Dream Wedding

Dream Wedding
Melihat kampus



Saat ketiga orang itu sampai didalam ruangan yang akan ditempati ujian dengan tergesa-gesa bahkan sampai menabrak pintu membuat ketiganya jadi pusat perhatian, lalu kembali ke aktivitas masing-masing. Untunglah belum ada pengawas didalam.


Mereka bertiga Menghembuskan nafas panjang lalu saling pandang, sedetik kemudian “Hahahhahhahah” Mereka tertawa bersamaan


“Ada-ada ajah.” Ucap Dian geleng-geleng kepala. Belum ada apa-apa, dia sudah harus olahraga


Ketiga orang itu melangkah masuk kedalam “Gue kira kita bakalan telat!” Seru Adil


“Sebenarnya karena itu tadi gue nyari lu! Haisss tapi gue malah kejebak juga.” Timpal Ayla


“Oh yah lu duduk dikursi nomor berapa Dian?” Tanya Ayla yang terlihat tomboy


“031. Kamu?”


“Wahhh gue 030, dekat dong.” Jawabnya semangat


“Kalau gitu gue ke tempat gue yah. Nomor gue 099 soalnya jauh bangat.” Seru Adil


Dian mengangguk sedangkan Ayla mengangkat kedua jempolnya sembari berkata “Sip.. sip..” Setelahnya kedua wanita itu pun duduk ditempat duduknya.


Dengan semangat dan kegugupan yang empat lima, Dian mencoba mengerjakan ujian tersebut.


Desain Komunikasi Visual (DKV) adalah cabang ilmu desain yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media dengan memanfaatkan elemen-elemen visual ataupun rupa untuk menyampaikan pesan untuk tujuan tertentu (tujuan informasi ataupun tujuan persuasi yaitu mempengaruhi perilaku).


Dimana orang-orang yang masuk kedalam jurusan tersebut adalah orang yang pandai dalam menggambar baik secara manual ataupun visual.


.


.


Dian keluar dari dalam gedung tersebut dengan masih menyisakan kegugupannya. Ia yakin sudah mengisinya dengan tepat sesuai dengan apa yang ia pelajari selama ini, namun tetap saja. Hal yang tak pasti akan selalu membuat orang gugup, dan seperti itulah yang dialami Dian sekarang.


Ia tidak menyangka ujiannya rupanya selesai lebih awal dari waktu yang tertera. Saat jalan ke gerbang gedung, dari arah belakang Dian tiba-tiba...


“Dian.... Dian...” Terdengar suara orang memanggil-manggil, sontak Dian menoleh dilihat nya Ayla dan Adil berlari kearahnya


“Dian, lu kok pergi gak bilang-bilang sih hah.. hah.. hah..” Seru Ayla saat sudah sampai didepan Dian dengan nafas ngos-ngosan sembari berkacak pinggang menatap ke langit.


“Gue kira lu di colong orang, karena ngira lu bidadari Dian.. hah.. hah..” Timpal Adil dengan nafas yang ngos-ngosan juga. Ia memegang lututnya membungkukkan badan karena terlalu lelah.


Sudah dari tadi mereka mengejar Dian dan memanggil nya namun yang dipanggil bergeming dan terus melangkahkan kaki menjauh. Mungkin Dian terlalu fokus dengan lamunannya sehingga tidak menyadari ada yang memanggil.


Dian tersenyum, ia jadi merasa bersalah “Maaf yah, udah dari tadi manggilnya?”


Setelah mengatur pernafasan nya, kedua orang itu pun menegakkan badan “Udah dari tadi! Kalo di andaikan udah kaya dari jaman orok sampe lu bisa jalan pake tangan lu.” Balas Adil sembari tertawa diakhir kalimat


Dian dan juga Ayla ikut tertawa mendengar nya “Tapi kenapa kalian manggil-manggil? Ada yang ketinggalan?” Tanya Dian


“Gini, kami cuman pengen nawarin. Mau gak lu ikut kami lihat-lihat universitas nya. Dekat kok dari sini, bisa jalan kaki malah.” Menunjuk kearah sebuah gedung yang tak jauh dari sana


