.”


Darjo masih menundukkan kepalanya. Ini saatnya hukuman apa yang akan diberikan kepadanya.


“Pulanglah. Mulai besok kau aku pindahkan di bagian departemen kebersihan. Laksanakan tugas barumu bersungguh-sungguh baru akan aku pertimbangkan untuk mengembalikan mu ke departemen mu,” Ucapan Ilyas bak penyelamat bagi Darjo walaupun sebenarnya tidak.


“Terima kasih tuan, saya akan melaksanakan tugas Baru saya dengan sungguh-sungguh.” Hanya dengan tidak dipecat saja dia sudah sangat berterima kasih.


Darjo hanyalah orang biasa, orang dari kampung yang mangadukan nasib kekota dengan bersekolah dan lanjut Bekerja. Dia seorang pemuda yang pernah merasakan dompet kosong disaat akhir bulan. Karena itu, dia sangat bersyukur tidak dipecat. Walaupun ia dipindahkan jadi Ob, ia tetap sangat bersyukur masih punya pekerjaan.


Jaman sekarang sangat sulit mendapatkan pekerjaan tanpa orang dalam. Apalagi hanya mengandalkan ijazah semata, karena itu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan bosnya.


“Keluarlah.”


Darjo bangkit lalu membungkuk hormat “Terima kasih tuan, sekali lagi terimakasih karena tidak memecat saya.”


“Hmm, tapi ingat jaga jarak 5 meter dari istri ku.”


“Baik tuan.” setelah berpamitan Darjo pun keluar dengan wajah yang sumringah. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk kembali ke posisi nya. Hanya membersihkan dan membuat minuman ia tidak akan masalah. Itu sudah biasa baginya.


.


.


.


Saat masuk kedalam lift, Ilyas bertemu Ardo. Ardo langsung menunduk hormat saat tuannya masuk kedalam lift yang sama dengannya.


Tak ada percakapan didalam lift, Hingga lift sampai di lantai paling dasar. Keduanya lagi-lagi keluar bersama dan berjalan kearah yang sama.


‘Tuan Ilyas ingi kemana?’ tanyanya dalam hati namun tak berani ia tanyakan langsung


“Kau ingin kemana?” Akhirnya Ilyas buka suara. Jujur saja ia juga penasaran Ardo ingin kemana, kenapa mereka selalu berjalan kearah yang sama.


“Saya ingin mencari asisten saya yang bolos tuan.” Mendengar kata bolos, Ilyas sudah tau kemana arah tujuan Ardo.


Tak ada sahutan dari Ilyas. Kedua pria tampan dengan pakaian yang tak sepenuhnya rapi hanya menggunakan kemeja tanpa dasi serta lengan yang keduanya gulung benar-benar tidak melunturkan karismatik mereka. Hanya rambut klimakss keduanya yang tetap rapi.


Saat sampai di kantin semua orang lagi-lagi berdiri dan menunduk hormat. Ardo sampai kaget saat melihat ada beberapa karyawan yang ternyata bolos, sedangkan Ilyas juga sedikit kaget, walaupun tak sebanyak tadi tetap saja masih ada yang bolos.


Dian mengerutkan kening saat Sarah berdiri dan menunduk hormat. Dian pun ikut berdiri lalu memutar tubuhnya “By? Kenapa?”


“Aku datang menjemput mu.” Memeluk pinggang Dian


Ardo menatap tajam Sarah, asistennya yang kabur dan bolos ke Kantin.


“Tapi kayanya aku belum lama deh by kesini.” Ia merasa baru beberapa menit disana, biasalah kalau orang sudah ketemu dengan sahabatnya pasti waktu terasa sangat singkat.


“Sudah hampir satu jam. Temanmu juga masih ada pekerjaan. Iya ‘kan!” Menekankan pertanyaan membuat beberapa orang yang masih boloa disana menelan salivah nya susah-susah.


Dian kembali mengangguk. Tatapan nya beralih kearah Ardo yang dari tadi memberikan tatapan intimidasi kearah Sarah “Jangan lihat Sarah segitunya bang.” Tegur Dian


Ardo mengalihkan pandangannya dan menatap Dian, ia tersenyum tipis “Maafkan saya nyonya. Saya hanya memikirkan hukuman apa yang patut saya beri pada asisten saya yang suka bolos.” melirik Sarah saat ia mengatakan kata-kata Asisten


“Sarah asistenmu?”


Ardo mengangguk “iya Nyonya.”


“Wah, dunia sempit bangat yah. Bantu Sarah kalau ada yang dia tidak tau yah bang. Dia anaknya bar-bar, jadi jangan ambil hati kalau dia ngomong gak jelas.” Sarah menggerutu dalam hati mendengar perkataan Sahabatnya


“Tenang saja nyonya, saya pasti akan membantunya.” Menakankan perkataan dikata terakhir


“Sudah, Ardo tau apa yang dia lakukan. Ayo kita kembali keruangan ku.” Menggenggam tangan istrinya


Dian mengangguk “Aku duluan yah Sar. Telpon aku yah.” Sarah tersenyum kikuk melihat Dian


“Baik nyonya.”


“Eh?! Ke..”


“Jangan protes lagi. Panggilan itu sudah seharusnya karena ini masih jam kerja.” Ucap Ilyas. Akhirnya Dian pasrah dan mereka berdua pun meninggalkan kantin dengan Ilyas yang menatap tajam para karyawan nya yang bolos.


‘Sepertinya aku harus mengadakan rapat kedisiplinan’


Tinggallah Mereka semua. Semua karyawan disana langsung pergi kembali mengerjakan pekerjaannya, sedangkan Sarah masih menunduk tak berani angkat kepala.


Ardo masih setia memberikan tatapan tajam nan dingin seperti biasa.


Berbeda dengan kedua pasutri yang dilanda cinta itu. Dian kembali duduk disofa sedangkan Ilyas berlalu begitu saja untuk membuka sebuah pintu.


“Sayang..” Panggil Ilyas.


Dian terkesiap, ia memang kadang-kadang mendengar Ilyas memanggilnya dengan mesra tapi tetap saja dia tidak akan terbiasa begitu saja.


“Hmm ada apa by?” Tanya Dian menghampiri sang suami


“Beristirahatlah, kamu pasti lelah.” membawa istrinya masuk dan mendudukkan Dian dipembaringan


“Wah... Aku gak nyangka rupanya ada kamar pribadi disini. Kaya di novel-novel ajah.” Celetuk Dian menyapu setiap sudut dari kamar tersebut


“Tidurlah, nanti aku bangunkan saat kita pulang.” Sebenarnya Dian tidak lelah sama sekali, namun karena ia juga tak ingin menganggu suaminya Dian pun mengiyakan.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...