Wajah Dian berbinar mendengarnya “Beneran? Wah boleh.. boleh, aku ikut.” ia terlihat antusias. Dilihatnya jam di ponsel ‘30 menit lagi, bisalah yah’


“Oke yuk kita kesana.” Seru Ayla bersemangat dan langsung mengapit lengan Dian. Mereka berjalan beriringan terlihat seperti dua orang yang sudah berteman sejak lama meninggalkan Adil yang cengok melihat keduanya


“Woi.. tungguin napa! Kalian yah, udah kaya sahabatan dari jaman orok loh!” Sungut Adil mensejajarkan langkahnya dengan kedua wanita tersebut


Dian dan Ayla saling pandang lalu terkikik geli. Benar juga yah, padahal mereka baru bertemu tadi bahkan kenalan pun tadi pagi, Tapi mereka sudah terlihat sangat akrab.


Dian sungguh tak percaya Melihat isi calon universitas yang akan ia sambangi setiap hari. Wajahnya berbinar-binar menatap sekeliling, banyak orang-orang yang lalu-lalang.


“Ini gedung kesenian.” Seru Adil menunjuk sebuah gedung besar


Dian mendongak, walaupun gedungnya tak sebesar perusahaan suaminya, tetap saja ia berdecak kagum.


Mereka berkeliling sambil melihat-lihat. Setelah hampir menyambangi tempat didalam universitas tersebut “Lapar nih, ke kantin yuk.” Ajak Ayla memegang perutnya


Dian terdiam, dilihatnya kembali jam di ponsel “Hmm maaf sepertinya aku gak ikut. Aku udah ada janji, sebentar lagi suamiku datang jemput.” ucapan Dian membuat kedua orang itu melongo tak percaya


“Apa??!!!” Pekik keduanya membuat orang-orang melihat kearah mereka dengan tatapan aneh.


“Hussstt santai ajah kali.” Dian heran dengan konteks pertemanan nya, kenapa semua orang yang berteman dengannya bar-bar dan suk berteriak, ia jadi ingat dengan Sarah.


“lu gak bohong?” Tanya Ayla dengan wajah terkejut. Dian mengangguk membuat Adil melontarkan kembali pertanyaan


“lu nikah muda?” Dian kembali mengangguk.


Dian tertawa geli melihat wajah terkejut mereka ‘Kalau aku bilang udah dua kali nikah, mereka kejang-kejang gak yah?’


“Gila! Lu nikah muda! Ckckck hebat bangat!” Celetuk Adil


“Udah yah aku mau ke tempat tadi, takut suamiku udah datang.” Yakinlah Ilyas akan murka jika mengetahui Dian pergi dari tempatnya tanpa sepengetahuan nya


Adil dan Ayla saling pandang sedetik kemudian mereka mengangguk bersamaan “Biar kami antar.” Seru mereka berdua bersemangat


Kening Dian berkerut “Bukannya kalian ingin makan?”


“Baiklah ayo.”


.........


Terlihat mobil mewah memasuki parkir gedung tempat pelaksanaan ujian. Dian tersenyum senang saat melihat mobil yang sangat ia kenali berhenti, berbeda dengan Ayla Dan Adil yang berdecak kagum melihat mobil mewah tersebut.


Terlihat Ardo dan Mike keluar dari dalam mobil. Ardo membukakan pintu mobil untuk Ilyas. Tak lama kemudian terlihat Ilyas keluar dari dalam mobil dengan kacamata hitam yang semakin membuat nya terlihat semakin tampan.


Sekali lagi Ayla dan Adil berdecak kagum. Mata mereka tak lepas melihat Ilyas yang terlihat sangat tampan. Artis mana yang kesasar!


“By..” Seru Dian bersemangat


Ilyas melangkah mendekati istrinya, tanpa memperhatikan sekeliling ia Langsung memeluk istri nya lalu mengecup kening dan juga pucuk kepala Dian membuat dua orang jomblo disamping menganga, mata keduanya hampir keluar dari tempat nya.


“Assalamu'alaikum sayang.” Mengecup punggung tangan istrinya


Blush..


“Wa.. Wa'alaikum salam. By... Ini tempat umum.” Ucapnya dengan wajah merah merona.


Dian menoleh melihat kedua teman barunya yang terlihat bengong membuat Dian tertawa geli “Ayla, Adil. Kenalin ini suamiku.” Sentak Dian


Ayla dan Adil tersadar, mereka jadi gelagapan “Ah e.. ehem.. selamat siang tuan, saya Adil dan dia curut saya Ayla!” Entah mengapa aura Ilyas tidak dapat menyembunyikan sifat kepemimpinan nya


Geplak...


Satu pukulan mendarat di bagian belakang kepala Adil, tentu yang memberikannya adalah Ayla “Salama kenal tuan.”


Dian mengerti mengapa Ayla dan Adil tiba-tiba berbicara formal, tentu saja karena Dian juga pernah merasakan aura yang dikeluarkan Ilyas.


“Mereka teman-teman aku by,” Ucap Dian


Ilyas hanya mengangguk menanggapi sapaan dari Ayla dan Adil. Beralih menatap istrinya dengan lembut “Kita pulang sekarang?” Tanyanya lembut


Dian mengangguk “Kalau gitu aku duluan yah.”


“Iya, hati-hati dijalan...”


“Adious.” Adil melambai kan tangan nya


Setelah mengucap salam Dian dan rombongan nya pun masuk kedalam mobil meninggalkan lapangan parkiran.


“Gila! Ada cowok se keren itu! Gue pasti mimpi.” Masih bengong menatap kepergian mobil mewah tersebut


Plakk..


“Auucchhh ngapain lu beg*o! Dikira gak sakit apa!” Mengusap kepalanya yang terkena pukulan


“Nah berarti lu gak mimpi!” Jawab Adil santai. Jujur saja ia juga ketar ketir melihat suami Dian yang wibawa nya tak bisa disembunyikan.


.........


Di dalam mobil


“Bagaimana ujiannya?” Tanya Ilyas memeluk pinggang Istri nya


Menghembuskan nafas panjang “Yah gitu deh! Doain ajah Dian lulus.” Walaupun ia mengisi semua jawaban nya tapi tetap saja benar atau salah masih dipertanyakan.


“Aamiin...” Ketiga pria dewasa didalam mobil tersebut mengaminkan


“Oh yah by, tadi Dian sempat lihat-lihat universitas nya. Bagus bangat loh, Dian jadi gak sabar..” Terdengar antusias


“Apa kamu pergi sendiri melihat nya?” Ilyas sangat tahu bagaimana sifat Istri nya yang sangat jarang berinisiatif sendiri, apalagi Dian pemalu dan sangat jarang mempunyai ambisi, jadi tidak mungkin istri cantik nya itu pergi sendiri.


Dian menggeleng “Dian pergi bareng Ayla sama Adil. Mereka ngajakin Dian, katanya buat cuci mata supaya lebih berambisi lagi buat masuk ke kampus itu.” Jawab Dian jujur


Ilyas manggut-manggut. Ia kembali memeluk istrinya erat-erat, sungguh berpisah satu detik saja sudah seperti tak pernah bertemu satu tahun. Ia benar-benar merindukan Istri nya, entah bagaimana nanti saat Dian sudah sibuk kuliah.


Lewat kode mata, Ilyas menyuruh Ardo dan Mike mencari latar belakang teman-teman yang tadi disebutkan Dian. Ia tidak ingin ambil resiko, mengingat penculikan waktu itu sudah membuat Ilyas jera dan tidak akan pernah melonggarkan pengawasannya.


Ilyas tahu jike Dian mengetahui suaminya mencari latar belakang kehidupan Ayla dan Adil sudah pasti Dian akan marah dan sedih. Sedih karena suaminya tidak mempercayai nya, bukan! Bukan Ilyas tidak percaya pada Dian, Tapi Ilyas tidak percaya dengan teman-teman atau orang-orang diluar sana yang mungkin saja hanya memanfaatkan istri polosnya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...